Selasa, 13 Agustus 2013

Belajar untuk Kembali dan Kembali untuk Belajar

Belajar untuk Kembali dan Kembali untuk Belajar
Ahmad Baedowi Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
MEDIA INDONESIA, 12 Agustus 2013

RAMADAN berakhir dan akan kembali lagi di tahun depan jika kita berumur panjang. Begitulah yang diajarkan Nabi, berharap kita dapat bertemu lagi dengan Ramadan tahun depan agar tak pernah ada kata bosan untuk terus belajar. Begitulah, Ramadan memang penuh keberkahan sekaligus misteri. Siapa saja yang menjemput Ramadan dengan senang hati, Allah menjanjikan surga-Nya. Ramadan menjadi semacam katalisator bagi setiap usaha mengembalikan peran dan posisi jiwa manusia di jalan kemanusiaan.

Dalam Ramadan, kita juga belajar tentang awal dan tentang akhir. Apa yang diawali kesadaran yang lurus akan berakhir bagus, dan apa yang berakhir dengan kebaikan pasti diawali serangkaian niat baik. Siklus tersebut seolah mengajari kita bahwa hidup memang berawal dari ketidaktahuan dan harus berakhir dengan sebanyak mungkin pengetahuan. Jika ketidaktahuan merupakan sifat dasar bayi, mungkinkah pengetahuan bisa membawa manusia kembali dalam kesucian seorang bayi? Jawabannya bisa asalkan kita memercayai dan menjalani proses kehidupan secara bersungguh-sungguh.

Bersungguh-sungguh (man jadda) tampak sekali ketika Ramadan tiba. Pada titik itu kita sesungguhnya sedang belajar untuk mengembalikan kefitrian jiwa yang memiliki janji primordial hakiki dengan Tuhan. Namun ketika Ramadan berakhir, kita pun kembali tersadar untuk secara bersungguh-sungguh kembali belajar arti kefitrian selama 11 bulan lainnya. Sebagai salah satu dari beberapa bulan mulia, Ramadan merupakan oase bagi setiap jiwa yang rindu akan kebenaran hakiki. Kehadirannya sungguh dirindu jutaan umat dan kepergiannya selalu dirayakan dengan suka cita seperti tecermin dalam Hari Raya Idul Fitri. Benarkan kita merindukan lagi kedatangan Ramadan tahun depan?

Jejak positif

Jika indikasinya ialah tingginya tingkat konsumerisme masyarakat pada saat menjelang, sedang, dan sesudah Ramadan, kerinduan tersebut tak lebih dan tak kurang sebatas kerinduan ritual biasa dan sangat formal. Itu berarti kita gagal untuk belajar kembali makna hakiki kemanusiaan. Sebagai sebuah bulan yang sarat dengan nilai kesucian secara individual, seharusnya rekam jejaknya dapat kita lacak pada konstelasi relasi sosial masyarakat kita. Jika Ramadan memang memberikan peningkatan spiritualitas pada setiap individu, seharusnya relasi sosial juga menjadi lebih baik.

Ramadan, seperti biasa, agaknya tak akan meninggalkan jejak positif bagi kehidupan sosial masyarakat kita. Itu berarti kita akan gagal untuk belajar kembali makna penting eksistensi Ramadan yang sesungguhnya. Penandanya bisa jadi dari masih mengembaranya sikap primordial yang mengental, kebencian antaretnik dan golongan masih tumbuh subur, kekerasan antariman yang juga kerap terjadi. Maka, Ramadan tak memberi efek terhadap perubahan sosial. Belum lagi jika ditambah dengan daftar kebijakan pemerintah yang menyebabkan semua simpul yang sensitif terhadap segregasi sosial menjadi terlukai.

Selo Soemardjan (1998) pernah berujar bahwa perubahan sosial merupakan perubahanperubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dalam konteks pascaRamadan, jika nilai-nilai yang terkandung di dalam ibadah puasa tak menyebabkan terjadinya perubahan pola perilaku sosial dan rendahnya sikap kebersamaan, dapat dipastikan tak akan muncul kesalehan sosial. Itu berarti kita gagal untuk kembali belajar arti nilai-nilai yang kita yakini ada selama Ramadan.

Kesalehan sosial sesungguhnya merupakan efek positif setiap ibadah yang berlaku secara terus-menerus dan menumbuhkan kohesi sosial yang kuat. Secara simbolis kesalehan sosial ditandai kesadaran untuk saling membuka diri, memberi sekaligus meminta maaf, membuka kembali kerankeran saluran komunikasi yang selama ini terhambat, baik sengaja maupun tidak dise ngaja.

Makna simbolis kesalehan sosial dalam Idul Fitri (kembali kepada kemanusiaan) patut dipertahankan dalam 11 bulan lainnya dalam bentuk bangunan relasi sosial yang lebih kuat dan beradab. Dapat dibayangkan, jika tradisi memberi dan meminta maaf dan simbol kefitrian lainnya terus berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan kita, proses pembelajaran pastilah membekas sangat dalam di lubuk hati anak-anak kita.

Rekonsiliasi

Secara pedagogis, makna kesalehan sosial dari Idul Fitri ialah keberanian untuk kembali kepada kesadaran bahwa manusia dan kehidupannya adalah semata titipan Tuhan. Di dalamnya terdapat agenda dan kepentingan bersama antarmanusia sehingga persinggungan emosional dan perilaku merupakan konsekuensi yang wajar meski rawan menimbulkan konflik. Itulah sebabnya mengapa di dalam Islam kefitrian seseorang sangat ditentukan seberapa sering ia menyadari kesalahan, baik terhadap Tuhan maupun kepada sesamanya. Ramadan pun dipercaya sebagai tempat persemaian paling baik untuk mengembalikan fungsi kesucian manusia yang memiliki janji memulangkan kesucian Tuhan. Akan tetapi hati-hati, kesalehan sosial dari Idul Fitri tak akan berarti apa-apa bagi manusia yang tak menepati janji untuk membuka hati bagi sesama.

Rekonsiliasi. Itulah makna penting dan paling berharga dari kesalehan sosial Idul Fitri lainnya. Ramadan dan puasa yang berujung pada Idul Fitri hanya akan berfungsi jika kepada sesama kita berusaha memulihkan atau memperbarui keadaan semula. Dalam rekonsiliasi, ada pengampunan. Pengampunan sesama ataupun pengampunan Tuhan. Karena itu secara didaktik dan substantif, kita harus melihat proses belajar sebagai jalan untuk kembali kepada Tuhan sambil tak lupa untuk terus kembali belajar dari setiap kesalahan dan alpa.


Kenikmatan berpuasa Ramadan sesungguhnya hanya bisa dimaknai secara mutual-perspective, yakni sebagai pembelajar (learner) kita harus terus menggali kesucian Ramdan. Jika dalam perspektif bisnis berlaku adagium a happy customer is a return customer, dalam berpuasa berlaku pula a happy learner is a return learner. Selamat Idul Fitri. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar