Sabtu, 10 Oktober 2026

 

Nasionalisme Semu Kereta Lokal

Redaktur Editorial 3 :  Redaksi Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 04 Oktober 2026

 

 

                                                           

·      Jumlah perjalanan kereta komuter berkurang 17 akibat gerbongnya ditarik karena rangka bawahnya rusak.

 

·      Kereta yang rusak tersebut buatan PT INKA yang pengujiannya sebelum dipakai kurang memadai.

 

·      Opsi mengimpor kereta bekas dari Jepang lebih layak secara bisnis karena efisien dibanding membuatnya sendiri.

 

DALAM penyediaan transportasi publik, ada empat aspek yang menjadi tulang punggung: keamanan, kenyamanan, kemudahan akses, dan keandalan. Soal-soal lain bisa dikesampingkan jika tak mendukung kepentingan publik dalam empat hal itu, misalnya mengedepankan produk dalam negeri. Ini yang terjadi ketika pemerintah memaksakan kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) yang belum teruji dipakai melayani penumpang.

 

PT Kereta Api Indonesia (KAI) menarik tujuh kereta buatan PT INKA karena komponen rangka bawah gerbongnya rusak sejak awal September 2026. Akibatnya, 17 perjalanan kereta komuter yang melayani penumpang Jakarta dan kota sekitarnya dibatalkan. Perbaikan dijadwalkan baru selesai pada 9 Oktober 2026.

 

Penelusuran majalah ini menemukan kerusakan terjadi karena pengecekan terhadap kereta sebelum dipakai kurang memadai. Atas nama kebanggaan pada produk dalam negeri, gerbong yang sebetulnya belum lulus uji itu dipaksakan mengangkut penumpang. Dampaknya bukan sekadar layanan yang terganggu, melainkan juga biaya perbaikan yang bertambah.

 

Mendorong INKA memproduksi kereta sendiri tentu saja merupakan semangat yang patut dihargai. Namun, dalam bisnis, biaya seharusnya menjadi pertimbangan penting ketimbang nasionalisme yang menggebu-gebu. Para pengurus pemerintahan tak perlu gengsi jika mengimpor kereta bekas lebih layak dan lebih murah.

 

Mari kita lihat perbandingannya. Pada 2023, PT KAI mengumumkan pengadaan satu rangkaian kereta yang berisi 12 gerbong kereta listrik baru dari Jepang senilai Rp 225,6 miliar. Jika mendatangkan kereta bekas berusia 20 tahun, biayanya hanya Rp 19,2 miliar. Ini ongkos pengiriman saja karena Jepang menggratiskan gerbong-gerbong itu melalui hibah.

 

Adapun biaya pembuatan rangkaian kereta baru dengan jumlah gerbong yang sama oleh INKA sebesar Rp 293,3 miliar. Belum lagi ongkos retrofit (modifikasi, penambahan teknologi, dan komponen) per rangkaian Rp 117,6 miliar. Sejak Indonesia mulai mengimpor kereta bekas dari Jepang pada 2000, pembatalan perjalanan kereta lebih banyak disebabkan oleh gangguan persinyalan dan jaringan rel ketimbang problem teknis di gerbongnya.

 

Lagi pula, kapasitas produksi INKA belum memadai untuk membuat kereta yang sesuai dengan kebutuhan. Per tahun, INKA hanya bisa memproduksi dua-tiga rangkaian. Sementara itu, permintaan KAI untuk melayani jumlah penumpang kereta yang terus bertambah sebanyak 16 rangkaian. INKA akan makin kewalahan memproduksi kereta karena memerlukan alokasi tenaga dan biaya untuk memperbaiki kereta yang cepat rusak.

 

Karena itu, INKA perlu lebih banyak belajar dan mengadopsi teknologi dalam membuat kereta seandal para insinyur Jepang. Dalam skema hibah barang dari negara lain, biasanya ada proses transfer pengetahuan hingga skema perawatan agar gerbong-gerbong itu bisa digunakan sampai masa pakainya habis. Para insinyur INKA bisa mempelajarinya lebih dulu sembari menyiapkan skala produksi yang lebih besar.

 

Produk dalam negeri memang patut diutamakan, tapi keberpihakan pada industri nasional tidak boleh mengalahkan kepentingan penumpang, apalagi yang berhubungan dengan aspek keselamatan. Terburu-buru memakai produk dalam negeri, atas nama nasionalisme atau kebanggaan semu, yang belum andal hanya akan menambah biaya yang tak perlu. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/kereta-inka-kereta-bekas-impor-2298550

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar