Senin, 05 Oktober 2026

 

Waktu Lupa Melupakan Wajahnya

Elkata Agustinus Batistuta Atua  :  Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional.

KUMPARAN, 05 Oktober 2026

 

 

 

Risalah kali ini saya susun sebagai sebuah ikhtiar epistemik dan fenomenologis untuk membedah salah satu kecemasan eksistensial yang paling mendasar dalam kesadaran saya, ketakutan akan melupakan sebuah fenomena perjumpaan yang pernah mengubah seluruh konstruksi keakhiran dan keotentikan diri saya.

 

Di satu sisi, berhadapan dengan aparatus teoritis filsafat kenangan, psikoanalisis struktural, serta filsafat bahasa dan kognisi.

 

Di sisi lain, saya disergap oleh ingatan atas sebuah perjumpaan eksistensial antar subjek yang terbelenggu dalam matriks kedisiplinan sosial, kompetisi fiktif, serta kecemasan akan kebenaran perasaannya sendiri.

 

Risalah ini dihajatkan untuk mengintegrasikan secara radikal dimensi teoritis memori dan kesadaran dengan fenomena perjumpaan tersebut, tanpa sedikit pun terjerembet ke dalam deskripsi naratif dangkal, tapi murni mengeksplorasi substansi alur eksistensialnya sebagai sebuah objek kontemplasi filosofis yang mendalam.

 

Saya akan memulainya dengan sebuah diktum bahwa pengetahuan manusia tidak pernah berdiri di atas ruang hampa ahistoris. Dikala kita mengklaim memahami suatu realitas, kita pada hakikatnya sementara mengoperasikan suatu struktur kognitif yang mengandalkan keterhubungan antawaktu.

 

Di sinilah letak anomali terbesar dari kenangan, ia adalah satu-satunya instrumen yang kita miliki untuk mengakses masa lalu, akan tetapi pada saat yang sama, ia beroperasi lewat mekanisme distorsi yang tak terelakkan.

 

Kenangan menghadirkan kembali apa yang telah berlalu, namun selalu dengan ongkos ontologis berupa reduksi, pemudaran, dan rekonfigurasi makna.

 

Pengalaman mendalam di masa lalu, seperti getaran afektif yang pertama kali menyergap kesadaran, hadir kembali dalam rentang waktu bertahun-tahun kemudian bukan sebagai guncangan yang sama persis, namun sebagai sesuatu yang redup, sayup-sayup, dan penuh dengan jarak ironis.

 

Apa yang pada momen aslinya dihayati dengan derajat keseriusan yang mencekam dan penuh kepanikan, di kemudian hari kerap dipersepsi sebagai sesuatu yang konyol, absurd, atau bahkan jenaka. Namun, terlepas dari sifatnya yang senantiasa terdistorsi, kenangan merupakan condition of possibility bagi lahirnya pengetahuan itu sendiri.

 

Tanpa memori, proses konklusi rasional menjadi mustahil. Bila manusia diproyeksikan sebagai makhluk yang sama sekali tereksklusi dari kemampuan mengingat, maka klaim pengetahuan tidak akan pernah sempat membeku menjadi epistem.

 

Seseorang mungkin bisa menangkap fenomena empiris pada detik ini, misalnya saja bahwa langit memancarkan spektrum warna biru atau rumput memiliki pigmen hijau, tapi pada detik berikutnya, disaat kemampuan memori itu absen, seluruh tatanan persepsi tersebut runtuh kembali ke titik nol.

 

Setiap momen penghayatan akan menjadi peristiwa yang sepenuhnya asing, semacam awal yang berulang tanpa akumulasi, sehingga konklusi logis dari premis menuju kesimpulan tidak pernah dapat dituntaskan.

 

Deduksi dan induksi mensyaratkan adanya daya tahan premis di dalam ruang kesadaran, dan daya tahan itu bernama kenangan. Jenius atau tidaknya seorang subjek dalam mengartulasikan pemikiran tidak memiliki signifikansi apa pun jika syarat wajib berupa memori ini tidak terpenuhi.

 

Ketakutan saya akan melupakan fenomena perjumpaan eksistensial yang menjadi jangkar risalah ini bersumber tepat dari paradoks epistemologis tersebut.

 

Fenomena tersebut menjadi peristiwa di mana dua jiwa berhadapan dalam ketegangan antara kebetulan empiris dan keniscayaan takdir, di mana perjumpaan sesungguhnya telah mengendap jauh sebelum pertemuan fisik terjadi.

 

Lewat nama-nama yang disuarakan secara implisit, foto yang dilirik sepintas, atau irisan historis yang semula tampak remeh. Saya menyadari bahwa bila saya melupakan fenomena ini, atau jika kenangan saya atasnya melapuk hingga tak tersisa, maka seluruh pengetahuan saya tentang keotentikan diri saya sendiri akan hancur.

 

Akan tetapi, dalam dentuman yang senada, saya juga dicekam oleh kecemasan bahwa setiap kali saya berupaya memanggil kembali momen itu, saya tidak pernah menerima realitas itu apa adanya.

 

Ingatan saya memprosesnya seperti sebuah gambaran yang pudar warnanya, sebuah potret tua berspektrum sepia yang telah kehilangan keaslian gravitasinya. Begitu krusial untuk membedakan antara cara kerja kenangan manusia dengan sistem penyimpanan informasi pada hard disk komputer misalnya.

 

Memori komputasional beroperasi di atas prinsip replikasi tautologis dan kaku, artinya data yang disimpan setahun lalu akan dipanggil kembali dengan struktur biner yang identik tanpa mengalami degradasi spektral atau pergeseran rasio internal.

 

Komputer tidak mengenal kompresi eksistensial, karena piksel tidak berubah menjadi biru atau pudar secara spontan hanya karena sang waktu berjalan.

 

Sebaliknya, kenangan manusia justru hanya sanggup menghadirkan masa lalu melalui celah pelupaan. Memang seringkali banyak yang secara keliru memandang kelupaan sebagai sebuah defek kognitif, sebuah cacat organis yang mesti disembuhkan agar manusia sanggup merekam realitas dengan presisi mekanis bak komputer.

 

Namun menurut saya pandangan ini mengabaikan dimensi produktif dan kreatif dari kelupaan. Kelupaan bukanlah sekadar erosi informasi destruktif, tapi sebuah aparatus hermeneutis yang memungkinkan lahirnya perspektif baru.

 

Bila manusia dituntut untuk merekam seluruh detail peristiwa tanpa filter pelupaan, manusia akan terjebak dalam pengulangan statis, semacam kaset rusak yang memutar realitas secara monoton tanpa pernah sanggup melakukan pemaknaan ulang.

 

Kelupaan memberikan jarak kritis, ia mengikis rincian-rincian aksidental sehingga kesadaran hari ini dapat membawa pembacaan baru yang jauh lebih kaya terhadap masa lalu.

 

Justru karena kita memiliki kapasitas untuk melupakan, masa lalu tidak hadir sebagai beban empiris yang mematikan, tapi sebagai teks terbuka yang dapat ditafsirkan kembali secara transformatif.

 

Dalam konteks fenomena yang saya takuti akan kelupaan ini, dialektika antara kenangan dan kelupaan beroperasi dengan begitu intensif.

 

Subjek-subjek dalam fenomena tumbuh di bawah naungan konstruksi sosial yang menuntut kesempurnaan, di mana wilayah suburban dengan keteraturan matematis, di mana reputasi moral keluarga berfungsi sebagai modal simbolik, dan kelembutan kerap disembunyikan di balik topeng ketegangan profesional serta pencapaian akademis.

 

Kesempurnaan yang dipaksakan oleh aparatus keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya beroperasi sebagai belenggu eksistensial. Subjek belajar mengendalikan ekspresi, mengukur intonasi, dan menyembunyikan kerapuhan hingga pada titik di mana ia terasing dari gejolak batinnya sendiri.

 

Disaat dua subjek ini dipertemukan, perjumpaan itu menghadirkan sebuah krisis dalam tatanan kesempurnaan fiktif tersebut.

 

Ketakutan yang terasa adalah bahwa mekanisme pelupaan akan bekerja terlalu jauh, bukan hanya mengikis ornamen fiktif dari penjara kesempurnaan itu, tapi juga melenyapkan jejak keotentikan dari momen ketika dua subjek tersebut memberanikan diri melepaskan topeng mereka di bawah kegelapan ruang yang jujur.

 

Untuk memahami bagaimana kenangan atas perjumpaan ini terkonstruksi sekaligus terdistorsi dalam kesadaran, kita harus melacak arsitektur psikis manusia sebagaimana dirumuskan oleh Jacques Lacan melalui pembacaan radikalnya atas psikoanalisis Sigmund Freud.

 

Lacan mengejawantahkan sebuah proposisi fundamental. Kesadaran manusia, termasuk seluruh struktur ketidaksadarannya (the unconscious), terkonstruksi seperti bahasa.

 

Ketidaksadaran bukan sebuah sumur gelap yang berisi dorongan-dorongan biologis mentah yang tak terstruktur, ia sarat akan matriks penanda (signifiers) yang merayap secara konstan di balik seluruh artikulasi sadar kita.

 

Perkembangan kepribadian manusia merupakan proses penyerapan subjek ke dalam tatanan linguistik, yang terbagi ke dalam fase-fase krusial.

 

Pada rentang usia enam hingga delapan belas bulan, subjek manusia melintasi apa yang dinamakan sebagai Fase Imajiner (the Imaginary realm), yang di dalamnya beroperasi mekanika Tahap Cermin (the Mirror Stage).

 

Pada fase prematur ini, seorang anak yang belum memiliki integrasi motorik utuh memproyeksikan citra dirinya lewst pantulan eksternal, entah melalui cermin fisik ataupun melalui figur orang lain di sekitarnya, seperti orang tua atau saudara.

 

Anak itu melihat bayangan di luar dirinya sebagai sebuah keutuhan yang ideal, ada citra tersinkronisasi yang berlawanan dengan pengalaman internalnya yang serba terpecah-pecah (corps morcelé).

 

Dari sinilah konsepsi tentang "Aku" lahir, akan tetapi pembentukan identitas ini berakar pada sebuah kekeliruan mendasar (misrecognition atau méconnaissance).

 

Subjek mengenali dirinya justru dari medium yang asing, ia mengidentifikasikan keutuhannya pada citra yang berada di luar dirinya. Identitas primordial manusia, dengan begitu, sebenarnya bersumber dari alienasi: "Aku" adalah "Yang Lain".

 

Perkembangan ini lalu berlanjut ketika subjek melangkah melampaui usia delapan belas bulan menuju Fase Simbolik (the Symbolic order). Di sinilah subjek diinisiasi ke dalam bahasa yang sesungguhnya, berisi tatanan hukum, konvensi, dan struktur sosial yang telah ada sebelum subjek itu lahir.

 

Dalam fase ini, pengalaman tidak lagi ditangkap secara langsung melalui citra imajiner, namun melalui mediasi simbol-simbol intersubjektif. Bahasa menjadi tubuh sosial itu sendiri, ia menetapkan bagaimana makna didistribusikan, bagaimana rasa cinta disimbolkan lewat ritus-ritus tertentu, dan bagaimana status sosial ditandai oleh objek-objek kepemilikan.

 

Dengan masuk ke dalam Fase Simbolik, kesadaran dan bahkan hasrat terpendam subjek sepenuhnya diatur oleh hukum bahasa. Hasrat manusia, dalam formula Lacanian yang terkenal, selalu merupakan hasrat dari Yang Lain (desire of the Other).

 

Kita tidak pernah menghasrati sesuatu secara murni dari dalam diri kita sendiri. Kita menghasrati suatu objek karena objek tersebut telah ditandai oleh struktur sosial sebagai sesuatu yang bernilai, pantas diakui, dan mampu memberikan rekognisi atas eksistensi kita.

 

Di sinilah letak tragedi linguistik manusia yang selalu saya soroti. Bahasa menjadi sarana yang memungkinkan kita mengakses realitas, akan tetali sekaligus aparatus yang membatasi dan menggantikan realitas itu sendiri. Bahasa beroperasi melalui mekanisme substitusi atau penggantian (replacement).

 

Kita tidak pernah dapat merengkuh objek murni dari kesadaran kita secara langsung, karema yang kita terima hanyalah penanda-penanda simulatif.

 

Dikala manusia merasakan gejolak afektif yang luar biasa mendalam, kecenderungan spontannya adalah memberikan nama pada perasaan itu.

 

Tapi, aksi memberi nama itu acap kali tidak menjadi ikhtiar untuk memahami, ia adalah strategi pertahanan diri agar pengalaman tersebut tidak mengancam struktur kesadaran yang telah mapan.

 

Dengan melabeli nama, baik itu "cinta", "persahabatan", atau "kekaguman", kita merasa sudah mengendalikan perasaan itu, padahal pada realitasnya, penamaan merupakan cara paling subtil yang dilakukan manusia untuk menyelubungi realitas dari dirinya sendiri.

 

Fenomena yang saya takuti akan kelupaan ini memperlihatkan betapa dahsyatnya cengkeraman Tatanan Simbolik itu. Dengan menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam kebohongan paling nyaman yang disediakan oleh bahasa.

 

Klaim bahwa mereka "hanya sahabat", "hanya saudara", atau "hanya rekan sejawat yang saling mengagumi". Penamaan-penamaan ini merupakan benteng pertahanan simbolik untuk menghalangi masuknya gejolak afektif yang menakutkan.

 

Bahasa dipakai untuk memodifikasi realitas agar selaras dengan ekspektasi tubuh sosial, dengan kompetisi fiktif yang diciptakan oleh norma keluarga, dan dengan tuntutan pencapaian karier.

 

Akan tetapi, ada satu entitas dalam psikoanalisis Lacan yang selalu gagal ditundukkan oleh Tatanan Simbolik, yaitu Yang Nyata (The Real atau le Réel). Yang Nyata tidak berarti kenyataan empiris faktual yang kita jumpai sehari-hari, ia adalah dimensi realitas murni yang berada di luar, di balik, dan sebelum bahasa.

 

Yang Nyata merupakan Benda itu sendiri (das Ding atau The Thing) objek ultimate dari hasrat yang selalu luput dan tidak pernah sanggup diartikulasikan oleh simbolisme apa pun.

 

Sebab ia berada di luar bahasa, Yang Nyata tidak dapat diserap secara damai oleh kesadaran sadar, ia hanya bisa hadir sebagai trauma, sebagai gangguan radikal yang menyeruak tiba-tiba dari balik tatanan simbolik, memotong kebiasaan, dan meruntuhkan struktur kepastian subjek.

 

Kehadiran Yang Nyata sifatnya sangat sekilas (Augenblick, atau dalam sekejap mata), muncul tanpa bisa diantisipasi dan lenyap meninggalkan kekosongan yang membakar.

 

Malam-malam krusial dalam fenomena perjumpaan tersebut, dikala keheningan memecah narasi kebohongan simbolik, bilamana sebuah genggaman tangan di dalam kegelapan menggantikan seluruh kosakata artikulatif, dan saat pengakuan afektif akhirnya diucapkan tanpa perlindungan kalkulasi masa depan, merupakan momen-momen erupstif dari Yang Nyata.

 

Pada momen itu, seluruh konstruksi tentang siapa diri kami, seluruh benteng kesempurnaan yang dibangun bertahun-tahun dari ketakutan, runtuh seketika.

 

Momen itu tidak terdengar seperti ledakan megah, tidak diiringi musik dramatis, dan tidak mengubah tatanan fisika dunia, namun bagi subjek yang mengalaminya, seluruh sejarah hidupnya berhenti dan terorganisir ulang di sekitar titik traumatik tersebut.

 

Ketakutan saya yang paling mendalam adalah bahwa ketika saya berusaha mengingat momen Yang Nyata ini, Tatanan Simbolik dalam kepala saya akan dengan cepat mendomestikasi dan mendistorsinya kembali menjadi sekadar narasi romantis yang klise, sehingga esensi traumatis dan keotentikannya menguap tak berbekas.

 

Upaya untuk memanggil kembali momen Yang Nyata yang sudah berlalu bersua pada artikulasi paling monumental dalam mahakarya sastra dan filsafat modernis Marcel Proust, À la recherche du temps perdu (Mencari Waktu yang Hilang).

 

Karya raksasa ini pada hakikatnya merupakan sebuah eksplorasi fenomenologis yang begitu radikal tentang hakikat kenangan, atau dapat saya kategorikan sebagai riset eksistensial mengenai bagaimana manusia bersiteru melawan erosi waktu untuk menghadirkan kembali kepenuhan pengalaman yang telah hancur.

 

Proust mengajukan pembedaan fundamental antara memori volunter (mémoire volontaire) dan memori involunter (mémoire involontaire).

 

Memori volunter merupakan ingatan yang dipanggil secara sengaja oleh rasio kalkulatif dan intelek kita. Dikala kita berupaya mengingat masa lalu secara sadar, memakai kalender, catatan historis, atau logika kronologis, kita sebenarnya hanya menerima rekonstruksi dangkal yang telah disaring oleh kepentingan hari ini.

 

Memori volunter menghadirkan masa lalu sebagai sebuah gambaran mati, artefak museum yang kehilangan getaran hidupnya.

 

Sebaliknya, memori involunter menjadi ingatan yang tidak dikehendaki, sebuah presipitasi tak terduga yang menyeruak secara spontan ke dalam kesadaran tanpa bisa disistematisasi atau diperintah oleh kehendak subjek.

 

Episode paling ikonik dalam eksplorasi Proustian ini adalah ketika saya sampai pada peristiwa madeleine, kue bolu kecil khas Prancis yang dicelupkan ke dalam cangkir teh hangat.

 

Dalam bagian awal karyanya, narator mengisahkan bagaimana pada suatu hari yang biasa, ketika ia mengecap remah-remah kue madeleine yang telah terserap oleh cairan teh hangat, sebuah getaran halus tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.

 

Seketika itu pula, sebuah kenikmatan luar biasa yang tak terjelaskan menginvasi seluruh inderanya. Seluruh problematika kehidupan yang menekan, bencana penderitaan, dan kesadaran akan kekerdilan fana mendadak lenyap, bahkak hidup terasa begitu berharga, utuh, dan sarat akan esensi yang transendental.

 

Narator tertegun, bertarung dalam kecemasan dan kebingungan logis untuk melacak dari mana datangnya euphoria ontologis ini. Ia mencoba berulang kali, meneguk cairan itu kembali, namun sensasi magis itu mulai menipis dan menguap seiring dengan keterlibatan rasio sadarnya.

 

Baru setelah refleksi yang intensif, kenangan asli itu pecah menyeruak dari kedalaman ketidaksadarannya, rasa madeleine celup teh itu merupakan rasa yang sama yang pernah ia terima di masa kecilnya di Combre dari Tante Léonie pada setiap hari Minggu pagi.

 

Melalui peristiwa ini, Proust memperlihatkan sebuah kebenaran fenomenologis yang begitu dalam bagi saya. Ketika orang-orang telah meninggal, dikala benda-benda fisik telah hancur lebur dan tatanan materi runtuh, aroma dan rasa dari sebuah benda tetap bertahan secara rapuh namun lebih setia.

 

Aroma dan rasa memikul di atas pundaknya yang tak kasatmata seluruh struktur raksasa dari kenangan. Memori involunter merupakan kendaraan bagi hadirnya Yang Nyata ala Lacan, ia melompati garis waktu, meruntuhkan jarak bertahun-tahun, dan menyajikan kembali keutuhan pengalaman masa lalu dalam satu kedipan mata (Augenblick).

 

Akan tetapi, sifatnya yang epimeral menyebabkan ia tidak dapat dipertahankan. Pada gigitan kedua dan ketiga, keajaiban itu memudar, dan subjek dikembalikan ke dalam realitas fana yang dingin.

 

Dalam fenomena perjumpaan yang saya takuti akan kelupaan ini, mekanika memori involunter Proustian ini beroperasi sebagai satu-satunya harapan sekaligus ancaman.

 

Ketakutan saya tidak hanya bahwa saya akan lupa secara faktual bahwa perjumpaan itu pernah terjadi, karena memori volunter saya masih sanggup mencatat tanggal, lokasi, dan urutan peristiwa logisnya.

 

Ketakutan saya yang sejati adalah kehilangan rasa Proustian dari perjumpaan itu entah aroma udara malam setelah hujan berhenti, frekuensi getaran suara saat nama disuarakan untuk pertama kalinya secara tatap muka, dan keheningan mencekam di dalam kamar saat dua jiwa berbaring hanya berjarak beberapa sentimeter namun dipisahkan oleh benua kecemasan eksistensial.

 

Saya takut bahwa tanpa adanya trigger memori involunter yang tak terduga di masa depan, fenomena tersebut akan membeku menjadi sebatas berkas arsip kognitif.

 

Subjek dalam fenomena ini, setelah bertahun-tahun melewati perpisahan tanpa kejelasan, belajar menyimpan seluruh memori tentang perjumpaan itu di dalam ruangan khusus di batinnya, bukan sebagai makam yang ditangisi, bukan pula sebagai altar yang disembah, ia menjadi ruang arsip.

 

Tindakan mengarsipkan ini merupakan kompromi eksistensial agar ingatan tersebut tidak lagi medestruksi produktivitas hidup sehari-hari.

 

Akan tetapi, dikala subjek tersebut di kemudian hari melangkah kembali di jalan-jalan kota yang sama, duduk di tempat yang pernah disinggahi, dan membaca buku yang pernah didiskusikan, ia menyadari sebuah kebenaran yang muram, merek tidak lagi sedang mencari sosok yang pernah ditemuinya, tapi sedang mencari dirinya sendiri yang pernah ada saat perjumpaan itu terjadi. Dua hal tersebut adalah entitas yang sepenuhnya berbeda.

 

Masalah melupakan dan mengingat perjumpaan eksistensial menjadi jauh lebih rumit dikala kita berjumpa dengan misteri intersubjektivitas, sejauh mana kita benar-benar dapat memahami isi pikiran dan penghayatan subjek lain?

 

Filsafat analitik dan epistemologi modern secara brutal mendekonstruksi asumsi naif kita bahwa kita sanggup berbagi ruang persepsi yang identik dengan manusia lain.

 

Kita kerap mengandaikan bahwa ketika kita dan orang lain merujuk pada suatu fenomena yang sama, kita sedang mengalami pengalaman kognitif dan kualitatif yang sama persis juga. Ludwig Wittgenstein, dalam Philosophical Investigations, dan para filsuf pikiran kontemporer melumpuhkan andaian ini lewat pemikiran tentang qualia yang terbalik (inverted qualia).

 

Qualia merupakan terminologi teknis filosofis untuk menandai impresi subjektif dari sensasi indrawi, semacam kesan fenomenologis murni saat kita melihat warna merah, merasakan panasnya api, atau mencicipi rasa pahit.

 

Qualia memiliki sifat privat karena ia hanya dapat diakses secara langsung oleh subjek yang mengalaminya dari perspektif orang pertama (first-person point of view).

 

Problematika menggembul bilamana kita menguji intersubjektivitas dari qualia tersebut. Coba anda proyeksikan dimana dua orang sedang memandang sebuah permukaan yang secara konvensional disepakati berwarna putih murni.

 

Kedua subjek tersebut menggunakan kata "putih" secara konsisten dalam tata bahasa sehari-hari.

 

Namun, tidak ada mekanisme objektif atau pengujian empiris dari luar yang mampu membuktikan bahwa impresi kualitatif internal dari Subjek A saat melihat "putih" tidak sama persis dengan apa yang dialami Subjek B ketika melihat warna yang oleh Subjek A dinamakan "ungu".

 

Selama Subjek B memakai kata "putih" secara konsisten untuk setiap objek yang oleh masyarakat dilabeli putih, komunikasi linguistik akan berjalan lancar tanpa hambatan.

 

Dikotomi qualia internal tersebut tidak akan pernah terdeteksi oleh analisis perilaku eksternal. Dengan kata lain, kita terjerat dalam posibilitas bahwa dunia perseptual privat orang lain sepenuhnya terbalik dari apa yang kita bayangkan, dan kita tidak pernah memiliki jembatan epistemik untuk memverifikasinya.

 

Imposibilitas untuk menjangkau kepastian makna intersubjektif ini dipertajam oleh filsuf Willard Van Orman Quine lewat tesis Indeterminasi Penerjemahan (Indeterminacy of Translation).

 

Quine mengajukan sebuah eksperimen pikiran yang begitu terkenal tentang seorang linguis yang mempelajari bahasa dari sebuah suku asing yang terisolasi.

 

Ketika seekor kelinci melintas, seorang warga lokal menunjuk ke arah binatang itu dan menyerukan kata "Gavagai". Linguis tersebut secara spontan mencatat dalam buku salinannya bahwa "Gavagai" berarti "kelinci".

 

Akan tetapi, Quine memperlihatkan bahwa secara epistemologis, tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan bahwa "Gavagai" benar-benar merujuk pada substansi "kelinci" sebagai satu entitas utuh. Kata "Gavagai" bisa jadi merujuk pada "bagian kelinci yang tak terpisah" (undetached rabbit part), atau "momen kelinci-ing" (rabbit-stage), atau bahkan "wujud spasio-temporal dari sifat kelinci-an".

 

Dalam konteks penggunaan empiris sehari-hari, setiap kali kata "Gavagai" diucapkan, perilakunya akan selalu cocok dengan kehadiran kelinci, sehingga tidak ada tes perilaku atau linguistik yang sanggup memilah secara absolut mana di antara makna-makna tersebut yang betul-betul ada di dalam pikiran pembicara lokal tersebut.

 

Bagi saya ini krusial untuk membedakan eksperimen pikiran Quine tentang Gavagai ini dengan kasus misinterpretasi konvensi biasa, seperti anekdot antropologis mengenai sebutan "kanguru" di Australia, di mana penjelajah Eropa mengira kata lokal tersebut merujuk pada spesies binatang, padahal sebenarnya berarti ungkapan "aku tidak mengerti bahasa Anda" atau tindakan "melompat".

 

Kasus kesalahpahaman konvensional seperti ini pada prinsipnya dapat diklarifikasi lewat observasi perilaku secara kontinous. Sebaliknya, Indeterminasi Quinean mengindikasikan batas epistemik yang prinsipil bahwa bahkan dengan observasi perilaku yang sempurna dan tak terbatas sekalipun, kesepadanan makna antar-bahasa atau antar-pikiran tetap tidak dapat dipastikan.

 

Makna tidak pernah berjangkar secara tunggal pada kenyataan objektif, tapi selalu berada dalam kondisi ketidakpastian mendasar (underdetermined by evidence).

 

Sehingga jika saya intrgrasikan ke dalam fenomena perjumpaan yang saya takuti akan kelupaan ini, implikasi dari Inverted Qualia dan Indeterminasi Quinean ini begitu mengerikan secara eksistensial.

 

Sepanjang fenomena perjumpaan itu berlangsung, kedua subjek saling bertukar kata-kata, tatapan, dan gesekan afektif. Mereka mengandaikan bahwa ketika mereka membicarakan tentang "masa depan", "ketakutan", atau "cinta", mereka sementara merujuk pada lanskap batin yang sama.

 

Namun, filsafat memperlihatkan bahwa pikiran orang lain tetaplah sebuah misteri yang tak dapat ditembus. Itu yang saya rasakan.

 

Ketika salah satu subjek mengatakan "aku takut", apakah qualia dari ketakutan itu merupakan kecemasan akan kehancuran reputasi sosial, atau ketakutan akan kerapuhan ontologis saat telanjang di hadapan kejujuran?

 

Ketika kata "cinta" akhirnya diucapkan setelah bertahun-tahun dikunci oleh Tatanan Simbolik, apakah kata tersebut merujuk pada substansi keterikatan utuh, ataukah sekadar undetached part dari sebuah hasrat terasing yang ingin direkognisi?

 

Bahkan saya tidak pernah memiliki kriteria objektif untuk memverifikasi apakah penghayatan batin subjek lain bergetar dalam frekuensi yang sama dengan kesadaran saya.

 

Kita ditinggalkan dalam solipsisme intersubjektif, kita menduga kita saling memahami, padahal kita mungkin hanya sedang merefleksikan konstruksi privat kita sendiri ke atas wajah orang lain.

 

Akan tetapi, dekonstruksi filosofis atas kesadaran tidak usai pada inkapabilitaa kita memahami pikiran orang lain. Krisis yang jauh lebih radikal adalah realitas bahwa kita bahkan tidak sanggup memaknai dan mengakses isi pikiran kita sendiri secara transparan.

 

Kesadaran-diri yang selama ini diandalkan oleh tradisi Kartesian sebagai fondasi kepastian, yakni klaim bahwa "Aku berpikir maka Aku ada", pada hakikatnya adalah sebuah ilusi kognitif.

 

Ludwig Wittgenstein melakukan destruksi mitos transparansi batin ini lewat rumusan mahapentingnya yang dikenal sebagai Private Language Argument.

 

Argumen ini dikonstruksikan untuk membuktikan kebuyaran gagasan bahwa seorang subjek dapat menciptakan sebuah bahasa yang secara prinsipil murni privat, yaitu sebuah sistem simbol yang hanya merujuk pada sensasi-sensasi internal privat yang hanya dapat diketahui oleh subjek itu sendiri, tanpa keterikatan pada tatanan intersubjektif publik.

 

Wittgenstein menyusun eksperimen pikirannya, bayangkan seseorang yang mengisolasi dirinya dan memutuskan untuk mencatat setiap kali sebuah sensasi privat tertentu muncul dalam batinnya dengan menuliskan simbol "S" dalam jurnal pribadinya.

 

Kuriositas fundamental yang diajukan Wittgenstein adalah, apakah simbol "S" tersebut dapat dikatakan memiliki makna yang valid? Apakah subjek tersebut benar-benar tahu apa yang dimaksud dengan "S"? Untuk dapat mengklaim bahwa penggunaan simbol "S" itu benar, harus ada kriteria ketepatan (criterion of correctness).

 

Dalam bahasa publik, kriteria ketepatan itu ada karena dijamin oleh tatanan intersubjektif, artinya bila saya menggunakan diksi "meja" untuk merujuk pada sebuah kursi, orang lain atau realitas eksternal dapat mengoreksi kesalahan saya.

 

Ada pembedaan yang jelas antara merasa benar dan secara objektif benar. Akan tetapi dalam ruang sensasi murni privat, pembedaan antara "merasa benar" dan "secara objektif benar" itu runtuh seutuhnya.

 

Setiap kali sang subjek merasa sensasi itu muncul dan menuliskan "S", tidak ada ukuran independen yang mampu memverifikasi apakah sensasi yang dirasakannya hari ini benar-benar identik dengan sensasi yang dirasakannya saat ia pertama kali menetapkan simbol "S".

 

Memori subjek tentang sensasinya sendiri tidak dapat dijadikan tolok ukur, karena itu sama saja dengan membeli dua eksemplar surat kabar yang sama untuk memverifikasi apakah berita di eksemplar pertama itu benar.

 

Dalam urusan sensasi privat, seperti rasa sakit (pain), antara "saya merasa sakit" dan "saya merasa sepertinya saya sakit" tidak pernah ada. Begitu seseorang merasa sepertinya ia sakit, ia memang merasakan sakit.

 

Tanpa adanya posibilitas untuk membedakan antara penggunaan aturan secara benar dan bayangan bahwa kita telah menggunakan aturan secara benar, maka konsepsi tentang "aturan" atau "makna" itu sendiri gugur.

 

Maka, simbol "S" itu pada akhirnya tidak merujuk pada apa pun, ia gagal bertindak sebagai tanda. Bahasa privat merupakan sebuah ketidakmungkinan logis. Implikasi dari Argumen Bahasa Privat ini melumpuhkan klaim bahwa manusia memiliki subjek yang berdaulat, indivisibel, dan transparan terhadap dirinya sendiri.

 

Kita tidak pernah memiliki akses intim murni ke dalam gejolak batin kita tanpa melalui mediasi bahasa publik yang selalu berubah-ubah. Setiap kali kita mencoba membaca batin kita sendiri, kita terpaksa menggunakan instrumen simbolik eksternal yang tidak pernah sanggup memberikan jaminan kepastian.

 

Kita hanya sanggup mengitari dan mengejawantahkan pengalaman privat kita lewat metafora dan pengandaian, namun tidak pernah sanggup menghadirkannya secara murni di hadapan panggung kesadaran sadar.

 

Ketakutan saya akan melupakan fenomena perjumpaan ini mencapai krisis terbesarnya di titik ini. Bila pikiran saya sendiri pada hakikatnya adalah sebuah misteri yang tidak transparan, dan jika kesadaran-diri merupakan sebuah ilusi, maka "Aku" yang mengalami fenomena perjumpaan itu pun sebenarnya adalah sebuah konstruksi yang rapuh.

 

Saat saya berkontemplasi kembali mengingat malam-malam penuh ketegangan eksistensial dalam fenomena tersebut, saat saya mencoba mengingat rasa bersalah, ketakutan, dan cinta yang bergejolak di dalam dada, saya tidak pernah bisa memilah secara pasti mana perasaan yang benar-benar otentik dan mana perasaan yang sekadar impresi fiktif yang baru saya ciptakan hari ini.

 

Saya tidak memiliki kriteria ketepatan independen untuk menakar kebenaran ingatan privat saya sendiri. Saya terancam oleh amnesia ontologis, bukan hanya takut kehilangan ingatan tentang fenomena itu, tapi takut menyadari bahwa "Aku" yang mengingat ini hanyalah sebuah narasi simulatif yang tak memiliki jangkar realitas murni.

 

Ketakutan akan melupakan tidak boleh diselesaikan melalui keputusasaan solipsistik, harus ditempus lewat sebuah hermeneutika kepulangan yang dewasa secara eksistensial.

 

Fenomena perjumpaan yang menjadi latar risalah ini menyajikan sebuah kurva perjalanan eksistensial yang komplit. Ia dimulai dari kedisiplinan sosial yang menindas, di mana subjek dididik untuk memandang hidup sebagai ujian yang tidak boleh gagal, mengidentikkan kebaikan dengan pencapaian akademis dan keunggulan kompetitif, serta membangun tatanan kesempurnaan yang berfungsi sebagai belenggu.

 

Subjek-subjek ini dilatih untuk pandai menyelubungi kerapuhan, mengendalikan intonasi, dan membaca dinamika ruang sosial, tanpa menyadari bahwa kelihaian menyembunyikan diri dari orang lain pada akhirnya membuat mereka terasing dan menyembunyikan diri dari diri mereka sendiri.

 

Namun, ketika dua subjek ini dipertemukan dalam ruang dan waktu yang memperkecil jarak, jerat kesempurnaan itu perlahan mengalami keretakan.

 

Kehadiran subjek lain yang memiliki kedalaman kognitif dan ketenangan yang menyimpan kuriositas bekerja sebagai gangguan traumatik atas kebohongan simbolik mereka.

 

Perjumpaan itu tidak lagi mempedulikan kompetisi fiktif tentang siapa yang lebih cerdas, lebih berhasil, atau lebih cepat unggul.

 

Pertanyaan kalkulatif itu gugur dan digantikan oleh pertanyaan ontologis yang amat sederhana namun menyakitkan, apakah ada cinta di antara mereka?

 

Sifat terfragmentasi dari perjalanan ini, dimulai dari kecanggungan tatap muka pertama, masa-masa kebersamaan yang tumbuh tanpa deklarasi resmi, malam keretakan ketika kejujuran yang prematur ditolak oleh ketakutan dan keheningan, masa-masa perpisahan yang diisi oleh kesibukan dan pembangunan reputasi palsu, hingga malam reunifikasi di mana tangan saling menggenggam dalam kegelapan di bawah ancaman kepergian yang tak menentu, menunjukan betapa manusia acap kali terlalu muda untuk memahami konsekuensi dari kejujuran afektif.

 

Penolakan dan keheningan di masa lalu tidak selalu berarti absensi perasaan, sering kali keheningan menjadi manifestasi paling murni dari ketakutan akan runtuhnya tatanan dunia bila kejujuran itu diucapkan.

 

Kebohongan paling nyaman, entah itu berpura-pura bahwa mereka hanya sahabat, direpetisi begitu lama hingga terdengar seperti kebenaran, semata-mata agar pengalaman afektif yang dahsyat itu tidak mengancam stabilitas kehidupan mereka.

 

Akan tetapi, waktu terbukti bukan aparatus penyembuh, waktu hanyalah medium yang mengajari manusia bagaimana hidup berdampingan dengan luka dan pertanyaan yang tak pernah tuntas.

 

Ketika masa-masa kemudian reunifikasi itu benar-benar terjadi di sebuah kota yang bergerak di bawah lampu-lampu tua, di tengah lalu lalang manusia anonim, perjumpaan tersebut tidak lagi mengambil bentuk kepanikan atau hasrat egoistik untuk memiliki.

 

Subjek-subjek yang kembali berhadapan ini bukan lagi subjek muda yang mengejar kepastian fiktif atau melarikan diri dari ketakutan.

 

Mereka hadir sebagai dua manusia yang telah melewati bentang perjalanan masing-masing, telah mengalami kehilangan, telah mengecap absurditas pencapaian sosial, dan akhirnya memahami sebuah kebenaran filosofis yang amat mendalam, bahwa menjadi manusia adalah keberanian untuk hadir secara otentik tanpa jaminan bahwa kita akan diterima atau diselamatkan.

 

Cinta, sebagaimana fenomena yang ingin saya ejawantahkan dalam risalah ini, pada akhirnya terbebas dari jebakan Tatanan Simbolik dan komodifikasi sosial.

 

Cinta itu bukan kontrak hukum yang menjamin kepastian masa depan, bukan juga kemenangan atas kompetisi intersubjektif, dan bukan pembuktian bahwa dua manusia sanggup mengalahkan keutuhan dunia.

 

Cinta merupakan pengalaman fenomenologis yang radikal di mana kehadiran seorang subjek lain sanggup mendekonstruksi seluruh konstruksi tentang siapa diri kita, memperlihatkan bahwa rumah kesadaran yang kita bangun bertahun-tahun selama ini pada hakikatnya hanyalah sebuah benteng yang didirikan di atas ketakutan.

 

Ketakutan saya akan melupakan fenomena ini akhirnya menemukan rekonsiliasinya di titik ini. Saya tidak perlu lagi teror oleh kenyataan bahwa memori saya akan mendistorsi detail faktual peristiwa tersebut, atau bahwa kelupaan akan mengikis warna-warna sepia dari masa lalu saya.

 

Saya juga tidak perlu lagi terlampau cemas oleh pembuktian teoritis Wittgenstein dan Quine tentang imposibilitas menembus batin orang lain atau ketidakberdayaan bahasa privat saya sendiri.

 

Karena, keotentikan dari fenomena perjumpaan itu tidak terletak pada keabadian rekaman datanya di dalam otak saya seperti hard disk komputer, tapi pada efek ontologis yang telah ditinggalkannya pada struktur keberadaan saya hari ini.

 

Perjumpaan itu telah membebaskan saya dari kepastian fiktif. Ia telah memberi saya keberanian untuk menerima bahwa manusia tidak pernah hidup di dalam ruang kepastian objektif yang steril, mereka senantiasa mengapung di antara berbagai posibilitas yang tak terduga.

 

Bentuk kebebasan paling murni yang dimiliki oleh kesadaran manusia bagi saya tidak terletak pada pengetahuan pasti tentang ke mana alur kehidupan akan membawa langkah kita, namun kesediaan eksistensial untuk terus berjalan melintasi waktu meskipun kita tidak pernah memegang jaminan masa depan.

 

Cinta yang paling otentik dan memori yang paling abadi tidak memerlukan kepemilikan mutlak atau narasi akhir yang membahagiakan secara klise.

 

Keutuhan eksistensial itu dicapai ketika seorang subjek, di tengah kecemasan akan kelupaan dan ketidakpastian dunia, sanggup berdiri tegak, menatap ke dalam kedalaman sejarah batinnya sendiri, dan menyatakan tanpa sedikit pun berbohong kepada dirinya sendiri.

 

Bahwa saya pernah mencintai, saya masih mencintai, dan melalui peristiwa perjumpaan yang tak terulang itu, saya telah berhenti menjadi sekadar simulasi dari ekspektasi orang lain, dan mulai belajar menjadi manusia yang sepenuhnya otentik. ●

 

Sumber :   https://kumparan.com/elkata-a-b-atua/waktu-lupa-melupakan-wajahnya-28H1asQbozu/full   

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar