|
Oei
Tjoe Tat Penyambung Lidah Bung Karno Yandhrie Arvian : Redaktur Eksekutif di Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Oei Tjoe Tat memilih jalan kebangsaan
di tengah hiruk-pikuk politik pascakemerdekaan. · Ia menempatkan perjuangan kelompok
etnis Tionghoa dalam kerangka nasionalisme Indonesia. · Tanpa proses pengadilan, Oei menjadi
tahanan politik Orde Baru selama hampir 12 tahun. PADA
sosok Oei Tjoe Tat, kita melihat sebuah ironi dalam sejarah Indonesia modern
setelah prahara 1965. Gigih memperjuangkan keberagaman dan kesamaan hak bagi
peranakan Tionghoa di awal pembentukan Republik, Menteri Negara dalam Kabinet
Dwikora itu menjadi korban gagasan kebangsaan yang ia bela hanya karena dekat
dengan Presiden Sukarno. Sebagai
petinggi Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki, Oei
Tjoe Tat, bersama Siauw Giok Tjhan dan Yap Thiam Hien, menentang konsep
asimilasi sebagai solusi tunggal mengatasi permasalahan minoritas Tionghoa di
Indonesia. Ia percaya pengakuan hak-hak sipil dan politik warga keturunan
bisa diperjuangkan tanpa harus melepaskan identitas kultural mereka, sambil
tetap menekankan loyalitas kepada Indonesia. Oei
memilih jalan kebangsaan ketika jalan lain yang jauh dari hiruk-pikuk politik
lebih aman untuk ditempuh bagi kelompok minoritas. Bagi dia, integrasi dan
pluralisme bukan sekadar diskursus, melainkan juga praktik politik yang bisa
dijalankan seorang keturunan hingga ke pusat kekuasaan. Posisinya
sebagai menteri—satu-satunya orang Tionghoa yang mencapai posisi ini pada era
Orde Lama—memberinya akses langsung untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah
terkait dengan status kewarganegaraan dan perlakuan terhadap kelompok
minoritas. Oei menjadi jembatan antara komunitas Tionghoa dan pemerintah
sembari memastikan aspirasi mereka didengar dalam proses pengambilan
keputusan. Dibanding
tokoh Tionghoa lain, Oei salah satu yang menonjol pada zamannya. Ia memiliki
pendekatan yang lebih integral terhadap isu kewarganegaraan. Berbeda dengan
sebagian aktivis Tionghoa yang cenderung memperjuangkan hak-hak khusus untuk
komunitasnya saja, Oei menempatkan kelompok etnis Tionghoa dalam kerangka
yang lebih luas terkait dengan keadilan sosial dan nasionalisme Indonesia. Latar
belakang pendidikannya sebagai sarjana hukum dan profesi advokat memberinya
keunggulan dalam memperjuangkan isu kewarganegaraan melalui jalur
konstitusional dan legal formal. Strategi ini memang lebih elitis dan
bergantung pada akses personal ke pusat kekuasaan. Ini membedakannya dengan
aktivis lain yang cenderung mengandalkan mobilisasi massa. Saat
konfrontasi Indonesia dengan Malaysia berlangsung, Oei menjalankan tugas
diplomatik dan intelijen sekaligus menjadi penyambung lidah Bung Karno. Namun
tak selamanya kedekatannya dengan pusat kekuasaan membawa keberuntungan.
Loyalitasnya kepada presiden pertama itu justru menjadi bumerang. Saat
sejarah berbalik arah, pembelaannya terhadap integrasi dan pluralisme
berujung pada kriminalisasi dan penghapusan hak-hak sipil di bawah rezim Orde
Baru. Tanpa
proses pengadilan, ia menjadi tahanan politik selama hampir 12 tahun
(1966-1976) atas tuduhan terkait dengan gerakan komunis. Padahal loyalitas
Oei lebih bersifat personal kepada Sukarno sebagai individu ketimbang
komitmennya pada ideologi tertentu. Setelah
itu, namanya tenggelam, tak pernah tercatat di buku pelajaran sejarah. Toh,
kecintaan Oei pada gagasan pluralisme tak pernah luntur. Setelah keluar dari
penjara, ia kerap mengumpulkan para tahanan politik hingga mantan pejabat
untuk menggelar arisan sembari berdiskusi. Topiknya seputar isu politik yang
sedang hangat. Diskusi-diskusi di rumah Oei menjadi ruang untuk
mempertahankan memori kolektif sekaligus mengkritik kebijakan Orde Baru. Di era
Soeharto, konsolidasi masyarakat sipil dan oposan dilakukan secara
sembunyi-sembunyi: di rumah-rumah pribadi, gereja, atau kampus. Diskusi di
rumah Oei Tjoe Tat salah satu contohnya. Oei mesti berhati-hati. Sebagai
mantan tahanan politik, ia menghadapi stigma dan diskriminasi. Intelijen
mengawasi setiap gerak-gerik mantan tahanan politik dan aktivis oposisi. Baca
selengkapnya: Di era
Presiden Prabowo Subianto, mantan menantu Soeharto, demokrasi kembali
mengalami kemunduran. Oposisi formal di parlemen nyaris tak punya gigi.
Setelah Pemilihan Umum 2024, hampir semua partai politik bergabung dengan
koalisi pemerintahan Prabowo. Gejala otoritarianisme menguat. Tapi itu
semua tidak menyurutkan gerakan koalisi masyarakat sipil dan aliansi
mahasiswa. Dalam edisi “Tokoh Tempo 2025”, kami memotret gerakan rimpang
anak-anak muda. Mereka—mahasiswa, akademikus, lembaga swadaya masyarakat, dan
seniman kritis—punya keresahan yang sama: tidak ingin pengalaman pahit selama
Soeharto berkuasa muncul kembali. Meminjam
pandangan Robert D. Putnam, ilmuwan politik Amerika Serikat, arisan dan forum
diskusi seperti di rumah Oei Tjoe Tat pada masa Orde Baru hingga Forum Cik Di
Tiro di Yogyakarta pada era pemerintahan Prabowo adalah modal sosial untuk
menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat. Melalui jaringan keterikatan sipil,
norma timbal balik, dan kepercayaan sosial, mereka berkolaborasi untuk tujuan
bersama: menjaga api perjuangan untuk membangun kembali demokrasi. Ketika
kebebasan berekspresi dibungkam, kritik terhadap kebijakan negara direspons
dengan intimidasi, dan ruang akademik ditekan oleh kepentingan politik jangka
pendek, kita sesungguhnya sedang menyaksikan pengulangan pola lama: kesetiaan
pada gagasan kebangsaan yang inklusif—seperti yang pernah Oei Tjoe Tat
perjuangkan—tidak pernah cukup untuk melindungi seseorang atau kelompok dari
represi kekuasaan yang memandang keberagaman sebagai ancaman. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/oei-tjoe-tat-penyambung-lidah-sukarno-2282249 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar