Menghadiri
Konferensi Gastech di Bangkok, 14–17 September 2026
|
BISAKAH INDONESIA MENJADI RAJA ENERGI DI ASIA? Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 13 September 2026
|
Ada
masa ketika satu sumur minyak mengubah nasib sebuah bangsa. Gurun menjadi
kota. Pelabuhan kecil menjelma menjadi pusat baru kekuasaan ekonomi dunia. Tetapi
sejarah menyimpan ironi. Negara dapat memiliki minyak berlimpah, namun tetap
miskin. Negara lain hampir tanpa minyak justru menguasai perdagangan energi
dunia. Kekayaan
ternyata tidak hanya berada di bawah tanah. Kekayaan juga hidup dalam
teknologi, keberanian mengambil risiko, kualitas manusia, dan kemampuan
menaklukkan pasar dunia. Itulah
pertanyaan yang saya bawa menuju Bangkok: mungkinkah suatu hari Indonesia
bukan sekadar kaya energi, tetapi menjadi kekuatan energi terbesar di Asia? Yang
saya maksud “raja energi” bukan sekadar perusahaan dengan pendapatan
terbesar, melainkan bangsa dengan produksi, teknologi, ketahanan energi, dan
jangkauan global terkuat. -000- Pada
14 sampai 17 September 2026, saya menghadiri Gastech di Bangkok. Saya datang
bukan hanya untuk mendengar pidato atau menyaksikan teknologi terbaru. Saya
membawa pertanyaan yang lebih personal. Setelah bergulat dengan persoalan
energi Indonesia, saya semakin merasakan bahwa negeri ini membutuhkan sebuah
mimpi yang lebih besar. Bagaimana
caranya, secara bertahap dan terukur, Indonesia menjelma menjadi salah satu
negara dengan kekuatan energi terbesar di Asia, bahkan suatu hari menjadi
nomor satu? Gastech
bermula di London pada 1972, ketika industri LNG masih sangat muda. LNG
adalah gas alam yang didinginkan hingga cair agar mudah diangkut. Forum
awal Gastech mempertemukan pengambil keputusan industri LNG dan LPG. LPG
adalah gas minyak cair yang antara lain kita kenal melalui tabung gas rumah
tangga. Ketika
Gastech pertama digelar, Qatar baru saja menemukan North Field pada 1971,
lapangan gas raksasa. Amerika baru membuka terminal impor LNG. Teknologi
pengangkutan LNG sendiri masih berkembang. Lebih
dari setengah abad kemudian, Gastech berubah. Ia bukan lagi percakapan khusus
mengenai gas dan kapal LNG, melainkan forum besar mengenai masa depan energi. Gastech
berbeda dari ADIPEC, konferensi energi besar Abu Dhabi yang kuat pada bisnis
migas. OTC di Houston lebih terkonsentrasi pada teknologi minyak dan gas
lepas pantai. CERAWeek
lebih menyerupai forum strategis para pemimpin energi, investor, teknologi,
dan pemerintah. Davos lebih luas lagi karena membicarakan ekonomi, politik,
dan dunia. Gastech
mempunyai karakter sendiri. Gas tetap menjadi jantungnya. Namun hidrogen,
kecerdasan buatan, teknologi rendah karbon, investasi, geopolitik, dan
keamanan energi semakin dominan. Karena
itu, Bangkok bagi saya bukan sekadar tempat konferensi. Ia menjadi
laboratorium untuk mengintip dunia energi yang sedang lahir di depan mata
kita. -000- Ada
lima percakapan besar yang ingin saya dengarkan. Pertama, gas alam dan LNG
sebagai jangkar energy security, yaitu kemampuan negara menjamin pasokan
energinya. Asia
membutuhkan semakin banyak energi, sementara jalur perdagangan menghadapi
ketegangan geopolitik. LNG menawarkan fleksibilitas, tetapi harga,
infrastruktur, kontrak, dan keamanan pasokan semakin menentukan. Kedua,
hidrogen dan bahan bakar rendah karbon. Dunia mulai bergerak dari euforia
menuju pragmatisme. Teknologi harus ekonomis, memiliki pembeli,
infrastruktur, regulasi, dan pasar. Bagi
Indonesia, percakapan ini menyimpan janji khusus. Natural hydrogen, hidrogen
yang terbentuk secara alamiah di bawah bumi, mungkin membuka wilayah
eksplorasi energi yang sama sekali baru. Ketiga,
teknologi rendah karbon dan efisiensi energi. Transisi energi bukan
pertandingan slogan. Pertanyaannya sederhana: teknologi mana yang sungguh
menurunkan emisi dengan biaya masuk akal? Termasuk
di dalamnya CCUS, Carbon Capture, Utilisation and Storage. Teknologi ini
menangkap karbon dari kegiatan industri agar tidak langsung terlepas ke
atmosfer. Keempat,
artificial intelligence, atau kecerdasan buatan. AI mulai membantu membaca
reservoir, memperkirakan kerusakan mesin, mengoptimalkan produksi, dan
meningkatkan keselamatan operasi energi. AI
bahkan dapat membuat digital twin, kembaran virtual fasilitas nyata. Insinyur
dapat menguji berbagai skenario operasi melalui komputer sebelum
menerapkannya langsung di lapangan. Dalam
industri bernilai miliaran dolar, tambahan recovery, yaitu minyak yang
berhasil diangkat dari reservoir, beberapa persen saja dapat menghasilkan nilai
ekonomi yang sangat besar. Kelima,
geopolitik, investasi, dan kemitraan. Energi semakin menjadi persoalan
kedaulatan. Modal, teknologi, rantai pasok, jalur laut, mineral, dan keamanan
nasional saling bertemu. Tidak
ada negara menguasai semuanya. Pemenang energi masa depan mungkin bukan
negara paling tertutup, tetapi negara yang paling cerdas membangun jaringan
dan aliansi dunia. -000- Saya
kemudian membawa pertanyaan Gastech lebih jauh. Apa sesungguhnya yang
diperlukan agar Indonesia, secara bertahap, menjelma menjadi salah satu
kekuatan energi terbesar Asia? Saya
mulai dengan angka. Jika ukuran sementara kita adalah pendapatan perusahaan,
jarak Pertamina dengan dua raksasa China masih sangat jauh. Fortune
Global 500 tahun 2026 mencatat China National Petroleum sekitar US$401,9
miliar. Sinopec Group sekitar US$407,5 miliar. Keduanya memang berada dalam
liga tersendiri. Di
bawahnya terdapat kelompok perusahaan energi nasional besar Asia, antara lain
IndianOil dari India, PTT dari Thailand, Pertamina dari Indonesia, PETRONAS
dari Malaysia, dan CNOOC dari China. Pertamina
sendiri mencatat pendapatan sekitar US$70,89 miliar pada 2025, turun dari
US$75,33 miliar pada 2024. Artinya, skala dua raksasa China masih sekitar
enam kali lebih besar. Secara
indikatif, Pertamina berada sekitar peringkat kelima kelompok NOC Asia
non-Timur Tengah. NOC berarti National Oil Company, perusahaan energi yang
dikendalikan negara. Namun
peringkat ini harus dibaca hati-hati. Tahun fiskal, struktur perusahaan,
kegiatan perdagangan, subsidi pemerintah, dan metode pelaporan masing-masing
perusahaan tidak sepenuhnya sama. Karena
itu, pendapatan hanyalah papan skor awal. Besar belum tentu sehat. Perusahaan
dapat menjual sangat banyak, tetapi memperoleh keuntungan yang relatif sangat
sedikit. Kekuatan
sejati harus menggabungkan pendapatan, laba, cadangan, produksi, teknologi,
dan free cash flow, yaitu uang tunai tersisa setelah kebutuhan investasi
perusahaan terpenuhi. Saya
membayangkan tangga menuju puncak. Tahun 2029 kita menaikkan produksi dalam
negeri. Tahun 2030 Pertamina harus berusaha menjadi perusahaan energi
terbesar dan paling kuat di Asia Tenggara. Target
itu pun tidak ringan. PTT Thailand masih memiliki skala pendapatan lebih
besar, sehingga Pertamina harus tumbuh lebih cepat sekaligus menjaga
keuntungan dan kesehatan keuangan. Tahap
berikutnya jauh lebih berat. Sekitar 2040, Pertamina harus berusaha masuk
tiga besar Asia non-Timur Tengah, bersaing dengan raksasa energi India dan
China. Tahap
terakhir adalah mimpi generasional. Menjelang 2050, Pertamina harus berani
mengejar dua raksasa China dan menjelma menjadi perusahaan energi
multinasional milik Indonesia. Ini
bukan ramalan. Ini aspirasi. CNPC dan Sinopec tentu tidak akan berhenti
tumbuh selama dua puluh tahun hanya untuk menunggu Indonesia mengejar mereka. Justru
karena itulah mimpi ini harus melampaui satu pemerintahan, satu direksi,
bahkan satu generasi kepemimpinan. Strategi besar memerlukan kesetiaan lintas
zaman. -000- Bagaimana
lompatan sebesar itu mungkin dilakukan? Saya melihat Indonesia membutuhkan
sedikitnya empat mesin pertumbuhan. Keempatnya harus bergerak serentak, bukan
menunggu satu sama lain. Mesin
pertama adalah minyak dan gas non-konvensional. Ini hidrokarbon yang
tersimpan dalam batuan sangat rapat sehingga membutuhkan teknologi khusus
untuk mengeluarkannya secara ekonomis. Termasuk
di dalamnya MNK, minyak dan gas bumi non-konvensional. Amerika mengubah peta
energi dunia ketika berhasil mengembangkan sumber daya sejenis melalui
revolusi shale. Indonesia
tidak perlu meniru Amerika secara mekanis. Kita harus menemukan model
sendiri: biaya pengeboran rendah, teknologi tepat, pembangunan massal, dan
skala produksi ekonomis. Bagi
saya, MNK menarik karena ia menguji sesuatu yang lebih besar daripada
geologi. Ia menguji apakah kita mampu mengubah potensi menjadi industri
secara disiplin. Mesin
kedua adalah natural hydrogen, hidrogen yang terbentuk secara alamiah di
dalam bumi, berbeda dengan hidrogen industri yang dibuat menggunakan proses
dan energi tambahan. Indonesia
mempunyai indikasi geologis menarik, terutama di East Sulawesi Ophiolite,
dengan kandungan H₂ hingga 35 persen, serta potensi di
Halmahera timur, Meratus, dan Papua. Badan
Geologi pernah melakukan survei pendahuluan di One Pute Jaya, Morowali,
Sulawesi Tengah. Jika kelak terbukti komersial, kita mungkin menyaksikan
halaman pertama industri energi baru dunia. Namun
saya selalu mengingatkan diri sendiri: jangan jatuh cinta kepada potensi
sebelum data berbicara. Dalam energi, optimisme harus berjalan bersama
disiplin ilmiah. Kita
memerlukan pemetaan, pengeboran, pengujian aliran, penghitungan sumber daya,
keekonomian, standar keselamatan, regulasi, dan mitra teknologi kelas dunia
sebelum berbicara tentang produksi besar. Mesin
ketiga adalah eksplorasi wilayah baru dan laut dalam. Indonesia memiliki 128
cekungan sedimen yang berpotensi menyimpan migas. Sebanyak 68 belum pernah
dieksplorasi. Artinya
sekitar 53 persen cekungan kita masih menyimpan tanda tanya besar. Angka itu
menggairahkan imajinasi, tetapi sekaligus menuntut kehati-hatian dalam
mengambil kesimpulan. Potensi
geologi bukan cadangan. Cadangan bukan produksi. Produksi tidak lahir tanpa
modal, teknologi, keberanian mengambil risiko, kepastian hukum, dan
bertahun-tahun kerja keras. Laut
dalam Indonesia timur dapat menjadi wilayah pencarian berikutnya. Tetapi
eksplorasi memerlukan keberanian menerima bahwa sumur yang gagal pun dapat
menghasilkan pengetahuan berharga. Mesin
keempat adalah M&A global, singkatan dari merger and acquisition.
Sederhananya, Pertamina membeli perusahaan, saham, atau bagian kepemilikan
aset energi di negara lain. Indonesia
sebenarnya sudah memiliki jejak awal. Melalui Pertamina Internasional EP,
negeri ini pernah mengelola aset migas di Aljazair, Malaysia, Irak, Prancis,
Italia, hingga Afrika dan Amerika Latin. Pengalaman
itu perlu diperluas dan diperdalam. Masa depan perusahaan energi Indonesia
juga harus dicari di luar Indonesia, bukan hanya di reservoir dalam negeri. Jika
minyak sulit ditemukan, sebagian produksi dapat diakuisisi. Jika eksplorasi
membutuhkan waktu panjang, aset yang sudah berproduksi dapat memberikan
minyak dan pendapatan lebih cepat. Perusahaan
energi besar tumbuh menggunakan dua kaki. Satu kaki mengebor. Kaki lainnya
membeli. Perusahaan global yang kuat harus mampu melakukan keduanya dengan
disiplin. Namun,
mesin pertumbuhan akan mati tanpa oli kepastian hukum. Reformasi regulasi,
penyederhanaan perizinan, dan iklim investasi yang kompetitif adalah kunci
utama menarik modal global ke industri energi nasional. -000- Di
sela padatnya angka dan strategi, saya kembali kepada bacaan. Dua buku
membantu saya melihat persoalan ini lebih jernih, dari sudut kekuasaan
sekaligus sudut fisika. Pertama,
The New Map, karya Daniel Yergin, diterbitkan Penguin Press pada tahun 2020.
Yergin menunjukkan energi tidak pernah sekadar komoditas. Minyak,
gas, teknologi, China, Amerika, Rusia, jalur perdagangan, dan perubahan iklim
ikut membentuk peta kekuasaan dunia. Energi menjadi bahasa geopolitik abad
ini. Pelajarannya
bagi Indonesia sederhana. Strategi energi adalah bagian strategi besar
negara. Kekuatan energi memberikan pendapatan, ketahanan nasional, sekaligus
daya tawar dalam hubungan internasional. Buku
kedua, How the World Really Works, karya Vaclav Smil, diterbitkan
Viking pada 2022. Smil mengingatkan bahwa transformasi energi selalu dibatasi
realitas fisik. Peradaban
modern bergantung pada energi, pangan, transportasi, baja, semen, pupuk, dan
infrastruktur. Karena itu, transisi energi tidak mungkin dijalankan hanya
melalui deklarasi politik. Pesannya
relevan bagi Indonesia. Kita membutuhkan energi baru tanpa meremehkan
kebutuhan hari ini. Idealisme harus berjalan bersama teknologi, keekonomian,
skala, dan keandalan pasokan. Dua
buku itu seperti memberi saya dua mata. Yergin melihat kekuasaan dan
geopolitik. Smil melihat fisika dan realitas. Indonesia membutuhkan keduanya
sekaligus. -000- Tentu
ada kontra argumen. Mengapa harus mengejar predikat “raja energi Asia”?
Bukankah lebih penting menyediakan energi murah, bersih, tersedia, dan
menyejahterakan masyarakat? Kritik
itu benar. Bahkan penting. Pendapatan besar dapat berasal dari perdagangan
bermargin tipis. Akuisisi internasional yang buruk bahkan dapat menghancurkan
nilai perusahaan nasional. Karena
itu, menjadi terbesar tidak boleh berdiri sebagai tujuan tunggal. Kebesaran
harus menjadi akibat dari kemampuan menciptakan nilai secara sehat, efisien,
dan berkelanjutan. Setiap
akuisisi harus menghasilkan keuntungan yang layak dibandingkan modalnya.
Setiap pengeboran harus masuk akal secara ekonomi. Setiap teknologi harus
membuktikan manfaatnya. “Raja
energi” juga bukan bahasa dominasi terhadap bangsa lain. Saya memaknainya
sebagai kemampuan menjamin kebutuhan sendiri sekaligus berkompetisi secara
terhormat di panggung dunia. Indonesia
kuat ketika perusahaan nasionalnya mempunyai teknologi kelas dunia, cadangan
global, talenta internasional, keuangan sehat, serta kemampuan menciptakan
kemakmuran bagi generasi berikutnya. -000- Ada
alasan personal mengapa saya datang ke Bangkok membawa pertanyaan sebesar
ini. Beberapa bulan terakhir, energi bukan lagi sekadar angka dalam
presentasi bagi saya. Dalam
berbagai rapat, saya melihat satu angka produksi dapat memicu perdebatan
panjang. Di balik angka itu tersembunyi keputusan investasi, risiko,
teknologi, dan nasib sebuah lapangan. Saya
mulai memahami bahwa industri energi memiliki ironi tersendiri. Satu
keputusan hari ini mungkin baru memperlihatkan hasil ketika para pengambil
keputusannya sudah berganti. Di
situlah energi terasa sangat manusiawi. Kita diminta mengambil risiko
berdasarkan pengetahuan yang tidak pernah sempurna, tetapi konsekuensinya
dapat bertahan puluhan tahun. Karena
itu, berada di Gastech bagi saya bukan sekadar menghadiri konferensi. Saya
ingin mendengarkan bagaimana bangsa dan perusahaan lain sedang merancang masa
depan mereka. Saya
membayangkan berjalan dari satu ruangan menuju ruangan lainnya. Di satu
tempat LNG dibicarakan. Di tempat lain hidrogen, kecerdasan buatan,
investasi, dan geopolitik. Di
antara ribuan peserta itu, mungkin ada seseorang yang kelak menjadi mitra
Indonesia. Sebuah transaksi miliaran dolar dapat bermula dari percakapan tiga
puluh menit. Saya
ingin berjalan di lorong Gastech membawa satu pertanyaan Indonesia: dari
semua perubahan yang sedang terjadi, kesempatan manakah yang tidak boleh kita
lewatkan? Jawabannya
mungkin bukan satu teknologi. Jawabannya adalah kemampuan menemukan energi
lebih banyak, menciptakan energi baru, menaikkan nilainya, lalu berani
bermain secara global. Indonesia
mempunyai modal awal luar biasa. Sumber daya besar. Pasar lebih dari 280 juta
manusia. Posisi geografis strategis. Dan kita mempunyai sebuah perusahaan
bernama Pertamina. Namun
sumber daya hanyalah kemungkinan. Geologi tidak menjamin kemakmuran. Populasi
tidak menjamin kekuatan. Perusahaan besar domestik juga belum tentu mampu
menjadi raksasa global. Kita
membutuhkan mimpi energi yang lebih panjang daripada satu periode
pemerintahan. Tahun 2029 kita mengejar produksi. Tahun 2030 kita mengejar
puncak Asia Tenggara. Tahun
2040 kita mengejar tiga besar Asia. Tahun 2050, ketika Republik berusia 105
tahun, kita harus berani memandang puncak yang lebih tinggi. Mungkin
kita tidak tiba tepat pada tahun itu. Namun bangsa besar membutuhkan horizon
cukup jauh agar satu generasi bersedia bekerja untuk generasi berikutnya. Saya
menuju Gastech dengan keyakinan sederhana. Masa depan energi Indonesia tidak
hanya tersimpan di bawah tanah negeri sendiri. Sebagiannya tersebar di
seluruh dunia. Tugas
kita adalah menemukannya. Menguasai teknologinya. Membeli aset terbaiknya.
Mengolah setiap molekulnya. Lalu membawa sebanyak mungkin nilai ekonomi itu
kembali kepada Indonesia. Indonesia
tidak akan menjadi raja energi karena memiliki kekayaan di bawah tanah,
tetapi ketika memiliki keberanian menjadikan seluruh dunia sebagai ladang
energinya. ● REFERENSI Daniel
Yergin, The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations, Penguin
Press, 2020. Vaclav
Smil, How the World Really Works: The Science Behind How We Got Here and
Where We’re Going, Viking, 2022. Fortune
Global 500, 2026, data pendapatan CNPC dan Sinopec Group. Pertamina,
Laporan Kinerja 2024 dan 2025. SKK
Migas, Data cekungan sedimen dan wilayah kerja migas Indonesia, 2025–2026. Badan
Geologi Kementerian ESDM, survei natural hydrogen di One Pute Jaya, Morowali,
Sulawesi Tengah, 2023. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar