Selasa, 04 Agustus 2026

 

Surat yang Mengungkap Detail Kekerasan Gedoran Depok

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Pada Oktober 1945, Kaum Depok menjadi sasaran serangkaian kekerasan yang dikenal sebagai Peristiwa Gedoran.

 

·      Kesaksian para penyintas menggambarkan malam-malam penuh teror, pengungsian, penawanan, sampai ancaman pembakaran hidup-hidup.

 

·      Kaum Depok yang memiliki kedekatan budaya dengan Belanda dianggap tidak mendukung kemerdekaan.

 

JARUM jam mendekati pukul 11 malam di Depok, Jawa Barat. Depok yang pada Oktober 1945 masih berupa desa yang berbatasan dengan hutan sudah demikian nyenyat. Tiba-tiba terdengar teriakan memecah keheningan: “Bersiap! Bersiap!”

 

Teriakan itu terdengar berulang, datang dari banyak orang dan kian keras. Tak lama kemudian, sejumlah orang merangsek ke permukiman. Mereka menggedor pintu-pintu rumah, memecahkan kaca, lalu memaksa masuk. Kepanikan pun pecah.

 

Di satu rumah, sepasang suami-istri bersama empat anak mereka tersentak dari tidur. Diliputi ketakutan, mereka bergegas meninggalkan rumah tanpa sempat membawa banyak barang. Keluarga itu menuruni lembah menuju sebuah balong yang tak jauh dari kampung—lokasi itu kini menjadi lokasi gedung pertemuan Ronatama di Jalan Dahlia.

 

Di sanalah mereka bersembunyi, menunggu para penggedor meninggalkan kampung. Ketika situasi mulai tenang, keluarga itu kembali dan mendapati rumah mereka telah porak-poranda.

 

Kelak serangkaian kekerasan pada malam kelam itu dikenal sebagai Peristiwa Gedoran. Kesaksian tentang malam mencekam itu tersimpan dalam surat-surat Selma Loen kepada kakaknya di Belanda. Perempuan 25 tahun itu menulisnya dalam bahasa Belanda tak lama setelah insiden terjadi dan tulisannya tersimpan sebagai arsip keluarga.

 

Salinan surat tersebut baru sampai ke tangan anaknya, Boy Loen, 75 tahun kemudian. Keturunan Kaum Depok bermarga Loen yang kini menjadi Ketua Bidang Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein itu menerimanya saat mengunjungi sepupunya di Belanda pada awal 2020, sesaat sebelum pandemi Covid-19 merebak.

 

Sang sepupu menyerahkan fotokopi surat itu sebagai hadiah disertai syarat. “Jangan baca di Belanda karena saya sedang berlibur. Baru saya baca saat kembali ke Depok,” kata Boy kepada koresponden Tempo, Ricky Juliansyah, pada Senin, 20 Juli 2026.

 

Dari situlah kisah kengerian Gedoran hidup dalam memori yang ditulis sang ibu. Boy belum lahir saat peristiwa itu terjadi.

 

Serangan kelompok milisi terhadap warga sipil itu tak berhenti pada hari yang sama. Malam berikutnya, kekerasan berulang.

 

Dalam tulisannya, Selma bercerita bahwa ia memasak sekitar pukul 2 dini hari agar keluarga masih sempat makan sebelum kembali bersembunyi menjelang matahari terbit. Mereka menghabiskan siang di balik semak dan tepi balong, lalu kembali pulang ketika gelap mulai turun. Rutinitas itu berlangsung beberapa hari, sampai akhirnya mereka tertangkap.

 

Para lelaki digelandang ke Stasiun Depok. Ayah Boy ditelanjangi hingga cuma berkancut. Sementara itu, perempuan dan anak-anak dibawa ke Kantor Dewan Kotapraja atau Gemeenteraad Depok—kini menjadi Rumah Sakit Harapan.

 

Selama lima hari mereka ditawan tanpa makanan dan minuman. Pada hari kelima, menurut kesaksian keluarga, jeriken-jeriken berisi bensin telah disiapkan. Milisi berteriak akan membakar mereka hidup-hidup.

 

Sebelum api berkobar, pasukan Sekutu memasuki Depok dari arah Simpangan Depok dan membebaskan para tawanan. Kedatangan mereka dipicu laporan wartawan perang BBC dan The Times, Johan Fabricius, yang meminta pasukan yang bergerak dari Jakarta menuju Bogor berbelok ke Depok untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak yang ditawan.

 

Dalam Jejak-jejak Masa Lalu Depok karya Jan-Karel Kwisthout, Fabricius disebut menerima kabar tentang kekerasan di Depok dari para pengungsi yang ia temui. Menurut dia, penjarahan dan pembakaran sejumlah rumah terjadi sejak 8 Oktober 1945.

 

Perempuan dan anak-anak mengungsi ke hutan, sementara para anggota kelompok bersenjata menangkapi warga laki-laki. Fabricius mencatat warga Depok yang mayoritas beragama Kristen menjadi sasaran kekerasan karena dianggap tidak mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Fabricius menuju Depok bersama sejumlah wartawan dengan pengawalan sekitar 30 tentara Gurkha. Di sana ia mendapati rumah-rumah rusak dan jadi korban penjarahan. Pecahan kaca dan porselen, buku, hingga piringan gramofon berserakan.

 

Kasur-kasur kapuk dirobek hingga isinya berhamburan ke jalan dan kebun. Fabricius menggambarkan perkampungan itu seolah-olah diselimuti salju, bukan oleh es, melainkan kapuk dari rumah-rumah yang porak-poranda.

 

Peristiwa Gedoran Depok juga membekas dalam ingatan keluarga Arif Liberto Jacob, generasi keempat marga Jacob. Berdasarkan cerita orang tua dan tantenya, keluarga mereka berpencar ketika penyerangan terjadi. Anak-anak dititipkan kepada kerabat dan sebagian dibawa keluar dari Depok untuk memperbesar peluang selamat. “Kalau satu tempat ketahuan, bisa habis semua,” tutur Arif.

 

Nenek Arif dan anak-anak perempuannya mengenakan kerudung saat mengungsi untuk menyamarkan identitas. Dalam kekacauan itu, sang nenek terpisah dari suaminya. Beberapa waktu kemudian, kakeknya ditemukan tak bernyawa dan dimakamkan di Taman Makam Belanda Menteng Pulo, Jakarta.

 

Hingga kini, Arif melanjutkan, keluarganya jarang membicarakan Gedoran. Banyak anggota keluarga kehilangan ayah mereka sedari kecil dan menyimpan trauma akibat peristiwa tersebut. “Kalau ditanya detail, mereka enggak pernah bercerita banyak,” ujarnya.

 

Thea Jonathans, 86 tahun, mengisahkan trauma yang dialami keluarga suaminya. Menurut Thea, saat itu anggota laki-laki dari keluarga suaminya ditangkap dan dibawa ke Penjara Paledang, Bogor. Suami, ayah mertua, dan sejumlah anggota keluarga laki-laki lain ikut tertangkap. “Semua dibawa ke penjara,” katanya.

 

Sementara itu, perempuan dan anak-anak mengalami pengalaman berbeda. Mereka yang memiliki kesempatan melarikan diri berusaha masuk ke hutan. “Yang lain, ya, ditangkap,” tuturnya.

 

Ada satu kisah yang Thea ingat dari ayah mertuanya setelah bebas dari Penjara Paledang. “Begitu pulang, hal pertama yang ia lakukan adalah melepaskan burung-burung peliharaannya. Alasannya, ia mengalami langsung betapa tidak enaknya hidup di dalam kurungan,” ujar Thea.

 

Mengapa Kaum Depok menjadi sasaran kekerasan pascakemerdekaan? Menurut Boy Loen, jawabannya tak lepas dari kesenjangan sosial yang terbentuk sepanjang masa kolonial. Banyak warga Kaum Depok menguasai bahasa Belanda sehingga lebih mudah memperoleh pekerjaan di Batavia dan memiliki kondisi ekonomi yang relatif lebih baik dibanding masyarakat sekitar.

 

Depok juga lebih maju daripada daerah sekitarnya karena telah memiliki listrik, jaringan telepon, kantor pos, juga layanan telegraf. Penguasaan bahasa Belanda juga membuat Kaum Depok dicap sebagai antek Belanda atau Londo ireng—ledekan bagi orang pribumi berkulit gelap tapi memihak pemerintah kolonial.

 

Namun, Boy melanjutkan, hubungan Kaum Depok dengan masyarakat umum sebenarnya baik-baik saja. Buktinya, pada saat Gedoran terjadi, banyak warga sekitar menyelamatkan keluarga Kaum Depok. Ketika para pengungsi kembali, para tetangga juga membantu mereka menunjukkan batas tanah yang diserobot pendatang.

 

Sejarawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, menjelaskan, identitas Kaum Depok terbentuk secara bertahap selama beberapa generasi setelah Cornelis Chastelein meninggal dan para budaknya dibebaskan pada 1714.

 

Memasuki abad ke-19, agama Protestan dan penggunaan nama Belanda mempertegas penanda komunitas tersebut. Dalam tatanan masyarakat kolonial, identitas itu juga memberi keuntungan sosial. “Mereka mendapat kemudahan-kemudahan,” kata Bondan.

 

Keadaan jadi berbalik begitu kekuasaan kolonial berakhir. Kedekatan budaya dengan Belanda membuat Kaum Depok dicurigai dan dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial. Ketika revolusi pecah, stigma tersebut membuat Kaum Depok rentan menjadi sasaran kekerasan. Gedoran menjadi titik ketika identitas yang sebelumnya memberi keuntungan sosial justru berubah menjadi sumber petaka bagi mereka.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/arsip/surat-gedoran-depok-periode-bersiap-londo-ireng-2279671

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar