Selasa, 04 Agustus 2026

 

Saiful Mujani: Sumber Masalahnya Adalah Prabowo

Friski Riana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 02 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi lebih disukai ketimbang Presiden Prabowo Subianto.

 

·      Gerindra bisa ikut terperosok jika tingkat elektabilitas Prabowo terus turun. Partai lain diuntungkan.

 

·      Masih ada kesempatan bagi calon lain untuk mengalahkan Prabowo dalam pemilihan presiden 2029.

 

BANGUNAN dua lantai berkelir putih di Jalan Teuku Cik Ditiro II, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi kantor Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sejak 2019. Suara kereta rel listrik atau bel sepeda abang-abang starling—”starbucks” keliling—terdengar hingga ke dalam rumah. Pemilik griya, Saiful Mujani, mengaku telah terbiasa dengan suasana itu.

 

Pada pertengahan April 2026, kantor itu digeruduk massa selama tiga hari. Perkara itu bermula dari pernyataan Saiful dalam acara di Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur. Ia mengatakan menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto dapat menyelamatkan Indonesia. “Sekarang sudah enggak didemo. Mungkin mereka bosan,” kata Saiful pada Kamis, 30 Juli 2026.

 

Tiga bulan setelah pengepungan itu, SMRC merilis hasil survei yang menunjukkan tingkat kepuasan atau approval rating terhadap pemerintahan Prabowo hanya 51,1 persen, turun dari November 2025 yang sebesar 81,5 persen. Tingkat elektabilitasnya pun merosot tinggal 14,5 persen, jauh tertinggal dibanding Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang sebesar 35 persen.

 

Guru besar ilmu politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyatakan Prabowo kemungkinan besar tak akan menang jika vis-à-vis dengan Dedi. Pun calon lain seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ataupun eks Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, juga berpeluang mengalahkan petahana.

 

Selama hampir tiga jam, Saiful menjelaskan hasil survei SMRC kepada jurnalis Tempo, Yosea Arga, Friski Riana, dan Stefanus Pramono. Saiful menjelaskan alasan utama penurunan approval rating dan tingkat elektabilitas inkumben, yaitu Prabowo himself. Namun, menurut Saiful, Prabowo bukan berarti tak bisa menang. Apalagi jika pemilihan presiden berjalan curang.

 

Mengapa Anda membuat survei kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo?

 

Kami kan mengadakan survei juga sebelumnya. Niat awal saya mau ngetes karena merasa keadaan saat ini berbeda dengan enam-delapan bulan lalu. Apa iya dengan suasana seperti hari-hari ini kepuasan publik terhadap Prabowo masih 80 persen seperti saat satu tahun pemerintahannya? Rasanya tidak. Karena itu, kami membuat survei sendiri alias pro bono, enggak ada sponsornya.

 

Sejak kapan Anda merasa sentimen publik terhadap Prabowo menurun?

 

Momentum itu terjadi sejak pecahnya perang antara Iran dan Amerika Serikat-Israel. Banyak orang marah karena harga bahan bakar minyak naik, rupiah anjlok, saham rontok. Banyak orang juga marah terhadap program pemerintah seperti makan bergizi gratis, koperasi desa merah putih, juga peran tentara yang meluas ke wilayah sipil. Kami membuat survei ini karena keadaan sudah genting.

 

Sebagai orang yang ingin Prabowo lengser, Anda gembira atas hasil survei itu?

 

Sebagai manusia, saya punya dua dimensi. Pertama, ilmuwan yang bisa mempertanggungjawabkan penelitian secara ilmiah. Dimensi kedua sebagai aktivis. Kalau itu, iya, menggembirakan. Artinya, kemarahan kolektif itu benar-benar terjadi. Apa yang kami temukan mengkonfirmasi perjuangan teman-teman aktivis dan mahasiswa. Hasil survei ini sudah mewakili kemarahan rakyat.

 

Anda berseberangan dengan Prabowo. Bagaimana mencegah adanya bias dalam survei?

 

Sebagai warga negara, tentu saya punya nilai-nilai tertentu. Apalagi saya aktivis era Orde Baru. Bias itu tidak bisa hilang. Subyektivitas saya sejak awal, orang seperti Prabowo enggak layak menjadi presiden. Apakah ini mempengaruhi kerja ilmiah saya? Tentu tidak. Kami bekerja menurut kaidah keilmuan. Kami harus obyektif dan tunduk pada fakta.

 

Dengan 749 responden saja, apakah survei ini valid?

 

Karena ini pro bono, kami harus irit. Tapi kami sudah punya metode yang teruji. Hasilnya mirip dengan survei serupa yang jumlah respondennya ribuan orang.

 

Ada lembaga survei yang tak merilis hasil sigi yang menyebut approval rating Prabowo turun drastis. Mengapa SMRC merilisnya?

 

Biasanya ada keterikatan dengan klien sehingga lembaga survei tidak bisa mengumumkan hasil risetnya. Tapi bisa saja ada yang membocorkan hasilnya. Informasi publik tidak boleh dimonopoli penguasa. Bagi saya, sangat penting merilis hasil survei supaya publik juga mengetahui kondisi sebenarnya. Kita juga membutuhkan masukan untuk elite lewat survei ini.

 

Seberapa penting survei kepuasan publik ini untuk perbaikan demokrasi?

 

Salah satu komponen penting demokrasi adalah terkanalisasinya aspirasi atau suara masyarakat. Hari-hari ini, media sosial menjadi saluran aspirasi, tapi suara-suara di dalamnya bersifat sporadis. Kita tak bisa menyimpulkan suara itu mewakili sentimen kolektif masyarakat secara nasional. Dengan survei, kita bisa memediasi pikiran, opini, atau perasaan masyarakat tentang berbagai situasi saat ini.

 

Dalam survei SMRC, ada tiga aspek yang berkaitan dengan kepuasan publik, yakni kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum. Mana yang paling berpengaruh?

 

Paling negatif soal politik. Kedua, ekonomi. Ketiga, penegakan hukum. Dari situ saya makin yakin menurunnya approval rating terhadap Prabowo valid secara konseptual. Hubungannya sangat logis. Ada yang mengatakan kondisi ekonomi buruk. Ada juga yang menilai kondisi politik dan penegakan hukum buruk. Artinya, kinerja Prabowo tidak memuaskan.

 

Apa penyebabnya?

 

Penurunan ini tidak terjadi mendadak. Saya melihat sumber masalahnya adalah Prabowo sendiri lewat keputusan politik, kebijakan, dan komunikasinya. Prabowo punya kelemahan. Hanya, ia tak berhasil menutup kelemahan itu. Walhasil, ada dampak buruk terhadap penilaian publik.

 

Contohnya?

 

Dibandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya, mungkin hanya Prabowo yang berpidato di depan publik dengan gaya ngenyek orang. Lalu dia selalu mengklaim mewakili rakyat. Dalam halalbihalal aktivis di Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur, saya bilang presiden ini tidak presidensial. Meski tak setuju dengan pengkritiknya, dia seharusnya enggak menanggapi seperti itu.

 

Selain gaya komunikasi, kebijakannya berpengaruh?

 

Kebijakan-kebijakan yang dibuat Prabowo bertentangan dengan amanat Reformasi. Prabowo sering membuat kebijakan tanpa ada undang-undang lebih dulu. Terutama yang berhubungan dengan masuknya tentara ke wilayah sipil. Juga bagaimana Prabowo menyikapi konflik antara kepolisian dan kejaksaan. Seharusnya ia punya sikap.

 

Tingkat elektabilitas Prabowo juga merosot jauh. Padahal ia belum dua tahun menjabat....

 

Tidak pernah ada inkumben yang tingkat elektabilitasnya nyungsep pada tahun kedua setelah pemilihan. Zaman Susilo Bambang Yudhoyono enggak jelek seperti ini. Tingkat elektabilitasnya baik-baik saja jika dihubungkan dengan tingkat kepuasan. Sedangkan Joko Widodo malah naik. Tingkat elektabilitasnya pada tahun kedua bagus, enggak ada yang bisa ngelewatin dia. Kalau pada tahun kedua sudah begini, sangat berat mengangkat lagi tingkat elektabilitasnya.

 

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi malah melewati Prabowo....

 

Ada banyak nama yang kami ajukan dalam pertanyaan semiterbuka soal sosok yang akan dipilih, seperti Puan Maharani (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat), Anies Baswedan, hingga Ganjar Pranowo (mantan calon presiden). Responden memunculkan nama Dedi Mulyadi. Dedi sangat kuat dan bisa melewati Prabowo sebagai petahana. Itu istimewa.

 

Kenapa tingkat elektabilitas Dedi bisa hampir 2,5 kali Prabowo?

 

Dari sisi awareness publik, Dedi sosok yang seimbang dengan Prabowo. Hampir 90 persen orang sudah tahu Dedi Mulyadi. Bukan hanya di Jawa Barat, melainkan nasional. Popularitas dia sudah oke dan lebih disukai dibandingkan dengan Prabowo. Dia seperti Jokowi. Gue aja ketipu sama Jokowi, ha-ha-ha....

 

Dedi kuat karena kencang tampil di media sosial?

 

Iya. Tapi pribadinya memang begitu. Ia dekat dan setara dengan rakyat, tidak dibuat-buat. Dia punya bakat begitu, walaupun secara policy tidak begitu. Masyarakat enggak mengerti apa kebijakannya, yang penting sosoknya. Ia kontras dengan Prabowo.

 

Bukankah Dedi Mulyadi juga seperti Prabowo, mengeluarkan kebijakan populis? Dia juga membawa militerisme, seperti menempatkan anak nakal di barak militer....

 

Ada nuansa itu, tapi publik belum menangkap. Jangan lupa, masyarakat kita juga menyukai tentara. Yang paling mudah mereka tangkap dari sosok Dedi adalah empatinya. Kita tentu butuh pemimpin yang bisa membuat policy yang benar dan punya integritas. Saya belum tahu integritas Dedi seperti apa. Yang jelas, kalau head-to-head dengan Prabowo hari ini, dia hampir pasti menang.

 

Nama lain yang muncul dalam survei adalah Anies Baswedan, Gibran Rakabuming Raka, dan Agus Harimurti Yudhoyono. Seperti apa peluang mereka?

 

Anies, Gibran, Agus itu sebenarnya imbang dengan Prabowo yang tingkat elektabilitasnya terus menurun. Kalau pemilihan umum digelar sekarang, peluang mereka cukup terbuka untuk melawan Prabowo. Demikian juga Ganjar Pranowo dan Mahfud Md. Kita belum tahu siapa yang akan menang.

Jadi masih ada kesempatan mengalahkan Prabowo dalam pilpres 2029?

 

Betul. Ada peluang untuk tokoh lain. Pilihan masyarakat pun menjadi lebih terbuka, tidak dimonopoli atau dihadapkan pada dua pasang calon saja. Karena itu, putusan Mahkamah Konstitusi yang menghapus ambang batas presidensial harus dieksekusi Dewan Perwakilan Rakyat.

 

Tingkat elektabilitas Prabowo turun, tapi Partai Gerindra tetap di peringkat pertama….

 

Itu logis, tapi berbahaya. Dalam rilis, kami menyebutkan bahwa Gerindra terancam tidak menjadi nomor satu. Di tren survei kami sebelumnya, tingkat elektabilitas Gerindra pernah sampai 30 persen. Itu normal. Pada tahun pertama, biasanya tingkat elektabilitas partai pendukung presiden itu tinggi. Itu terjadi pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Demokrat, dan Golkar. Nah, pada Gerindra juga terjadi. Tapi, karena Prabowo begitu, tingkat elektabilitas partai enggak bisa dijaga.

 

Tingkat elektabilitas Gerindra sangat bergantung pada Prabowo?

 

Tergantung Prabowo. Kalau Prabowo terus melakukan blunder dengan kebijakan dan ucapan-ucapannya, tingkat elektabilitas dia akan terus nyungsep. Partainya juga nyungsep.

 

Partai lain akan menikmati peralihan pemilih Gerindra?

 

Kalau ada yang nyungsep, pasti ada yang muncul atau kelihatan naik. Pemilih Gerindra ini impitannya cukup dekat dengan pemilih Demokrat, Golkar, NasDem.

 

Mengapa tingkat elektabilitas PDIP sebagai satu-satunya partai di luar pemerintahan tak melejit?

 

Saya anggap PDIP stabil. Kalau posisi PDIP jadi nomor dua itu karena memang peta politiknya berubah. Kan, Gerindra punya presiden. Kalau Gerindra nyungsep-nya ekstrem banget, PDIP akan kembali naik karena lebih beda dibanding partai lain.

 

Dalam survei SMRC, tingkat elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia bisa sampai 4 persen. Ada faktor efek Jokowi?

 

Itu belum dielaborasi. Tapi sebagai hipotesis, menurut saya, peran Jokowi dengan logistiknya penting meski baru 4 persen. Bukan hanya sosoknya, melainkan juga karena dia bekerja, sudah mobilisasi. Tidak ada partai lain yang ketua dan tokoh besarnya turun secara terbuka. Mungkin ketua yang lain juga turun, tapi tidak seterbuka itu. Partai-partai koalisi di sekitar Prabowo mungkin tidak enak mendahului. Tapi kalau Pak Jokowi kan mungkin niatnya mau pisah dengan Prabowo.

 

Apa yang harus dilakukan Prabowo agar bisa menaikkan tingkat elektabilitasnya?

 

Harus ada perubahan radikal, misalnya terhadap program makan bergizi gratis. Ia harus merujuk pada ilmu, ikut pada teknokrasi. Serahkan saja kepada ahlinya. Kalau ia mau bekerja atas pertimbangan teknokratis, mungkin elektabilitasnya bisa pulih.

 

Kalau tingkat elektabilitasnya rendah, bukan berarti dia tidak bisa memenangi pemilu, kan?

 

Bisa menang, tapi dengan pemilu yang curang. Apakah dia bisa melakukan sesuatu di luar koridor? Sangat mungkin. Yang potensial punya sumber daya untuk curang itu kan negara. Kalau sudah enggak mungkin menang, bisa saja dia menghapus pemilu. Wong nyuruh menculik orang aja bisa. (Prabowo pernah mengaku hanya menjalankan tugas dalam penculikan aktivis prodemokrasi pada masa Orde Baru. Ia pun menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.)

 

Sumber :  https://www.tempo.co/wawancara/survei-kepuasan-publik-kebijakan-prabowo-smrc-2279726

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar