|
Pascakongres 2026 - SATUPENA dan Masa Depan Profesi Penulis di Era AI Satrio Arismunandar : Alumnus S2 Pengkajian Ketahanan Nasional UI dan S3 Filsafat FIB
Universitas Indonesia, Sekjen SATUPENA 2021-2026. |
ORBIT INDONESIA, 14 Agustus 2026
|
Perkumpulan Penulis
Indonesia SATUPENA baru saja sukses menyelesaikan Kongresnya yang
diselenggarakan secara daring pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kongres tersebut
berlangsung pada sebuah momentum yang sangat penting bagi dunia kepenulisan
Indonesia. Dunia sedang memasuki
sebuah perubahan teknologi yang bukan lagi sekadar menghadirkan alat baru
bagi manusia, melainkan mulai mengubah cara manusia bekerja, berpikir,
berkreasi, dan memproduksi pengetahuan. Salah satu perubahan
terbesar itu adalah hadirnya artificial intelligence atau kecerdasan buatan
(AI). Bagi profesi penulis, AI
bukan lagi sesuatu yang berada di masa depan. Ia sudah hadir di depan mata.
Dengan memberikan instruksi atau prompt yang tepat, sebuah sistem AI kini
dapat menghasilkan puisi, cerpen, esai, artikel jurnal, berita, naskah
pidato, bahkan tulisan dengan gaya tertentu dalam hitungan detik. AI dapat merangkum buku,
menerjemahkan teks, melakukan riset awal, mencari pola dari ribuan dokumen,
memperbaiki tata bahasa, dan membantu menyusun argumentasi. Pertanyaannya kemudian
bukan lagi: Apakah AI akan masuk ke dunia kepenulisan? Jawabannya sudah jelas:
AI telah masuk. Pertanyaan yang jauh
lebih penting adalah: Apa yang akan terjadi pada profesi penulis ketika
kemampuan menghasilkan teks tidak lagi menjadi monopoli manusia? Di sinilah organisasi
profesi seperti SATUPENA mempunyai pekerjaan rumah yang sangat besar. Penulis Tidak Boleh
Berperang Melawan Teknologi Respons pertama yang
mungkin muncul dari sebagian penulis adalah kekhawatiran. AI dianggap akan
mengambil pekerjaan penulis, menurunkan nilai karya manusia, membanjiri ruang
publik dengan tulisan yang diproduksi mesin, bahkan pada akhirnya membuat
profesi penulis menjadi tidak relevan. Kekhawatiran tersebut
bukan sesuatu yang mengada-ada. Beberapa pekerjaan penulisan yang bersifat
repetitif, formulaik, dan membutuhkan produksi teks dalam jumlah besar memang
sangat mungkin semakin banyak dikerjakan oleh AI. Namun, melawan AI dengan
cara menolaknya bukanlah strategi yang realistis. Sejarah teknologi
menunjukkan bahwa profesi manusia hampir selalu berubah ketika muncul
teknologi baru. Mesin cetak tidak membunuh penulis. Kamera tidak membunuh
pelukis. Televisi tidak menghapus teater. Internet tidak menghilangkan buku.
Sebaliknya, teknologi mengubah ekosistem produksi, distribusi, dan konsumsi
karya manusia. AI pun kemungkinan besar
akan melakukan hal yang sama, tetapi dengan skala perubahan yang jauh lebih
besar. Karena itu, tantangan
SATUPENA bukan mengajak para penulis untuk memusuhi AI, melainkan membantu
mereka beradaptasi, memahami, menguasai, sekaligus mengkritisi AI. Penulis masa depan
barangkali bukan penulis yang tidak menggunakan AI. Penulis masa depan adalah
penulis yang mampu menggunakan AI tanpa kehilangan dirinya sebagai manusia. Dari "Menulis dengan
AI" Menjadi "Berpikir Bersama AI" Ada perbedaan besar
antara menggunakan AI untuk menggantikan proses berpikir dan menggunakan AI
sebagai alat untuk memperluas kemampuan berpikir. Organisasi penulis perlu
mendorong yang kedua. AI dapat membantu seorang
penulis melakukan brainstorming, mencari alternatif sudut pandang, menguji
argumentasi, menemukan pertanyaan yang belum dipikirkan, membuat struktur
tulisan, melakukan penyuntingan awal, atau mengolah data. Tetapi keputusan mengenai
apa yang penting, apa yang benar, apa yang bernilai, dan apa yang layak
dikatakan tetap merupakan tanggung jawab manusia. Di sinilah letak nilai
penulis. AI sangat kuat dalam
mengolah bahasa, tetapi makna tidak semata-mata berada di dalam bahasa. Seorang penulis membawa
pengalaman hidup, ingatan, kegelisahan, keberpihakan moral, intuisi,
imajinasi, dan pandangan terhadap dunia. Dua orang dapat
memberikan prompt yang sama kepada AI dan memperoleh tulisan yang relatif
serupa. Tetapi pengalaman manusia yang melahirkan sebuah gagasan tidak pernah
sepenuhnya identik. Karena itu, kompetensi
yang harus diperkuat oleh organisasi penulis bukan hanya kemampuan teknis
menggunakan AI, melainkan juga kemampuan yang justru semakin mahal nilainya
ketika AI semakin pintar: berpikir kritis, memiliki perspektif, melakukan
riset, memahami konteks, membangun argumentasi, dan memiliki suara
kepenulisan yang otentik. SATUPENA Perlu Membangun
Literasi AI bagi Penulis Langkah pertama yang
konkret adalah membangun program literasi AI untuk anggota. Penulis perlu memahami
bagaimana AI bekerja, apa kemampuan dan keterbatasannya, bagaimana menyusun
prompt, bagaimana melakukan verifikasi informasi, bagaimana mendeteksi
halusinasi, bagaimana menggunakan AI untuk riset, serta bagaimana menjaga
orisinalitas dan integritas karya. Ini penting karena
persoalan terbesar AI bukan hanya kemampuan menghasilkan teks, tetapi juga
kemampuannya menghasilkan teks yang tampak meyakinkan meskipun belum tentu
benar. Seorang penulis yang
menggunakan AI tanpa kemampuan verifikasi dapat menghasilkan tulisan yang
lebih cepat tetapi sekaligus lebih rentan terhadap kesalahan fakta. SATUPENA dapat membangun
semacam “SATUPENA AI Academy,” baik dalam bentuk pelatihan daring, lokakarya,
webinar, maupun modul pembelajaran mandiri. Materinya dapat dibagi
dari tingkat dasar sampai tingkat lanjut: AI untuk penulis pemula, AI untuk
jurnalisme, AI untuk penulis buku, AI untuk peneliti, AI untuk penyunting,
sampai AI untuk pemasaran dan distribusi karya. Dengan demikian,
organisasi profesi tidak sekadar mengatakan kepada penulis, "gunakan
AI", tetapi mengajarkan cara menggunakan AI secara cerdas, kritis, dan
etis. Membuat Kode Etik Penulis
di Era AI Tantangan berikutnya
adalah etika. Jika sebuah novel ditulis
dengan bantuan AI, siapa pengarangnya? Jika sebuah esai menggunakan AI untuk
menghasilkan struktur dan beberapa paragraf, bagaimana pengakuannya? Apakah
penggunaan AI harus diumumkan kepada pembaca? Bagaimana jika AI digunakan hanya
untuk penyuntingan bahasa? Pertanyaan-pertanyaan
seperti ini tidak memiliki jawaban sederhana. Karena itu SATUPENA perlu
memimpin perumusan “kode etik penggunaan AI dalam kepenulisan Indonesia.” Kode etik tersebut tidak
harus bersifat represif. Justru sebaiknya membedakan berbagai tingkat
penggunaan AI. Misalnya, penggunaan AI sebagai alat penyuntingan bahasa tentu
berbeda dengan penggunaan AI untuk menghasilkan sebagian besar isi karya. Prinsip dasarnya dapat
berupa transparansi, tanggung jawab, verifikasi fakta, penghormatan terhadap
hak cipta, perlindungan data, serta kejelasan mengenai kontribusi manusia dan
mesin. Dengan demikian, pembaca
mempunyai hak untuk mengetahui bagaimana sebuah karya diproduksi, sementara
penulis memperoleh pedoman yang jelas. Memperjuangkan Hak Cipta
Penulis Ada persoalan lain yang
jauh lebih fundamental: dari mana AI memperoleh bahan untuk belajar? Model AI dilatih
menggunakan jumlah data yang sangat besar, termasuk teks yang dibuat manusia.
Di sinilah muncul persoalan mengenai hak cipta, kompensasi, izin penggunaan
karya, dan kemungkinan eksploitasi karya penulis untuk membangun sistem yang
kemudian dapat menghasilkan karya baru. Organisasi penulis harus
hadir dalam perdebatan ini. SATUPENA dapat menjadi salah satu pihak yang
memperjuangkan kepentingan penulis Indonesia dalam penyusunan regulasi AI dan
hak cipta. Penulis harus memiliki posisi tawar ketika karya mereka digunakan
dalam ekosistem teknologi. Jangan sampai terjadi
paradoks: karya manusia menjadi bahan bakar untuk melatih mesin, sementara
manusia yang menciptakannya justru kehilangan sumber penghidupan. Karena itu, SATUPENA
dapat membangun dialog dengan pemerintah, penerbit, platform digital,
perusahaan teknologi, lembaga hak cipta, perguruan tinggi, dan organisasi
penulis internasional untuk mencari model yang adil. Mengubah Ukuran
Keberhasilan Seorang Penulis AI juga memaksa kita
mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya membuat sebuah tulisan bernilai.
Selama ini, salah satu ukuran produktivitas penulis adalah jumlah kata,
jumlah artikel, jumlah buku, atau kecepatan menghasilkan tulisan. Tetapi ketika mesin mampu
menghasilkan ribuan halaman dalam waktu singkat, ukuran tersebut menjadi
semakin kurang bermakna. Masa depan mungkin justru
akan memberikan premium kepada gagasan. Sebuah tulisan yang
memiliki gagasan orisinal, perspektif kuat, pengalaman otentik, riset
mendalam, dan keberanian intelektual akan jauh lebih bernilai daripada
tulisan generik yang secara teknis sempurna tetapi tidak memiliki jiwa. Dengan kata lain, AI
dapat membuat tulisan menjadi semakin murah, tetapi pada saat yang sama dapat
membuat gagasan manusia yang orisinal menjadi semakin mahal. SATUPENA perlu membantu
penulis bergerak ke wilayah tersebut. Penulis harus didorong menjadi bukan
sekadar produsen teks, melainkan produsen gagasan, penafsir zaman, penjaga
ingatan, dan pembentuk makna. Membangun "Human
Premium" Di tengah ledakan konten
sintetis, masyarakat kemungkinan akan menghadapi masalah baru: terlalu banyak
tulisan, tetapi semakin sulit mengetahui mana yang benar-benar layak dibaca.
Dalam kondisi seperti itu, reputasi dan kredibilitas penulis akan menjadi sangat
penting. SATUPENA dapat membangun
mekanisme kurasi atau semacam SATUPENA Recommended Writers, penghargaan karya
terbaik, sertifikasi profesional, festival sastra dan pemikiran, serta
berbagai bentuk pengakuan terhadap karya yang memiliki standar intelektual
dan etika tinggi. Tujuannya bukan untuk
menciptakan monopoli atas kebenaran, melainkan membangun ekosistem
kepercayaan. Ketika mesin mampu menghasilkan teks tanpa batas, manusia akan
semakin mencari suara yang dapat dipercaya. Di sinilah organisasi profesi
memperoleh relevansinya. SATUPENA sebagai
Laboratorium Masa Depan Kepenulisan Lebih jauh lagi, SATUPENA
dapat menjadikan dirinya bukan hanya organisasi yang membela profesi penulis,
tetapi juga “laboratorium pemikiran mengenai masa depan kepenulisan.” Organisasi ini dapat
membangun kelompok kerja khusus yang mengkaji AI dan sastra, AI dan
jurnalisme, AI dan hak cipta, AI dan pendidikan, serta dampak AI terhadap
industri penerbitan. SATUPENA juga dapat
bekerja sama dengan universitas dan perusahaan teknologi untuk melakukan
eksperimen. Misalnya, bagaimana seorang penulis dapat menghasilkan karya yang
lebih baik dengan bantuan AI tanpa kehilangan karakter personalnya? Bagaimana
AI dapat membantu penulis daerah menerjemahkan karya mereka ke bahasa
internasional? Bagaimana teknologi dapat membantu mendigitalisasi arsip
sastra Indonesia? Bagaimana AI dapat membantu penulis senior
mendokumentasikan pengalaman hidup mereka? Pertanyaan terakhir ini
bahkan membuka peluang yang sangat menarik. AI tidak harus dilihat hanya
sebagai ancaman terhadap penulis. Ia juga dapat menjadi alat untuk
menyelamatkan ingatan manusia. Ribuan penulis Indonesia
memiliki arsip, surat, manuskrip, artikel lama, rekaman wawancara, dan
pengalaman hidup yang belum terdokumentasikan secara baik. AI dapat membantu
mengarsipkan, mentranskripsikan, mengindeks, menerjemahkan, dan membuatnya
dapat diakses oleh generasi berikutnya. Jangan Sampai Penulis
Kalah Bukan Karena AI Lebih Pintar Pada akhirnya, ancaman
terbesar AI terhadap profesi penulis mungkin bukan karena AI mampu menulis
lebih cepat daripada manusia. Ancaman sebenarnya adalah apabila penulis tidak
berubah sementara dunia berubah. Jika penulis tetap
bekerja dengan cara lama, tidak memahami teknologi, tidak meningkatkan
kompetensi, tidak memperkuat kualitas gagasan, dan tidak memperjuangkan
haknya dalam ekosistem digital, maka AI memang dapat menjadi ancaman serius. Tetapi jika penulis mampu
memanfaatkan AI sebagai alat, sementara manusia tetap menjadi sumber gagasan,
pengalaman, nilai, tanggung jawab, dan keputusan kreatif, maka hubungan
keduanya dapat menjadi berbeda. AI bisa menjadi pena
baru. Tetapi pena tidak pernah menjadi penulis. Yang membuat sebuah karya
berarti bukan semata-mata susunan kata, melainkan siapa yang berbicara, dari
pengalaman apa ia berbicara, mengapa ia berbicara, dan untuk apa ia
berbicara. Karena itu, agenda
SATUPENA setelah Kongres 13 Agustus 2026 seharusnya tidak berhenti pada
bagaimana mempertahankan profesi penulis dari ancaman AI. Agenda yang lebih
besar adalah bagaimana memastikan penulis Indonesia ikut membentuk masa depan
AI, bukan sekadar menjadi korban dari masa depan yang dibentuk orang lain. SATUPENA dapat menjadi
ruang tempat para penulis belajar teknologi, tetapi sekaligus tempat
teknologi belajar memahami manusia. Sebab pada akhirnya, masa depan
kepenulisan bukan pertarungan sederhana antara manusia melawan mesin. Masa depan itu adalah
pertarungan mengenai siapa yang menguasai gagasan, siapa yang menentukan
makna, dan siapa yang tetap memiliki suara di tengah banjir kata-kata yang
semakin mudah diproduksi oleh mesin. Dan dalam pertarungan
itu, tugas organisasi penulis bukan membawa para penulis kembali ke masa
lalu. Tugasnya adalah membawa mereka memasuki masa depan—dengan teknologi di
tangan, tetapi kemanusiaan tetap menjadi jantungnya. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar