Minggu, 04 Oktober 2026

 

Melihat China dari Shuhe

Bre Redana :  Penulis kolom “Udar Rasa” di Kompas.

KOMPAS, 03 Oktober 2026

 

 

                                                           

Yang mengesankan saya adalah bagaimana sejumlah tempat, maksud saya sejumlah desa, berkembang secara bottom up, dari bawah, bukan top down alias rekayasa dari atas.

 

Yang Erche Namu lahir tahun 1966 di Zuosuo, sebuah desa di pinggir Danau Lugu. Ayah saya namanya Zhemi, demikian dia memulai ceritanya. Dalam masyarakat suku kami, beginilah biasanya kehidupan suatu keluarga. Lelaki dan perempuan tidak boleh nikah, sebab cinta seperti musim: datang dan pergi.

 

Perempuan Mosuo, begitu ia menyebut sukunya, boleh memiliki pacar sebanyak-banyaknya selama hidup dan melahirkan banyak anak. Tiap anak bisa jadi dari ayah berbeda. Tak seorang ayah bakal tinggal bersama anak atau anak-anaknya. Anak-anak Mosuo tinggal dan dibesarkan oleh ibunya, menyandang nama keluarga dari pihak ibu.

 

Cerita di atas saya ambil dari novel Leaving Mother Lake, ditulis oleh perempuan setempat, Namu, bersama antropolog Amerika, Christine Mathieu. Bagi saya karya itu merupakan salah satu novel antropologi terbaik, menggambarkan kehidupan suku Mosuo di China. Novel ini pula yang membuat saya, ketika beruntung ada yang membawa ke China, tak menyiakan-nyiakan kesempatan untuk menyatroni Danau Lugu, wilayah kediaman suku Mosuo.

 

Danau Lugu terletak di perbatasan Provinsi Yunnan dan Sichuan di barat daya Tiongkok. Berada di daerah ketinggian sekitar 2.800 meter di atas permukaan laut, Danau Lugu sangat indah, airnya sangat bening—sebening air mata. Penduduk setempat mempercayai air danau ini tercipta dari air mata dewi gunung mereka, namanya Gemu, yang sedih ditinggal kekasih.

 

Kita tak bisa mengabaikan makna mitologi, dongeng, folklore, dan lain-lain, termasuk tentu saja ideologi yang iuran membentuk sistem nilai dan kepercayaan rakyat. Dipandu arah oleh pandangan dunia setempat, kebijakan-kebijakan lokal, serta garis ideologi dalam hal ini sosialis-komunis, dari pengalaman mengunjungi beberapa desa di Tiongkok pada tahun-tahun terakhir saya seperti melihat bagaimana China modern terbentuk.

 

Yang mengesankan saya adalah bagaimana sejumlah tempat, maksud saya sejumlah desa, berkembang secara bottom up, dari bawah, bukan top down alias rekayasa dari atas. Dari narasi tadi, Danau Lugu berkembang menjadi daerah wisata yang menarik banyak turis, terutama mereka yang menyukai tempat hening.

 

Kita bisa menikmati danau yang bisa berubah berkali-kali suasananya dikarenakan cuaca yang berubah-ubah dalam sehari. Sore ketika cuaca cerah kita bisa baca buku sambil minum kopi di pinggir danau dengan bunga-bunga liar warna-warni di tepinya. Hampir semua ditangani dan dimiliki penduduk lokal. Erche Namu, yang berhasil memopulerkan daerahnya melalui novel, kini memiliki kafe/bar di Lijiang, kota tak jauh dari situ.

 

Daerah paling populer dan menjadi tujuan turis di Provinsi Yunnan adalah Shangri-La. Selain mampir ke Lugu dalam perjalanan ke atap langit Shangri-La, turis biasanya juga mengunjungi Balagezong. Balagezong dulunya desa terisolir. Lelaki asal daerah itu yang jadi pengusaha sukses di kota besar, kader partai, dengan uang sendiri membangun jalan sepanjang 60 kilometer untuk membuka desanya dari isolasi.

 

Jalan beraspal mulus dibangun selama bertahun-tahun bersama penduduk setempat, menyusuri ngarai terjal, dengan kiri kanan jurang sedalam 1.000 meter. Andai orang tergelincir, yang bisa menyelamatkan bukan tim SAR, melainkan Pendekar Rajawali.

 

Ada pula daerah yang saya merasa akrab, yakni Desa Shuhe di pinggiran kota Lijiang. Shuhe merupakan desa wisata terpopuler di Lijiang. Tiga tahun lalu ketika mengunjungi tempat ini, kami tinggal di penginapan yang merupakan usaha sampingan pedagang teh, pasangan muda Aho dan Axiu. Kami jadi akrab dengan mereka. Aho memanggil saya dengan sebutan ”kakak ipar”.

 

Mengunjungi mereka lagi setelah tiga tahun berlalu, kini bayi lelaki mereka yang baru lahir kala itu, namanya Jiaozi, telah sekolah taman kanak-kanak. Guan Yu, perempuan yang dulu numpang di tempat mereka untuk melakukan praktik pengobatan tradisional telah memiliki tempat praktik sendiri di Shuhe.

 

Kedai kopi makin banyak, termasuk yang dijaga barista cewek cantik sosialis di dekat tempat Aho. Kami bertemu banyak orang di kedai minum teh milik Aho, beberapa ada yang menginap, kami ngobrol sambil minum teh bersama, menjadikan saya serasa di penginapan dalam film yang dibintangi Lin Ching-Hsia dan Maggie Cheung, Dragon Inn.

 

Di balik perkembangan Shuhe yang kian meriah, glamour, modern, kelestarian alam  dijaga ketat. Mata air disakralkan, sungai dan parit mengalir bening. Yang tugas menjaga sumber daya alam tersebut adalah kader-kader partai di desa. Tidak ada pungli oleh akamsi dan korupsi karena di China pelaku korupsi dihukum mati.

 

Dari Shuhe dan desa-desa lain di China saya melihat bagaimana seharusnya desa berkembang. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/melihat-china-dari-shuhe?open_from=Jeda_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar