|
Surat yang Mengungkap
Detail Kekerasan Gedoran Depok Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 02
Agustus 2026
|
· Pada Oktober 1945, Kaum Depok menjadi
sasaran serangkaian kekerasan yang dikenal sebagai Peristiwa Gedoran. · Kesaksian para penyintas menggambarkan
malam-malam penuh teror, pengungsian, penawanan, sampai ancaman pembakaran
hidup-hidup. · Kaum Depok yang memiliki kedekatan
budaya dengan Belanda dianggap tidak mendukung kemerdekaan. JARUM
jam mendekati pukul 11 malam di Depok, Jawa Barat. Depok yang pada Oktober
1945 masih berupa desa yang berbatasan dengan hutan sudah demikian nyenyat.
Tiba-tiba terdengar teriakan memecah keheningan: “Bersiap! Bersiap!” Teriakan
itu terdengar berulang, datang dari banyak orang dan kian keras. Tak lama
kemudian, sejumlah orang merangsek ke permukiman. Mereka menggedor
pintu-pintu rumah, memecahkan kaca, lalu memaksa masuk. Kepanikan pun pecah. Di satu
rumah, sepasang suami-istri bersama empat anak mereka tersentak dari tidur. Diliputi
ketakutan, mereka bergegas meninggalkan rumah tanpa sempat membawa banyak
barang. Keluarga itu menuruni lembah menuju sebuah balong yang tak jauh dari
kampung—lokasi itu kini menjadi lokasi gedung pertemuan Ronatama di Jalan
Dahlia. Di
sanalah mereka bersembunyi, menunggu para penggedor meninggalkan kampung.
Ketika situasi mulai tenang, keluarga itu kembali dan mendapati rumah mereka
telah porak-poranda. Kelak
serangkaian kekerasan pada malam kelam itu dikenal sebagai Peristiwa Gedoran.
Kesaksian tentang malam mencekam itu tersimpan dalam surat-surat Selma Loen
kepada kakaknya di Belanda. Perempuan 25 tahun itu menulisnya dalam bahasa
Belanda tak lama setelah insiden terjadi dan tulisannya tersimpan sebagai
arsip keluarga. Salinan
surat tersebut baru sampai ke tangan anaknya, Boy Loen, 75 tahun kemudian.
Keturunan Kaum Depok bermarga Loen yang kini menjadi Ketua Bidang Sejarah
Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein itu menerimanya saat mengunjungi
sepupunya di Belanda pada awal 2020, sesaat sebelum pandemi Covid-19 merebak. Sang
sepupu menyerahkan fotokopi surat itu sebagai hadiah disertai syarat. “Jangan
baca di Belanda karena saya sedang berlibur. Baru saya baca saat kembali ke
Depok,” kata Boy kepada koresponden Tempo, Ricky Juliansyah, pada Senin, 20
Juli 2026. Dari
situlah kisah kengerian Gedoran hidup dalam memori yang ditulis sang ibu. Boy
belum lahir saat peristiwa itu terjadi. Serangan
kelompok milisi terhadap warga sipil itu tak berhenti pada hari yang sama.
Malam berikutnya, kekerasan berulang. Dalam
tulisannya, Selma bercerita bahwa ia memasak sekitar pukul 2 dini hari agar
keluarga masih sempat makan sebelum kembali bersembunyi menjelang matahari
terbit. Mereka menghabiskan siang di balik semak dan tepi balong, lalu
kembali pulang ketika gelap mulai turun. Rutinitas itu berlangsung beberapa
hari, sampai akhirnya mereka tertangkap. Para
lelaki digelandang ke Stasiun Depok. Ayah Boy ditelanjangi hingga cuma
berkancut. Sementara itu, perempuan dan anak-anak dibawa ke Kantor Dewan Kotapraja
atau Gemeenteraad Depok—kini menjadi Rumah Sakit Harapan. Selama
lima hari mereka ditawan tanpa makanan dan minuman. Pada hari kelima, menurut
kesaksian keluarga, jeriken-jeriken berisi bensin telah disiapkan. Milisi
berteriak akan membakar mereka hidup-hidup. Sebelum
api berkobar, pasukan Sekutu memasuki Depok dari arah Simpangan Depok dan
membebaskan para tawanan. Kedatangan mereka dipicu laporan wartawan perang
BBC dan The Times, Johan Fabricius, yang meminta pasukan yang bergerak dari
Jakarta menuju Bogor berbelok ke Depok untuk menyelamatkan perempuan dan
anak-anak yang ditawan. Dalam
Jejak-jejak Masa Lalu Depok karya Jan-Karel Kwisthout, Fabricius disebut
menerima kabar tentang kekerasan di Depok dari para pengungsi yang ia temui.
Menurut dia, penjarahan dan pembakaran sejumlah rumah terjadi sejak 8 Oktober
1945. Perempuan
dan anak-anak mengungsi ke hutan, sementara para anggota kelompok bersenjata
menangkapi warga laki-laki. Fabricius mencatat warga Depok yang mayoritas
beragama Kristen menjadi sasaran kekerasan karena dianggap tidak mendukung
kemerdekaan Republik Indonesia. Fabricius
menuju Depok bersama sejumlah wartawan dengan pengawalan sekitar 30 tentara
Gurkha. Di sana ia mendapati rumah-rumah rusak dan jadi korban penjarahan.
Pecahan kaca dan porselen, buku, hingga piringan gramofon berserakan. Kasur-kasur
kapuk dirobek hingga isinya berhamburan ke jalan dan kebun. Fabricius
menggambarkan perkampungan itu seolah-olah diselimuti salju, bukan oleh es,
melainkan kapuk dari rumah-rumah yang porak-poranda. Peristiwa
Gedoran Depok juga membekas dalam ingatan keluarga Arif Liberto Jacob,
generasi keempat marga Jacob. Berdasarkan cerita orang tua dan tantenya,
keluarga mereka berpencar ketika penyerangan terjadi. Anak-anak dititipkan
kepada kerabat dan sebagian dibawa keluar dari Depok untuk memperbesar
peluang selamat. “Kalau satu tempat ketahuan, bisa habis semua,” tutur Arif. Nenek
Arif dan anak-anak perempuannya mengenakan kerudung saat mengungsi untuk
menyamarkan identitas. Dalam kekacauan itu, sang nenek terpisah dari
suaminya. Beberapa waktu kemudian, kakeknya ditemukan tak bernyawa dan
dimakamkan di Taman Makam Belanda Menteng Pulo, Jakarta. Hingga
kini, Arif melanjutkan, keluarganya jarang membicarakan Gedoran. Banyak
anggota keluarga kehilangan ayah mereka sedari kecil dan menyimpan trauma
akibat peristiwa tersebut. “Kalau ditanya detail, mereka enggak pernah
bercerita banyak,” ujarnya. Thea
Jonathans, 86 tahun, mengisahkan trauma yang dialami keluarga suaminya. Menurut
Thea, saat itu anggota laki-laki dari keluarga suaminya ditangkap dan dibawa
ke Penjara Paledang, Bogor. Suami, ayah mertua, dan sejumlah anggota keluarga
laki-laki lain ikut tertangkap. “Semua dibawa ke penjara,” katanya. Sementara
itu, perempuan dan anak-anak mengalami pengalaman berbeda. Mereka yang
memiliki kesempatan melarikan diri berusaha masuk ke hutan. “Yang lain, ya,
ditangkap,” tuturnya. Ada satu
kisah yang Thea ingat dari ayah mertuanya setelah bebas dari Penjara
Paledang. “Begitu pulang, hal pertama yang ia lakukan adalah melepaskan
burung-burung peliharaannya. Alasannya, ia mengalami langsung betapa tidak
enaknya hidup di dalam kurungan,” ujar Thea. Mengapa
Kaum Depok menjadi sasaran kekerasan pascakemerdekaan? Menurut Boy Loen,
jawabannya tak lepas dari kesenjangan sosial yang terbentuk sepanjang masa
kolonial. Banyak warga Kaum Depok menguasai bahasa Belanda sehingga lebih
mudah memperoleh pekerjaan di Batavia dan memiliki kondisi ekonomi yang
relatif lebih baik dibanding masyarakat sekitar. Depok
juga lebih maju daripada daerah sekitarnya karena telah memiliki listrik,
jaringan telepon, kantor pos, juga layanan telegraf. Penguasaan bahasa
Belanda juga membuat Kaum Depok dicap sebagai antek Belanda atau Londo
ireng—ledekan bagi orang pribumi berkulit gelap tapi memihak pemerintah
kolonial. Namun,
Boy melanjutkan, hubungan Kaum Depok dengan masyarakat umum sebenarnya
baik-baik saja. Buktinya, pada saat Gedoran terjadi, banyak warga sekitar
menyelamatkan keluarga Kaum Depok. Ketika para pengungsi kembali, para
tetangga juga membantu mereka menunjukkan batas tanah yang diserobot
pendatang. Sejarawan
Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, menjelaskan, identitas Kaum Depok
terbentuk secara bertahap selama beberapa generasi setelah Cornelis
Chastelein meninggal dan para budaknya dibebaskan pada 1714. Memasuki
abad ke-19, agama Protestan dan penggunaan nama Belanda mempertegas penanda
komunitas tersebut. Dalam tatanan masyarakat kolonial, identitas itu juga
memberi keuntungan sosial. “Mereka mendapat kemudahan-kemudahan,” kata
Bondan. Keadaan
jadi berbalik begitu kekuasaan kolonial berakhir. Kedekatan budaya dengan
Belanda membuat Kaum Depok dicurigai dan dianggap berpihak kepada pemerintah
kolonial. Ketika revolusi pecah, stigma tersebut membuat Kaum Depok rentan
menjadi sasaran kekerasan. Gedoran menjadi titik ketika identitas yang
sebelumnya memberi keuntungan sosial justru berubah menjadi sumber petaka
bagi mereka. ● Sumber :
https://www.tempo.co/arsip/surat-gedoran-depok-periode-bersiap-londo-ireng-2279671 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar