Jumat, 16 Agustus 2013

Kayakan Rakyat dengan Tradisi

Kayakan Rakyat dengan Tradisi
Marzuki Usman Mantan Ketua Umum ISEI
SINAR HARAPAN, 14 Agustus 2013



Pada medio Maret 2013 penulis diundang NARI Corporation Group, perusahaan BUMN China yang bergerak di bidang pelistrikan, yakni mulai dari pembangkit (generator), transmisi, dan distribusi listrik. Di bidang pelistrikan mereka menawarkan jasa yang disebut dengan istilah total solution. Artinya, untuk suatu daerah atau suatu Negara, NARI selalu bersedia menawarkan jasa guna meningkatkan efisiensi dari jasa pelistrikan di daerah atau negara itu.

Sambil menunggu acara berikutnya yang sudah terjadwal, penulis di hotel memirsa tayangan televisi dari stasiun televisi CCTV di Kota Nanjing, China. Waktu itu ditayangkan tentang kehidupan ekonomi rakyat China, dan bagaimana caranya pemerintah China mengubah nasib rakyatnya dari miskin menjadi kaya.

Dalam tayangan itu, dipertontonkan di dua daerah yang semula rakyatnya miskin, dengan suatu program yang serius dari pemerintah China berhasil mengadakan perubahan kehidupan rakyat yang sangat mendasar dari miskin, kumuh, serta bodoh, menjadi kaya, asri, dan cerdas.

Pada tayangan daerah pertama diperlihatkan rakyatnya secara tradisional berternak kerbau. Oleh pemerintah China, tradisi yang sudah ribuan tahun itu tidak diubah dengan program baru, seperti berternak sapi dan atau biri-biri. Pemerintah China tetap mempertahankan tradisi itu, bahkan diperkuat dan diperbanyak.

Rakyat di daerah itu dibantu program pembibitan kerbau, sehingga kerbau-kerbau yang mereka pelihara berubah dari kerbau-kerbau kecil dan kerdil menjadi kerbau gemuk dan besar-besar. Bahkan, kalau sebelumnya susu kerbau hanya untuk menyusui anak kerbau saja, sekarang dengan suatu penelitian yang tekun, produksi susu kerbau meningkat sehingga sekarang telah dikonsumsi manusia. Selanjutnya pemerintah China berusaha keras agar rakyat di daerah itu bisa mengekspor daging dan susu kerbau ke dunia. Hasil akhirnya, rakyat di daerah itu menjadi kaya dan makmur dengan tetap berternak kerbau.

Pada tayangan kedua, diperlihatkan di suatu daerah yang rakyatnya hidup dari budi daya kepiting. Lagi-lagi diperlihatkan bahwa di daerah itu pemerintah China memperkuat tradisi yang sudah ribuan tahun berjalan. Pemerintah China memberi bantuan kepada rakyat di daerah itu agar bibit kepitingnya menjadi lebih besar dan lebih berdaging. Kepiting di daerah itu akhirnya di ekspor ke dunia. Hasil akhirnya rakyat itu menjadi kaya dan makmur.

Contoh yang sama juga ditemukan di Indonesia. Ketika dahulu Pak Suharto ingin membuat Indonesia berswasembada beras, diluncurkanlah program Bimas Padi. Hasilnya Indonesia pernah berswasembada beras. Terjadilah perubahan tradisi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Rakyat Sleman yang selama ratusan tahun hidup dari bertanam salak, waktu itu terpaksa harus menanam padi. 

Ketika akhirnya Pak Suharto mengatakan program Bimas Padi telah selesai karena Indonesia sudah berswasembada beras, petani di Sleman kembali menanam salak pondoh. Sekarang rakyat Sleman hidupnya menjadi kaya hanya dengan bertani salak pondoh.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita sukses ini adalah agar kepala daerah (provinsi, kota, dan kabupaten), jangan latah untuk mengubah tradisi kehidupan ekonomi yang sudah ratusan tahun berkembang di daerah bersangkutan. Kalau hal seperti ini dilakukan, kesengsaraan dan kemiskinanlah yang akan terjadi di daerah itu. 

Oleh karena itu marilah kita kayakan rakyat Indonesia dengan memperkuat tradisi yang sudah dan telah berurat berakar di suatu daerah. Semoga kearifan seperti ini menjadi amalan sehari-hari dari pada kepala daerah. Amien. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar