|
Beijing, Chongqing, dan Mao Ning: Diplomasi
Alumnus, Buku, dan Kebudayaan Budy Sugandi : Direktur Eksekutif Cendekia Madani, penulis dan
editor buku Indonesia-Tiongkok: Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan (2026). |
MEDIA INDONESIA, 16 Oktober 2026
|
PENDIDIKAN lintas negara semestinya tidak
berhenti pada keberhasilan individu, tetapi tumbuh menjadi modal sosial,
intelektual, dan diplomatik bagi kemajuan bangsa. Hubungan Indonesia dan Tiongkok kerap dibicarakan
melalui angka perdagangan, investasi, pembangunan infrastruktur, dan dinamika
geopolitik. Semua itu penting. Namun, ada dimensi lain yang tidak kalah
menentukan, tetapi sering luput dari perhatian: manusia yang menjadi
penghubung kedua negara, terutama mereka yang pernah menempuh pendidikan di Tiongkok
dan kini mengabdikan pengetahuan serta pengalaman mereka bagi masyarakat
Indonesia. Di tengah dunia yang semakin saling terhubung
sekaligus penuh ketidakpastian, hubungan antarnegara tidak cukup hanya
ditopang kesepakatan pemerintah dan kepentingan ekonomi. Ia membutuhkan
pemahaman lintas budaya, kepercayaan, serta jejaring masyarakat yang mampu
menjembatani perbedaan cara pandang. Dalam konteks inilah, kunjungan budaya
dan akademik 20 alumnus Indonesia lulusan universitas di Tiongkok ke dua
kota, yaitu Beijing dan Chongqing, pada 10-15 Oktober 2026 menjadi relevan
untuk dibaca lebih jauh. Bagi kami, kunjungan itu bukan sekadar perjalanan
mengenang masa studi atau agenda seremonial persahabatan, melainkan juga
menghadirkan pertanyaan mendasar: bagaimana pengalaman pendidikan di luar
negeri dapat diubah menjadi kekuatan kolektif untuk memperluas kerja sama,
memperkaya pengetahuan, dan menghasilkan manfaat nyata bagi Indonesia? Pertanyaan itu penting karena keberhasilan
pendidikan internasional seharusnya tidak semata-mata diukur dari seberapa
tinggi tingkat pendidikan yang diraih atau karier yang dicapai seseorang.
Ukuran yang lebih bermakna ialah sejauh mana pengetahuan, pengalaman, dan
jejaring yang dibangun selama pendidikan dapat kembali kepada masyarakat
dalam bentuk kontribusi yang berkelanjutan. DIPLOMASI YANG MELAMPAUI MEJA PERUNDINGAN Salah satu agenda penting dalam kunjungan di
Beijing ialah pertemuan dengan Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri
Tiongkok sekaligus Direktur Jenderal Press, Communication, and Public
Diplomacy. Kami mendapat kesempatan bertemu selepas agenda
rutinnya menyampaikan press conference di Kantor Kementerian Luar Negeri.
Dalam kesempatan tersebut, kami berdiskusi singkat dan menyerahkan dua buku
yang membahas perjalanan hubungan kedua negara, yakni 75 Tahun
Indonesia-Tiongkok (terbit 2025), dan Indonesia-Tiongkok: Dari Akar Peradaban
Berbuah Kemitraan (terbit 2026). Kedua buku tersebut saya tulis bersama
sejumlah penulis lainnya. Penyerahan buku itu memiliki makna yang melampaui
simbol pertukaran cendera mata. Buku merupakan medium pengetahuan, sekaligus
cara suatu bangsa memahami dirinya dan memaknai hubungannya dengan bangsa
lain. Melalui tulisan, pengalaman sejarah dapat didokumentasikan, perbedaan
perspektif dapat dipertemukan, dan kemungkinan masa depan dapat dibayangkan
secara lebih jernih. BUKU INDONESIA-TIONGKOK Kedua buku itu mengulas hal ihwal sejarah panjang
Indonesia-Tiongkok yang tidak selalu berjalan dalam garis lurus mulai dari
isu politik, ekonomi, hukum hingga kebudayaan; dari era Sukarno dan Mao
Zedong hingga Prabowo dan Xi Jinping. Interaksi antarmasyarakat telah berlangsung
selama berabad-abad melalui perdagangan, migrasi, kebudayaan, dan pertukaran
pengetahuan. Dalam perjalanan modernnya, hubungan kedua negara juga mengalami
berbagai perubahan sesuai dengan konteks politik dan kepentingan nasional
masing-masing. Karena itu, memahami hubungan bilateral tidak
cukup dengan mengingat momentum diplomatik atau menghitung nilai transaksi
ekonomi. Diperlukan upaya intelektual untuk membaca sejarah secara utuh,
mengenali kepentingan tiap-tiap pihak, dan menempatkan kerja sama dalam
perspektif yang lebih luas. Dua buku yang diserahkan kepada Mao Ning dapat
dibaca sebagai bagian dari upaya tersebut. Buku tidak hanya merekam
perjalanan masa lalu, tetapi juga mengundang pembaca untuk memikirkan
bagaimana kemitraan dapat dikembangkan dengan tetap berpijak pada kepentingan
nasional (nationalism), saling menghormat (respect), kesetaraan (equality),
dan saling menguntungkan (mutual benefit). Di sinilah diplomasi pengetahuan menemukan
relevansinya. Diplomasi tidak selalu berlangsung dalam ruang perundingan
resmi. Ia juga tumbuh melalui pertukaran gagasan, penelitian, pendidikan, dan
perjumpaan antarmanusia. Jika diplomasi formal membangun kerangka hubungan,
diplomasi pengetahuan membantu mengisi hubungan itu dengan pemahaman yang
lebih mendalam. ALUMNUS SEBAGAI MODAL STRATEGIS BANGSA Dua puluh delegasi yang mengikuti kunjungan itu
merupakan alumnus master dan doktoral dari berbagai universitas/kota di
Tiongkok dan berasal dari latar belakang profesional yang beragam. Di
antaranya KH Imron Hamid, Rektor Unira Malang sekaligus Ketua PBNU; Budy
Sugandi, Kepala Buperta, Wasekjen GP Ansor dan Pengurus MUI Pusat; Syaifudin
Zuhri, Direktur Sino Nusantara Institute; Muhammad Aziz, pengurus PP
Muhammadiyah; Arafat Febriandirza, peneliti BRIN, Khoerul Anwar, dosen
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga; Sucipto, dosen Universitas Ahmad Dahlan;
Roziqin, dosen Unusia; Dyah Rahayu, dosen Universitas Jambi; Ahmad Nurcholis,
dosen Universitas Sriwijaya, Hendri Setiawan, Sekretaris PCI Muhammadiyah
Tiongkok; Nabila Ghassani, CEO Klikcoaching; Muhammad Fadlika, konsultan
perkapalan; serta Sarah Hajar, peneliti ASEAN-China Research Center
Universitas Indonesia. Keragaman tersebut memperlihatkan manfaat
pendidikan lintas negara tidak terbatas pada satu profesi atau sektor.
Pengalaman belajar di Tiongkok dapat menemukan relevansinya dalam
pengembangan perguruan tinggi, penguatan organisasi masyarakat, penelitian,
kerja sama bisnis, hingga pemberdayaan publik. Para alumnus telah menjadi bagian dari berbagai
institusi yang memiliki tanggung jawab sosial. Pengalaman internasional yang
dimiliki menjadi modal untuk memperkaya perspektif kelembagaan, membangun
kolaborasi, dan memperkenalkan pendekatan baru dalam menjawab persoalan di
Tanah Air. Namun, modal tersebut tidak otomatis menghasilkan
manfaat. Pengetahuan yang diperoleh di luar negeri baru menjadi kekuatan
apabila mampu diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sendiri.
Pengalaman pembangunan di Tiongkok, misalnya, tidak dapat dipindahkan begitu
saja ke Indonesia tanpa mempertimbangkan perbedaan struktur sosial, sistem
politik, budaya, kapasitas kelembagaan, dan kondisi ekonomi. Yang perlu dibangun bukanlah kebiasaan menyalin
model pembangunan negara lain, melainkan kemampuan belajar secara kritis. Apa
yang relevan dapat diadaptasi, apa yang tidak sesuai perlu ditinjau kembali,
dan setiap gagasan harus diuji berdasarkan kebutuhan serta kepentingan
masyarakat Indonesia. Dengan demikian, alumnus pendidikan luar
negeri—dari semua negara, tidak sebatas alumnus Tiongkok—perlu dipandang
bukan semata-mata sebagai individu yang berhasil menempuh pendidikan
internasional, melainkan juga sebagai penghubung pengetahuan. Mereka dapat
membantu menerjemahkan pengalaman global ke dalam bahasa kebijakan, praktik
kelembagaan, dan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal. ANTARA BEIJING DAN CHONGQING Agenda kunjungan di Beijing mencakup sejumlah
institusi yang merepresentasikan perkembangan administrasi publik, inovasi,
dan transformasi perkotaan. Kami juga mengunjungi kawasan budaya serta
mengenal kemajuan teknologi dan industri. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan
ke Chongqing, termasuk kunjungan akademik ke Southwest University dan
pertemuan dengan Foreign Affairs Office of Chongqing Municipality. Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi
budaya dan akademik memiliki ruang yang luas. Ia tidak berhenti pada
pertukaran seremoni atau kunjungan singkat, tetapi membuka jalan bagi kerja
sama yang dapat ditindaklanjuti. Kerja sama akan lebih bermakna apabila diarahkan
ke persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat, seperti transformasi
digital, riset bersama, pengembangan kota berkelanjutan, pendidikan vokasi,
ketahanan pangan, energi bersih, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Bagi Indonesia, pengalaman Tiongkok dalam
pengembangan industri dan teknologi dapat menjadi bahan pembelajaran. Akan
tetapi, proses belajar tersebut harus berlangsung secara setara. Kedua negara
memiliki keunggulan, tantangan, dan pengalaman sosial yang dapat
dipertukarkan. Kunjungan ke Chongqing juga memberikan ruang
untuk melihat keterkaitan antara sejarah kota, identitas budaya, perkembangan
industri, dan modernisasi. Pengalaman berkunjung ke Chongqing Planning
Exhibition Gallery dapat memperkaya diskusi mengenai pembangunan perkotaan di
Indonesia, terutama ketika banyak kota menghadapi persoalan mobilitas, tata
ruang, lingkungan, dan ketimpangan akses terhadap layanan publik. Tentu,
kunjungan tidak dengan sendirinya menghasilkan perubahan. Nilai strategisnya
bergantung pada kekuatan mengeksekusi dan tindak lanjutnya. MENJAGA KESEIMBANGAN DALAM HUBUNGAN BILATERAL Memperkuat hubungan dengan Tiongkok tidak berarti
mengabaikan prinsip kemandirian Indonesia dalam menentukan arah kebijakan
luar negeri. Justru, hubungan yang kukuh membutuhkan pemahaman terhadap
kepentingan nasional tiap pihak dan penghormatan terhadap kesetaraan. Dalam lingkungan internasional yang semakin
kompleks, Indonesia memerlukan kapasitas untuk menjalin kerja sama dengan
berbagai negara tanpa kehilangan orientasi kepentingan nasionalnya. Hubungan
dengan Tiongkok dapat dikembangkan melalui pendidikan, perdagangan,
teknologi, kebudayaan, dan penelitian, sembari tetap berpegang pada prinsip
politik luar negeri bebas aktif. Di sinilah peran para alumnus menjadi penting.
Mereka dapat membantu menghadirkan pemahaman yang lebih berimbang tentang
Tiongkok, melampaui gambaran yang semata-mata dibentuk kekaguman ataupun
kecurigaan. Pengalaman langsung memungkinkan seseorang melihat kemajuan
sekaligus memahami tantangan, mengenali peluang sekaligus menghitung risiko. Sikap semacam itu diperlukan agar hubungan
bilateral tidak dibangun di atas persepsi yang terlalu sederhana.
Persahabatan antarbangsa tidak mengharuskan semua pihak selalu sepakat.
Sebaliknya, kedekatan yang dewasa memungkinkan perbedaan dibicarakan secara
terbuka tanpa menghilangkan rasa saling menghormati. Diplomasi masyarakat juga dapat memperluas ruang
komunikasi di luar jalur resmi. Para alumnus yang bekerja di universitas,
perusahaan, lembaga penelitian, organisasi keagamaan, dan institusi publik
memiliki jejaring yang beragam. Apabila dikelola secara apik, jejaring
tersebut dapat memperkuat saling pengertian sekaligus membantu mengurangi
kesalahpahaman budaya. Dengan demikian, alumnus bukan pengganti
diplomasi negara, melainkan mitra yang dapat memperluas jangkauan dan
kedalaman hubungan bilateral. Dua buku yang diserahkan kepada Mao Ning
mengingatkan kita bahwa pengetahuan memiliki daya untuk merawat ingatan
sekaligus membuka kemungkinan baru. Hubungan Indonesia-Tiongkok pun memerlukan
semangat serupa. Sejarah memberikan fondasi, diplomasi membuka ruang, dan
kerja sama menyediakan peluang. Akan tetapi, manusialah yang menentukan
apakah seluruhnya akan berkembang menjadi kemitraan yang membawa manfaat bagi
masyarakat. Karena itu, kunjungan kami ke Beijing dan
Chongqing bisa diposisikan dalam perspektif yang lebih luas: sebagai ikhtiar
mengubah pengalaman pendidikan menjadi modal diplomasi, mengubah pertemuan
menjadi kolaborasi, dan mengubah pengetahuan menjadi pengabdian. Persahabatan antarbangsa pada akhirnya tidak
hanya tumbuh dari kedekatan para pemimpin mereka, tetapi juga dari kesediaan
masyarakat mereka untuk saling memahami dan belajar. Jika pengalaman belajar
di Tiongkok dapat diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi Indonesia,
pendidikan lintas negara telah melampaui fungsi individualnya. Ia menjadi jembatan pengetahuan, modal
kepercayaan, dan investasi bagi masa depan hubungan kedua bangsa. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar