|
Tragedi Pluto, dari Planet Menjadi Planet
Katai Muchamad
Zaid Wahyudi : Wartawan Kompas. |
KOMPAS, 26 Agustus 2026
|
Meski status Pluto sebagai planet katai sudah berlangsung dua
dekade, masih banyak orang memperdebatkan status barunya dan ingin Pluto
tetap diakui sebagai planet. Tepat 20 tahun lalu, status Pluto sebagai planet dicabut dan
diganti menjadi planet katai. Meski sudah dua dekade Pluto menyandang status
barunya, masih banyak orang tidak rela dan tetap menginginkan Pluto sebagai
planet. Status baru Pluto sejatinya menunjukkan bahwa pemahaman manusia
tentang semesta terus berkembang dan benda-benda di Tata Surya itu sangat
beragam. Tak main-main, salah satu tokoh yang mendorong agar Pluto
dimasukkan kembali sebagai planet adalah orang nomor satu di Badan
Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) Jared Isaacman. Keinginan
Administrator NASA itu disampaikan secara terbuka saat pengajuan anggaran
NASA tahun 2027 di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat AS pada 28 April
2026. Di akhir rapat, Senator Partai Republik Jerry Moran bertanya
kepada Isaacman tentang Pluto karena penemu Pluto, Clyde Tombaugh, berasal
dari negara bagian yang sama dengan Moran, yaitu Kansas. Citra pertama Pluto
diperoleh Tombaugh dari Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona, AS. Menanggapi pertanyaan tersebut, seperti dikutip Space.com, 29
April 2026, Isaacman dengan tegas mengatakan, ”Saya sangat mendukung gagasan
untuk menjadikan Pluto sebagai planet lagi,” katanya. Untuk itu, Isaacman tengah mengerjakan sejumlah makalah mengenai
Pluto agar komunitas ilmiah bisa membuka kembali diskusi tentang status
Pluto. Selain itu, ia ingin memastikan Tombaugh sebagai satu-satunya penemu
planet asal AS mendapatkan kembali kehormatan yang pernah dia miliki selama
75 tahun. Sikap kepala NASA itu, seperti dilaporkan Space.com, Senin
(21/8/2026), langsung memicu perdebatan masyarakat, khususnya di media
sosial. Pro dan kontra status Pluto yang sudah mereda beberapa tahun terakhir
tiba-tiba menggaung kembali. Diskusi terfokus kepada dukungan untuk
menjadikan Pluto sebagai planet lagi, pemahaman tentang planet katai sebagai
definisi kelompok baru benda-benda di Tata Surya, hingga apakah perdebatan
itu penting atau tidak bagi masyarakat. Status Pluto berubah dari planet menjadi planet katai pada 24
Agustus 2006. Sidang umum Persatuan Astronomi Internasional (IAU), organisasi
astronom profesional global, di Praha, Ceko, menetapkan definisi baru untuk
planet dan planet katai. Sebuah obyek Tata Surya bisa disebut planet jika
benda tersebut memenuhi tiga kondisi, yaitu mengorbit Matahari, memiliki
massa yang cukup sehingga bentuknya hampir bulat, dan area di sekitar
orbitnya bebas dari obyek-obyek Tata Surya lain. Pluto hanya memenuhi dua syarat yang pertama karena orbit Pluto
yang terletak di area Sabuk Kuiper dipenuhi oleh banyak benda-benda lain.
Artinya, gravitasi Pluto tidak cukup mendominasi di lingkungannya sehingga
dia tidak mampu ’menendang’ benda-benda yang lebih kecil yang ada di sekitar
orbitnya. Akhirnya, semua obyek yang memiliki karakter sama seperti Pluto
dikelompokkan sebagai planet katai. Hingga kini, IAU mencatat hanya ada lima planet katai di Tata
Surya, yaitu Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris. Dari kelima benda
tersebut, hanya Ceres yang posisinya ada di wilayah Sabuk Asteroid, yaitu
kawasan di Tata Surya yang terletak antara Mars dan Jupiter dan berisi
miliaran batuan dan asteroid berbagai ukuran. Sisanya, semua berada di Sabuk
Kuiper, yaitu wilayah di luar orbit Neptunus, di pinggiran Tata Surya yang
dipenuhi benda-benda berbalut es, serta rumah bagi sebagian besar komet. Otak dan budaya Sejak penemuannya pada 18 Februari 1930 hingga perubahan
statusnya berlaku, Pluto telah menjadi bagian utama dari Tata Surya yang
dipelajari dan dihapal siswa dari seluruh dunia. Keberadaan sembilan planet
waktu itu tertanam kuat dalam ingatan banyak orang sejak mereka kecil, bahkan
sebelum mengenal bangku sekolah. Belum lagi, ada sebagian orang yang memercayai Pluto sebagai
identitas tersendiri dalam astrologi. Keyakinan bahwa benda-benda langit
memengaruhi karakter dan nasib manusia di Bumi itu tetap hidup meski
pemikiran manusia kian berkembang dan astronomi modern makin maju. Antropolog budaya Universitas Negeri Grand Valley di Michigan,
AS, Deana Weibel, mengatakan, asosiasi masa kecil akan tetap melekat pada
diri seseorang hingga dewasa. Terlebih, di antara sembilan planet yang ada di
masa lalu, Pluto juga sangat berkesan karena dia bukan hanya menjadi planet
terjauh, tetapi juga planet terkecil dan anggota terbaru dalam Tata Surya. Saat itu, ”Hal yang paling berkesan adalah tumbuhnya pengetahuan
bahwa planet-planet baru ternyata bisa ditambahkan,” katanya. Bagi orang-orang yang menerima versi lama Tata Surya itu sejak
kecil, keputusan IAU pada 2006 membuat mereka harus menggantikan sesuatu yang
telah menjadi fakta mapan di pikirannya. Kondisi itu membuat munculnya reaksi
emosional dari sebagian orang menjadi sangat dimaklumi meski dampak dari
perubahan status Pluto itu tidak memengaruhi kehidupan sehari-hari. ”Orang-orang tidak berduka atas nasib Pluto, tetapi mereka
berduka atas gagasan (yang tertanam di pikiran mereka) bahwa apa yang mereka
yakini akan selalu menetap atau permanen. Ternyata gagasan itu tidak terwujud
karena sains akan senantiasa berubah dan berkembang,” ujar psikoterapis
berlisensi dan pemilik Shoreside Therapies di Milwaukee, AS, Laurie Groh. Nostalgia bukanlah satu-satunya faktor yang membuat sebagian
orang menolak hasil pengategorian baru planet dan planet katai di Tata Surya.
”Otak manusia bekerja melalui pembandingan dan pengategorian. Inilah cara
manusia memahami segala sesuatu,” tutur psikolog klinis berlisensi yang
mempelajari memori dan kognisi asal AS, Matthew Leahy. Manusia bergantung pada kategori-kategori untuk mengatur sebagian
besar informasi yang mereka terima. Karena itu, mengubah kategori yang sudah
mapan membutuhkan kerangka pengategorian baru yang sudah berfungsi dengan
sempurna. Namun, kasus perubahan kategori Pluto itu sejatinya berdampak
sangat kecil bagi kebanyakan orang. Pergantian status planet hampir tidak
berpengaruh apa-apa terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat umum.
Masalahnya, ”Makna emosional suatu kategori terkadang jauh lebih penting bagi
manusia dibandingkan dengan manfaat praktisnya,” ujar Leahy menambahkan. Di sisi lain, perubahan status Pluto itu juga berlangsung sangat
cepat. Tanpa ada peringatan dan informasi pendahuluan, tiba-tiba langsung ada
keputusan yang mengubah identitas Pluto. Berbeda dengan proses penamaan Pluto
pada 1930 yang mengundang partisipasi publik, perubahan status Pluto tidak
melibatkan masyarakat awam dalam proses ilmiah pengategorian ulangnya. Sekadar kilas balik, diperolehnya bukti visual Pluto oleh
Tombaugh pada 1930 langsung menyebar ke seluruh dunia. Saat itu, astronom
memberi nama sementara obyek tersebut sebagai Planet X. Sebulan kemudian,
gadis 11 tahun asal Oxford, Inggris, Venetia Burney, mengusulkan kepada
kakeknya agar nama Planet X diganti dengan Pluto. Dalam mitologi Romawi, Pluto adalah saudara Neptunus, sekaligus
penguasa dunia bawah. Nama ini dianggap cocok karena planet X itu mengorbit
sangat jauh dari Matahari, termasuk obyek Trans-Neptunian atau jaraknya ke
Matahari lebih jauh daripada Planet Neptunus, serta dikelilingi kegelapan dan
dingin mirip dunia bawah. ”Perubahan yang dipaksakan dengan cepat dari luar dapat
mengundang penolakan meski alasan di balik perubahan tersebut sangat kuat,”
ucap Groh. Non-astronomi Tak hanya proses perubahan status Pluto yang dramatis, kehadiran
Pluto sejak ditemukan telah merebut simpati banyak manusia Bumi. Pluto adalah
planet terkecil, terjauh, dan paling kesepian di antara planet-planet lain
karena letaknya ada di pinggir Tata Surya. ”Bagi banyak orang, masalahnya bukan hanya tentang astronomi,
melainkan lebih sebagai upaya mendukung si kecil yang underdog (tak
diunggulkan),” kata sejarawan dan petugas informasi publik di Observatorium
Lowell, Kevin Schindler. Bahasa yang digunakan ilmuwan dalam mengumumkan perubahan itu
juga mendorong munculnya interprestasi berbeda. Pluto secara rutin
digambarkan telah ’diturunkan derajatnya’, bukan sekadar mengklasifikasikan
ulang. Akibatnya, isu perubahan status Pluto yang sejatinya hanya masalah
perbedaan teknis semata justru berubah seolah-olah menjadi ’hukuman’ bagi
Pluto. Kondisi itu akhirnya membuat sebagian orang tidak suka dengan
status baru Pluto karena seperti mengusir ’si kecil’ dari kelompok planet.
”Reaksi itu muncul karena mereka mempersonifikasikan Pluto,” ujar Groh.
Personifikasi itu telah memberi kehidupan dan budaya tersendiri bagi Pluto. Kecintaan terhadap Pluto itu juga telah menginsipirasi lahirnya
Festival ’I Heart Pluto’, sebuah perayaan tahunan di Observatorium Lowell
untuk memperingati penemuan, sains, dan sejarah Pluto. Meski penemuan Pluto
sudah berlangsung hampir satu abad dan dua dekade setelah status Pluto
diklasifikasi ulang, masyarakat masih berkumpul di tempat Pluto pertama kali
dipotret untuk merayakan kehadirannya. Artinya, meski kini status Pluto adalah planet katai, itu tidak
serta-merta mengurangi popularitasnya, tetapi justru semakin mendorong
sebagian orang terus mendukung Pluto. Terlepas dari segala alasan yang membuat sebagian orang tetap
mencintai Pluto atau ingin statusnya dikembalikan sebagai planet, ilmuwan
eksoplanet dari Universitas Tampa, Florida, AS, Jessica Libby-Roberts,
mengatakan bahwa secara ilmiah atau keilmuan, pengklasifikasian ulang Pluto
itu penting. Bukan hanya karena orbit Pluto memang tidak biasa, melainkan juga
ukuran Pluto yang sangat kecil dan mirip dengan sejumlah obyek dingin di
Sabuk Kuiper lainnya. Pengategorian ulang Pluto itu justru memungkinkan bagi
astronom untuk membandingkannya dengan sejumlah obyek lain di Tata Surya dan
membantu memahami bagaimana Tata Surya terbentuk. Walau demikian, dikecualikannya Pluto dari kelompok planet dan
menjadi planet katai dinilai Libby-Roberts bukanlah sebuah kekurangan. ”Saya
rasa Pluto lebih tidak suka dikelompokkan bersama planet-planet yang patuh
pada aturan yang membosankan. Sepertinya, Pluto jauh lebih bahagia menjadi
diri sendiri,” katanya. Status baru Pluto juga sama sekali tidak mengurangi nilai dari
keunikan Pluto. Misi New Horizons NASA pada 2015 telah membuktikan bahwa
Pluto bukanlah dunia yang umum dan penuh kawah seperti yang dibayangkan
sebelumnya. Pluto ternyata adalah dunia yang dinamis yang dipenuhi
pegunungan, gletser, dan diselubungi atmosfer. Terlepas dari segala pro dan kontra yang terjadi serta status
yang diberikan manusia kepadanya, Pluto tetaplah Pluto. Ia setia mengelilingi
Matahari meski butuh waktu yang sangat panjang, yaitu 248 tahun Bumi. Meski
berada di pinggir Tata Surya yang dingin dan gelap, Pluto juga tetap setia
dalam ikatan Matahari karena gravitasi sejumlah planet raksasa di sekitarnya
membuat orbit Pluto stabil dan aman, sulit untuk kabur dari Tata Surya. Selamat ulang tahun ke-20 untuk status baru Pluto! ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar