|
Palung Langit Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 22 September 2026
Dalam satu
minggu kemarin saya membaca dua ulasan buku baru, yang hanya bisa dibaca oleh
orang-orang tertentu. Saya pun tidak mampu membacanya: ditulis dalam bahasa
Arab dengan tulisan tanpa harakat. Hanya orang-orang yang ilmu nahwunya jagoan
yang bisa melafalkan kalimat-kalimatnya dengan benar.
Penulisnya Anda
sudah kenal: KH Miftachul Akhyar. Ia Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama (PBNU) yang baru terpilih untuk periode kedua di Muktamar Tambak Beras,
Jombang bulan lalu: jabatan tertinggi di organisasi Islam terbesar di dunia
itu.
Judul buku itu:
Al-Fatḥatu al-Rabbāniyyah ‘alā al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah. Kurang
lebih berarti ''Penjelasan aspek Ketuhanan dalam kitab Muqaddimah Jurumiyah''.
Nah, Anda sudah
tahu apa itu kitab Jurumiyah. Semua santri pernah mempelajarinya: itu adalah
buku dasar-dasar tata bahasa Arab. Penulisnya orang Maroko: Ibnu Ajjurum. Tapi
jangan bayangkan seperti buku pelajaran tata bahasa. Formatnya kaidah-kaidah
tata bahasa. Membacanya dilagukan:
kataba-katabaa-katabuuu-katabat-katabata-katabna-katabta-katabtuma-katabtum
..... dan seterusnya. Satu kata ''kitab'' bisa berubah menjadi banyak kata
bentukan.
Yang ditulis KH
Miftachul Akhyar bukan buku tentang tata bahasa Arab. Yang ia tulis adalah
''sisi ketuhanan'' dari sebuah buku tata bahasa. Kalau sudah bicara sisi
ketuhanan berarti sama dengan membahas ''aspek tasawuf dari buku nahwu
Jurumiyah''. Mungkin satu-satunya: buku tata bahasa mengandung aspek ketuhanan.
Terbitnya buku
ini tentu mengingatkan apa yang terjadi di Muktamar ke-35 NU. Utamanya setelah
Rais Aam memberi sambutan pembukaan. Dalam sekejap saja video anak perempuan
yang mengaku masih SD itu viral. Isinya: mengoreksi tata bahasa Arab yang
digunakan oleh Rais Aam dalam pidatonya. Menurut anak itu setidaknya ada lima
kesalahan tata bahasa dalam pidato itu. Berani sekali anak itu. Kok hebat:
merasa lebih pandai dari Rais Aam PBNU.
"Apakah
itu hoak? Video palsu? Buatan AI?" tanya saya kepada seorang alumni Timur
Tengah yang juga angkatan muda NU.
"Memang
terjadi kesalahan tata bahasa dalam pidato itu," jawabnya. "Tapi kan
biasa orang salah menggunakan tata bahasa. Termasuk orang Arab sendiri,"
tambahnya. "Tokoh Indonesia pun banyak yang salah tata bahasa ketika
berpidato dalam bahasa Indonesia," katanya lagi.
Salah satu
tokoh yang mengulas buku karya Kiai Miftachul Akhyar itu adalah KH Zulfa
Mustofa. Anda sudah kenal dirinya: pernah dipuji sekaligus dihujat dalam kaitan
dengan konflik besar di PBNU: mengapa Kiai Zulfa bersedia menjadi Pj Ketua Umum
Tanfidiyah PBNU menggantikan Gus Yahya yang dipecat oleh Rais Aam Miftachul
Akhyar.
Kiai Zulfa
menulis ulasan panjang tentang buku itu. Ia mendapatkan bukunya karena pernah
dibagi di kantor PBNU. Di tulisan itu Kiai Zulfa menceritakan pengalamannya
ketika bersama Kiai Miftachul Akhyar pergi keliling beberapa negara termasuk
Turkiye.
Di Turkiye
rombongan PBNU diterima oleh ulama besar di sana: seorang mufti yang juga
menjabat menteri agama.
Dalam pertemuan
itu Kiai Miftah lebih banyak diam. Kiai Zulfa pun menjelaskan ke tuan rumah
bahwa karakter Kiai Miftah memang pendiam. Jawaban mufti Turkiye ternyata
sangat diplomatis: "Sesungguhnya beliau banyak berbicara dengan
keadaannya, bukan dengan lisannya".
Itu, kata Kiai
Zulfa, sangat tepat untuk menggambarkan sosok Kiai Miftah. "Itu juga
tercermin di dalam buku karya beliau," ujar Kiai Zulfa.
Misalnya, di
buku itu ditulis: "Orang punya kewajiban memperbaiki hati setelah
memperbaiki lisan," dan juga "memperbaiki lisan tanpa memperbaiki
hati adalah kefasikan dan kesesatan. Memperbaiki hati tanpa memperbaiki lisan
adalah kesempurnaan yang belum sempurna. Sedangkan memperbaiki keduanya
sekaligus adalah puncak kesempurnaan”.
Apakah buku
yang ditulis Kiai Miftah itu tergolong baru? Ternyata tidak. Sudah banyak buku
serupa terbit di banyak negara Islam.
Kiai Zulfa
sendiri sudah menulis empat buku. Semuanya tentang ushul fikih. Padahal kiai
Zulfa ''hanya'' tamatan Aliyah (SMA). Kemampuan bahasa Arabnya luar biasa.
Sampai ia mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri
Sunan Ampel Surabaya. Yakni doktor dalam sastra Arab. Itu tentu istimewa: Kiai
Zulfa tidak pernah sekolah di negara Arab. Aliyahnya ia selesaikan di Pati,
satu kelas dengan Gus Rozin yang juga terpilih sebagai Rais Syuriah PBNU.
"Kelemahan
buku karya ulama-ulama Indonesia adalah kurang memasukkan konteks
Indonesia," ujar Kiai Zulfa yang ceramah-ceramahnya sangat sejuk –lebih
banyak mengungkap sisi persamaan NU dan Muhammadiyah dari pada sisi
perbedaannya.
Satu tokoh lagi
yang mengulas buku itu adalah KH Imam Jazuli, pendiri pondok pesantren Bina
Insan Mulia (BIMA) Cirebon. Kiai Jazuli alumnus Mesir.
"Bagi kaum
awam, ilmu nahwu hanyalah sekadar ornamen tata bahasa. Ia sekadar aturan agar
lisan fasih mengeja bait-bait Arab. Namun, di bawah guratan pena Kiai Miftach,
Nahwu menjelma menjadi suluk. Beliau menegaskan bahwa kefasihan lisan wajib
bersanding dengan kefasihan tindakan (hlm.3-5). Pandangan sufistik ini menampar
wajah buram panggung politik nasional kita. Para pemimpin kita hari ini terlalu
gemar bersilat lidah. Mereka kerap terjebak dalam labirin retorika kosong tanpa
makna", tulisnya.
"Kiai
Miftach kemudian membedah trilogi kata dengan pisau bedah tasawuf. Beliau
mengulas unsur 'isim', 'fi'il', dan 'huruf' dalam tata bahasa ke ruang publik.
Isim dimaknai sebagai ketulusan orientasi menghamba kepada Tuhan Yang Maha Esa
(hlm.28). Madzhab ini mewajibkan pengelolaan bumi demi tegaknya keadilan sosial
yang merata. Berkah nikel dan tembaga bukanlah hak milik privat para oligarki.
Hasil bumi harus dialirkan murni untuk membasuh dahaga kemiskinan rakyat".
"Sementara
Fi'il ditafsirkan sebagai jihad membersihkan batin dari kekotoran (hlm.29).
Dalam urusan bernegara, ini adalah gerakan pembersihan birokrasi secara
radikal. Indonesia mustahil memeluk predikat negara maju jika penyakit korupsi
mewabah. Tobat nasuha para pengambil kebijakan menjadi syarat mutlak
kebangkitan bangsa. Ikhtiar ekonomi hijau hanya tegak jika ketamakan manusia
berhasil diredam. Tanpa moralitas, regulasi secanggih apa pun hanyalah bangkai
tanpa nyawa.
Sedangkan Huruf
digambarkan sebagai ufuk cita-cita tinggi yang wajib diperjuangkan (hlm.30).
Menjadi bangsa digdaya adalah mimpi kolektif yang menuntut tebusan pengorbanan.
Demi menjemput asa itu, Kiai Miftach merajut filosofi huruf-huruf Jarr
(hlm.44-47). Rangkaian huruf jarr ini adalah cermin dinamis perjalanan
spiritualitas bangsa. Tiap jengkal fase pembangunan menyimpan ujian dan
keunikan batin tersendiri. Kita mesti mengarungi tiap anak tangga itu dengan
zikir kesadaran".
Itulah
kelebihan bahasa Arab. Bahasa sekaligus keyakinan.
Di Tarim,
Yaman, saya kali pertama melihat buku yang bisa dibaca dari kiri, dari kanan,
dari atas, dari bawah yang masing-masing menjadi sebuah buku yang berbeda
topiknya.
Rasanya hanya
bahasa Arab yang bisa dibuat begitu. Atau, karena bahasa Arab terkait dengan
keyakinan, maka orang-orang yang mendalami bahasa Arab bisa sangat dalam.
Kalau dalam
penguasaan bahasa Mandarin ada istilah ''di atas langit masih ada langit'',
dalam bahasa Arab harusnya ada pepatah ''di kedalaman palung masih ada palung
yang lebih dalam''.
Entahlah di
mana posisi Bahasa Inggris dan Indonesia. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/969651/palung-langit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar