Bahasa
Politik
Bagja
Hidayat ; Wartawan Tempo
|
TEMPO.CO,
12 Mei 2014
|
Dalam
buku When Cultures Collide, Richard
D. Lewis menganalisis 65 bahasa dari cara bertutur pemakainya dalam diplomasi
dan negosiasi. Untuk bahasa Indonesia, ahli komunikasi dari Inggris yang
fasih berbicara dalam sebelas bahasa itu menyimpulkan bahwa kita cenderung
eufimistik dan ambigu. Jika berbicara, kalimat orang Indonesia tak langsung
pada makna dan maksud sebenarnya.
Tentu
saja Richard Lewis menganalisis pemakaian dan tuturan bahasa Indonesia
modern. Edisi ketiga buku ini terbit akhir tahun lalu dan mendapat
penghargaan Klub Buku Eksekutif di
Amerika Serikat. Ia mengamati bahasa Indonesia yang sudah terpengaruh oleh
bahasa Jawa atau Sunda, bahasa-ibu penutur terbesarnya. Kecuali bagi orang
Riau, bahasa Indonesia adalah bahasa asing.
Bagi
orang Jawa atau Sunda, bahasa adalah séloka,
kata tak mesti diucapkan sesuai dengan makna sebenarnya. Konon, bahasa Jawa
dan Sunda paling banyak punya padanan istilah untuk penis dan vagina, sebagai
cara kita bersopan santun. Dan eufimisme pada era Orde Baru menjadi alat
politik yang efektif untuk memanipulasi keadaan. Tentara yang menangkap dan
menginterogasi seseorang disebut "mengamankan", kenaikan harga
diumumkan sebagai "penyesuaian".
Politik
bahasa lebih dari tiga dekade itu berpengaruh ke dalam bahasa politik kita
hari-hari ini. Sampai sebulan sebelum pemilihan legislatif, kita tak tahu dan
terus menebak-nebak apakah Joko Widodo akan dicalonkan oleh Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan. Dan sampai hari ini kita tak tahu
apakah Jokowi punya keinginan dan niat yang tulus menjadi seorang presiden.
Dalam pernyataan publiknya, Gubernur Jakarta ini selalu mengelak, "Copras,
capres, copras, capres, ora urus!"
Dalam
mandat yang diberikan Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pun Jokowi
disebut sebagai "petugas partai". Artinya, ia hanya menjalankan
titah pihak lain, seorang yang sejak awal tak punya niat menggapai kedudukan
itu. Padahal, dari banyak liputan media, kita tahu di belakang dia ada sebuah
tim siber yang menyiapkan pencalonannya sejak ia menjabat Wali Kota Solo.
Mungkin itu semacam strategi politik, strategi politik di Indonesia.
Sebab,
orang yang sejak awal berterus-terang ingin menjadi presiden segera dicemooh
sebagai gila kekuasaan. Popularitas politikus semacam ini akan selalu rendah.
Pada Jokowi, sejak ia ikut bertarung dalam pemilihan Gubernur Jakarta pada
2012, popularitasnya sebagai calon presiden selalu di atas 40 persen. Di
sini, ambisi politik adalah sebuah aib. Dan kita punya kata peyoratif untuk
mencemooh pejabat publik yang bekerja sungguh-sungguh: pencitraan.
Wali
Kota Surabaya Tri Rismaharini dihujat ketika ia menangis dalam acara televisi
Mata Najwa dan apa yang dilakukannya membereskan ibu kota Jawa Timur itu
dicurigai sebagai upaya mendapat simpati publik untuk meraih kekuasaan yang
lebih tinggi. Di zaman ketika kenyinyiran disebarkan dengan mudah dan cepat
ini, dan kebebalan dipertontonkan 24 jam, kita terbiasa tak mudah percaya.
Dengan
cara berkomunikasi kita seperti itu, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang
mendua dan penuh sopan santun yang sering kali menipu. Sebagai bahasa yang
lahir karena politik, bukan alat politik sejak mula, pemakaian bahasa
Indonesia ditentukan oleh elite yang bermain peran di dalamnya. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar