Takdir
dan Kekuasaan
Junaidi ; (Tidak
terdapat penjelasan)
|
HALUAN,
21 Maret 2014
|
Indak dapek sarimpang padi, batuan dibalah kaparaku, indak dapek
bakandak hati, kandak Allah nan balaku. Keinginan
untuk memiliki kekuasaan adalah salah satu di antara sekian banyak keinginan
manusia. Bahkan tidak saja sebatas keinginan, tapi kekuasaan dalam
beberapa teori motivasi juga dipandang sebagai salah satu kebutuhan manusia.
Dalam teori motivasi Mc Clelland (1917-1998) misalnya, ada tiga kebutuhan
yang menjadi pendorong manusia dalam berbuat, salah satu di antaranya adalah
kebutuhan akan kekuasaan (need for
power).
Dalam
teori hirarki kebutuhan Maslow (1908-1970), juga dikemukakan bahwa di antara
yang menjadi pendorong manusia dalam berbuat adalah kebutuhan akan penghargaan
(esteem needs) dan kebutuhan untuk
mengaktualisasikan diri (self
actualization). Kedua kebutuhan yang dikemukakan Maslow tersebut juga
sangat berkaitan erat dengan kebutuhan manusia terhadap kekuasaan.
Bahkan
pula, manusia tidak saja menginginkan dan membutuhkan kekuasaan, tapi juga cenderung
untuk terus mempertahankan kekuasaan. Seperti ungkapan Montesquieu
(1689-1755) dalam bukunya L’esprit Des
Lois (1748) bahwa orang yang berkuasa memiliki tiga kecenderungan, yakni
kecenderungan untuk mempertahankan kekuasaan, memperluas kekuasaan, dan
memanfaatkan kekuasaan.
Karena
adanya kebutuhan manusia terhadap kekuasaan (need for power), maka berbagai upaya selalu dilakukan manusia
untuk memperoleh kekuasaan. Mulai dari kekuasaan dalam lingkup yang kecil
hingga kekuasaan dalam lingkup yang besar. Upaya itu terkadang tidak saja
dilakukan secara individu tapi juga secara “berjama’ah”. Karena itu, dalam upaya memperoleh kekuasaan dalam
skala yang lebih besar, biasanya selalu dibutuhkan tim sukses yang solid dan
siap bekerja keras.
Tapi,
segigih apapun usaha manusia untuk memperoleh kekuasaan, sehebat apapun tim
suksesnya, sebanyak apapun modal finansial untuk meyokongnya, ternyata kekuasaan
tidak semata-mata ditentukan oleh itu semua. Dalam perspektif Islam,
kekuasaan adalah salah satu bentuk pemberian Allah kepada orang yang
dikehendakiNya.
Marilah
kita cermati firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 26: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau
berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut
kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Dalam
ayat di atas, Allah dengan tegas mengatakan bahwa Dialah yang memberi kekuasaan kepada orang yang Dia kehendaki dan Dia
pula yang mencabut kekuasan dari orang yang Dia kehendaki. Karena itu, di
samping diperintahkan untuk selalu bekerja keras, berusaha dengan gigih
meraih cita-cita dan harapan, serta selalu berdo’a dan bertawakkal, umat
Islam juga diperintahkan untuk percaya kepada takdir Allah SWT. Dialah yang
menetapkan hasil usaha manusia, apakah berhasil atau tidak, sukses atau
gagal, menang atau kalah.
Tidak
saja Islam yang mengajarkan untuk beriman pada takdir (qadha dan qadar), tapi
adat Minangkabau yang berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah
(ABS-SBK) juga mengajarkan pentingnya orang Minang untuk percaya kepada
takdir-Nya. Petatah-petitih Minang seperti terdapat di awal tulisan di atas
merupakan salah satu bentuk pengajaran tentang betapa pentingnya mengimani
takdir Allah SWT.
Kesadaran
bahwa kekuasaan adalah pemberian Allah SWT, kehendak atau takdir-Nya terhadap
orang yang Dia kehendaki adalah sangat penting untuk dimiliki. Bagi orang
yang berhasil memperoleh kekusaan, kesadaran ini tentu bisa menghindarkan
dirinya dari sifat takabbur atau
sombong serta menumbuhkan sikap tawaddu’
dan perasaan selalu bersyukur kepada Allah. Mereka menyadari bahwa di atas
kekuasaan yang mereka miliki masih ada kekuasaan yang lebih tinggi. “di atas langit masih ada langit”.
Bagi
mereka yang tidak atau belum berhasil memperoleh kekuasaan, mengimani takdir
kekuasaan juga sangat bermanfaat untuk menghindarkan diri dari sikap putus
asa. Gagal, kalah, atau belum berhasil memang bukanlah sesuatu yang
diinginkan orang. Tapi, bagi mereka yang gagal, kalah atau belum berhasil
tetap harus berjiwa besar menerima kenyataan. Sebab, boleh jadi itulah yang
terbaik menurut Allah SWT bagi mereka untuk saat ini.
Kata
orang bijak, “Allah tidak memberikan
apa yang kita inginkan, tapi Dia memberikan apa yang kita butuhkan”.
Dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 216 Allah juga mengingatkan: “boleh jadi Kamu membenci sesuatu, padahal
itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik
bagimu”. Karena itu pula, pituah Minang juga mengajarkan: “manih jan capek dilulua, paik jan capek
dimuntahkan”.
Mengimani
takdir kekuasaan juga menyadarkan kita bahwa kekuasaan itu sifatnya tidak
abadi, hanya sementara, selama Allah menghendaki. Bila Allah ingin mencabut
kekuasaan dari seseorang, maka tidak ada satupun manusia yang bisa
menghalangi. Sebaliknya bila Allah ingin memberikan kekuasaan kepada
seseorang, maka juga tidak ada orang yang bisa menghalangi. Karena itu, bagi
mereka yang berhajat terhadap kekuasaan, sejatinya hanya kepada Allah SWT
meminta pertolongan, bukan kepada yang lain, apalagi kepada dukun.
Ketidakabadian
kekuasaan, apalagi kekuasaan pemerintahan yang sudah jelas batas waktunya,
tentu bisa menjadi salah satu “penghibur diri” bagi mereka yang kalah
memperebutkan kekuasaan. Meski hari ini kalah atau gagal mem-peroleh
kekuasaan, tapi mungkin hari esok berhasil memperoleh kekuasaan. Allah SWT
sendiri sudah menjanjikan bahwa Dia akan mempergilirkan kekuasaan itu kepada
orang-orang yang Dia kehendaki. Sebagaimana firman Allah: “Dan masa (kejayaan
dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran)” (QS. Ali Imran ayat 140).
Mengimani
takdir kekuasaan juga menyadarkan kita bahwa nasib dan jalan hidup manusia
bisa berubah sesuai kehendak-Nya. Betapa banyak pula para pemimpin besar
yang memililiki kekuasaan besar pada mulanya hanyalah orang-orang biasa yang
tidak terlalu terkenal. Tapi dengan kehendak Allah, akhirnya menjadi pemimpin
hebat, penguasa yang disegani dan dihormati. Allah tidak saja memberi kekuasan
kepada orang yang Dia kehendaki, tapi juga memuliakan orang yang Dia
kehendaki.
Dengan
tidak bisa ditebaknya masa depan dan jalan hidup manusia, maka di sinilah
perlunya menghargai setiap bentuk manusia. Sebab, boleh jadi mereka yang
hari ini orang biasa-biasa saja, tapi mungkin esok ia ditakdirkan menjadi
orang hebat yang berkuasa. Kata guru-guru di sekolah, “Hari ini mungkin hanya
Si Budi yang lugu, tapi esok mungkin saja seperti Budiono, wakil presiden
yang perlu ditiru”. Nasib manusia siapa yang tahu!
Tapi
sebaliknya, Allah tidak saja memberi kekuasaan kepada orang yang Ia
kehendaki serta memuliakan orang yang Dia kehendaki, Allah juga mencabut
kekuasaan dari orang yang Ia kehendaki dan menghinakan orang yang Ia
kehendaki. Betapa banyak para pemimpin yang memiliki kekuasaan yang sangat
besar, berkuasa selama berpuluh-puluh tahun, menjadi pemimpin yang
disegani, dihormati, disanjung-sanjung, dipuja-puja, dielu-elukan, tapi
justru kekuasaannya berakhir dengan su’ul khatimah.
Sejarah
mencatat, betapa banyak pula kekuasaan manusia berakhir dengan tragis. Dari
penguasa yang dipuja-puja tapi akhirnya menjadi manusia yang dihina-hina.
Dahulu disanjung tapi akhirnya mati di tiang gantung. Dahulu tinggal di
istana tapi kemudian hidup di penjara. Lebih parah lagi kalau di akhirat
kelak masuk neraka pula. Karena itu, kekuasaan adalah amanah Allah yang harus
dijalankan dengan sebaik-baiknya. Kekuasaan tidak hanya akan
dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia, tapi juga kepada Allah di
yaumul akhir nantinya. Wallahu a’lam bish shawab. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar