Sabtu, 29 Agustus 2026

 

Tragedi Pluto, dari Planet Menjadi Planet Katai

Muchamad Zaid Wahyudi :  Wartawan Kompas.

KOMPAS, 26 Agustus 2026

 

 

                                                           

Meski status Pluto sebagai planet katai sudah berlangsung dua dekade, masih banyak orang memperdebatkan status barunya dan ingin Pluto tetap diakui sebagai planet.

 

Tepat 20 tahun lalu, status Pluto sebagai planet dicabut dan diganti menjadi planet katai. Meski sudah dua dekade Pluto menyandang status barunya, masih banyak orang tidak rela dan tetap menginginkan Pluto sebagai planet. Status baru Pluto sejatinya menunjukkan bahwa pemahaman manusia tentang semesta terus berkembang dan benda-benda di Tata Surya itu sangat beragam.

 

Tak main-main, salah satu tokoh yang mendorong agar Pluto dimasukkan kembali sebagai planet adalah orang nomor satu di Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) Jared Isaacman. Keinginan Administrator NASA itu disampaikan secara terbuka saat pengajuan anggaran NASA tahun 2027 di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat AS pada 28 April 2026.

 

Di akhir rapat, Senator Partai Republik Jerry Moran bertanya kepada Isaacman tentang Pluto karena penemu Pluto, Clyde Tombaugh, berasal dari negara bagian yang sama dengan Moran, yaitu Kansas. Citra pertama Pluto diperoleh Tombaugh dari Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona, AS.

 

Menanggapi pertanyaan tersebut, seperti dikutip Space.com, 29 April 2026, Isaacman dengan tegas mengatakan, ”Saya sangat mendukung gagasan untuk menjadikan Pluto sebagai planet lagi,” katanya.

 

Untuk itu, Isaacman tengah mengerjakan sejumlah makalah mengenai Pluto agar komunitas ilmiah bisa membuka kembali diskusi tentang status Pluto. Selain itu, ia ingin memastikan Tombaugh sebagai satu-satunya penemu planet asal AS mendapatkan kembali kehormatan yang pernah dia miliki selama 75 tahun.

 

Sikap kepala NASA itu, seperti dilaporkan Space.com, Senin (21/8/2026), langsung memicu perdebatan masyarakat, khususnya di media sosial. Pro dan kontra status Pluto yang sudah mereda beberapa tahun terakhir tiba-tiba menggaung kembali. Diskusi terfokus kepada dukungan untuk menjadikan Pluto sebagai planet lagi, pemahaman tentang planet katai sebagai definisi kelompok baru benda-benda di Tata Surya, hingga apakah perdebatan itu penting atau tidak bagi masyarakat.

 

Status Pluto berubah dari planet menjadi planet katai pada 24 Agustus 2006. Sidang umum Persatuan Astronomi Internasional (IAU), organisasi astronom profesional global, di Praha, Ceko, menetapkan definisi baru untuk planet dan planet katai. Sebuah obyek Tata Surya bisa disebut planet jika benda tersebut memenuhi tiga kondisi, yaitu mengorbit Matahari, memiliki massa yang cukup sehingga bentuknya hampir bulat, dan area di sekitar orbitnya bebas dari obyek-obyek Tata Surya lain.

 

Pluto hanya memenuhi dua syarat yang pertama karena orbit Pluto yang terletak di area Sabuk Kuiper dipenuhi oleh banyak benda-benda lain. Artinya, gravitasi Pluto tidak cukup mendominasi di lingkungannya sehingga dia tidak mampu ’menendang’ benda-benda yang lebih kecil yang ada di sekitar orbitnya. Akhirnya, semua obyek yang memiliki karakter sama seperti Pluto dikelompokkan sebagai planet katai.

 

Hingga kini, IAU mencatat hanya ada lima planet katai di Tata Surya, yaitu Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris. Dari kelima benda tersebut, hanya Ceres yang posisinya ada di wilayah Sabuk Asteroid, yaitu kawasan di Tata Surya yang terletak antara Mars dan Jupiter dan berisi miliaran batuan dan asteroid berbagai ukuran. Sisanya, semua berada di Sabuk Kuiper, yaitu wilayah di luar orbit Neptunus, di pinggiran Tata Surya yang dipenuhi benda-benda berbalut es, serta rumah bagi sebagian besar komet.

 

Otak dan budaya

 

Sejak penemuannya pada 18 Februari 1930 hingga perubahan statusnya berlaku, Pluto telah menjadi bagian utama dari Tata Surya yang dipelajari dan dihapal siswa dari seluruh dunia. Keberadaan sembilan planet waktu itu tertanam kuat dalam ingatan banyak orang sejak mereka kecil, bahkan sebelum mengenal bangku sekolah.

 

Belum lagi, ada sebagian orang yang memercayai Pluto sebagai identitas tersendiri dalam astrologi. Keyakinan bahwa benda-benda langit memengaruhi karakter dan nasib manusia di Bumi itu tetap hidup meski pemikiran manusia kian berkembang dan astronomi modern makin maju.

 

Antropolog budaya Universitas Negeri Grand Valley di Michigan, AS, Deana Weibel, mengatakan, asosiasi masa kecil akan tetap melekat pada diri seseorang hingga dewasa. Terlebih, di antara sembilan planet yang ada di masa lalu, Pluto juga sangat berkesan karena dia bukan hanya menjadi planet terjauh, tetapi juga planet terkecil dan anggota terbaru dalam Tata Surya.

 

Saat itu, ”Hal yang paling berkesan adalah tumbuhnya pengetahuan bahwa planet-planet baru ternyata bisa ditambahkan,” katanya.

 

Bagi orang-orang yang menerima versi lama Tata Surya itu sejak kecil, keputusan IAU pada 2006 membuat mereka harus menggantikan sesuatu yang telah menjadi fakta mapan di pikirannya. Kondisi itu membuat munculnya reaksi emosional dari sebagian orang menjadi sangat dimaklumi meski dampak dari perubahan status Pluto itu tidak memengaruhi kehidupan sehari-hari.

 

”Orang-orang tidak berduka atas nasib Pluto, tetapi mereka berduka atas gagasan (yang tertanam di pikiran mereka) bahwa apa yang mereka yakini akan selalu menetap atau permanen. Ternyata gagasan itu tidak terwujud karena sains akan senantiasa berubah dan berkembang,” ujar psikoterapis berlisensi dan pemilik Shoreside Therapies di Milwaukee, AS, Laurie Groh.

 

Nostalgia bukanlah satu-satunya faktor yang membuat sebagian orang menolak hasil pengategorian baru planet dan planet katai di Tata Surya. ”Otak manusia bekerja melalui pembandingan dan pengategorian. Inilah cara manusia memahami segala sesuatu,” tutur psikolog klinis berlisensi yang mempelajari memori dan kognisi asal AS, Matthew Leahy.

 

Manusia bergantung pada kategori-kategori untuk mengatur sebagian besar informasi yang mereka terima. Karena itu, mengubah kategori yang sudah mapan membutuhkan kerangka pengategorian baru yang sudah berfungsi dengan sempurna.

 

Namun, kasus perubahan kategori Pluto itu sejatinya berdampak sangat kecil bagi kebanyakan orang. Pergantian status planet hampir tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat umum. Masalahnya, ”Makna emosional suatu kategori terkadang jauh lebih penting bagi manusia dibandingkan dengan manfaat praktisnya,” ujar Leahy menambahkan.

 

Di sisi lain, perubahan status Pluto itu juga berlangsung sangat cepat. Tanpa ada peringatan dan informasi pendahuluan, tiba-tiba langsung ada keputusan yang mengubah identitas Pluto. Berbeda dengan proses penamaan Pluto pada 1930 yang mengundang partisipasi publik, perubahan status Pluto tidak melibatkan masyarakat awam dalam proses ilmiah pengategorian ulangnya.

 

Sekadar kilas balik, diperolehnya bukti visual Pluto oleh Tombaugh pada 1930 langsung menyebar ke seluruh dunia. Saat itu, astronom memberi nama sementara obyek tersebut sebagai Planet X. Sebulan kemudian, gadis 11 tahun asal Oxford, Inggris, Venetia Burney, mengusulkan kepada kakeknya agar nama Planet X diganti dengan Pluto.

 

Dalam mitologi Romawi, Pluto adalah saudara Neptunus, sekaligus penguasa dunia bawah. Nama ini dianggap cocok karena planet X itu mengorbit sangat jauh dari Matahari, termasuk obyek Trans-Neptunian atau jaraknya ke Matahari lebih jauh daripada Planet Neptunus, serta dikelilingi kegelapan dan dingin mirip dunia bawah.

 

”Perubahan yang dipaksakan dengan cepat dari luar dapat mengundang penolakan meski alasan di balik perubahan tersebut sangat kuat,” ucap Groh.

 

Non-astronomi

 

Tak hanya proses perubahan status Pluto yang dramatis, kehadiran Pluto sejak ditemukan telah merebut simpati banyak manusia Bumi. Pluto adalah planet terkecil, terjauh, dan paling kesepian di antara planet-planet lain karena letaknya ada di pinggir Tata Surya.

 

”Bagi banyak orang, masalahnya bukan hanya tentang astronomi, melainkan lebih sebagai upaya mendukung si kecil yang underdog (tak diunggulkan),” kata sejarawan dan petugas informasi publik di Observatorium Lowell, Kevin Schindler.

 

Bahasa yang digunakan ilmuwan dalam mengumumkan perubahan itu juga mendorong munculnya interprestasi berbeda. Pluto secara rutin digambarkan telah ’diturunkan derajatnya’, bukan sekadar mengklasifikasikan ulang. Akibatnya, isu perubahan status Pluto yang sejatinya hanya masalah perbedaan teknis semata justru berubah seolah-olah menjadi ’hukuman’ bagi Pluto.

 

Kondisi itu akhirnya membuat sebagian orang tidak suka dengan status baru Pluto karena seperti mengusir ’si kecil’ dari kelompok planet. ”Reaksi itu muncul karena mereka mempersonifikasikan Pluto,” ujar Groh. Personifikasi itu telah memberi kehidupan dan budaya tersendiri bagi Pluto.

 

Kecintaan terhadap Pluto itu juga telah menginsipirasi lahirnya Festival ’I Heart Pluto’, sebuah perayaan tahunan di Observatorium Lowell untuk memperingati penemuan, sains, dan sejarah Pluto. Meski penemuan Pluto sudah berlangsung hampir satu abad dan dua dekade setelah status Pluto diklasifikasi ulang, masyarakat masih berkumpul di tempat Pluto pertama kali dipotret untuk merayakan kehadirannya.

 

Artinya, meski kini status Pluto adalah planet katai, itu tidak serta-merta mengurangi popularitasnya, tetapi justru semakin mendorong sebagian orang terus mendukung Pluto.

 

Terlepas dari segala alasan yang membuat sebagian orang tetap mencintai Pluto atau ingin statusnya dikembalikan sebagai planet, ilmuwan eksoplanet dari Universitas Tampa, Florida, AS, Jessica Libby-Roberts, mengatakan bahwa secara ilmiah atau keilmuan, pengklasifikasian ulang Pluto itu penting.

 

Bukan hanya karena orbit Pluto memang tidak biasa, melainkan juga ukuran Pluto yang sangat kecil dan mirip dengan sejumlah obyek dingin di Sabuk Kuiper lainnya. Pengategorian ulang Pluto itu justru memungkinkan bagi astronom untuk membandingkannya dengan sejumlah obyek lain di Tata Surya dan membantu memahami bagaimana Tata Surya terbentuk.

 

Walau demikian, dikecualikannya Pluto dari kelompok planet dan menjadi planet katai dinilai Libby-Roberts bukanlah sebuah kekurangan. ”Saya rasa Pluto lebih tidak suka dikelompokkan bersama planet-planet yang patuh pada aturan yang membosankan. Sepertinya, Pluto jauh lebih bahagia menjadi diri sendiri,” katanya.

 

Status baru Pluto juga sama sekali tidak mengurangi nilai dari keunikan Pluto. Misi New Horizons NASA pada 2015 telah membuktikan bahwa Pluto bukanlah dunia yang umum dan penuh kawah seperti yang dibayangkan sebelumnya. Pluto ternyata adalah dunia yang dinamis yang dipenuhi pegunungan, gletser, dan diselubungi atmosfer.

 

Terlepas dari segala pro dan kontra yang terjadi serta status yang diberikan manusia kepadanya, Pluto tetaplah Pluto. Ia setia mengelilingi Matahari meski butuh waktu yang sangat panjang, yaitu 248 tahun Bumi. Meski berada di pinggir Tata Surya yang dingin dan gelap, Pluto juga tetap setia dalam ikatan Matahari karena gravitasi sejumlah planet raksasa di sekitarnya membuat orbit Pluto stabil dan aman, sulit untuk kabur dari Tata Surya.

 

Selamat ulang tahun ke-20 untuk status baru Pluto! ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/tragedi-pluto-dari-planet-menjadi-planet-katai?open_from=Sains_&_Teknologi_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar