|
Iris Istri Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 17 Oktober 2026
Setelah camino
dua etape, kami makan siang di Magome. Ini lokasi transit camino Nakasendo yang
lebih besar dan lebih indah. Makan siangnya set Jepang. Meski menunya istimewa
tapi itu bukan agenda pokok --itu keharusan orang hidup. Agenda terpenting di
Magome --agak malu menyebutkannya-- adalah membeli talenan.
Sssstttt....!
Itu jangan
dihubungkan dengan doktrin sayang istri. Istri memang suka masak dan butuh
talenan, tapi dia sudah punya beberapa. Beli talenan di Magome lebih karena
ikut-ikutan.
Ketua rombongan
kami, pengusaha sangat besar itu, mampu menceritakan kehebatan talenan Magome.
Sama mampunya dengan saat menceritakan mengapa Jepang sampai punya 2.200
lapangan golf. Termasuk bagaimana talenan Magome dibeli lebih banyak dari
jumlah pemain golf di Jepang yang mencapai 10,7 juta orang.
Ia bisa
bercerita detail bahkan sampai bagaimana sistem dan prosedur mencuci talenan:
jangan dicuci dengan deterjen. Jangan pula dicuci dengan sabun berlebihan. Itu
akan menghilangkan zat-zat di kayu talenan. Padahal zat-zat itu mengandung
aroma harum dan anti bakteri.
Talenan juga
tidak boleh terendam air. Atau selalu basah. Meski anti bakteri tapi talenan
tidak anti jamur. Kalau sampai talenan berjamur amatlah berbahaya bagi
kesehatan.
Talenan harus
selalu kering.
Ia juga bisa
menjelaskan jenis-jenis talenan. Talenan untuk potong daging harus dibedakan
dengan talenan untuk potong sayur dan cabai. Juga harus berbeda dengan talenan
untuk potong buah --biasanya lebih tipis.
Dari yang
penting-penting itu ada yang tidak kalah penting: pisau untuk mengiris. Pisau
harus sangat tajam --agar tidak terlalu ditekan sampai melukai talenan.
Pokoknya bos
perusahaan besar itu bisa menjelaskan karakter talenan sama baiknya dengan
memahami karakter para partner bisnisnya.
Saya pun ikut
masuk toko oleh-oleh. Di Tsumagu saya membeli caping Jepang. Itu karena saya
tidak membawa topi. Saya selalu taat pada dokter transplantasi di Tianjin:
hindari terik matahari.
Di Magome saya
ikut lagi masuk toko oleh-oleh: untuk membeli talenan. Ketika mulai memilih,
ketua rombongan menghampiri saya.
"Jangan
beli di sini pak. Kita ke sana saja. Lebih banyak pilihan," kata ketua
rombongan itu.
Saya pun
membututinya. Ia mendaki jalan naik. Saya ikut. Ia belok kanan. Saya ikut.
Tanjakan jalan batu itu kian tinggi. Ia kian jauh di depan.
Ternyata toko
yang dimaksud masih jauh lagi di atas sana. Jalannya menanjak. Maka ia kian
jauh di depan. Apalagi ia justru berlari di jalan yang paling menanjak. Saya
pilih mengerem kaki. Saya sadar: beda umur. Tidak boleh emosi. Jangan karena talenan
napas putus di tanjakan.
Saya pilih
istirahat sebentar. Kebetulan ada kincir air yang amat tua di tepi jalan
menanjak. Setelah nafas tertata saya mengejarnya lagi: pelan-pelan. Setiap toko
saya tengok --siapa tahu ia di dalamnya.
Akhirnya
tibalah di toko itu: toko talenan.
Ia benar: aneka
ukuran dipajang di seantero toko. Talenan daging. Talenan sayur. Talenan buah.
Tidak hanya talenan. Mangkok kayu pun ada. Juga sendok kayu, centong, piring,
cangkir dan segala macam alat dapur dari kayu.
Saya ambil satu
talenan. Satu saja. Itu pun belum tentu dia pakai. Bisa hanya disimpan untuk
kenangan.
Magome memang
dikenal sebagai penghasil kayu terbaik di Jepang: kayu hinoki. Itulah sebabnya
kerajinan kayu lahir di Magome. Sejak zaman Edo. Tekstur kayunya memberi rasa
tangan yang berbeda dibanding talenan kayu lain.
Kayu hinoki
dikenal di Jepang sebagai kayu pilihan untuk membangun istana, kuil, pagoda dan
bangunan lain yang ingin berumur panjang. Bahkan, di Jepang, kayu hinoki biasa
digunakan untuk bak mandi. Bukan pohon besar yang dipahat. Bak itu terbuat dari
papan-papan hinoki yang disambung dan dirangkai. Tukang kayu di Jepang tahu:
tidak akan bocor. Sifat kayu hinoki khas: bila basah justru mengembang. Berarti
begitu kena air bagian sambungannya kian rapat. Karena itu saya justru khawatir
kalau tumbuh di Indonesia kayu hinoki dianggap bisa untuk jamu sari rapat.
Saya melirik
ketua rombongan: ia membeli lima talenan. Istrinya membeli tongkat kayu
panjang. "Untuk pakai sepatu," katanyi. Betul. Baru sekali itu saya
melihat ada alat bantu pakai sepatu yang tongkatnya panjang sekali: agar
pemakai sepatu tidak perlu jongkok atau membungkuk.
Alat itu
disebut shoehorn. Biasa juga disebut sendok sepatu. shoehorn dari kayu hinoki
tentu istimewa: ringan dan aroma kayunya khas.
Di Indonesia
saya tidak tahu kayu apa yang dibuat talenan. Anda tahu? Mungkin kayu jati.
Padat dan kering. Juga tidak terlalu keras --terasa ketika menggergaji jati
lebih mudah. Atau kayu sawo. Mahoni. Jangan-jangan kayu waru.
Kayu waru
terbukti cocok untuk sandal santri: tidak mudah lembab, ringan dan tidak
terlalu keras bagi ujung pisau. Juga untuk bantal santri --di samping kayu
randu.
Apa pun kayunya
sebenarnya yang terpenting adalah tangan istri: gaya mengiris tiap istri tidak
sama. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/974012/iris-istri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar