|
Deep Learning, Kelompok Mana yang Lambat,
Enggan, dan Menolak Suyanto : Ketua Dewan Pendidikan Nasional, Ketua Majelis Wali
Amanat Universitas Negeri Yogyakarta. |
MEDIA INDONESIA, 16 September 2026
|
PEMBELAJARAN mendalam (PM) sedang bergerak dari
kebijakan menjadi praktik. Pada tahap ini, pertanyaan penting tidak hanya
apakah konsepnya baik, tapi juga bagaimana ia menyebar dan diadopsi oleh para
implementator. Di sinilah teori diffusion of innovations Everett M Rogers
relevan digunakan. Rogers menjelaskan bahwa inovasi tidak pernah diterima
semua orang pada saat yang sama. Kecepatan adopsi berbeda karena persepsi
terhadap manfaat, kesesuaian, kerumitan, kemungkinan diuji, dan keterlihatan
hasil inovasi itu sendiri (Rogers, 2003). Rogers membagi adopter menjadi lima kelompok.
Innovators sekitar 2,5% adalah kelompok paling cepat mencoba hal baru. Early
adopters 13,5% mengikuti dengan lebih selektif dan sering menjadi rujukan
sosial bagi kelompok lain. Early majority 34% baru bergerak setelah melihat
bukti bahwa inovasi masuk akal dan dapat bekerja. Late majority 34% cenderung
lebih skeptis dan menunggu sampai inovasi menjadi praktik yang semakin umum.
Adapun laggards sekitar 16% merupakan kelompok paling lambat; sebagian baru
berubah ketika tekanan lingkungan kuat, bahkan sebagian dapat bertahan pada
praktik lama (Rogers, 2003). Proporsi ini tentu bukan hasil pengukuran
implementator PM di Indonesia. Ia lebih tepat dipakai sebagai lensa analitis
untuk memahami bahwa kecepatan adopsi kebijakan tidak mungkin seragam.
Kategori tersebut juga bukan identitas permanen atau cap terhadap seseorang;
ia terutama menggambarkan posisi relatif dalam waktu adopsi sebuah inovasi. PENDEKATAN BERBEDA PM layak dibaca sebagai inovasi karena ia
menghendaki transformasi cara belajar: pembelajaran berkesadaran, bermakna,
dan menggembirakan; pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan
merefleksi; serta dukungan praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran,
kemitraan, dan pemanfaatan digital (Kemendikdasmen, 2025). Dengan tuntutan
perubahan sebesar itu, mustahil semua implementator bergerak dengan kecepatan
yang sama. Rogers juga mengingatkan bahwa inovasi lebih
cepat diadopsi jika memiliki relative advantage, yaitu dipersepsi lebih baik
daripada praktik sebelumnya; compatibility, yaitu sesuai dengan nilai,
pengalaman, dan kebutuhan adopter; complexity yang rendah; trialability,
yaitu dapat dicoba secara terbatas; serta observability, yakni hasilnya dapat
dilihat. Istilah divisibility yang sering digunakan untuk menjelaskan inovasi
yang dapat diterapkan sebagian demi sebagian pada hakikatnya dekat dengan
gagasan trialability. Semakin mudah PM dicoba, disesuaikan, dan dibuktikan
manfaatnya, semakin cepat pula proses adopsinya. Implikasinya sangat strategis bagi kebijakan.
Innovators jangan dibebani prosedur berlebihan. Mereka perlu ruang
bereksperimen, melakukan prototipe, dan menghasilkan contoh praktik. Early
adopters perlu diberi akses pada bukti, jejaring, dan ruang berbagi karena
merekalah calon opinion leader yang dapat memberi legitimasi sosial kepada
PM. Early majority tidak cukup diberi slogan; mereka membutuhkan model yang
teruji, panduan yang jelas, contoh implementasi, pendampingan, dan bukti
bahwa PM dapat memperbaiki kualitas pembelajaran. Late majority memerlukan pendekatan berbeda lagi.
Kelompok ini biasanya baru bergerak setelah ketidakpastian berkurang. Mereka
membutuhkan praktik yang sederhana, risiko implementasi yang rendah, dukungan
teknis yang dekat, serta bukti dari lingkungan yang mereka percaya. Adapun
kelompok paling lambat tidak semestinya langsung dicap sebagai penolak
perubahan. Bisa jadi mereka menghadapi keterbatasan sumber daya, pengalaman
buruk terhadap perubahan sebelumnya, atau belum melihat keunggulan relatif
PM. Kebijakan yang hanya memberi perintah justru dapat memperbesar
resistensi. KEBIJAKAN TERDIFERENSIASI Karena itu, implementasi PM seharusnya tidak
memakai filosofi ‘kaus kaki satu ukuran cocok untuk semua’. One size fits all
mungkin praktis secara administratif, tetapi lemah secara teori perubahan.
Kelompok dengan kesiapan berbeda memerlukan intervensi berbeda. Ada yang
cukup diberi ruang, ada yang perlu diyakinkan dengan bukti, ada yang
memerlukan pendampingan intensif, dan ada yang harus terlebih dahulu dibantu
mengurangi kompleksitas serta risiko perubahan. Kementerian dapat membangun kebijakan
terdiferensiasi dengan memetakan kesiapan implementator, bukan sekadar
kepatuhan administratif. Sekolah atau wilayah yang sudah menjadi innovators
dan early adopters dapat dijadikan laboratorium praktik dan pusat
demonstrasi. Kelompok early majority dapat diperkuat melalui replikasi
praktik yang telah terbukti. Late majority memerlukan pendampingan lebih
sistematis. Sementara kelompok yang paling lambat perlu didiagnosis
penyebabnya: apakah masalahnya persepsi manfaat, kompatibilitas, kerumitan,
sumber daya, atau kepercayaan. PM akan gagal menjadi transformasi jika
keberhasilannya hanya diukur dari seberapa cepat istilahnya dikenal. Difusi
inovasi menuntut lebih dari sosialisasi; ia menuntut perubahan keyakinan,
praktik, dan pengalaman. Tantangan kementerian bukan membuat semua
implementator bergerak serempak, melainkan membuat setiap kelompok bergerak
maju dari posisi awalnya. Bila kebijakan mampu membaca variasi kesiapan itu,
PM tidak berhenti sebagai kebijakan pusat, tetapi benar-benar berdifusi
menjadi budaya pembelajaran. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/933841/deep-learning-kelompok-mana-yang-lambat-enggan-dan-menolak
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar