|
Konjungsi
dalam Bahasa Akal Imitasi Rahmat Pakaya : Alumnus Program Studi Sastra Indonesia
Universitas Indonesia. |
TEMPO MINGGUAN, 27 September 2026
|
· Orang Indonesia paling banyak memakai
akal imitasi untuk mengerjakan tugas esai. · Bahasa akal imitasi cenderung seragam
sehingga mudah dikenali karena memiliki pola tertentu. · Pola yang acap dipakai AI dalam menulis
adalah pemakaian konjungsi korelatif yang tak sesuai tata bahasa. KECERDASAN
buatan (AI) saat ini berperan besar dalam peradaban manusia. Large language
models atau LLMs, seperti Gemini, ChatGPT, dan DeepSeek, banyak digunakan
untuk berbagai keperluan. Pemanfaatan akal imitasi juga berdampak pada
tulisan yang dihasilkan AI, seperti esai dan tugas. Laporan
Anthropic Economic Index edisi Januari 2026 memuat satu temuan: Indonesia
merupakan negara dengan penggunaan AI untuk keperluan tugas sekolah atau
kuliah tertinggi di dunia. Ini merupakan kabar baik yang mengandung ancaman.
Batas antara tulisan manusia dan AI menjadi kabur. Ada sebuah
kekhawatiran: orang-orang akan banyak meminta AI mengerjakan tugas secara
penuh, bukan menjadikan AI sebagai alat bantu untuk berpikir. Lantas
bagaimana mengetahui sebuah tulisan merupakan buatan AI? Sampai
hari ini memang belum ada alat pendeteksi yang seratus persen akurat untuk
mengidentifikasi tulisan yang dihasilkan AI. Namun ada yang menarik: tata
bahasa AI memiliki pola yang cukup mudah ditebak. Respons AI cenderung
menggunakan konjungsi korelatif. Ada dua
konjungsi korelatif yang sering digunakan, yaitu konjungsi tidak hanya …,
tetapi juga … dan bukan hanya …, melainkan juga …. Menurut Yudhistira dalam
artikel berjudul “Konjungsi Koordinatif, Korelatif, Subordinatif, dan
Antarkalimat” di Narabahasa.id, konjungsi korelatif seperti ini merupakan dua
konjungsi yang berpasangan untuk menghubungkan dua unsur yang sederajat. Sebuah
artikel “Ketika AI Menulis: Menguak Pola Kalimat ‘Bukan Hanya Ini—Tapi Juga
Itu’ dalam Komunikasi Korporat” di arsa.technology juga membahas pola bahasa
AI dengan menggunakan konjungsi korelatif. Sebagai contoh, pola kalimat yang
mengandung konjungsi korelatif adalah (1) guru-guru itu tidak hanya mengajar,
tetapi juga membantu proses distribusi MBG dan (2) Indonesia bukan hanya
negara yang kaya akan sumber daya alam, melainkan juga kaya akan budaya.
Kemunculan struktur seperti ini memang nyata dalam teks buatan AI. Namun ini
tidak bisa membuat kita sepakat bahwa setiap kalimat yang mengandung
konjungsi korelatif adalah hasil kerja AI. Konjungsi
korelatif (tidak hanya…, tetapi juga… dan bukan hanya…, melainkan juga…)
memiliki aturan penggunaan. Ini yang kadang tidak sepenuhnya dipatuhi AI.
Yang paling penting dalam penggunaan konjungsi korelatif adalah kesejajaran
sintaksis (paralelisme), yaitu unsur yang dihubungkan memiliki fungsi atau
bentuk gramatikal yang sejajar. Ada
sebuah kalimat seperti ini yang muncul ketika ChatGPT diminta membuat sebuah
esai: Pelatihan sebaiknya tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi
juga strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Secara sintaksis, unsur
mengajarkan keterampilan teknis berupa frasa verba, sedangkan strategi
pembelajaran yang berpusat pada siswa berupa frasa nomina. Ketidaksejajaran
ini membuat hubungan kedua unsur menjadi tidak begitu jelas. Kesalahan
seperti ini bukan sekadar persoalan tata bahasa. Struktur ini dapat
mempengaruhi cara pembaca memahami maksud kalimat. Seharusnya frasa verba
tersebut dipasangkan dengan frasa verba yang sejajar, misalnya dengan
menambahkan kata menerapkan sebelum frasa strategi pembelajaran. Akibatnya,
ketidaksejajaran sintaksis seperti ini dapat membuat kalimat menjadi
terdengar janggal ketika dibaca dan berpotensi mengganggu pemahaman pembaca. Namun
tidak ada orang yang dapat menghakimi kredibilitas sebuah tulisan hanya dari
satu pola kalimat. Kemunculan konjungsi korelatif dalam tulisan yang
dihasilkan AI hanyalah salah satu rekam jejak linguistik Indonesia dalam
ekosistem AI. Sebagai masyarakat pembaca, tugas kita adalah tetap kritis dan
bijak dalam mencerna setiap bahasa yang dihasilkan mesin. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/konjungsi-bahasa-ai-2294258
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar