|
SUARA
MERDEKA, 16 Juli 2013
DALAM bulan Ramadan umat Islam menjalankan ibadah puasa
selama sebulan. Ritus yang tidak ringan karena tiap hari, sejak terbit fajar
hingga terbenam matahari, muslim harus mencegah makan minum, dan hubungan
seksual, serta perbuatan tercela. Ini amalan lahiriah atau aspek fisik dari
ibadah puasa. Meski ibadah itu tidak ringan, umat Islam menunggu-nunggu
kedatangan bulan suci itu karena tahu banyak keutamaan yang bisa mereka peroleh
dengan menjalankan ibadah tersebut.
Bagi mereka yang belum memahami keutamaan ibadah puasa
Ramadan, ada yang merasa berat menjalankan, dan ada yang sama sekali tidak
menjalankan. Tujuan puasa telah disebutkan dalam Alquran Surah Albaqarah
Ayat 183, yang artinya,” Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan
kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa”.
Manifestasi orang bertakwa adalah menaati semua perintah
Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya, baik perbuatan dosa besar maupun
dosa kecil. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tanda-tanda orang yang
berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah menaati semua kewajiban agama
dan mampu menjauhkan diri dari perbuatan dosa, baik dosa besar maupun kecil.
Inilah aspek spiritual ibadah puasa.
Ajaran Islam berupa ibadah mahdlah, di samping aspek fisik,
yaitu amalan lahiriah, juga ada aspek spiritual, yaitu elan atau semangat yang
hidup dari ajaran tersebut. Misalnya tiap muslim yang mampu diwajibkan
mengeluarkan zakat fitrah 2,5 kg beras, atau makanan pokok lain, untuk diberikan
kepada kaum fakir miskin dalam bulan Ramadan.
Ajaran berzakat fitrah dimaksudkan supaya pada Idul Fitri
tak ada orang sedih karena tidak ada yang dimakan atau kelaparan. Selain zakat
fitrah, orang Islam yang mampu diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta).
Spirit dari ajaran zakat adalah orang Islam yang mampu wajib menolong fakir
miskin, tidak terbatas pada bulan Ramadan.
Beberapa contoh ibadah lain adalah shalat. Ibadah shalat
ditinjau dari aspek fisik adalah bentuk penyembahan kepada Allah Swt berupa gerakan
tubuh dan doa-doa tertentu Tetapi ada semangat yang terkandung dalam shalat,
yakni kesadaran untuk menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar (Surah Al
Ankabut Ayat 45 ).
Jadi, muslim yang mengerjakan shalat dengan benar sudah
semestinya tidak melakukan perbuatan keji dan munkar. Jika demikian keadaannya
dapat dikatakan ibadah shalat sudah benar-benar fungsional dalam kehidupan
muslim. Ibadah haji ditinjau dari aspek fisik merupakan perjalanan muslim dari
kediamannya menuju Makkah dan Madinah dengan melakukan manasik. Kebanyakan
orang yang beribadah haji hanya memikirkan kegiatan fisik yang tidak ringan
itu, karena misalnya bagi orang Indonesia, mereka menghabiskan waktu lama,
menempuh jarak jauh, butuh biaya besar, dan menghadapi lingkungan alam yang
berat di Arab Saudi. Mereka seharusnya menghayati riwayat perjuangan Nabi
Ibrahim as yang sangat berat, tetapi tetap ikhlas berkorban demi menaati
perintah Allah Swt sehingga mendapat sebutan Khalilullah (kekasih Allah).
Api Islam
”Ambillah apinya Islam, jangan abunya”, adalah cuplikan
salah satu pidato Bung Karno di hadapan umat Islam pada zaman penjajahan
Belanda. Setelah melalui perjuangan gigih, termasuk penderitaan di penjara,
akhirnya ia menjadi proklamator kemerdekaan, dan kemudian menjadi presiden
pertama. Waktu muda ia banyak belajar agama Islam, antara lain pada KH Ahmad
Dahlan dan H Oemar Said Tjokroaminoto. Karena memiliki pola pikir revolusioner,
ia ingin selalu mengadakan perubahan dan pembaruan, termasuk dalam pemahaman
ajaran agama.
Setelah mempelajari agama Islam dan mengamati keadaan
masyarakat Islam Indonesia, terbit pemikiran Bung Karno untuk melakukan apa
yang ia sebut rejuvenation terhadap pemahaman Islam. Ia ingin kembali memudakan
pemahaman Islam supaya ajaran Islam tidak menjadi ajaran yang beku tapi
dinamis, dalam arti memiliki semangat hidup atau elan, dan terbuka terhadap
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan sikap percaya diri, Presiden Soekarno
menyelenggarakan Konferensi Islam Asia-Afrika sehingga ia digelari sebagai
Pahlawan Islam dan Kemerdekaan. Dengan sikap percaya diri pula ia menyampaikan
ayat Alquran dalam Sidang Umum PBB yakni Surah Alhujurat Ayat 13 yang artinya,”
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah
orang yang paling takwa”.
Sebagai proklamator, Bung Karno dicintai oleh seluruh
bangsa Indonesia. Banyak warga Indonesia mempelajari ajaran Soekarno tetapi
mungkin masih belum banyak yang mempelajari Bung Karno sebagai muslim. Ketika
bangsa Indonesia berhasil mencapai kemerdekaannya maka Soekarno menunjukkan
kesyukurannya dengan mendirikan Masjid Istiqlal atau Masjid Kemerdekaan.
Ketika bangsa Indonesia mencapai kemenangan dalam merebut
Irian Barat, Bung Karno mendirikan Masjid Alfatah atau Masjid Kemenangan di
Ambon. Kesyukuran seorang muslim kepada Allah Swt memang bisa diwujudkan
melalui sebuah bangunan monumental sekaligus religius. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar