|
Raja yang Hilang di 'Perang Gowa' Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 12 September 2026
|
Ini kisah
Raja yang hilang di balik “Perang Gowa”. Novel Andi Makmur Makka ini
sebenarnya bukan tentang seluruh Perang Gowa, melainkan secuil sejarah
tentang seorang raja yang lenyap di tengah perang. Setiap rumah punya cerita. Rumah Andi
Makmur Makka, di pinggir pantai Makassar Sulawesi Selatan, misalnya. Bertingkat,
terbuat dari kayu keras, antik, penuh kenangan lama, dan terasa seperti
sebuah arsip yang memilih tinggal di rumah pribadi. Ketika saya berkunjung ke sana, Daeng
Makka bukan hanya menerima tamu. Dari rumahnya ia mengajak saya berkeliling
kota. Satu makam ditunjukkannya, “Ini makam si raja.” Lalu makam lain. “Ini
pula.” Kota Makassar seolah menyimpan sejarah di bawah tanahnya. Yang menarik, puluhan makam raja itu
tidak semuanya hadir dengan papan nama dan keterangan seperti museum modern.
Sebagian nyaris menjadi anonim. Justru mereka yang terlibat dalam perang
melawan kolonialisme lebih mudah dikenali dalam ingatan. Ada ironi kecil di sana. Sebuah bangsa
besar bisa mempunyai begitu banyak makam, tapi belum tentu mempunyai cukup
banyak cerita tentang orang yang dimakamkan di dalamnya. Setiap nisan
menandai nama kematian, tapi sejarah mereka masih narasi yang tertunda. Barangkali karena itu saya membaca
Perang Gowa 1905–1906 karya A. Makmur Makka dengan rasa ingin tahu yang agak
berbeda. Buku ini terbit pada 2026, setebal 175 halaman, dicetak oleh
penerbit indie Satria Publisher. Peluncurannya dilaksanakan dengan sederhana
di Jakarta. Dari keterangan penulisnya sendiri,
buku novel sejarah itu berkisah tentang “ghaibnya” Raja Gowa, I Makkulau
Daeng Serang Karaeng Lembangparang. Raja bergelar Sultan Husain Tuminanga ri
Bundu’na ini dituturkan hilang di tengah perang melawan Hindia Belanda. Di sinilah saya merasa judul Perang
Gowa agak terlalu besar untuk dikisahkan hanya dalam sekian halaman. Perang Gowa
tentu bukan peristiwa kecil. Ia mencakup gerakan militer, politik kerajaan,
perlawanan rakyat, strategi kolonial, intrik pejabat, pengkhianatan, dan
pergulatan kekuasaan. Sementara Makmur Makka tidak sedang
menyusun ensiklopedia perang. Ia mengambil secuil peristiwa itu, lalu
memperbesarnya menjadi dunia cerita: seorang raja yang lenyap, orang-orang
yang mencarinya, perang yang terus berkobar, serta kisah cinta yang bergerak
di sela-sela dentuman senjata. Justru “secuil” itulah yang membuatnya
berpotensi menjadi karya yang kuat. Sejarah sering terlalu luas untuk ditelan
sekaligus. Novel seharusnya tidak perlu menjadi buku pelajaran yang diberi
dialog. Ia cukup mengambil satu pintu kecil sebagai fokus, lalu membiarkan
pembaca masuk ke rumah sejarah. -000- Makmur Makka sendiri bukan orang baru
dalam urusan menghidupkan masa lalu. Lahir di Parepare pada 13 Februari 1945,
ia belajar Hubungan Internasional di UGM. Kemudian, seperti banyak tokoh asal
Makassar, ia melanjutkan studi di luar negeri. Ia memilih Ohio University,
Amerika Serikat. Sejak muda di Yogya, ia aktif dalam
pers mahasiswa. Ia pernah memimpin pers mahasiswa di Yogyakarta, bekerja di
Harian KAMI, dan kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Republika pada 1997–2000.
Sebelumnya ia juga menjadi staf ahli Menristek/Kepala BPPT. Ia bahkan memiliki hubungan yang
panjang dengan dunia arsip. Kedekatannya dengan B.J. Habibie di kantor
Ristek/BPPT, membuat banyak arsip Presiden ketiga RI ini berhasil
dikumpulkannya, dan kemudian diserahkannya ke Arsip Nasional Republik
Indonesia (ANRI). ANRI mencatat inventaris arsip Makmur
Makka yang tersimpan itu mencapai 399 nomor, terdiri atas 384 arsip tekstual
dan 15 lembar arsip foto. Sebagian sudah ditulisnya menjadi sejumlah karya
buku monumental. Tapi, masih banyak lagi yang belum sempat digarapnya,
termasuk puluhan rekaman video Habibie. Ia tercatat menulis banyak buku
biografi Habibie. Dan karena itu, pada 2018 ia memperoleh penghargaan MURI
sebagai penulis buku biografi Habibie terbanyak, dengan 95 judul. Dalam dunia
kepenulisan, namanya memang lebih sering dikenal lewat karya-karya tentang
B.J. Habibie. Tapi sisi sastrawannya, ia juga punya
deretan karya panjang. Bentuknya puisi, cerpen, prosa liris, dan novel
sejarah. Di antaranya Ungu, Manifes, Tanah Air, Buah Cherry Ladang Gandum,
Ibu, Sajak-Sajak Malioboro, Secawan Matahari, dan buku novel sejarah yang
lain, Rumpa’na Bone. Novel Rumpa’na Bone berkisah tentang
runtuhnya Kerajaan Bone, terbit pada 2015 dan mengambil latar serangan
Belanda terhadap Kerajaan Bone pada 1904–1905. Karya imajinatif ini memuat
fakta sejarah runtuhnya Kerajaan Bone, budaya siri’, upacara kerajaan, dan
tradisi ritual bissu. -000- Maka Perang Gowa bisa kita baca
sebagai kelanjutan minat Makmur Makka pada sejarah kerajaan-kerajaan Sulawesi
Selatan. Kalau Rumpa’na Bone membawa pembaca ke keruntuhan Bone, novel
terbaru ini membawa kita ke salah satu episode paling getir dari Gowa. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda
mengerahkan seluruh kekuatan hendak menutup babak kedaulatan kerajaan dengan
senjata. Dan sejarahnya memang menarik, karena yang mereka hadapi pasukan I
Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang yang tak pernah benar-benar
takluk. Raja yang memerintah Gowa antara
1895–1906 itu melakukan perlawanan terhadap Hindia Belanda pada 1905. Dalam
sejumlah sumber sejarah disebutkan bahwa ia akhirnya meninggal di Bundukma,
dekat Enrekang, pada 25 Desember 1906. Tapi dalam novel, ia disebut hanya
ghaib. Karena itu, kata “ghaib” di novel
perlu ditempatkan pada wilayah sastra, bukan buru-buru diperlakukan sebagai
kesimpulan sejarah. Di sinilah novel sejarah menjadi menarik sekaligus
berbahaya. Ia boleh mengisi ruang yang tak tercatat, tapi pembaca perlu tahu
mana fakta, tafsir, dan imajinasi. Ahmadun Yosi Herfanda, jurnalis,
penyair, esais, dan salah seorang narasumber dalam diskusi buku tersebut di
Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta, mengingatkan hal itu. Menurut
Ahmadun, novel sejarah memang memadukan fakta sejarah dengan tokoh dan alur
buatan pengarang. Bersama Anhar Gonggong, pembicara yang
lain, ia menegaskan bahwa novel sejarah bukan karya ilmiah sejarah.
Subjektivitas dan imajinasi tetap mempunyai tempat di dalamnya. Tapi fakta
sejarah yang menjadi kerangkanya tetap menuntut tanggung jawab. Ahmadun bahkan melihat kekuatan
sekaligus kelemahan struktural novel ini. Kisah dua joki kuda, Patta Emba dan
Bunga Rossi, menjadi semacam “penjaga” alur. Mereka bertemu di arena pacuan
kuda, jatuh cinta, lalu hubungan mereka bersinggungan dengan konflik politik
dan perang. Tapi ketika Makmur Makka mengalihkan
cerita ke Benteng Rotterdam dan tokoh-tokoh Belanda seperti J.B. van Heutsz,
alur novel terasa tiba-tiba terputus. Ahmadun mengusulkan agar kedua jalur
itu dibuat sebagai alur ganda yang saling berkelindan. Saya kira kritik sastra itu penting.
Sebab novel sejarah tak cukup hanya memiliki bahan sejarah yang menarik. Ia
juga harus mempunyai mesin cerita yang bekerja. Pembaca tak boleh merasa
sedang berpindah dari satu artikel sejarah ke artikel sejarah berikutnya
hanya karena subjudul berganti. Sebagai kritikus sastra, Ahmadun juga
menyoroti banyaknya subjudul yang pendek-pendek. Secara naratif, perang
menjadi seperti dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil. Secara grafis,
menurutnya, pergantian subjudul itu juga kurang nyaman bagi pembaca muda. Tapi, saya mencatat sesuatu yang lebih
penting dari soal teknis itu. Pilihan Makmur Makka untuk mempertemukan arsip
kolonial dengan ingatan rakyat dalam format novel romantis menjadi pintu
masuk untuk mengenalkan sejarah, kebudayaan, sekaligus memberi pelajaran yang
mudah dipahami awam. Dalam pengantarnya, ia menyebut arsip
Belanda merupakan sumber yang kaya detail —nama tempat, tanggal, pertempuran,
jumlah korban. Tapi, baginya, catatan-catatan para sejarawan Belanda
cenderung membawa perspektif pihak yang menang. Sebaliknya, tradisi lisan masyarakat
lokal menyimpan cerita tentang kesetiaan, kehormatan, cinta, harga diri, dan
raja yang hilang. Maka, Makmur Makka memilih jalan penulisan dengan
“menafsir, bukan menyalin”. Fakta dari pihak Belanda boleh benar, tapi tafsir
atasnya berada di kita. Itu pilihan yang masuk akal untuk
sebuah novel sejarah. Arsip kolonial ibarat kamera yang dipasang pihak yang
sedang memenangkan perang. Ia bisa sangat tajam, bahkan sampai mencatat
berapa butir peluru yang ditembakkan. Tapi kamera tidak selalu merekam apa
yang dirasakan orang yang ditembak. Di sini ada konteks sejarah yang
menarik. Tahun 1905–1906 memang berdekatan dengan ujung peperangan yang
melelahkan di wilayah Aceh, jauh dari Pulau Selebes. Perang Aceh secara umum
berlangsung tiga dekade, antara 1873–1904, meski perlawanan terhadap Belanda
belum serta-merta padam setelah 1904. Jadi Perang Gowa bukan “bersamaan”
dalam arti satu periode perang yang sama persis, tapi terjadi segera sesudah
Belanda menyatakan perang Aceh selesai. Sementara di tanah Jawa, tepatnya di
Batavia, pada 17 Juni 1905, pemerintah
Hindia Belanda memberi pengakuan resmi ke ormas Jamiat Kheir. Perkumpulan itu kemudian berkembang
sebagai ormas Islam pertama yang resmi. Jadi, ketika di satu ujung Hindia
Belanda orang sedang mendirikan sekolah dan membangun jaringan pendidikan, di
ujung lain Kerajaan Gowa sedang berhadapan dengan ekspedisi militer kolonial. Sejarah rupanya tidak pernah berjalan
dalam satu lorong. Pada kalender yang sama, ada perang, sekolah, perdagangan,
surat kabar, dakwah, dan percintaan. Maka, ketika kita melihat peta Nusantara
dalam perspektif yang lebih luas, tahun 1905 bukan sekadar angka di sampul
sebuah novel. Saya juga ingin meluruskan satu hal
yang mudah menimbulkan salah paham. Kurang tepat jika raja-raja Gowa secara
umum disebut keturunan Arab hanya karena mereka menggunakan gelar “Sultan”
atau memiliki nama seperti Husain, Abdul Kadir, Abdul Jalil, dan sebagainya. Silsilah kerajaan Gowa mempunyai akar
lokal yang panjang. Penelitian tentang islamisasi Makassar memang menunjukkan
adanya peran penting keturunan Arab, termasuk hubungan perkawinan dengan
keluarga kerajaan. Salah satu penelitian menyebut Sayyid
Ba’alawy menikah dengan putri Raja Gowa Sultan Abdul Jalil. Itu menunjukkan
adanya persilangan genealogis, bukan berarti seluruh dinasti Gowa berasal
dari Arab. Bahkan nama “Husain” pada gelar Sultan
Husain sebaiknya tidak dijadikan bukti otomatis tentang asal-usul Arab. Nama
dan gelar Islam adalah satu hal; garis keturunan adalah hal lain. Sejarah
tidak boleh dibuat sesederhana buku daftar nama. Yang paling menarik dari Perang Gowa,
bagi saya, justru bukan apakah pembaca akan menghafal siapa van Heutsz, van
Dallen, Idenburg, atau siapa yang memegang benteng tertentu. Yang penting adalah apakah pembaca
menjadi ingin bertanya: siapa raja itu, mengapa ia melawan, ke mana ia pergi,
mengapa kisahnya menjadi kabur, dan mengapa sebuah bangsa masih mengingat
seseorang yang tubuhnya sudah lama menjadi tanah? Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih
berharga daripada hafalan tanggal. Karena itu saya tertarik pada usul yang
muncul dalam diskusi di DD: 31 potongan cerita dalam novel ini jangan
berhenti sebagai 31 potongan di dalam buku. Jadikan 31 film pendek. Sebarkan
melalui media sosial. Ini bukan berarti buku harus menyerah
kepada video. Justru sebaliknya: video bisa menjadi pintu masuk menuju buku.
Anak muda yang tak mau membuka 175 halaman mungkin bersedia menonton tujuh
menit tentang seorang raja yang menghilang. Setelah itu, rasa ingin tahu akan
membawanya mencari bukunya. Kita terlalu sering mengeluhkan
generasi muda yang malas membaca, seolah-olah mereka harus dipaksa masuk ke
perpustakaan untuk mencintai sejarah. Padahal persoalannya mungkin bukan
semata-mata kemalasan. Cara sejarah disajikan juga menentukan. Perang Gowa memuat banyak bahan. Ada
perang, raja, pengkhianatan, cinta, perjalanan, pengejaran, benteng,
perempuan yang menunggu, prajurit yang setia, dan seorang penguasa yang
menghilang di tengah kekacauan. Secara sinematik, itu bahan yang kaya dan berlimpah. Maka kelemahan judulnya sekaligus bisa
menjadi peluang. “Perang Gowa” terdengar seperti buku sejarah yang hendak
menjelaskan seluruh perang. Padahal kekuatan novel ini terletak pada satu
pertanyaan yang jauh lebih sederhana: ke mana perginya sang raja? Sejarah kadang bekerja seperti makam
tua. Dari luar kita hanya melihat batu. Tapi kalau kita mau membuka
ceritanya, di dalamnya ada manusia: keberanian, ketakutan, cinta,
pengkhianatan, dan harapan. Makmur Makka telah membuka salah satu
makam itu. Ahmadun Herfanda dan Anhar Gonggong mengingatkan agar batu
nisannya jangan sampai lebih besar dari kisah manusia yang dikuburkannya. Mungkin itulah cara terbaik membaca
Perang Gowa. Kita membacanya bukan sebagai kitab lengkap tentang sebuah
perang, melainkan sebagai sebuah pintu kecil menuju sejarah yang jauh lebih
luas. Dan mungkin pula, jika 31 pintu kecil
itu kelak berubah menjadi 31 film pendek, generasi yang enggan membaca buku
akhirnya akan masuk melalui layar. Setelah itu barangkali mereka
menemukan sesuatu yang selama ini kita kira sudah hilang: bukan hanya seorang
raja, tapi ingatan tentang siapa kita. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar