|
ArtSubs Rambat Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 23 September 2026
Inilah pameran
seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu
diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni di
Indonesia: Surabaya.
Nama
pamerannya: ArtSubs. Seluruh kompleks Alon-Alon Surabaya diubah jadi galeri.
Gedung-gedungnya, halamannya, dan teras-terasnya. Termasuk ruang bawah
tanahnya. Semua diberi AC, termasuk yang di halaman. Memang halaman Alon-Alon
pun dipasangi tenda tertutup kokoh; yang tidak bisa dibedakan dengan ruangan
lainnya.
Inilah pameran
yang untuk mempersiapkan fisiknya saja perlu 250 orang yang bekerja siang malam
selama satu bulan penuh. Sudah begitu sering ada acara publik di Alon-Alon
Surabaya. Tapi baru di ArtSubs ini lokasi peninggalan Belanda itu dipermak jadi
pameran seni terbesar sepanjang pengetahuan saya.
Alon-Alon
Surabaya berada di pusatnya pusat kota. Di Jalan Pemuda –terusan Jalan
Tunjungan. Satu deret dengan Gedung Grahadi, bangunan yang dulu untuk pejabat
tertinggi Belanda di Jawa Timur. Kini Grahadi jadi ''istana'' gubernur Jatim.
Alon-Alon
Surabaya dulunya disebut Balai Pemuda. Dulunya lagi, di zaman Belanda, kompleks
ini disebut De Simpangsche Societeit. Dibangun tahun 1907. Orang asli Surabaya
menyebutnya Rumah Bola: ada permainan biliar di dalamnya. Di zaman itu hampir
semua kota punya Rumah Bola –tempat orang Belanda dan Eropa mencari hiburan:
dansa, bermusik, teater, dan main biliar. Disebut Simpang Club karena untuk
masuk ke De Simpangsche Societeit harus menjadi anggotanya: pribumi dan anjing
dilarang masuk.
Di Jakarta
Rumah Bola itu disebut Gedung Harmoni –yang kini, dari luar, tampak hilang
keanggunannya dan seperti tidak terawat.
Di Surabaya,
Pemkot Surabaya memugarnya dengan sangat sukses: dua gedungnya dikembalikan ke
bentuk dan arsitektur aslinya. Halaman luas di antara dua gedung itu dijadikan
plaza terbuka yang tertata. Lalu ditambah ruang bawah tanah –termasuk untuk
parkir. Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini berjuang untuk mendapatkan
tanah pojok milik Pemda di seberang jalannya –tapi sudah telanjur jatuh ke
swasta. Risma kalah di pengadilan.
Risma punya
keinginan bangunan bawah tanah itu diperluas sampai ke bawah jalan raya, bahkan
sampai ke tanah yang gagal direbut itu. Alangkah hebatnya kalau gubernur
Jakarta juga membuat parkir bawah tanah yang besar di bawah Monasnya.
Sayang sekali
Bu Risma membangun gedung DPRD Surabaya di kompleks ini. Kelak gedung itu harus
digusur ke lokasi lain: politik dan seni itu bertentangan. Yang seni membangun
kehalusan rasa, budi, dan budaya, yang politik menghasilkan sebaliknya. Apalagi
untuk membangun gedung DPRD itu, dulu, harus menggusur markas Dewan Kesenian
Surabaya (DKS) –entah ke mana DKS menggelandang sekarang.
Gedung-gedung
De Simpangsche Societeit itu, dan sekalian halamannya, disulap jadi ruang untuk
ArtSubs: pameran dibuka Sabtu lalu untuk durasi sampai tanggal 8 November.
Untuk menyulap itu diperlukan kayu-kayu sebagai tapak lantai. Besi-besi penguat
dinding dan triplek yang begitu banyaknya –kalau dijajar bisa sepanjang dua
kilometer.
Memang, biar
pun dinding gedung-gedung itu masih sangat baik, ArtSubs membuat dinding baru
untuk melapisinya: agar sesuai dengan kebutuhan pameran lukisan.
Saya diajak
cucunya Pak Iskan nonton ArtSubs Senin sore lalu: saya kaget. Tumben, pameran
seni di Surabaya didatangi begitu banyak pengunjung.
Kami ditemani
salah satu advisory board ArtSubs, Aris Utama yang rupanya teman gila sepedanya
cucu Pak Iskan.
Anda sudah
kenal Aris Utama: suami artis Olga Lydia itu.
Yang saya juga
merasa beruntung: pemrakarsa ArtSubs sedang ada di pameran. Para kolektor
lukisan tahu siapa orang itu: Rambat. Ya, namanya satu kata: Rambat. Ups... ada
juga istrinya.
Rambat orang
Bali. Tinggal di Kerobokan. Aslinya dari Lampung. Lahir dan sekolah sampai SMP
di Lampung. Lebih aslinya lagi: Klaten. Orang tuanya kelahiran Klaten. Istrinya
orang Gerobokan, Jateng.
"Setelah
tamat SMP melanjutkan ke mana?" tanya saya.
"Tidak
sekolah lagi," jawabnya. "Bekerja apa saja, termasuk jadi tukang
bangunan," tambahnya.
Rambat anak
transmigran. Sampai sekarang sang ayah masih jadi petani di Lampung Timur.
Rambat berubah nasib setelah merantau ke Bali: juga jadi tukang batu. Lalu
punya kenalan orang Bali.
Suatu saat,
ketika tidak ada proyek, ia diminta bantu jualan di pasar desa. Yakni pasar
yang jualan kerajinan dan benda-benda seni. Ia diminta menjaga kios jualan
kacamata kelas harga Rp 10.000-an. Di pasar itulah Rambat mulai kenal benda
seni. Juga bertemu banyak turis, termasuk turis asing.
"Saya
banyak belajar benda seni. Termasuk lukisan," katanya.
Lama-lama ia
tahu cara jualan lukisan. Jadilah pedagang lukisan. Rambat pun tahu mana
lukisan berharga dan mana yang tidak. Ia pun kenal banyak pelukis. Kelasnya
terus naik. Pelukis tenama pun jadi sahabatnya.
Ini tahun
ketiga Rambat menyelenggarakan ArtSubs. Yang terbesar. Tahun lalu nasibnya
sial: ketika ArtSubs baru berjalan beberapa hari terjadilah demo besar-besaran.
Jakarta terbakar. Seorang ojol tewas dilindas mobil polisi. Merembet ke
Surabaya: Gedung Grahadi dibakar. Jaraknya dengan ArtSubs hanya sepelemparan
batu. Rambat bergegas menutup pameran. Mengemasinya.
"Mengapa
berani berpameran di Surabaya? Bukankah Surabaya tanah gersang untuk kesenian
jenis ini?" tanya saya.
"Surabaya
bukan lagi gersang, tapi padang pasir," guraunya. "Kalau pameran
seperti ini dilaksanakan di Jakarta pasti untung," katanya serius.
"Bagaimana
kalau di Yogyakarta?"
"Kalau di
Yogya bisa impas".
Saya pun
berterima kasih tak terhingga kepadanya: Rambat saya anggap sedang mengairi
padang pasir dengan air Bengawan Solo. Siapa tahu lama-lama akan tumbuh
benih-benih seni yang subur.
Saking
seriusnya pameran ini Rambat sudah tiba di Surabaya satu bulan sebelum
pembukaan. Pun orang seperti Nirwan Dewanto, salah satu anggota kurator. Sudah
sebulan juga Nirwan menyeleksi mana lukisan yang layak dipajang.
Tidak semuanya
lukisan. Ada seni instalasi. Ada patung. Ada seni arsitektur.
Misalnya ada
satu ruangan kamar tidur seperti benar-benar kamar tidur yang mewah. Tapi
ranjangnya, kursi tamunya, kursi sofanya, lemarinya, semua berbentuk penyet.
Pun pintu masuk dan lebar kamarnya sendiri.
Ada juga satu
ruangan isinya karya pematung terkenal Nyoman Nuarta: mulai miniatur istana di
IKN sampai gerbang perunggunya. Nyoman memang pemenang desain istana dan masjid
IKN. Nyoman ikut hadir di pembukaan.
Di dekat pintu
gerbang adalah museum seni. Karya kolaborasi seniman KBUSR. Di dalamnya ada
karya Handiwirman, Yusra, Yuli, Koko, Agung, dan Ardana. Ini seni instalasi
yang diberi nama museum. Ide awalnya halaman museum itu akan terbuat dari
hamparan lumpur Lapindo. Tapi tidak dapat izin membawa lumpur asli Lapindo ke
Alon-Alon.
Begitu banyak
lukisan mahal di ArtSubs: termahal seharga Rp 3 miliar. Tapi ada juga satu
kawasan khusus untuk ''UMKM''-nya lukisan: yang harganya di bawah Rp 20
juta/lukisan.
Surabaya yang
''gersang seni'' ternyata punya pelukis yang masuk kriteria ArtSubs: Gabriel
Eva. Lukisan "Hutan Alice'' -nyi dipajang besar sekali. Indah. Teduh. Di
pojok lukisan itu ada semacam jendela atau lorong kecil. Di ujung lorong sana
terlihat hutan teduh dari jauh. Anda harus berimajinasi seolah masuk ke lorong
itu: terlihatlah alam raya –dan itu adalah lukisan besar Gabriel di depan Anda.
Dulu saya
mengenal Gabriel sebagai desainer baju. Dia memang Arek Suroboyo yang sekolah
di Arva School of Fashion Surabaya. Gabriel seorang pendaki gunung. Aktif juga
di properti.
Kunjungan saya
berakhir di seni instalasi di ruang bawah tanah. Serba hitam. Judulnya sebuah
kalimat yang tidak selesai: "Habis gelap ....". Anda sendiri yang
akan mengisi titik titik itu –setelah Anda memasuki ruangannya, lalu keluar
lagi untuk menatap judul itu.
Tidak semua
pengunjung boleh memasukinya. Misalkan Anda punya penyakit ''alergi''
kegelapan, Anda dianjurkan untuk tidak memasukinya. Setelah menyatakan diri
sehat silakan masuk: maksimum lima orang. Begitu melewati tirai hitam Anda
tidak melihat apa-apa lagi kecuali kegelapan. Karena itu Anda dianjurkan harus
berpegangan reeling di dindingnya.
Saya juga
pegangan. Tangan kiri berpegangan reeling tangan kanan meraba-raba ke depan
--khawatir tiba-tiba ada benda keras di depan hidung. Lalu saya melangkah
kecil-kecil takut ada jebakan kaki di depan.
Saya beringsut
maju sambil sesekali membuka mata: masih belum melihat apa-apa. Setelah
beberapa langkah kecil, tangan kanan saya mendeteksi ada dinding di depan.
Berarti sudah mentok. Diminta duduk di bangku. Saya raba-raba memang ada
bangku. Duduk menghadap ke depan. Gelap. Terus diminta menatap ke depan.
Lama-lama muncul bayangan samar warna putih. Kian lama kian jelas. Ada dua
kotak putih. Atau dua jendela terang. Atau dua wajah pucat. Terserah imajinasi
Anda. Selesai.
Setelah ruang
dibuat terang ternyata ada cermin di situ. Benda putih tadi sebenarnya hanya
satu. Kepala saya pun kebentur dinding sampai menimbulkan suara benturan yang
keras. Orang-orang menertawakan saya. Saya kecele ketika ingin mengintip: ada
apa di balik cahaya putih itu.
Untuk masuk
''Habis gelap....'' harus bayar: satu dolar. Anda harus membayarnya dengan
rupiah –karena ini di Indonesia. Di dinding sebelah kasir ada angka-angka
digital live dari bank: di saat Anda membayar itu angka digital menunjukkan
kurs dolar sedang di angka berapa.
Inilah karya
seni yang –seperti karya seni pada umumnya– mengandung kritik sosial: betapa
jatuh nilai rupiah kita. Sang seniman –yang mempunyai karya ini– tidak ingin
mendapat uang dari Anda. Dengan membayar pakai cara itu ia hanya ingin Anda
menyadari betapa lemahnya mata uang kita. Setelah Anda membayar si kasir
memberikan ke Anda tanda mata yang harganya setara dengan 1 dolar Amerika.
Seniman yang
menyajikan karya seni ''Habis gelap ....'' ini Anda sudah tahu: Wawan Dalbo. Ia
seorang arsitek di Yogya. Juga pemilik sebuah hotel di sana –teman sepedaannya
cucu Pak Iskan.
Dalbo punya
galeri besar di Yogya, yang kalau masuk harus bayar Rp 30.000. Puluhan ribu
orang berkunjung ke galerinya setiap tahun: Galeri Edsu.
Besarnya
ArtSubs juga terlihat dari jumlah artis yang ikut di dalamnya: 151 pelukis.
Karya yang dipamerkan 500 benda seni.
Selesai melihat
ArtSubs saya tidak habis pikir: bagaimana orang seperti Rambat berani
mengadakannya di Surabaya. Pasti mahal sekali. Perkiraan saya Rambat perlu
punya dana Rp 15 miliar untuk bisa mengairi ladang tandus seni di Surabaya.
Uang memang
bisa dicari. Tapi hanya Rambat yang berani mencari uang untuk seni. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/969862/artsubs-rambat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar