Kamis, 15 Agustus 2013

Memaknai Kedamaian Idul Fitri

Memaknai Kedamaian Idul Fitri
Agus SB Deputi Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT
REPUBLIKA, 13 Agustus 2013


Bagaimana mungkin di tengah kesucian bulan Ramadhan dan Idul Fitri, masih ada orang yang melakukan rangkaian kejadian bernuansa teror, seperti bom di Vihara Ekayana, penembakan sipir LP Wirogunan, serta pembunuhan aparat kepolisian di Ciputat? Pelaku teror seakan gagal memaknai melimpahnya rasa syukur umat Islam di seluruh dunia di Hari Kemenangan. 

Perbuatan yang bertentangan dengan ajaran seluruh agama tersebut menjadi indikasi serius bahwa masih ada orang sesat pikir yang menyebut pengeboman dan pembunuhan adalah cara untuk mencapai tujuannya. Tujuan teror sebenarnya bukan untuk membunuh, melainkan menakuti masyarakat. Korban yang jatuh, baik luka-luka atau meninggal hanya dianggap sebagai `ketidakberuntungan' yang tidak terhindarkan. 

Untuk dapat memaknai Idul Fitri, kita --termasuk siapa pun yang mendalangi aksi teror tersebut-- harus mampu mendengar, melihat, dan merasakan makna filosofis dari bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang penuh kasih dan kedamaian.
Gema azan dan takbir di seluruh penjuru negeri adalah manifestasi mendengar sebagai sebuah perwujudan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan dan disampaikan pada Hari Kemenangan. Kemampuan mendengar telah dimiliki oleh manusia, bahkan sejak di dalam janin jauh sebelum kita mampu melihat. Kemampuan inilah yang harus terus diasah agar kita mau dan mampu mendengar untuk kebaikan.

Pelaku teror tidak mampu mendengar seruan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Bagi mereka, seruan untuk hidup rukun dan damai mungkin tidak mampu menembus gendang telinganya. 
Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk lebih banyak mendengar. Ceramah tarawih setiap malam, tadarus Alquran, serta pengajian Subuh adalah berbagai ibadah yang dilakukan agar kita terus berupaya mengamalkan kebaikan dan mencegah diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita dari kemungkaran. Mendengar juga melatih diri kita untuk menahan diri, agar tidak merasa hanya diri kita yang paling benar.

Bulan Ramadhan juga mengajarkan kita untuk lebih banyak melihat dan membaca tanda-tanda kebesaran-Nya melalui berbagai ibadah ritual, seperti berpuasa, shalat Tarawih, iktikaf, serta ibadah sosial seperti bersedekah, menyantuni fakir miskin dan anak yatim. 

Makna melihat adalah untuk mengetahui, memahami, dan saling menghargai satu sama lain. Hal ini penting untuk menyikapi realita kemajemukan di Indonesia yang sudah menjadi ketetapan dan menjadi tanda kebesaran-Nya. Pemahaman keagamaan secara paripurna akan membantu kita melihat keberagaman sebagai suatu rahmat dan bukan laknat.

Filosofi melihat yang menghargai keragaman, tecermin jelas di bulan Ramadhan yang selalu identik dengan perintah untuk menjalin silaturahim dan saling bermaafan. Kita diperintahkan untuk meminta maaf kepada keluarga, saudara, serta tetangga yang sangat mungkin tersakiti oleh ucapan maupun perbuatan kita, apa pun agamanya, suku maupun etnisnya. Hal ini adalah pemaknaan mendalam yang hanya bisa dipahami jika kita memandang keberagaman secara positif.

Oleh karena itu, sudah seharusnya Ramadhan dan Idul Fitri membawa makna agar kita memiliki cara pandang, pola pikir, dan tata laku dalam pergaulan saling menghargai sesama anak bangsa. Dalam hal ini, negara harus hadir dan mampu mewudkan kesejahteraan serta melindungi rakyat, sedangkan rakyat harus mampu menjaga kerukunan dan memaksimalkan potensinya.

Hati bertugas untuk merasakan dan menanamkan nilai kebaikan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Bulan Ramadhan melalui ibadah puasa, mengajarkan kita untuk menahan lapar, dahaga, hawa nafsu, dan amarah. Hal ini sejalan dengan tujuan berpuasa agar kita senantiasa meningkat ketakwaannya. Ciri orang yang memaknai ketakwaan adalah tidak mungkin menyakiti, melukai, menakut-nakuti dan menggunakan kekerasan kepada saudara sebangsanya, baik melalui pikiran, perkataan apalagi perbuatan. Bahkan, dalam Islam diajarkan bahwa membunuh seorang manusia tidak bersalah seakan-akan membunuh manusia seluruhnya dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia maka seakan-akan dia memelihara kehidupan semua manusia.

Prinsip ajaran agama di atas tentunya tidak dimiliki oleh para pelaku teror yang dengan mudah berperan sebagai pencabut nyawa orang-orang yang berbeda dengan dirinya. Melalui momentum Ramadhan, terorisme harus kita lawan bersama, agar tidak ada lagi korban yang jatuh akibat perbuatan keji dan tidak bertanggung jawab ini.

Refleksi

Makna dan filosofi bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang baru saja kita lewati adalah suatu wahana bagi kita untuk mendengar, melihat, merasakan, dan mensyukuri nikmat Tuhan yang tiada tara dalam kehidupan sehari-hari. Tugas mencegah terorisme hanya dapat dilakukan oleh orang yang hatinya dapat mendengar, melihat, dan merasakan makna Ramadhan dan Idul Fitri tersebut. 

Dibutuhkan adanya kesadaran penuh bahwa pada akhirnya nanti, kita (saya)
dan (tentunya) si pelaku teror, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pemilik Kehidupan. Jangan sampai kita kembali pada-Nya tanpa ilmu yang diamalkan, tanpa mendengar yang baik dan bermanfaat, tanpa melihat untuk kebaikan, dan tanpa merasa bahwa kita adalah rahmat bagi sekalian alam. Selamat Idul Fitri 1434 H. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar