|
Melihat China dari Shuhe Bre
Redana : Penulis kolom “Udar Rasa” di Kompas. |
KOMPAS, 03 Oktober 2026
|
Yang mengesankan saya adalah bagaimana sejumlah tempat, maksud
saya sejumlah desa, berkembang secara bottom up, dari bawah, bukan top down
alias rekayasa dari atas. Yang Erche Namu lahir tahun 1966 di Zuosuo, sebuah desa di
pinggir Danau Lugu. Ayah saya namanya Zhemi, demikian dia memulai ceritanya.
Dalam masyarakat suku kami, beginilah biasanya kehidupan suatu keluarga.
Lelaki dan perempuan tidak boleh nikah, sebab cinta seperti musim: datang dan
pergi. Perempuan Mosuo, begitu ia menyebut sukunya, boleh memiliki pacar
sebanyak-banyaknya selama hidup dan melahirkan banyak anak. Tiap anak bisa
jadi dari ayah berbeda. Tak seorang ayah bakal tinggal bersama anak atau
anak-anaknya. Anak-anak Mosuo tinggal dan dibesarkan oleh ibunya, menyandang
nama keluarga dari pihak ibu. Cerita di atas saya ambil dari novel Leaving Mother Lake,
ditulis oleh perempuan setempat, Namu, bersama antropolog Amerika, Christine
Mathieu. Bagi saya karya itu merupakan salah satu novel antropologi terbaik,
menggambarkan kehidupan suku Mosuo di China. Novel ini pula yang membuat
saya, ketika beruntung ada yang membawa ke China, tak menyiakan-nyiakan
kesempatan untuk menyatroni Danau Lugu, wilayah kediaman suku Mosuo. Danau Lugu terletak di perbatasan Provinsi Yunnan dan Sichuan di
barat daya Tiongkok. Berada di daerah ketinggian sekitar 2.800 meter di atas
permukaan laut, Danau Lugu sangat indah, airnya sangat bening—sebening air
mata. Penduduk setempat mempercayai air danau ini tercipta dari air mata dewi
gunung mereka, namanya Gemu, yang sedih ditinggal kekasih. Kita tak bisa mengabaikan makna mitologi, dongeng, folklore, dan
lain-lain, termasuk tentu saja ideologi yang iuran membentuk sistem nilai dan
kepercayaan rakyat. Dipandu arah oleh pandangan dunia setempat,
kebijakan-kebijakan lokal, serta garis ideologi dalam hal ini
sosialis-komunis, dari pengalaman mengunjungi beberapa desa di Tiongkok pada tahun-tahun
terakhir saya seperti melihat bagaimana China modern terbentuk. Yang mengesankan saya adalah bagaimana sejumlah tempat, maksud
saya sejumlah desa, berkembang secara bottom up, dari bawah, bukan top down
alias rekayasa dari atas. Dari narasi tadi, Danau Lugu berkembang menjadi
daerah wisata yang menarik banyak turis, terutama mereka yang menyukai tempat
hening. Kita bisa menikmati danau yang bisa berubah berkali-kali
suasananya dikarenakan cuaca yang berubah-ubah dalam sehari. Sore ketika
cuaca cerah kita bisa baca buku sambil minum kopi di pinggir danau dengan
bunga-bunga liar warna-warni di tepinya. Hampir semua ditangani dan dimiliki
penduduk lokal. Erche Namu, yang berhasil memopulerkan daerahnya melalui
novel, kini memiliki kafe/bar di Lijiang, kota tak jauh dari situ. Daerah paling populer dan menjadi tujuan turis di Provinsi Yunnan
adalah Shangri-La. Selain mampir ke Lugu dalam perjalanan ke atap langit
Shangri-La, turis biasanya juga mengunjungi Balagezong. Balagezong dulunya
desa terisolir. Lelaki asal daerah itu yang jadi pengusaha sukses di kota
besar, kader partai, dengan uang sendiri membangun jalan sepanjang 60
kilometer untuk membuka desanya dari isolasi. Jalan beraspal mulus dibangun selama bertahun-tahun bersama
penduduk setempat, menyusuri ngarai terjal, dengan kiri kanan jurang sedalam
1.000 meter. Andai orang tergelincir, yang bisa menyelamatkan bukan tim SAR,
melainkan Pendekar Rajawali. Ada pula daerah yang saya merasa akrab, yakni Desa Shuhe di
pinggiran kota Lijiang. Shuhe merupakan desa wisata terpopuler di Lijiang.
Tiga tahun lalu ketika mengunjungi tempat ini, kami tinggal di penginapan
yang merupakan usaha sampingan pedagang teh, pasangan muda Aho dan Axiu. Kami
jadi akrab dengan mereka. Aho memanggil saya dengan sebutan ”kakak ipar”. Mengunjungi mereka lagi setelah tiga tahun berlalu, kini bayi
lelaki mereka yang baru lahir kala itu, namanya Jiaozi, telah sekolah taman
kanak-kanak. Guan Yu, perempuan yang dulu numpang di tempat mereka untuk
melakukan praktik pengobatan tradisional telah memiliki tempat praktik
sendiri di Shuhe. Kedai kopi makin banyak, termasuk yang dijaga barista cewek
cantik sosialis di dekat tempat Aho. Kami bertemu banyak orang di kedai minum
teh milik Aho, beberapa ada yang menginap, kami ngobrol sambil minum teh
bersama, menjadikan saya serasa di penginapan dalam film yang dibintangi Lin
Ching-Hsia dan Maggie Cheung, Dragon Inn. Di balik perkembangan Shuhe yang kian meriah, glamour, modern,
kelestarian alam dijaga ketat. Mata
air disakralkan, sungai dan parit mengalir bening. Yang tugas menjaga sumber
daya alam tersebut adalah kader-kader partai di desa. Tidak ada pungli oleh
akamsi dan korupsi karena di China pelaku korupsi dihukum mati. Dari Shuhe dan desa-desa lain di China saya melihat bagaimana
seharusnya desa berkembang. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/melihat-china-dari-shuhe?open_from=Jeda_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar