|
Stagnasi Skor PISA: Kurikulum atau Beban
Kognitif Anak Indonesia? Dr.
Ray Wagiu Basrowi : Dokter, Peneliti, Pengajar Kedokteran
Komunitas. |
KOMPAS.COM, 13 September 2026
|
HASIL Programme for International Student Assessment (PISA) 2025
yang dirilis OECD pada 8 September lalu, menempatkan skor sains Indonesia di
angka 389, membaca 365, dan matematika 364. Sains dan membaca naik tipis, matematika turun tipis, dan OECD
menilai tak ada perubahan signifikan secara statistik. Artinya, sekitar 60,9 persen siswa kita belum mencapai Level 2
yang merupakan ambang kemampuan minimum di ketiga bidang sekaligus. Ini
menjadikan Indonesia tetap berada pada rentang terbawah negara dengan
populasi anak. Beragam tafsir pun muncul, dari persoalan kurikulum, kualitas
guru, lemahnya metode pembelajaran, hingga kesenjangan antarwilayah. Sayangnya, hampir semua analisis itu masih belum menggali satu
poin penting terkait kapasitas, yaitu apakah otak anak yang skor PISA-nya
diukur berada dalam kondisi siap belajar? Penulis melihat ada satu variabel yang absen dari perdebatan PISA
kita, yaitu beban kognitif yang dipikul anak Indonesia akibat masalah
kesehatan yang tak terdiagnosis. Mari kita sederhanakan konteksnya. Skor PISA seorang anak pada dasarnya adalah hasil dari kesempatan
dan kapasitas untuk belajar. Kesempatan belajar mencakup kurikulum, guru, dan sekolah.
Sedangkan kapasitas belajar menyangkut kondisi biologis organ yang melakukan
kerja belajar itu sendiri. Selain otak, belajar melibatkan organ mata yang menangkap
informasi, darah yang membawa oksigen ke otak, nutrisi yang membangun
jaringan saraf, dan kondisi mental yang memungkinkan atensi bekerja. Selama 25 tahun berpartisipasi dalam pengukuran PISA, hampir
seluruh energi kebijakan kita tercurah pada aspek kesempatan belajar saja. Kajian dari Universitas Negeri Jakarta (2021) menyoroti bahwa
kurikulum berganti dari KBK hingga Kurikulum Merdeka, Ujian Nasional dihapus,
Asesmen Nasional diperkenalkan, dan minimal 20 persen APBN dialokasikan untuk
pendidikan, ternyata skor kita tetap berkisar di rentang sempit 360 hingga
400 poin. Artinya, intervensi pada kesempatan belajar saja tak cukup kuat
untuk mengangkat luaran pembelajaran. Dalam kajian strategis Indonesia Health Development Center (IHDC)
tahun ini, diperkenalkan konsep berbasis kajian yang disebut Silent Cognitive
Burden, suatu pendekatan rapid review, community diagnosis, analisis
prioritas, dan validasi pakar lintas disiplin. Kajian IHDC ini mengidentifikasi empat determinan utama beban
kognitif pada anak usia sekolah yang sangat relevan dengan konteks hasil skor
PISA terbaru ini. Dalam kajian ini diidentifikasi empat determinan penting yang
secara besaran risiko masalah dinilai dapat memengaruhi kapasitas kognitif
anak usia sekolah dasar di Indonesia dan berpotensi menghambat kemampuan
inteligensi dan kemampuan mereka membayangkan masa depan. Masalah penglihatan berupa gangguan refraksi yang tidak
terkoreksi menjadi penyebab tertinggi karena dinilai menggerus literasi olah
informasi dan membaca. Prevalensinya pada anak sekolah di Indonesia, sesuai studi IHDC
sebelumnya pada tahun 2024, diperkirakan sekitar 40 persen dan sebagian besar
tak pernah terkoreksi dengan kacamata. Padahal, PISA menuntut anak untuk membaca dan merefleksikan teks
panjang dari buku pelajaran maupun dari layar komputer. Bukti kausalnya kuat, salah satunya adalah dari penelitian skala
besar di pedesaan China (BMJ 2014) yang menunjukkan pemberian kacamata gratis
meningkatkan nilai matematika siswa. Uji serupa di Baltimore, Amerika Serikat, oleh Neitzel (JAMA
Ophthalmology 2021) menemukan perbaikan nilai membaca, dengan manfaat
terbesar pada siswa berprestasi paling rendah, ketika penglihatan mereka
dioptimalkan. Bayangkan bila sebagian besar mata anak sekolah dasar Indonesia
tidak terkoreksi, maka jangan berharap skor PISA kita akan membaik, karena
informasi telah terhambat sejak tahap awal pemrosesan sebelum masuk ke otak. Defisiensi zat besi juga merupakan determinan penting lain karena
terbukti menurunkan memori kerja dan atensi. Soal PISA menuntut anak menahan atau meretensi beberapa informasi
sekaligus sambil bernalar. Zat besi dibutuhkan untuk mielinisasi, metabolisme energi saraf,
dan sintesis hormon dopamin yang mengatur atensi atau tingkat perhatian anak. Sayangnya, studi lain dari IHDC di 2025 membuktikan sekitar satu
dari tiga anak balita dan usia sekolah kita kekurangan zat besi dan skor
memori kerja yang rendah. Bahkan, studi IHDC pada siswa SD di Jakarta menemukan anak dengan
defisiensi besi berisiko dua hingga tiga kali lebih besar memiliki skor
memori kerja rendah. Determinan berikutnya yang dipercaya berperan dalam menghambat
kapasitas kognitif anak Indonesia adalah kekurangan protein. Protein adalah bahan baku neuron, sinaps, dan mielin yang
merupaan elemen penting fungsi kognitif otak. Namun, data SSGI Kemenkes menemukan bahwa sekitar 58 persen anak
usia sekolah dan remaja Indonesia tidak memenuhi kebutuhan protein hariannya. Bukti klinisnya sangat tegas. Penelitian dari Neumann (Journal of
Nutrition 2007) yang menjadi referensi global memperlihatkan anak yang
mendapat tambahan daging sebagai sumber protein hewani dalam makanannya
mengalami peningkatan penalaran nonverbal terbesar dibandingkan dengan
kelompok lain. Bagi negeri maritim yang kaya ikan dan telur, angka 58 persen
adalah ironi kebijakan pangan, bukan? Gangguan kesehatan jiwa juga determinan kunci lain yang secara
empiris menekan fungsi eksekutif anak. Survei I-NAMHS 2022 menemukan 34,9 persen remaja usia 10-17
tahun, atau sekitar 15,5 juta jiwa, mengalami masalah kesehatan mental dalam
setahun terakhir, dengan kecemasan sebagai yang terbanyak. Padahal, teori kontrol atensi dari Eysenck (Emotion, 2007)
menjelaskan bahwa kecemasan menyita sumber daya atensi dan memori kerja yang
sama yang dibutuhkan untuk bernalar. Data PISA dari berbagai siklus sendiri menunjukkan bahwa
kecemasan terhadap pelajaran matematika berasosiasi dengan skor yang lebih
rendah. Dan menurut kajian IHDC, keempat determinan tidak eksis secara
terpisah, apalagi pada anak dari keluarga miskin; empat hal ini menumpuk dan
saling memperkuat. Dalam kesehatan masyarakat, pola ini disebut sindemi (The Lancet
2017), yaitu dampak gabungannya melampaui penjumlahan dampak masing-masing.
Karena itu pula, beban ini tak akan selesai dengan program-program yang
berjalan sendiri-sendiri. Itu sebabnya, penulis ingin mengajukan satu proposisi baru dalam
menilai kenapa skor PISA anak Indonesia rendah dan apa landasan elemental
yang bisa menjadi dasar pembuatan strategi untuk mengangkat peringkat skor
PISA negara ini. Bagaimana kalau semua dimulai dengan memperbaiki empat determinan
di atas? Proposisi itu sederhana: sebelum memperbaiki cara mengajar,
pastikan dulu anak berada dalam kondisi biologis yang memungkinkannya
belajar. Bukan untuk menggantikan agenda pendidikan, melainkan untuk
melengkapi fondasinya. Sebab tak ada kurikulum yang mampu mengoreksi mata
yang kabur dan tak ada metode mengajar yang bisa menggantikan zat besi dalam
darah. Empat determinan itu memberi kita pijakan yang jauh lebih konkret
daripada perdebatan pedagogis yang berulang tiga tahun sekali. Skrining penglihatan anak sekolah harus berujung pada kacamata
yang benar-benar dipakai, bukan sekadar angka di lembar pencatatan. Pemantauan tumbuh kembang tidak boleh berhenti di usia lima
tahun, sebab otak terus matang sepanjang masa sekolah. Program makan bergizi perlu dievaluasi agar benar-benar ditujukan
untuk kecukupan protein hewani, zat besi, dan kapasitas belajar anak, bukan
hanya dari jumlah porsi yang terdistribusi. Tentu harus juga menjunjung
tinggi keamanan pangan. Layanan kesehatan jiwa dan program antiperundungan harus
diperlakukan sebagai infrastruktur belajar, setara dengan ruang kelas dan
buku. Namun, semua itu menuntut satu prasyarat: data yang terintegrasi.
Hasil Asesmen Nasional di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan data
skrining kesehatan anak di Kementerian Kesehatan saat ini masih terpisah satu
sama lain. Menautkannya secara teragregasi, dengan tetap menjaga kerahasiaan
data anak, akan melahirkan peta beban kognitif Indonesia, sehingga bisa
diketahui di mana skor literasi dan numerasi rendah beririsan dengan anemia,
gangguan refraksi, kekurangan protein, dan gangguan kesehatan jiwa. Tanpa
peta itu, kebijakan kita akan terus menembak dalam gelap. Yang dipertaruhkan bukan posisi di peringkat 73 atau 78. Pada
2045, remaja yang tahun ini mengerjakan soal PISA akan berusia sekitar 35
tahun. Merekalah yang akan menjadi guru, dokter, insinyur, dan pemimpin
pada tahun yang kita sebut Indonesia Emas. Kapasitas berpikir mereka adalah fondasi seluruh janji itu, dan
fondasi itu sedang dibangun sekarang, di ruang-ruang kelas yang tak pernah
kita periksa. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar