|
Provokasi Bangkrut dari 'De Volkskrant' Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 03 Agustus 2026
|
Mengapa
koran paling berpengaruh di Belanda mempertanyakan masa depan ekonomi
Indonesia? Membaca narasi, bukan sekadar judul. Namanya De Volkskrant — Koran Rakyat.
Tapi pada Rabu, 29 Juli 2026, "koran rakyat" Belanda itu memilih
sebuah judul yang membuat banyak rakyat Indonesia mengernyitkan dahi. Judul analisis yang ditulis oleh Noël
van Bemmel dalam Bahasa Belanda itu: Is Indonesië op weg naar bankroet?
Apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan? Pertanyaannya bukan hanya soal mengapa
judul itu muncul. Tapi, mengapa kini Indonesia dipandang sedemikian
mencemaskan oleh media yang terbit jauh di Amsterdam. Bagi sebagian rakyat Indonesia, judul
itu mungkin hanya terasa sebagai provokasi. Namun bagi kalangan investor,
diplomat, akademisi, dan pelaku pasar internasional, judul seperti itu bukan
sekadar analisis. Ia sinyal. Di dunia keuangan modern, persepsi
berlari seperti api yang ditiup angin, sementara fakta berjalan pelan seperti
petugas pemadam yang baru berangkat dari markas bercat serba merah. Sebuah analisis di media yang kredibel
dapat memengaruhi cara pasar memandang suatu negara, meski tidak selalu
menentukan kenyataannya. De Volkskrant sendiri bukan surat
kabar sembarangan. Didirikan kalangan agamawan pada 1919, ia termasuk tiga
koran nasional paling berpengaruh di Belanda. Kini ia dimiliki DPG Media
—konglomerasi media terbesar di kawasan Benelux— dengan Pieter Klok sebagai
pemimpin redaksi. Oplah cetaknya memang terus menurun
sebagaimana dialami hampir semua koran dunia. Tapi, pelanggan berbayarnya
mencapai lebih dari 320 ribu dan jangkauan pembacanya sekitar 600 ribu orang
setiap hari melalui edisi cetak maupun digital. Yang lebih penting lagi, ia dikenal
sebagai quality newspaper: media yang menjadi rujukan kalangan pembuat
kebijakan, pebisnis, akademisi, dan profesional. Karena itu, ketika koran seperti ini
mempertanyakan masa depan ekonomi Indonesia, potongan klipingnya segera
tersebar di medsos dan grup WhatsApp. Tentu kita tak perlu panik.
Mengabaikannya sama kelirunya dengan menelannya bulat-bulat. Alarm bukan
vonis, tapi juga bukan hiasan dinding. -000- Lalu apa sebenarnya yang ditulis Noël
van Bemmel? Berbeda dari kesan yang ditimbulkan judulnya, ia tidak menyatakan
Indonesia telah bangkrut. Bemmel menyusun sebuah argumentasi
bahwa Indonesia sedang menempuh jalan yang, menurut penilaiannya, dapat
membawa pada krisis fiskal bila tidak dikoreksi. Dengan kata lain, judulnya berupa
pertanyaan, sementara isi artikelnya adalah upaya menjelaskan mengapa
pertanyaan itu layak diajukan. Van Bemmel memulai analisanya dengan
menggambarkan munculnya kekhawatiran di kalangan ekonom Indonesia sendiri. Ia
mengutip berbagai peringatan mengenai pelemahan nilai rupiah, melambatnya
penciptaan lapangan kerja, meningkatnya tekanan terhadap anggaran negara, dan
menurunnya kepercayaan investor. Ia juga menyinggung sikap Presiden
Prabowo Subianto yang menolak pandangan pesimistis tersebut. Bahkan Presiden
menyindir para pengkritiknya sebagai "zwarte Hollanders" atau
"Londo Ireng (Belanda Hitam)" — istilah yang digunakan untuk
menyebut mereka yang dinilai selalu memandang Indonesia secara negatif. Menurut Van Bemmel, persoalan utamanya
bukan terletak pada satu kebijakan tertentu, melainkan pada keseluruhan arah
pembangunan yang kini ditempuh pemerintah. Seluruhnya. Ia menyebut strategi itu sebagai
"Prabowonomics". Maksudnya, negara menggelontorkan dana besar untuk
program makan bergizi gratis, pembangunan tiga juta rumah, pengembangan Ibu
Kota Nusantara, penguatan koperasi desa, hilirisasi industri. Juga, berbagai proyek strategis
nasional, serta pembentukan Danantara sebagai kendaraan investasi negara.
Keseluruhan agenda tersebut dipandang sangat ambisius, tetapi sekaligus
menimbulkan pertanyaan besar mengenai sumber pembiayaannya. Artikel itu kemudian mempertanyakan
apakah pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen cukup untuk menopang seluruh
agenda tersebut. Penulis mengemukakan bahwa penerimaan
negara belum bertumbuh secepat kebutuhan belanja, sementara investasi swasta
belum menunjukkan gairah yang memadai. Jika kondisi ini terus berlangsung,
menurut analisanya, ruang fiskal pemerintah akan semakin sempit dan
kepercayaan pasar berpotensi terus melemah. Dari sinilah ia melontarkan pertanyaan
yang dijadikan judul artikel: apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan? -000- Sampai di sini saya sengaja belum
memberi komentar. Sebab kritik yang adil harus dimulai dengan memahami secara
utuh apa yang sedang dikritik. Terlalu sering kita marah kepada sebuah
tulisan hanya karena membaca judulnya, padahal belum memahami bangunan argumennya. Namun setelah membaca keseluruhan
artikel, saya melihat bahwa persoalan sesungguhnya bukan sekadar soal utang,
APBN, atau rupiah. Yang sedang diperdebatkan sebenarnya
bukan sekadar angka-angka APBN. Yang sedang dipertarungkan adalah kompas
pembangunan: negara menjadi nakhoda, atau cukup menjadi penjaga mercusuar. Van Bemmel melihat Indonesia melalui
kacamata ekonomi yang menempatkan kepercayaan pasar, disiplin fiskal, dan
investasi swasta sebagai mesin utama pertumbuhan. Dari sudut pandang itu, menurut
Bemmel, semakin besar peran negara, semakin besar pula risiko yang harus
ditanggung. Di sinilah saya melihat adanya
perbedaan cara membaca sejarah. Tidak sedikit negara yang justru tumbuh
menjadi kekuatan ekonomi karena negara memainkan peran yang sangat aktif. Jepang pascaperang, Korea Selatan pada
era Park Chung-hee, Singapura di bawah Lee Kuan Yew, bahkan Tiongkok modern,
menunjukkan bahwa negara dapat menjadi lokomotif industrialisasi ketika pasar
belum cukup kuat menggerakkannya sendiri. Tentu, semua contoh itu juga
memperlihatkan bahwa peran negara hanya berhasil bila dibarengi tata kelola
yang disiplin, birokrasi yang bersih, bebas korupsi, dan akuntabilitas yang
tinggi. Karena itu, saya tidak melihat
persoalannya sesederhana "Indonesia akan bangkrut" atau
"Indonesia pasti berhasil". Yang lebih relevan adalah bertanya:
apakah negara mampu mengelola ambisi besarnya dengan tata kelola yang sama
besarnya? Sebab, kegagalan bukan dikarenakan
besarnya cita-cita, melainkan akibat lemahnya pelaksanaan. Ada ironi lain yang menarik. Selama
berabad-abad, Nusantara diposisikan sebagai pemasok bahan mentah bagi
industri Eropa. Kini Indonesia berusaha mengubah posisi itu melalui
hilirisasi, penguatan industri nasional, dan peningkatan nilai tambah di
dalam negeri. Langkah ini tentu tidak selalu sejalan
dengan kepentingan sebagian pelaku ekonomi global yang selama ini menikmati
rantai nilai lama. Perbedaan kepentingan semacam itu wajar terjadi. Tetapi kita juga tidak boleh tergoda
menyimpulkan bahwa setiap kritik dari media Eropa pasti merupakan bagian dari
agenda politik. Kesimpulan seperti itu sama tergesa-gesanya dengan menyatakan
Indonesia pasti menuju kebangkrutan. Yang justru perlu dijawab adalah
substansi kritiknya. Bila memang ada keraguan mengenai transparansi
Danantara, perbaikilah tata kelolanya. Bila investor mengeluhkan kepastian
hukum, benahilah regulasinya. Bila pembiayaan program-program besar
membutuhkan disiplin fiskal yang lebih kuat, tunjukkan dengan angka, bukan
sekadar pidato. Sebaliknya, bila kebijakan hilirisasi,
koperasi, dan industrialisasi memang menghasilkan nilai tambah, lapangan
kerja, serta kesejahteraan yang nyata, maka waktu sendirilah yang akan
membantah ramalan-ramalan pesimistis itu. Pada akhirnya, saya justru berterima
kasih kepada De Volkskrant. Bukan karena saya sepakat dengan seluruh
analisanya, melainkan karena ia mengingatkan bahwa Indonesia kini sedang
diperhatikan dunia. Perhatian itu adalah konsekuensi
ketika sebuah bangsa memilih jalan pembangunan yang berbeda. Jalan itu bisa
berhasil, bisa pula gagal. Tetapi keberhasilannya tidak akan
ditentukan oleh sehalaman analisa atau tajuk utama sebuah koran di Amsterdam.
Ia akan ditentukan oleh kemampuan kita sendiri membuktikan bahwa kemandirian
ekonomi bukan sekadar slogan politik, melainkan kenyataan yang dapat
dirasakan rakyat. Sejarah memang punya selera humor yang
ganjil. Dulu kapal-kapal Belanda berlayar berbulan-bulan menuju Nusantara
karena yakin negeri ini terlalu kaya untuk dilewatkan. Hari ini, dari negeri yang sama,
sebuah koran bertanya apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan. Sejarah
rupanya tak pernah berhenti menulis ironi; hanya tinta dan penulisnya yang
berganti. Semoga jawaban atas pertanyaan itu
tidak diberikan oleh para politisi, bukan pula oleh para analis pasar,
melainkan oleh kerja nyata yang membuat kesejahteraan rakyat terus bertumbuh.
Sebab pada akhirnya, ekonomi bukanlah
soal memenangkan perdebatan, melainkan soal memperbaiki kehidupan manusia. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar