|
Perubahan Geostrategis Baru di Timur Tengah Smith Alhadar : Penasihat The Indonesian Society for Middle East
Studies (ISMES). |
MEDIA INDONESIA, 21 September 2026
|
HAMPIR tiga tahun terakhir ini Timur Tengah
diguncang perubahan geostrategis yang mengubah kalkulasi aktor-aktor utama
regional dan global serta menyeret dunia ke dalam krisis. Pertama, tanggapan
pemimpin Hamas di Gaza Yahya Sinwar terhadap dinamika isu Palestina yang
berbalik arah. Kedua, Iran membalikkan trajektori agresi AS-Israel terhadapnya.
Ketiga, Houthi mengubah keseimbangan kekuatan Iran-AS dan mengguncang Arab
Saudi setelah berhasil mengendalikan Bab el-Mandeb di mulut selatan Laut
Merah. Semuanya menciptakan ketidakpastian ketahanan energi, pangan, dan
perdagangan global. TINDAKAN YAHYA SINWAR Krisis yang dimulai di Gaza hampir tiga tahun
lalu telah meluas ke seluruh kawasan and beyond. Kesemuanya berakar pada isu
Palestina yang menggantung selama 78 tahun. Kendati secara tradisional
Washington mendukung two-state solution, semua pemerintahan AS cenderung
mendukung perilaku Israel yang terus berupaya menguburkan gagasan tentang
negara Palestina. Situasi berubah ketika Donald Trump menduduki Gedung Putih.
Dalam periode pertama pemerintahannya (2017-2021), ia mengakui Yerusalem sebagai
ibu kota Israel. Kesepakatan Abad ini (Deal of the Century) yang
diluncurkannya mengabaikan aspirasi kemerdekaan Palestina. Pada 2020, melalui Abraham Accord, Trump
memperbanyak negara Arab yang menormalisasi hubungan dengan Israel. UEA
bahkan membangun aliansi dengan Israel dan mendukung kebijakan deportasi
warga Gaza, serta membantu AS dan Israel megagresi Iran. Normalisasi hubungan
dengan Israel didasarkan pada kekhawatiran rezim mullah akan membuat bom
nuklir meskipun pemimpin tertinggi Iran mendiang Ayatullah Ali Khamenei sejak
2003 telah mengeluarkan fatwa haram membuat senjata destruktif itu dan
pembentukan poros perlawanan di Irak, Suriah, Libanon, Palestina (Gaza), dan
Yaman (Houthi) yang bertujuan menghadang hegemoni AS dan Israel di kawasan, tapi
dipandang mengintervensi masalah domestik Arab. Dua minggu sebelum 7 Oktober, ketika berpidato di
Majelis Umum PBB, PM Israel Benjamin Netanyahu menunjukkan peta Israel tanpa
wilayah pendudukan Palestina: Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur. Ia
menyebut Timteng baru sebagai koridor kemakmuran di mana Israel telah
terintegrasi dengan kawasan itu dan terciptanya perdagangan langsung
Asia-Eropa melalui daratan Jazirah Arab dari UEA ke Israel. Saat Netanyahu
berpidato itu, perundingan normalisasi hubungan Saudi-Israel sudah memasuki
tahap akhir, sementara legitimasi Otoritas Palestina di Ramallah melemah.
Sinwar melihatnya sebagai alarm yang berpotensi melenyapkan isu Palestina. Maka, ia mengambil keputusan besar dan berisiko
tinggi. Pada 7 Oktober 2023, Hamas bersama kelompok bersenjata Palestina lain
menerjang Israel. Lebih dari 1.000 warga Israel tewas dan 253 lainnya
disandera di Gaza. Aksi Hamas ini menghancurkan reputasi militer Israel (IDF)
dan menggoyang kursi PM Israel Benjamin Netanyahu. Balasan genosida dan
ethnic cleasing tidak hanya gagal menghancurkan Hamas, tapi juga membuat
citra Israel di mata dunia berantakan. Dalam perlawanan heroik, Sinwar tewas
diserang drone Israel (2024), tapi legasinya menjadi salah satu simpul
sejarah Palestina paling penting. Sebenarnya Mesir dan UEA telah memberi tahu
Netanyahu tentang rencana besar Sinwar, tetapi Netanyahu mengabaikannya. Ia
tak percaya pada rencana bombastis Sinwar yang dianggap ‘tidak masuk akal’
mengingat Mossad, Shin Bet, dan IDF mengawasi pergerakan Hamas selama 24 jam
dari seberang pagar. Peristiwa historis itu menciptakan bencana kemanusiaan
bagi Palestina, pengabaian tatanan internasional, mengubah posisi dunia
terhadap Israel, membanjirnya simpati pada Palesatina, dan mengungkap hipokrisi
Barat. AGRESI TERHADAP IRAN Iran negara paling vokal mengutuk kezaliman
Israel. Bahkan, Hezbullah (Libanon), Kataib Hezbullah (Irak), dan Houthi
terjun ke medan laga untuk membantu Hamas. Israel pun membalas dengan juga
menyasar kepentingan Iran: menyerang kedutaan besar Iran di Damaskus,
membunuh Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran, dan menyerang
situs nuklir Iran di Isfahan. Dan bersama AS melancarkan serangan skala besar
ke berbagai kota Iran selama 12 hari pada Juni tahun lalu. AS mengebom situs
nuklir Iran di Isfahan, Natanz, dan Fordow. Setelah agresi kedua pada 28
Februari, Timur Tengah berubah secara fundamental. Tujuan AS-Israel meruntuhkan rezim mullah tidak
hanya gagal, tapi juga memunculkan para pemimpin baru Iran yang lebih keras.
Agresi yang diniatkan hanya beberapa hari, ternyata berlangsung sampai hari
ini. Sebaliknya, perang asmiteris yang dilancarkan Iran serta menutup Selat
Hormuz membawa bencana bagi seluruh dunia, termasuk AS dan Israel. Dunia
menyesuaikan diri dengan krisis keamanan, geopolitik, dan geoekonomi, tanpa
benar-benar mampu menyerap (absorb) tekanannya. Di pihak lain, Trump
menggunakan rasionale yang tidak koheren dengan realitas. Penyebabnya, ia
mengejar kepentingan sempit dan individual. Sebenarnya perang Iran tak perlu terjadi
sekiranya Trump taat pada kesepakatan multilateral nuklir Iran (JCPOA) yang
dicapai pada 2015. JCPOA dipuji dan dianggap pencapaian diplomasi historis
karena berhasil membuat Iran bersedia membatasi program nuklirnya hanya untuk
keperluan sipil dan mendukung pengawasan ketat IAEA atas situs nuklirnya.
Namun, pada 2018 Trump mundur secara sepihak disertai tekanan maksimum atas
Iran. Upaya meruntuhkan rezim Iran dilanjutkan Trump sampai sekarang. Tak mau
keluar sebagai pecundang akibat miscalculation atas kemampuan Iran, Trump
mengubah strategi militer ke perang ekonomi. Sejak 19 Agustus, AS meluncurkan Economic D-Day
atau operasi tekanan ekonomi ekstrem untuk mengisolasi dan melumpuhkan
ekonomi Iran. Economic D-Day berhasil memukul ekonomi Iran secara signifikan,
tapi sejauh ini Iran masih mampu mengabsorbsi tekanan itu. Bahkan, Garda
Revolusi Islam Iran (IRGC) meningkatkan eskalasi dengan menyerang tanker yang
terkait dengan AS sebagai balasan atas serangan AS. Terjadi perang tanker.
IRGC memaksimalkan kehancuran pangkalan militer AS di Yordania dan seluruh
monarki Teluk. Dinamika konflik Iran-AS yang meluas ke Yaman dan Saudi
meningkatkan leverage Iran secara dramatis setelah Houthi berhasil menduduki
Kota Mocha (al-Makha) yang strategis di tepi Laut Merah. GEBRAKAN HOUTHI Houthi juga menduduki Pulau Mayyun (Perim) di
jantung Bab el-Mandeb. Dus, kalau dulu ketika membantu Hamas, Houthi harus
menggunakan rudal jarak jauh untuk menyasar kapal terkait Israel, kini cukup
menggunakan artileri untuk menyerang tanker musuh. Harga minyak dunia melejit
cepat ke ambang psikologis di atas 100 juta bpd. Di pihak lain, IRGC masih
mengendalikan Selat Hormuz. Secara militer, Houthi bukan tandingan Saudi,
tapi pengalaman bertempur melawan kekuatan besar (Saudi, UEA, AS, Inggris,
dan Israel) sejak 2015 mendorong Houthi melakukan inovasi strategi perang:
menciptakan pasukan siluman yang terbukti menyulitkan lawan untuk
menundukkannya. Dus, serangan balasan Saudi dan proksinya di
selatan Yaman untuk memukul mundur Houthi sulit mencapai tujuan karena Saudi
hanya mengandalkan serangan udara. Terhentinya aliran minyak dari Saudi
akibat blokade Bab el-Mandeb dan rusaknya pipa minyak timur-barat yang
mengalirkan minyak dari ladang Abqaiq di Teluk ke Pelabuhan Yanbu di Laut
Merah akibat serangan Kataib Hezbullah menciptakan guncangan di Washington
dan Riyadh. Setelah Trump menolak permintaan MBS untuk membantunya
menghancurkan Houthi, Mesir setuju bekerja sama dengan Saudi untuk menghadapi
Houthi. Toh, blokade Bab el-Mandeb memengaruhi ekonomi Mesir yang
mengandalkan fee dari penggunaan Terusan Suez. Tak sampai di situ, Houthi juga menyerang
infrastruktur energi Saudi di beberapa kota di Selatan. Riyadh dan proksinya
di Yaman menuduh Houthi bertindak atas perintah Iran. Teheran menolak tuduhan
itu. Sulit memang untuk percaya Teheran tak memainkan peran, tetapi Saudi-lah
yang memulai agresi terhadap Houthi. Pada Juli lalu Saudi menyerang bandara
internasional di ibu kota Sanaa. Kendati gencatan senjata Houthi-Saudi
dicapai pada 2022, Riyadh masih memblokade Houthi untuk mengisolasinya.
Gebrakan Houthi dan membesarnya leverage Iran membuat Economic D-Day tidak
cukup efektif. Terlebih, BRICS secara implisit menolak sanksi sepihak AS atas
Iran tanpa dukungan resolusi DK PBB. Hal itu terungkap dalam deklarasi bersama BRICS
pada KTT di New Delhi, India, 12-13 September, yang dihadiri Presiden Rusia
Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Iran Massoud
Pezeshkian, dan tentu saja PM India Narendra Modi. Sikap BRICS, yang
pembentukannya diniatkan untuk menentang dominasi sistem keuangan Barat dan
menciptakan tatanan multipolar, melemahkan Economic D-Day. Dus, AS terjerumus
dalam perangkap eskalasi. Tiap kali Trump mengubah strategi untuk
meningkatkan leverage AS, Iran selalu menemukan cara untuk mengamputasinya
melalui eskalasi juga. Miskalkulasi berulang yang dilakukan Trump
mengungkapkan adanya gap yang lebar antara realitas di lapangan dan rasionale
Trump. Kebijakan ekonomi Trump yang juga menyasar kepentingan sekutu
mendorong pemberontakan mereka. Sekutu menolak kebijakan unilateral Trump
terhadap mereka, Timteng, perlindungan atas genosida Israel, dan ancamannya
mengambil alih Greenland. Negara Arab-Islam mengambil inisiatif membentuk
Pakta Pertahanan Mekah untuk merespons perubahan arsitektur keamanan kawasan.
Saudi adalah powerhouse Timteng, Turki adalah produsen alutsista, dan
Pakistan adalah satu-satunya negara muslim pemilik bom nuklir. Inisiatif ini
menggambarkan ketidakpercayaan mereka pada keandalan militer AS.
Pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan bukannya menjadi deterrence,
melainkan bencana bagi keamanan mereka. Menghadapi situasi sulit terkait
politik elektoral di AS, di hadapan kovensi Partai Republik di Dalas ketika
Trump menjanjikan 5.000 dolar AS bagi tiap orang dewasa AS bila Republik
menang pemilu, menegaskan perang Iran sangat tidak populer di AS. Trump juga berjanji akan mengakhiri perang segera
setelah pemilu sela. Mengapa ia tak menyudahi sekarang dan membuka front baru
menghadapi Houthi? Tentu nyaris mustahil bagi Trump untuk melakukannya.
Pasalnya, Teheran hanya bersedia mengakhiri konflik bila AS kembali ke
memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani Presiden Iran Masoud
Pezeshkhian dan Trump pada 17 Juni. MoU ini mengadopsi 14 butir syarat Iran.
Dus, sama dengan dokumen surrender (kapitulasi) AS terhadap Iran. Dengan
demikian, posisi Trump dalam negeri makin terpuruk seiring dengan
tenggelamnya Republik dalam pemilu. Kalau perang diakhiri pascapemilu (yang belum
tentu dipenuhi Trump yang unpredictable) dan Republik menang di Senat dan
DPR, Trump memiliki ruang manuver lebih besar untuk menghadapi Iran. Namun,
rasionale Trump ditantang Iran. IRGC menegaskan Iran berada di ambang operasi
militer. Artinya, Trump dihadapkan pada situasi dilematis. AS tak punya lagi
leverage untuk menekan Iran. Tentu AS masih bisa menghadapi Houthi, tapi itu
hanya mungkin kalau AS menarik aset militernya dari Asia-Pasifik yang
membahayakan kepentingan dan mereduksi deterrence-nya vis a vis Tiongkok,
Rusia, dan Korea Utara. Padahal, amunisi AS tinggal 40%. Alhasil, agresi
AS-Israel terhadap Iran kontraproduktif. Israel untuk pertama kalinya sejak berdiri pada
1948 dihujani drone dan rudal Iran yang cukup destruktif. Ironisnya,
Netanyahu malah meninggalkan Trump yang leadership-nya dianggap tidak
kredibel. Tak mengherankan jika Netanyahu menolak menghentikan perang di
Libanon sesuai MoU dan menolak IDF ditarik dari Gaza setelah Hamas memberi
konsesi disarmament. Partai-partai koalisi Israel malah mengajuk proposal
untuk mendeportasi 2,2 juta warga Gaza. Di Tepi Barat, ethnic cleansing makin
gencar. Karena Trump tak mampu mengendalikan perilaku Israel, pengaruh dan
reputasi AS di kawasan makin redup. Apa yang dilakukan Israel di Libanon,
Suriah, Palestina, dan Iran menunjukkan Israel tak percaya Trump mampu
melindungi Israel. Di pihak lain, semua pemimpin Israel yakin Iran akan
keluar sebagai pemenang perang dan pengaruh AS di kawasan tidak lagi
signifikan. Karena itu, Israel harus menyelamatkan diri
sendiri dengan membentuk Israel Raya. Aksi Israel ini bukan saja semakin
menjauhi Israel dan AS dari lingkungan Arab, tapi juga membuka kemungkinan
eskalasi lebih luas bila Houthi menyerang Israel. Hal ini akan melemahkan
koalisi Arab melawan Houthi karena masyarakat Arab akan melihatnya sebagai
keroyokan Arab-Israel terhadap Houthi. Sebaliknya, simpati mereka kepada Iran
meningkat. Dalam situasi ini, Trump tak memiliki exit strategy untuk
mengakhiri krisis. Dus, kita masih akan terpapar krisis energi dan pangan
dunia sampai Trump menyadari bahwa sesungguhnya perang Iran untuk Israel
tidak berguna dan hanya melemahkan reputasi dan pengaruh AS di kawasan untuk
digantikan Tiongkok dan Rusia. Selalu mudah untuk memulai perang, tapi sangat
sulit untuk mengakhirinya. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/kolom-pakar/935566/perubahan-geostrategis-baru-di-timur-tengah
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar