Di
mana Posisi Kita di MEA 2015?
Amril
Jambak ; Peneliti di
Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)
|
OKEZONENEWS,
10 Mei 2014
|
PELAKSANAAN
kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sudah di depan mata.
Indonesia harus mulai mempersiapkan diri jika tidak ingin menjadi sasaran
empuk masuknya produk-produk negara anggota ASEAN.
Chairman Business Indonesia Singapore Association (BISA)
Stephanus T Wijaya mengatakan, tidak salah jika Indonesia akan menjadi pasar
yang menggiurkan saat perdagangan bebas antar negara Asia Tenggara mulai
berlaku. Hal ini lantaran Indonesia memiliki penduduk terbesar di kawasan
Asia Tenggara.
"Mereka akan melirik Indonesia karena daya
tarik yaitu consumer base yang besar, di negara lain tidak ada itu. Di negara
lain, konsumennya sudah mulai menua, sedangkan yang banyak dituju oleh
investor adalah basis kolompok muda, itu banyak di Indonesia," ujar dia
di Jakarta, seperti ditulis Rabu (19/2/2014), dikutip dari liputan6.com.
Sebab
itu, kata dia, dalam menghadapi pasar bebas ini, Indonesia harus belajar dari
pengalaman pelaksanaan free trade
agreement (FTA) dengan Cina pada 2010. Akibat tak siap dampaknya,
sekarang produk-produk Cina merajalela di Indonesia.
"Kalau kita tidak siap pasar ASEAN, kita
hanya akan dijadikan sebagai pasar. ASEAN menjadi seperti Eropa, yang mungkin
mata uangnya akan sama," lanjut dia.
Meski
demikian, tidak ada pilihan lain bagi Indonesia selain mempersiapkan diri
menghadapai pasar bebas tersebut.
"Dalam masyarakat yang terbuka nanti, ada dua
pilihan, kita mau meratapi nasib dihajar bangsa lain, atau mau berbuat
sesuatu. Kalau kita punya niat baik dan ada dukungan pemerintah, kami percaya
dengan niat baik kita bisa berbuat sesuatu (saat MEA)," tandas
dia.
Direktur
Perundingan Perdagangan Jasa, Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan
Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Sondang Anggraini
mengatakan, ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan negara-negara ASEAN
khususnya Indonesia saat MEA ini berlangsung.
Manfaat
dari MEA ini antara lain, penurunan biaya perjalanan transportasi, menurunkan
secara cepat biaya telekomunikasi, meningkatkan jumlah pengguna internet,
infomasi akan semakin mudah dan cepat diperoleh, meningkatnya investasi dan
lapangan kerja.
"Dalam perdagangan jasa, MEA dapat
meningkatkan kinerja ekonomi dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan
ekspor tradisional atau baru," ujar dia di Jakarta, seperti
ditulis Kamis (26/12/2013).
Namun,
untuk menghadapi dampak negatif akibat adanya persaingan, lanjut Sondang, ada
beberapa hal yang perlu dilakukan, baik oleh pemerintah maupun sektor swasta.
Menurut
dia, hal yang perlu dilakukan pemerintah saat ini yaitu mengembangkan
kurikulum pendidikan yang sesuai dengan MEA dan kebijakan umum pengembangan
sektor jasa nasional.
Kemudian
meningkatkan kegiatan sosialisasi, fokus pada sisi suplai dan produksi,
meningkatkan perlindungan terhadap konsumen, pemberian ruang usaha bagi usaha
mikro, kecil dan menengah (UMKM), mendorong swasta untuk memanfaatkan pasar
terbuka, menciptakan kondisi yang memberikan kesempatan agar pemasok jasa
domestik dapat bersaing dengan pemasok jasa asing, meningkatkan kualifikasi
pekerja seperti dokter dan arsitek.
"Liberalisasi perdagangan jasa sangat
beresiko, oleh karena itu peraturan yang benar dan kebijakan-kebijakan
tambahan lain sangat penting untuk memberikan kepastian agar dapat memberikan
keuntungan sesuai dengan yang diharapkan,"
jelasnya.
Selain
pemerintah, sektor swasta juga perlu melakukan persiapan jelang masuknya
pasar bebas ini, seperti mempelajari semua komitmen yang telah disepakati
antar negara ASEAN, meningkatkan kemampuan (efisiensi dan daya saing) dari
pasokan services yang disediakan, mengantisipasi masuknya investor asing,
mengantisipasi pergerakan tenaga kerja.
"Hambatan yang dihadapi oleh pekerja
Indonesia untuk bekerja di negara ASEAN adalah mengenaik bahasa dan perbedaan
peraturan kerja, maka perlu ditingkatkan kemampuan bahasa dan pemahaman
aturan di negara-negara ASEAN," tandas dia.
Manuver Negara Lain
Sejumlah
negara mulai bermanuver menyusun strategi memenangkan pasar Masyarakat
Ekonomi ASEAN 2015, yang memiliki potensi tak kurang dari 600 juta orang.
Ketua
Bidang Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPN Apindo),
Soebronto Laras mengatakan, salah satu negara tersebut adalah Myanmar. “Kita harus sadari, ada negara besar
sekarang mulai terbuka, padahal tadinya tertutup. Namanya, Myanmar,” kata
dia di Gedung Apindo Training Centre, Jakarta, Rabu (16/4/2014).
Myanmar,
lanjut Soebronto, telah merombak tatanan dagang, industri, investasinya dan
lain sebagainya. “Dulu enggak ada orang
boleh beli tanah di Myanmar. Belakangan baru saja Jepang masuk beli tanah di
situ. Pemerintah Myanmar membuka fasilitas itu,” sambungnya.
Dengan
masuknya investasi asing, artinya lapangan kerja di Myanmar juga terbuka. Di
sisi lain, produsen pun kian bersemangat dengan terbukanya Myanmar, karena
faktor efisiensi.
“Triangle Myanmar, Laos, Kamboja sangat kuat
didukung China di waktu lampau. Ini harus kita lihat. Jadi kalau China enggak
boleh masuk ke Indonesia karena dikhawatirkan akan memukul UKM kita, mereka
dengan gampang masuk Myanmar. Barang tetap masuk bukan lagi Made in China,
tapi Made in Myanmar yang notabene ASEAN,” lanjut Soebronto.
Selain
Myanmar, Soebronto juga mencontohkan negara lain yang telah bermanuver, yakni
Thailand. Negara tersebut membuka ASEAN
production facility.
“Ada beberapa hektar dibuka untuk mereka
(Tiongkok) agar masuk ke situ. Kembali lagi, merek China, Made in Thailand.
Akan masuk ke Indonesia dengan ‘Made in Thailand’, pajak jadi 0 persen,” terang
Presiden Komisaris PT Indomobil tersebut.
Thailand
pun kini sudah bisa mengekspor satu juta unit mobil per tahun. Sementara
kebutuhan kawasan ASEAN diperkirakan mencapai 2,3 juta unit per tahun.
Di sisi
lain, Indonesia baru bisa memproduksi 1,3 juta unit mobil per tahun. “Yang bermain sekarang bukan lagi kita.
Tinggal bagaimana principal itu, seperti Toyota, Suzuki, Honda. Mana negara
yang paling bagus?,” ujarnya, seperti dilansir dari kontan.co.id.
Lalu
bagaimana dengan Indonesia sendiri? Pemerintah membentuk sebuah komite
sebagai titik awal pengawasan pelaksanaan MAE.
"Kita perlu bentuk komite sebagai dapurnya
AEC. Nah untuk mem-feeding apa saja. Regulasi apa yang menghambat, ini, itu,
dan lain lain. Supaya kita lebih kompetitif dari negara lain," ungkap
Menko Perekonomian Hatta Rajasa usai rapat MAE di kantornya, Jakarta, Rabu
(12/3/2014).
Komite
ini nantinya yang akan menyoroti persiapan dan pelaksanaan MEA ke depan.
Terutama dalam persoalan daya saing yang saat ini masih perlu untuk
ditingkatkan. Hatta pun optimistis dalam menghadapi era perdagangan tersebut.
"Kita tak bisa mengatakan tidak siap karena
itu sudah di depan mata kita dan sudah berjalan komitmen. Yang paling penting
adalah kita terus meningkatkan daya saing kita. Karena ada empat pilar di
situ. pertama, pasar tunggal. Kedua, daerah berdaya saing. Ketiga, equitable
development. Keempat, integrasi ke ekonomi dunia. Nah, dari sini kita harus
meningkatkan daya saing kita," papar Hatta yang sekaligus
sebagai Ketua Komite.
Pada
kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional Kemenko
Perekonomian Rizal Affandi Lukman menambahkan komite ini akan dimasukkan
dalam sebuah Keppres sebagai landasan hukum.
"Nantinya akan diusulkan jadi bagian dari
Keppres dan komite nasional ini bergerak tidak hanya untuk persiapkan sampai
MEA, tapi beyond 2015 karena sekarang ini di kerja sama ASEAN sudah
dipikirkan post 2015. Artinya, komite nasional rumuskan kebijakan-kebijakan
ke depan," ujarnya.
Pada
tugasnya, komite tersebut juga akan menginventarisir peluang pada MEA. Karena
ini tidak hanya persoalan pasar dalam negeri yang bejumlah 250 juta orang.
Tapi ASEAN yang memiliki 600 juta orang di dalamnya.
"Pasar MEA bukan 250 jt tapi adalah 600 jt
penduduk ASEAN. PDB per kapita naik 3 kali lipat sejak 1998. Ini tunjukkan
daya beli masyarakat meningkat. Menurun penduduk miskin dari 45% ke 15%.
Kelas menengah dari 15% jadi 37%. Jadi, kawasan ASEAN adalah kawasan menarik.
Jadi jangan liat pasar domestik tapi lihat the other side,"
jelasnya.
Penulis
mengamati, kita (Indonesia) nampaknya belum siap dan bahkan masyarakat akan
jadi penonton dalam MEA ini, karena selama ini pemerintah belum terfokus pada
peningkatan produk Indonesia, yang dikarenakan minimnya dukungan
infrastruktur logistik nasional menjadi salah satu faktor penghambat peningkatan
daya saing.
Tidak
itu saja, masih adanya pengusaha-pengusaha mendua hati untuk membantu
masyarakat meningkatkan SDM melalui program CSR. Hal ini dikarenakan
perusahaan-perusahaan besar nampaknya menunggu realisasi pelaksanaan MEA
2015. Dengan begitu, mereka lebih mudah mendapatkan tenaga kerja dari luar
dengan harga (gaji) murah dan memperoleh keuntungan yang besar. Artinya
anggaran operasional mereka bisa lebih ditekan.
Kondisi
Indonesia saat ini sangat jauh ketinggalan dari Malaysia dan Singapura yang
kesiapan infrastruktur logistik sudah di tahap maksimal. Pemerintah perlu
meningkatkan dan mengejar ketertinggalan ini dengan menggenjot proyek
infrastruktur kerjasama pemerintah-swasta. "Tapi ini juga membutuhkan dana yang sangat besar," ungkap
pengamat ekonomi makro LIPI Carunia Mulya Firdausy, di Jakarta.
Selain
itu, kesiapan SDM Indonesia juga masih kalah dibandingkan Malaysia, Singapura
atau Thailand. Padahal, persaingan tenaga kerja akan semakin ketat. Tidak
hanya itu, pasar bebas juga bakal membunuh UKM yang ada di Indonesia. Sebab,
UKM di Indonesia belum siap bersaing dengan barang dari luar.
"UKM ini harus dikembangkan dengan dewan
logistik UKM, kalau tidak ada dewan logistik UKM, pasar bebas menjadi ancaman
besar, terutama dari Thailand," pungkasnya.
Tentunya
kita berharap menjelang pelaksanaan MEA 2015, pemerintah lebih menggenjot
lagi agar segala sesuatunya kita lebih siap mengikuti ‘pertempuran’ MEA 2015.
Apalagi kesiapan daerah yang berbatasan langsung dengan negara-negara ASEAN. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar