|
Perubahan Struktural Politik-Ekonomi Eropa: Dari Integrasi ke
Kedaulatan Mahendra
Siregar : Pengamat Geopolitik, Dubes RI untuk
AS 2019, Wamenlu RI 2019-2022, Ketua OJK 2022-2026. |
KUMPARAN, 06 Oktober 2026
|
Pada 5 Oktober 2026,
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, mengumumkan pemilu dipercepat pada 29
November 2026. Keputusan tersebut menambah rangkaian perubahan politik di
Eropa. Partai-partai tradisional kehilangan dukungan, sementara kelompok
nasionalis, populis, dan antikemapanan menguat. Perubahan ini juga mulai
memengaruhi arah kebijakan Uni Eropa (UE). Gejala tersebut lebih
luas daripada pergeseran ke kanan. Setelah puluhan tahun integrasi menjadi
arah utama politik-ekonomi Eropa, kepentingan dan kewenangan nasional kembali
didahulukan. Pergeseran tersebut terjadi ketika tekanan geopolitik dan
persaingan ekonomi justru menuntut kerja sama lebih erat. Ketidakpuasan terhadap
Kemapanan Politik Dukungan kepada kelompok
antikemapanan tumbuh dari ketidakpuasan terhadap kemampuan pemerintah
mengatasi persoalan sehari-hari. Biaya hidup dan perumahan meningkat; migrasi
memperuncing perdebatan tentang pelayanan publik dan identitas nasional.
Angka pertumbuhan ekonomi tidak selalu menggambarkan kesejahteraan yang
dirasakan masyarakat. Spanyol memperlihatkan
hal tersebut. Meskipun pertumbuhannya relatif tinggi, persoalan perumahan dan
kepercayaan terhadap pemerintah tetap menonjol. Pemilu November membuka
kemungkinan pemerintahan Partai Rakyat bersama Vox, yang akan membawa
orientasi berbeda dalam perundingan kebijakan UE. Di Jerman, survei INSA
awal Oktober 2026 menempatkan Alternative für Deutschland (AfD) pada 30%,
dibandingkan CDU/CSU sebesar 18%. Di Prancis, Rassemblement National (RN)
menguat menjelang pemilu presiden 2027. Marine Le Pen kembali dapat
mencalonkan diri setelah putusan banding Juli 2026 mengurangi larangannya,
meskipun proses kasasi masih berjalan. Perkembangan di kedua negara penting
mengingat peran Jerman dan Prancis dalam integrasi Eropa. Antikemapanan tidak
selalu berarti kanan nasionalis. Viktor Orbán dikalahkan partai Tisza
pimpinan Péter Magyar dalam pemilu Hongaria pada 12 April 2026, setelah 16
tahun berkuasa. Pemilih dapat menghukum pemerintahan tanpa mengubah seluruh
pandangan ideologinya. Dukungan kepada partai nasionalis pun tidak otomatis
berarti mandat keluar dari UE. Banyak pemilih masih menghendaki manfaat pasar
tunggal, peluang kerja lintas negara, dan stabilitas ekonomi, sekaligus
menolak kewenangan Brussels yang dianggap terlalu jauh. Perbedaan antara
tuntutan pemilih dan agenda pemimpin partai ini penting, terutama ketika
partai tersebut memperoleh kekuasaan. Kedaulatan Nasional dan
Tekanan Eksternal Integrasi Eropa bertumpu
pada kesediaan negara anggota menyerahkan sebagian kewenangan kepada
institusi bersama karena manfaat ekonomi dan politiknya dianggap lebih besar.
Keseimbangan itu kini dipersoalkan, terutama dalam kebijakan migrasi, fiskal,
dan industri. Sebagian kelompok nasionalis memilih mengubah UE dari dalam
daripada mengampanyekan keluar sebagaimana Brexit. Belum jelas apakah ini
pilihan strategis setelah melihat biaya Brexit atau taktik untuk memenangkan
suara. Kebijakan mereka setelah berkuasa akan menjadi ujian sebenarnya.
Pengalaman Brexit juga tidak menutup kemungkinan dorongan keluar muncul
kembali. Partai nasionalis dapat menghindari isu tersebut saat kampanye,
kemudian meningkatkan tuntutannya jika perundingan dengan Brussels menemui
jalan buntu. Pada saat yang sama,
perang Ukraina, tuntutan belanja pertahanan NATO, kebijakan perdagangan
Amerika Serikat, dan persaingan industri dengan China memperbesar kebutuhan
koordinasi. Program pertahanan bersama SAFE senilai €150 miliar merupakan
satu respons. Laporan Mario Draghi pada 2024 memperkirakan kebutuhan tambahan
investasi Eropa sebesar €750–800 miliar setiap tahun. Politik domestik
mendorong kewenangan nasional lebih besar, sedangkan keamanan dan daya saing
global menuntut skala serta pembiayaan bersama. Ketika Risiko Politik
Masuk ke Pasar Keuangan Pada awal Oktober 2026,
selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman mendekati 150
basis poin setelah meningkat tajam dalam beberapa minggu. Imbal hasil
obligasi Prancis sepuluh tahun juga mendekati 5% ketika pemerintah mengajukan
rancangan anggaran 2027 dengan penghematan baru sekitar €43 miliar.
Ketidakpastian politik sudah tercermin dalam biaya pembiayaan, bahkan sebelum
perubahan kebijakan terjadi. Persoalan pembiayaan ini
tidak terbatas pada Prancis. Komisi Eropa mengusulkan anggaran bersama hampir
€2 triliun untuk 2028–2034, sementara kebutuhan investasi pertahanan dan
industri meningkat. Perundingan kontribusi akan sulit apabila pemerintah
nasional sekaligus ditekan untuk mengurangi pengeluaran. Nasionalisme ekonomi
juga tidak selalu berarti liberalisasi pasar. Subsidi dan perlindungan
industri justru dapat meningkat dan memperbesar fragmentasi pasar Eropa. Tiga Skenario hingga 2030 Skenario pertama,
integrasi yang disesuaikan. Pemerintah nasional memperoleh fleksibilitas
domestik lebih besar, tetapi mendukung pembiayaan pertahanan, energi, dan
pasar modal bersama. Kesepakatan anggaran 2028–2034 serta kemajuan penyatuan
pasar modal akan menguatkannya. Skenario kedua,
fragmentasi bertahap. UE bertahan secara kelembagaan, tetapi penolakan
tambahan kontribusi anggaran atau pendanaan bersama menghambat keputusan.
Integrasi formal tetap ada, tetapi efektivitas ekonominya melemah. Investor
kemudian menghadapi kebijakan industri yang tidak seragam dan ketidakpastian
pembiayaan bersama. Skenario ketiga,
disintegrasi selektif. Pemerintahan nasional menolak keputusan UE yang
mengikat, menuntut pengecualian luas, atau menyerukan referendum keanggotaan. Hasil pemilu Spanyol
November 2026 dan Prancis 2027, kebijakan pemerintahan baru Hongaria, serta
keputusan anggaran UE akan menunjukkan arah perkembangan ketiga skenario
tersebut. Implikasi bagi Indonesia Perubahan ini berkaitan
langsung dengan persetujuan dan pelaksanaan Indonesia–EU Comprehensive
Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Dari pengalaman saya berunding
dengan Uni Eropa, negosiasi sehari-hari berlangsung dengan diplomat dan
birokrat di Brussels, tetapi keputusan akhir memerlukan persetujuan politik
Dewan UE dan Parlemen Eropa. Kepentingan domestik negara anggota karena itu
tidak bisa diabaikan. Perjanjian Perlindungan Investasi (IPA) memiliki proses
persetujuan tersendiri. Pengalaman kelapa sawit
memperlihatkan pengaruh kepentingan domestik terhadap kebijakan lingkungan.
Minyak sawit dikategorikan berisiko tinggi terhadap perubahan penggunaan
lahan tidak langsung sehingga kontribusinya terhadap target energi terbarukan
dibatasi bertahap, sedangkan minyak rapa produksi Eropa tidak dikenai
pembatasan serupa. Dalam kebijakan deforestasi (EUDR), Indonesia
dikategorikan berisiko standar, sedangkan semua negara anggota UE berisiko
rendah. Perbedaan perlakuan tersebut menunjukkan mengapa Indonesia perlu
mencermati proses politik di balik perumusan aturan, bukan hanya tujuan
lingkungan yang dinyatakan secara resmi. EUDR mencakup pula kopi,
kakao, karet, dan produk kayu. Indonesia juga menghadapi CBAM dan sengketa
kebijakan ekspor nikel. Di sisi lain, diversifikasi rantai pasok Eropa
membuka peluang dalam mineral kritis dan industri pengolahan. Peluang
tersebut perlu dinilai bersama dengan kebijakan subsidi industri UE, standar
karbon, serta kepastian akses pasar setelah perjanjian perdagangan berlaku. Bagi Indonesia proses
persetujuan IEU-CEPA di Dewan UE dan Parlemen Eropa serta perundingan
anggaran UE 2028–2034 merupakan dua perkembangan yang perlu dicermati.
Keduanya akan memperlihatkan dampak perubahan politik terhadap hubungan ekonomi
Indonesia dan Eropa. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar