|
MENGAPA BANYAK CIVIL SOCIETY MERASA DIKHIANATI OLEH ROCKY GERUNG - Tentang
Hak Seorang Intelektual Publik Memilih PosisiDenny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 04 Oktober 2026
|
Ada
saat ketika seseorang tidak kehilangan suaranya, tetapi kehilangan tempat
dari mana suara itu dipercaya. Perubahan beberapa meter dapat terasa seperti
perjalanan sangat jauh. Itulah
drama seorang pengkritik ketika memasuki Istana. Pintu yang terbuka baginya
mungkin sama, tetapi bagi sebagian pengikutnya, lanskap moral mendadak
berubah. Rocky
Gerung kini berdiri di persimpangan itu. Bukan kecerdasannya yang terutama
sedang diuji. Bukan pula hak politiknya. Yang dipersoalkan adalah
kepercayaan. Kepercayaan
tumbuh ketika perkataan menemukan rumahnya dalam tindakan. Ketika keduanya
terlihat berpisah, publik bertanya: apa yang berubah pada orang yang dahulu
mereka dengarkan? -000- Selama
bertahun-tahun, Rocky memperoleh tempat istimewa dalam percakapan publik. Ia
bukan sekadar komentator politik. Ia menjadi simbol keberanian mempertanyakan
kekuasaan. Bahasanya
tajam. Metafornya menggigit. Ia mampu mengubah filsafat rumit menjadi
percakapan warung kopi, lalu membuat percakapan warung kopi terasa filosofis. Bagi
sebagian civil society, Rocky menjadi suara yang mengatakan apa yang mereka
sendiri ingin katakan ketika berhadapan dengan kekuasaan yang dianggap
terlalu dominan. Lalu,
pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai anggota
Dewan Pertimbangan Presiden. Rocky mengatakan dirinya hanya berpindah dari
luar ke dalam. Kalimat
itu sederhana. Tetapi pertanyaan besar bersembunyi di dalam kesederhanaannya:
benarkah berpindah dari luar kekuasaan ke dalam kekuasaan hanya soal lokasi? Lima
suara dari lingkungan kritis memperlihatkan kegelisahan itu. Sebagian bahkan
telah tumbuh sebelum kursi Wantimpres resmi didudukinya. Lima
nama tentu bukan seluruh civil society. Tetapi mereka berasal dari lingkaran
yang selama ini paling dekat dengan dunia kritik tempat Rocky dibesarkan. Feri
Amsari membawa publik kepada memori Rocky sendiri. Ia mengunggah percakapan
lama ketika Rocky ditanya bagaimana jika suatu hari tawaran jabatan datang. Rocky
ketika itu mengatakan tawaran tersebut akan ditolaknya. Setelah ia menerima
Wantimpres, rekaman lama itu memperoleh kehidupan politik yang sama sekali
baru. Ubedilah
Badrun bahkan sudah melontarkan kritik sejak pertengahan September. Ia
menilai pembelaan Rocky terhadap gagasan sosialisme Prabowo menunjukkan
perubahan posisi politik Rocky. Ubedilah
menggunakan ungkapan sangat keras, menyebut Rocky sebagai “antek Prabowo”.
Itu tentu penilaian politik Ubedilah, bukan fakta yang dengan sendirinya
telah terbukti. Laode
M. Syarif juga melontarkan sindiran setelah perdebatan Rocky dengan Feri
mengenai keterlibatan tentara dalam pertanian dan persoalan militerisasi
ruang sipil. “Konsisten
cerdas itu ternyata mahal,” tulis mantan Wakil Ketua KPK tersebut, sebelum
melanjutkan sindirannya bahwa seseorang akhirnya dapat menjadi “dungu” juga. Zainal
Arifin Mochtar memilih bahasa lebih reflektif. Ia mengingatkan bahwa manusia
berubah. Bahkan tulisan akademik mencantumkan tahun pada catatan kaki karena
pemikiran seseorang dapat berubah. Jokowi
dapat berubah. Yusril dapat berubah. Rocky juga dapat berubah. Zainal bahkan
mengingatkan publik agar tidak memberikan kepercayaan mutlak kepada dirinya
sendiri. Setelah
pelantikan, nadanya mengeras. Ia menyebut Rocky seorang sofis. Andi
Sinulingga menyerang dari wilayah argumentasi kebijakan. Ia mempertanyakan
penalaran Rocky mengenai pembiayaan Koperasi Desa dan penggunaan uang negara
untuk membangun koperasi. Andi
mengembalikan kosakata favorit Rocky kepadanya: orang yang sering menyebut
pihak lain dungu harus siap ketika waktu membuat istilah itu diarahkan
kembali kepadanya. Lima
suara itu tidak membuktikan Rocky telah berkhianat. Kritik bukan bukti.
Kekecewaan bukan pengadilan. Tetapi semuanya merekam sesuatu yang nyata:
perubahan persepsi. -000- Pertama,
terjadi retaknya kontrak moral yang tidak pernah ditandatangani. Inilah,
menurut saya, sumber emosional paling dalam dari kekecewaan tersebut. Intelektual
publik tidak dipilih melalui pemilu. Tidak ada surat pengangkatan dari
masyarakat. Tetapi pengaruhnya lahir dari sesuatu yang bahkan lebih rapuh:
kepercayaan. Orang
mendengarkan Rocky karena menganggap ia memiliki kemewahan yang tidak selalu
dimiliki pejabat: kebebasan mengatakan sesuatu tanpa takut kehilangan jabatan
pemerintahan. Dari
sanalah lahir kontrak moral tak tertulis. Masyarakat tidak memiliki Rocky.
Namun sebagian masyarakat menitipkan kegelisahannya kepada suara yang
dianggap bebas tersebut. Ketika
posisi berubah, kontrak itu tidak otomatis batal. Tetapi syarat-syaratnya
berubah. Publik mempunyai hak yang sama besarnya untuk mengevaluasi kembali
kepercayaan yang pernah diberikan. Di
sinilah ucapan lama Rocky menjadi penting. Manusia tentu boleh berubah
pikiran. Justru manusia rasional harus boleh mengubah pikirannya ketika
keadaan berubah. Namun
semakin eksplisit janji masa lalu, semakin besar kewajiban moral menjelaskan
perubahan. Yang terutama dibutuhkan bukan permintaan maaf, melainkan
argumentasi. -000- Kedua,
independensi bukan hanya keadaan pikiran. Independensi juga merupakan keadaan
kelembagaan. Inilah persoalan yang sering hilang dalam pembelaan terhadap
perpindahan posisi Rocky. Rocky
mengatakan dirinya cuma berpindah dari luar ke dalam. Sikap dan pandangannya,
katanya, tetap sama. Klaim tersebut patut memperoleh kesempatan untuk
dibuktikan. Tetapi
seseorang dapat memiliki pikiran merdeka sambil memasuki struktur yang
menciptakan insentif baru. Institusi tidak hanya bekerja melalui perintah. Ia
juga bekerja melalui kedekatan. Wantimpres
berada dalam struktur kekuasaan pemerintahan dan bertugas memberikan nasihat
serta pertimbangan kepada Presiden. Secara kelembagaan, posisinya berbeda
dari pengamat independen. Kini
ada akses yang perlu dijaga. Ada hubungan kerja. Ada kepercayaan Presiden.
Ada pula konsekuensi kelembagaan dari setiap kata yang diucapkan. Semua
itu tidak membuktikan Rocky akan kehilangan independensi. Tetapi semuanya
membuat independensinya kini memerlukan pembuktian lebih berat daripada
ketika ia masih berada di luar. Kemerdekaan
intelektual tidak cukup diukur dari perasaan seseorang tentang dirinya
sendiri. Ia terlihat ketika prinsip berbenturan dengan kepentingan, lalu
seseorang bersedia menanggung harga dari prinsipnya. -000- Ketiga,
suara publik berpotensi berubah menjadi bisikan kekuasaan. Ini mungkin
pertukaran paling mahal ketika seorang intelektual publik memasuki lingkungan
pemerintahan. Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden mengatur bahwa isi
nasihat dan pertimbangan kepada Presiden tidak boleh disebarluaskan. Ada
wilayah kerahasiaan institusional yang harus dijaga. Kritik
publik bekerja dengan cara sebaliknya. Ia harus terdengar. Argumennya dapat
diuji, dibantah, dikembangkan, bahkan ditertawakan. Demokrasi tumbuh dari
keterbukaan semacam itu. Nasihat
tertutup mungkin jauh lebih efektif. Satu kalimat di ruang Presiden terkadang
dapat mengubah kebijakan lebih cepat daripada seratus pidato di ruang publik. Rocky
sendiri menyebut salah satu perannya ialah mengolah persepsi publik supaya
sama dengan persepsi Presiden. Di sinilah kegelisahan itu menemukan
alamatnya: kini siapa menerjemahkan siapa? Ada
pula harga demokratisnya. Masyarakat tidak selalu mengetahui apakah nasihat
itu diberikan, seberapa keras disampaikan, dan apakah kekuasaan sungguh
bersedia mendengarnya. Bagi
pengikut Rocky, rasanya seperti melihat sebuah lampu dipindahkan dari halaman
menuju ruang dalam Istana. Ruangan di dalam mungkin menjadi lebih terang. Namun
pertanyaan mereka sederhana: apakah orang-orang yang tetap berdiri di luar
pagar masih mendapatkan cahaya yang selama ini menerangi mereka? -000- Kontra-argumen
terhadap seluruh kritik tersebut sangat kuat. Tanpa kontra-argumen ini,
kritik terhadap Rocky justru berisiko berubah menjadi dogma baru yang tidak
liberal. Mengapa
seorang pengkritik harus selamanya berada di luar? Mengapa seorang
intelektual hanya dianggap murni selama tangannya tidak pernah menyentuh
mesin pemerintahan? Sejarah
justru memperlihatkan sebaliknya. Václav Havel adalah penulis dan pembangkang
komunis sebelum akhirnya memimpin Cekoslowakia dan kemudian menjadi Presiden
Republik Ceko. Lech
Wałęsa berangkat dari galangan kapal Gdańsk, memimpin gerakan Solidarność
melawan rezim komunis, lalu menjadi Presiden Polandia. Perlawanan akhirnya
memasuki negara. Fernando
Henrique Cardoso bahkan lebih menarik. Ia sosiolog terkemuka, akademisi, dan
penentang kediktatoran militer Brasil sebelum masuk politik dan akhirnya
menjadi presiden. Cardoso
tidak berhenti menjadi intelektual ketika memasuki pemerintahan. Ia membawa
pengetahuan akademiknya ke arena tempat teori harus berhadapan langsung
dengan keterbatasan kenyataan. Tetapi
ada perbedaan penting. Havel, Wałęsa, dan Cardoso masuk dengan mandat
sendiri. Rocky masuk sebagai penasihat yang kursinya diberikan Presiden.
Jarak kritis menjadi lebih sulit dijaga. Meski
demikian, memasuki kekuasaan bukanlah pengkhianatan. Bahkan dalam keadaan
tertentu, menolak masuk kekuasaan dapat menjadi kemewahan moral yang tidak
menghasilkan perubahan konkret. Seorang
dokter tidak kehilangan integritas karena memasuki ruang operasi. Ia
kehilangan integritas jika mulai menutupi kesalahan di meja bedah. Demikian
pula intelektual ketika memasuki ruang pengambilan keputusan. Rocky
dapat mengajukan pembelaan yang masuk akal: mengapa terus berteriak dari luar
pagar jika tersedia kesempatan membisikkan koreksi langsung kepada Presiden? Ia
juga menegaskan Wantimpres mempunyai kedudukan etis, bukan teknis, termasuk
membaca ekses kebijakan dan memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan
pemerintah. Pembelaan
itu sah. Bahkan penting. Tetapi justru karena sah, ukuran pembuktiannya
menjadi sederhana: apakah akses baru tersebut menghasilkan keberanian yang
lebih efektif? Masuk
Istana tidak dengan sendirinya bermasalah. Persoalan baru muncul jika
kedekatan kepada kekuasaan membuat standar moral terhadap kekuasaan menjadi
lebih lunak daripada sebelumnya. Karena
itu, sejarah Havel, Wałęsa, dan Cardoso tidak membebaskan Rocky dari
pertanyaan. Sejarah mereka justru menyediakan ukuran untuk menilai pilihan
Rocky. Yang
menentukan bukan apakah seorang intelektual berada di luar atau di dalam
kekuasaan. Yang menentukan adalah apa yang terjadi pada nuraninya setelah
berpindah. Namun
analogi itu memiliki batas. Havel dan Wałęsa memasuki kekuasaan dengan mandat
gerakan rakyat. Rocky masuk melalui penunjukan Presiden. Perbedaan
itu penting. Semakin dekat seorang intelektual kepada kekuasaan, semakin
besar kewajibannya membuktikan bahwa akses tidak berubah menjadi
ketergantungan. -000- Dua
buku klasik membantu membawa perdebatan ini melampaui Rocky Gerung, menuju
pertanyaan universal mengenai hubungan intelektual, kekuasaan, kebenaran, dan
tanggung jawab moral. The
Treason of the Intellectuals, Julien Benda. Buku klasik ini pertama kali
terbit pada 1927 dan kemudian hadir dalam berbagai edisi serta terjemahan
baru. Benda
memperingatkan bahaya ketika kaum intelektual meninggalkan nilai universal
demi gairah politik, kepentingan kelompok, nasionalisme, ataupun kedekatan
dengan kekuasaan. Benda
tidak meminta intelektual steril dari politik. Persoalan muncul ketika
kebenaran mulai disesuaikan dengan kepentingan politik yang sedang ingin
dibela. Buku
ini relevan bagi Rocky sekaligus para pengkritiknya. Loyalitas kepada oposisi
dapat membutakan intelektual, sama seperti loyalitas kepada pemerintah dapat
membutakannya. Ukuran
akhirnya bukan posisi politik seseorang. Ukurannya adalah keberanian
menerapkan standar kebenaran yang sama kepada kawan, lawan, oposisi, ataupun
penguasa yang memberinya jabatan. -000- Representations
of the Intellectual, Edward W. Said. Buku berdasarkan Reith Lectures 1993 ini
menggambarkan intelektual sebagai sosok yang mempertahankan keberanian
berbicara kepada kekuasaan. Bagi
Said, intelektual harus memelihara skeptisisme terhadap ortodoksi, privilese,
nasionalisme, bahkan terhadap institusi yang menyediakan kenyamanan bagi
kehidupan profesionalnya sendiri. Namun
Said tidak menawarkan romantisme sederhana tentang intelektual yang harus
selamanya menyendiri. Tantangannya justru mempertahankan jarak kritis sambil
tetap terlibat dalam persoalan dunia. Dari
Said kita memperoleh ukuran penting bagi Rocky. Yang perlu ditanyakan adalah
kepada siapa keberanian intelektualnya diarahkan ketika risiko pribadi
meningkat, bukan di mana kursinya berada. Berbicara
keras ketika berada di luar kekuasaan relatif mudah. Ujian lebih berat datang
ketika kebenaran harus disampaikan kepada orang yang menentukan kedudukan
kita sendiri. -000- Ada
alasan personal mengapa perdebatan seperti ini terasa penting. Dalam
perjalanan panjang berjumpa dunia gagasan dan dunia kekuasaan, keduanya
selalu mempunyai godaan berbeda. Dunia
gagasan menggoda seseorang merasa paling benar. Dunia kekuasaan menggoda
seseorang merasa paling penting. Keduanya dapat mengubah manusia tanpa
disadarinya sendiri. Sebagai
konsultan politik, saya pernah ikut mendampingi beberapa kandidat presiden.
Saya belajar bahwa kedekatan dengan pusat keputusan memang membuka peluang
perubahan. Banyak hal hanya dapat diselesaikan dari dalam ruang itu. Tetapi
akses juga mempunyai gravitasi. Perlahan, tanpa suara, seseorang dapat mulai
memahami kekuasaan terlalu baik, lalu berhenti memahami mereka yang terkena
akibat kekuasaan. Karena
itulah seorang intelektual di dalam kekuasaan membutuhkan lebih banyak
cermin, bukan lebih sedikit. Kritik dari sahabat justru harus diperlakukan
sebagai alarm. Dalam
pengertian itu, Feri, Ubedilah, Laode, Zainal, dan Andi tidak perlu
diposisikan sebagai hakim yang sudah menentukan kesalahan Rocky. Mereka
lebih berguna dibaca sebagai alarm. Sebagian berbunyi kasar. Sebagian mungkin
berlebihan. Tetapi sebuah alarm tidak menjatuhkan vonis. Ia meminta kita
memeriksa. -000- Rocky
berhak berubah. Bahkan ia berhak menyimpulkan bahwa pandangannya dahulu
keliru. Kebebasan berpikir menjadi palsu apabila manusia diwajibkan menjadi
tawanan kalimat masa lalunya. Civil
society mempunyai hak yang sama. Mereka boleh kecewa. Mereka boleh menarik
kepercayaan. Mereka boleh meminta penjelasan atas jarak antara perkataan
kemarin dan tindakan hari ini. Di
sinilah demokrasi seharusnya menjadi dewasa. Kita tidak perlu menciptakan
santo dari pengkritik kekuasaan, lalu merasa dunia runtuh ketika sang santo
ternyata manusia. Zainal
Arifin Mochtar memberi pengingat yang relevan: manusia berubah. Karena itulah
gagasan dan institusi seharusnya lebih kita percaya daripada kultus terhadap
individu. Maka
jangan buru-buru menyebut Rocky pengkhianat. Berikan posisi barunya waktu
untuk menghasilkan bukti. Tetapi jangan pula mematikan pertanyaan hanya
karena Rocky kini berada di dalam. Ujian
sesungguhnya datang ketika pemerintah mengambil langkah yang bertentangan
dengan prinsip yang selama ini dibelanya. Pada saat itulah publik akan
menunggu. Apakah
Rocky masih menggunakan ukuran yang sama? Apakah keberanian yang dahulu
diarahkan kepada kekuasaan lama juga diarahkan kepada kekuasaan yang kini
memberinya tempat? Jika
jawabannya ya, sejarah mungkin mencatat perpindahan Rocky bukan sebagai
penyerahan diri, melainkan eksperimen berani membawa kritik dari jalanan
menuju ruang keputusan. Jika
jawabannya tidak, publik memperoleh alasan lebih kuat untuk kecewa. Pada
akhirnya, persoalannya bukan Rocky memasuki Istana. Persoalannya adalah
apakah suatu hari Istana justru memasuki Rocky. ● REFERENSI Julien
Benda. The Treason of the Intellectuals. Karya asli terbit 1927. Transaction
Publishers, 2007. Edisi terjemahan baru oleh David Broder, Eris, 2021. Edward
W. Said. Representations of the Intellectual: The 1993 Reith Lectures.
Pantheon Books, 1994. Edisi Vintage Books, 1996. Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar