Jokowi,
Mengapa Monorel?
Herry Gunawan ; Pendiri
Plasadana.com
|
TEMPO.CO,
21 Maret 2014
|
Setelah
terlunta selama dua tahun, akhirnya bulan lalu India meresmikan layanan
monorel pertamanya. Kehadiran alat transportasi masyarakat urban itu akan
membawa negara berpenduduk 1,2 miliar-terbesar kedua di dunia-ini menuju era
baru jasa transportasi kelas dunia.
Bagi
warga India, mungkin juga masyarakat di kota padat seperti Jakarta, monorel
merupakan moda transportasi harapan. Selama ini, dengan kondisi kemacetan,
bus yang sesak dan tak nyaman membuat kehadiran monorel semacam udara
segar-janji perjalanan cepat dan nyaman di kota yang sibuk.
Tentu
jangan bayangkan kecepatannya bisa seperti Formula 1. Cukup 60 kilometer per
jam dengan tujuh stasiun perhentian. Namun perputarannya tetap bisa
mengangkut warga dengan kuantitas bejibun.
Bahkan di Jakarta, dengan kecepatan seperti itu, mungkin hanya pembalap motor
jalanan yang mampu menandinginya. Itu pun kalau tidak hujan.
Karena
itulah, sebentar lagi Jakarta pun akan punya monorel. Terlepas belakangan ini
banyak nada sumbang dari para buzzer
yang ingin proyek triliunan itu dibatalkan. Tekad Gubernur DKI Jakarta Joko
Widodo alias Jokowi, yang kini jadi calon presiden terkuat, itu sudah bulat.
Jakarta sebagai kota yang alat transportasinya "semrawut" menjadikan monorel sebagai salah satu solusi
penting.
Hasil
riset The Monorail Project di
Amerika, sebuah lembaga nirlaba yang memberikan edukasi tentang transportasi,
mengungkapkan bahwa dari dua miliar penumpang yang masuk ke monorel di dunia,
tidak ada satu pun kecelakaan. Aman. Beda jauh dengan Metro Mini. Dari sisi
biaya pun terbilang efektif. Warga tak perlu ditakut-takuti dengan ongkos puluhan
ribu sekali jalan. Di mana-mana, tak akan lebih dari satu dolar. Tak jauh
beda dengan feeder busway.
Apakah
ongkos yang sekitar Rp 11 ribuan itu mahal? Kalau menggunakan data survei
biaya hidup harian Badan Pusat Statistik, ya, tentu tidak. Hasil survei 2012
itu menyebutkan, komponen biaya transportasi, jasa keuangan, dan komunikasi
warga Jakarta sebesar 19,15 persen dari Rp 7.500.726 atau sekitar Rp 1,4
juta. Sudah pasti, dari angka ini biaya terbesarnya adalah transportasi.
Lalu,
bagi kota dan warganya dalam jangka panjang apa pentingnya? Yang pasti,
monorel adalah moda transportasi cepat. Di tengah kota yang padat, macet, dan
sibuk, plus keterbatasan lahan, moda yang diusung Jokowi dalam kapasitasnya
sebagai Gubernur DKI Jakarta-bukan calon presiden-ini menjadi pilihan cermat.
Alat
transportasi seperti monorel akan sangat membantu pertumbuhan ekonomi. Ada
beberapa hal yang diharapkan bisa menjadi kontribusinya. Moda ini akan
mempengaruhi efek jejaring karena menghubungkan banyak lokasi dengan mudah.
Kantor, pusat bisnis, dan lainnya. Hal ini, secara eksponensial, berpotensi
meningkatkan nilai efektivitas transportasi yang selama ini menjadi hambatan.
Pergerakan
manusia di kota yang padat sekalipun, dengan moda transportasi yang jalan
cepat di atas kepala kita itu, akan menurunkan biaya dan waktu yang selama
ini terbuang saat raga harus berpindah lokasi. Tentu tak kalah penting,
nikmatnya menyaksikan kemacetan kendaraan pribadi dari atas monorel. Jokowi, segeralah! Jangan terlelap,
walaupun ayam sedang berkokok. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar