|
Yang Baru Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 07 Agustus 2026
Kemajuan apa
saja yang terjadi selama 20 tahun terakhir di bidang transplantasi hati?
Yang terbaru:
penggunaan robot di saat pengambilan hati milik pendonor yang akan diberikan
kepada pasien. Sembilan bulan lalu Nisa menjadi orang pertama di RS
Persahabatan Beijing. Separo hati Nisa dipotong untuk dipasang di badan
suaminyi sendiri. Kemarin saya bertemu Nisa dan suami. Dua-duanya sangat sehat.
Belum begitu lama pulang dari haji.
Tiga bulan
lalu, di RS Fatmawati Jakarta, dilakukan transplantasi hati dengan teknik yang
juga baru --meski tidak sebaru robot. Yakni pengambilan hatinya dilakukan
dengan tehnik laparoskopi. Baru sekali itu dilakukan di Indonesia. Perut
pendonor tidak perlu disayat panjang. Cukup 15 cm.
Kok masih 15
cm? Tidak cukup dikeluarkan lewat lubang selang untuk memasukkan kamera dan
pisau?
Laparoskopinya
sendiri memang tidak perlu sayatan panjang. Begitu kamera dan pisau dimasukkan
lewat ujung ”selang” dokter melakukan
pemotongan hati pakai tuas di komputer seperti dalam permainan game.
Masalahnya, separo hati yang sudah terpotong itu harus dikeluarkan: untuk
dipasang di tubuh pasien. Mengeluarkan separo hati tidak bisa lewat lubang
seukuran selang. Harus tetap dilakukan sayatan. Hanya saja tidak perlu lagi
sayatan yang sampai 25 cm. Untuk mengeluarkannya tidak perlu pakai tangan
dokter.
Yang terjadi di
RS Fatmawati --RS milik pemerintah pusat di Jakarta Selatan seperti halnya RS
dr Cipto Mangunkusumo di Jakarta Pusat-- adalah penerapan apa yang sudah biasa
dilakukan di Korea Selatan. Yakni oleh Prof Lee dari Seoul National University
Hospital (SNUH). Prof Lee sendiri datang ke RS Fatmawati mendampingi
pelaksanaan transplantasi: separo hati seorang anak (26 tahun) diberikan kepada
ayah (52 tahun).
Rasanya baru
dua kemajuan itu yang terjadi selama 20 tahun terakhir. Tentu termasuk teknik
cara mengeluarkan sepotong hati itu. Tidak lagi pakai tangan. Setelah hati
terpotong, potongan itu dibungkus dengan plastik steril. Tentu jenis plastik
khusus. Bukan tas kresek. Yang melakukan pembungkusan pun alat. Setelah hati
terbungkus barulah bungkus itu ditarik keluar lewat sayatan sekitar 15 cm.
Anda sudah
tahu: organ hati sangat lunak. Lewat sayatan 15 cm pun cukup. Yang penting saat
ditarik tetap utuh. Tidak remuk. Yang mudah remuk itu kalau hati sudah dibakar
jadi sate.
Sesulit apa pun
penarikan dari perut pendonor, lebih sulit saat melakukan pemotongannya. Dokter
lebih hebat dari insinyur elektro yang bertugas melepaskan kabel-kabel super
komputer. Kabelnya masih bisa dilihat oleh mata. Yang dilepas dalam pemotongan hati adalah
syaraf-syaraf halus, tidak terlihat oleh mata, jumlahnya luar biasa banyak
–saya tidak punya kemampuan menghitungnya. Juga harus memotong saluran-saluran
darah yang tidak kalah lembutnya dan banyaknya.
Tentu lebih
sulit lagi memasangnya di tubuh pasien: menyambungkan seluruh syaraf dan
pembuluh darah saat hati dari pendonor dipasang di pasien. Sangat rumit. Jauh
lebih mudah keluarkan saja fatwa: itu
haram!
"Nisa,
coba Anda ukur, bekas sayatan di perut Anda berapa sentimeter?" tanya saya
ke Nisa lewat WA. Saya terpaksa merepotkan Nisa karena tidak mungkin
mengukurnyi sendiri: Mas Olik, suaminyi bisa melotot.
"10 cm
Pak," jawabnyi.
Nisa adalah S-1
keperawatan alumnus Universitas Airlangga. Pasangan dari Mojosari (猫草沙利) Mojokerto ini masih berumur 40 tahun lebih. Nisa kian langsing dan
cantik. Itu karena, setelah sehat lagi, suaminyi tambah segar, terlihat lebih
muda dan lebih ganteng.
Berarti sayatan
dalam teknologi robot lebih minimalis dari yang terjadi di RS Fatmawati. Itu
tidak terlalu penting. Yang penting sudah kian bertambah rumah sakit di dalam
negeri yang mampu melaksanakan transplantasi.
RS Cipto
Mangunkusumo sudah beberapa kali melakukannya. Tim dokter transplannya sudah
bisa dibilang matang. RS Siloam Jakarta juga sudah beberapa kali melakukan.
Kini RS Fatmawati mulai mencobanya dengan pendampingan dari Korea.
Kalau ditanya
orang yang ingin transplan hati --tidak sedikit yang menanyakan itu-- biasanya
saya sarankan ke RSCM atau RS Siloam Jakarta. Saya berikan juga nama dan nomor
HP orang yang sudah sukses menjalaninya. Misalnya seorang perwira menengah
polisi yang melakukan transplantasi hati di RS Siloam. Saat itu pangkatnya
masih kapten. Sekarang sudah kolonel polisi (Kombespol). Beliau selalu bersedia
ketika saya tanya apakah nomor HP-nya boleh saya berikan ke orang yang ingin
transplan. Hanya saja saya kehilangan nomor orang yang sudah sukses di RSCM.
Yang nomor teleponnya masih ada di HP saya orangnya sudah tidak ada. Saya perlu
mencari siapa yang lain yang juga masih sukses sampai sekarang.
Yang sudah
meninggal itu sama sekali bukan karena transplantasinya gagal. Saya lihat itu
sepenuhnya faktor si pasien. Ups....Bisa juga bukan salah pasien. Mungkin
keadaan yang salah. Ia tidak disiplin minum obat pasca-transplant. Misalnya
saat saya bertemu dengannya: ia bilang sudah tiga bulan tidak minum obatnya.
Mungkin karena
tidak mampu membelinya. Mungkin juga karena merasa kesehatannya baik-baik saja.
Saya cenderung menilai dua-duanya.
Saya sendiri
begitu takut untuk tidak minum obat itu. Tidak pernah lupa sehari pun. Termasuk
ketika masih harus meminumnya dua kali sehari. Memang tidak murah. Total
sekitar 7 juta sebulan.
Ada obat anti
rejeksi --agar hati yang milik orang lain tidak ditolak oleh tuhuh si penerima.
Anda sudah tahu sistem tubuh: benda asing apa pun harus ditolak. Termasuk hati
anak maupun istri sendiri: sama-sama hati tapi tetap diperlakukan sebagai benda
asing.
Lalu, kalau
kerusakan hati itu akibat hepatitis B, harus minum obat anti hepatitis. Juga
seumur hidup. Memang hepatitis B itu menyerang liver. Ketika livernya sudah
”dibuang”, diganti liver ”baru” bukankah harusnya hepatitisnya sudah ikut
terbuang? Kenapa masih diharuskan minum obat?
Saya pernah
mendiskusikannya dengan dokter transplat saya: ternyata sebenarnya virus
hepatitis B itu tidak pernah benar-benar hilang dari sel di tubuh yang pernah
menderitanya. Masih tetap ada ”bibit”-nya. Ngendon di sel tubuh.
Ketika saya
minum obat itu ”bibit” tersebut 'tidur'. Tidak bisa berkembang. Tapi begitu
imunitas tubuh turun ”bibit” itu bisa hidup lagi. Berkembang. Lalu masuk ke
hati: ”baru”.
Saya pun
wanti-wanti ke Mas Olik: jangan sampai abai minum obat. "Kalau sampai
virus hepatitis B itu masuk lagi ke hati ”baru”, berarti Anda menghina istri
Anda. Hati Anda itu hatinya Nisa," kata saya. Suami istri itu pun sangat
paham.
Di bidang dua
jenis obat itu, selama dua puluh tahun terakhir, masih sama. Saya sesekali
bertanya: apakah ada obat yang lebih baru? Lebih hebat?
Saya
menanyakannya karena siapa tahu sudah ada yang lebih aman untuk ginjal dan
tidak mengurangi kepadatan tulang. Obat yang saya minum mengandung dua efek
samping itu.
"Belum ada
yang lebih baru" ujar dokter. Dua puluh tahun! Belum ditemukan yang baru.
Bisa saja itu
bukan berarti lambat. Bisa jadi penemuan obat itu, dulu, sudah begitu bagusnya.
Setidaknya
dengan berpikir begitu membuat jiwa lebih tenang. Bukan? ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/961475/yang-baru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar