Senin, 24 Agustus 2026

 

Misi ke Bulan Paling Ambisius Chang’e 7 Siap Meluncur

Muchamad Zaid Wahyudi :  Wartawan Kompas.

KOMPAS, 23 Agustus 2026

 

 

                                                           

Indonesia memang tidak mengirimkan instrumen apa pun dalam misi ini, tertinggal dibanding Thailand. Namun, ilmuwan Indonesia terlibat dalam misi besar China ini.

 

Jika tidak ada penundaan, misi Change’e 7 milik China akan segera meluncur ke Bulan. Inilah misi robotik ke Bulan paling ambisius, komprehensif, dan kompleks yang pernah dilakukan manusia. Ilmuwan Indonesia akan terlibat dalam misi ini. Jika sukses, China diyakini akan menyalip Amerika Serikat dalam eksplorasi dan kolonisasi manusia di Bulan.

 

Chang’e 7 adalah proyek China untuk mengeksplorasi kutub selatan Bulan menggunakan wahana robotik yang sangat lengkap, mulai dari wahana pengorbit (orbiter), wahana pendarat (lander), wahana penjejak (rover), dan wahana pelompat (hooper).

 

Misi tersebut dirancang untuk mencari dan mengukur potensi keberadaan air es di kutub selatan Bulan serta meletakkan dasar bagi kolonisasi manusia di Bulan.

 

Sesuai rencana, misi Chang’e 7 akan diluncurkan dari Bandar Antariksa Wenchang di Pulau Hainan, China selatan, pada Senin (24/8/2026). Sementara jendela waktu peluncuran terentang 24-31 Agustus 2026.

 

Rangkaian wahana itu akan diluncurkan menggunakan roket Long March-5 Y14. Seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (19/8/2026), semua fasilitas dan peralatan di lokasi peluncuran dalam kondisi baik dan semua tahapan peluncuran telah dilakukan sesuai jadwal.

 

Setelah meluncur, seperti dilaporkan BBC.co.uk, Jumat (21/8/2026), wahana pengorbit Chang’e 7 butuh waktu sekitar enam hari untuk mencapai orbit Bulan. Sesudah itu, wahana pengobit akan mengelilingi Bulan (moon) hingga beberapa bulan (month) ke depan.

 

Selama itu, mereka akan mengambil gambar permukaan Bulan dan mencari titik-titik yang paling aman dan terbaik untuk mendaratkan wahana pendarat di tanah Bulan.

 

Hingga saat ini, misi baru menargetkan lokasi pendaratan wahana tersebut berada di tepi Kawah Shackleton yang ada di dekat kutub selatan Bulan. Wilayah pendaratan ini diklaim sebagai area yang terletak paling dekat dengan kutub selatan Bulan.

 

Namun, lokasi atau titik pasti wahana pendarat tersebut sampai saat ini belum diketahui dan baru akan ditentukan dari hasil pencitraan wahana pengorbit Chang’e 7 nantinya.

 

Jika pendaratan berhasil dilakukan, selanjutnya wahana penjelajah akan keluar dari wahana pendarat dan melaju di tanah Bulan. Berikutnya, wahana pelompat akan keluar dan menjelajahi lokasi sekitar dengan terbang di ketinggian rendah untuk mencari tempat terbaik yang diduga mengandung air es.

 

Dibandingkan dengan wahana penjelajah, wahana pelompat memiliki banyak keunggulan karena bisa mendarat di tempat yang terlalu curam, terlalu gelap, hingga tempat-tempat sulit yang tidak mungkin dicapai dan dijelajahi oleh robot penjelajah beroda.

 

Wahana ini akan dilengkapi dengan kamera dan sejumlah peralatan ilmiah untuk mempelajari lingkungan sekitarnya, termasuk mencari tanda-tanda dan potensi air es yang ada di permukaan Bulan.

 

Kompleksitas dan kerumitan misi ini membuat ahli geologi di Universitas Brown di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat (AS), James Head, menilai, peluncuran roket China ke Bulan ini akan menetapkan tolok ukur baru bagi perjalanan ilmiah manusia ke Bulan.

 

”Chang’e 7 adalah misi robotik ke Bulan yang paling ambisius, komprehensif, dan kompleks yang pernah dicoba oleh suatu negara dan entitas mana pun,” ungkapnya kepada Space.com, Kamis (20/8/2026).

 

Sementara Juru Bicara Badan Antariksa Berawak China (CMSA) Zhang Jingbo, awal tahun lalu, mengutarakan, misi Chang’e 7 akan memanfaatkan sepenuhnya keahlian teknologi dan pengalaman praktis yang dikumpulkan China selama beberapa dekade eksplorasi antariksa yang telah dilakukan. Tujuan akhir dari misi ini adalah untuk mendaratkan manusia pertama China di Bulan pada 2030.

 

Kerja sama internasional

 

Meski misi utama Chang’e 7 adalah untuk melakukan penelitian ilmiah di Bulan, misi ini juga dirancang untuk meletakkan dasar bagi pendaratan manusia pertama China di permukaan Bulan tahun 2030 atau dua tahun lebih mundur dibandingkan dengan rencana AS untuk mendaratkan kembali manusia di Bulan pada tahun 2028.

 

Meski demikian, banyak kalangan ragu AS mampu memenuhi target waktu yang ada dan lebih optimistis dengan langkah China dalam pendaratan kembali manusia di Bulan. 

 

Misi Chang’e 7 ini akan segera diikuti dengan Chang’e 8 yang akan diluncurkan pada tahun 2028. Misi lanjutan itu dirancang untuk menguji teknologi pembangunan habitat menggunakan tanah Bulan.

 

Dengan demikian, misi robotik Chang’e 7 dan Chang’e 8 dirancang untuk mengoordinasikan pembangunan Stasiun Penelitian Bulan Internasional (ILRS) yang akan dibangun di dekat kutub selatan serta diprakarsai oleh China dan Rusia.

 

Rencana tersebut akan menjadi saingan terberat bagi misi Artemis yang dibangun Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) bersama sekutunya. Pembangunan konstruksi pertama stasiun manusia di Bulan oleh NASA itu ditargetkan akan mulai dilakukan pada 2029 dan mulai dihuni secara berkelanjutan pada 2032.

 

Chang’e7 juga menjadi misi China yang banyak melibatkan kerja sama internasional. Uniknya, kerja sama ini tidak hanya melibatkan negara-negara maju yang punya pengalaman panjang dalam eksplorasi antariksa.

 

Namun, negara-negara dunia ketiga yang baru merintis jalan menjelahi antariksa, seperti Thailand, Mesir, dan Bahrain, juga ikut berpartisipasi mengirimkan instrumen buatan mereka.

 

Dalam misi ini, Badan Antariksa Bahrain (BSA) dan Badan Antariksa Mesir (EgSA) mengembangkan kamera LunaHcam yang dipasang di wahana pengorbit Chang’e 7. Kamera ini berfungsi untuk mengambil citra hiperspektral beresolusi tinggi dari permukaan Bulan.

 

Citra hiperspektral yang merupakan teknik penginderaan jauh tingkat lanjut ini memungkinkan manusia untuk mengidentifikasi material apa saja yang ada di Bulan karena setiap jenis material akan memantulkan cahaya yang berbeda.

 

Berikutnya, Lembaga Riset Astronomi Nasional Thailand (NARIT) dan Universitas Mahidol di Salaya Thailand mengirimkan Moon Aiming Thai-Chinese Hodoscope (MATCH).

 

Alat yang dipasang di wahana utama Chang’e 7 ini akan mengukur partikel berenergi tinggi yang dapat digunakan dalam memprediksi cuaca antariksa dan radiasi kosmik yang dipancarkan Matahari.

 

Negara-negara maju pun tak ingin ketinggalan. Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (RAS) turut menyertakan dua perangkat. Instrumen tersebut adalah perangkat PmL-Ch7 yang dipasang di wahana pendarat Chang’e 7 untuk mendeteksi debu Bulan dan sebuah wahana kecil Langmuir untuk mengukur suhu dan kepadatan plasma di Bulan.

 

Sementara Italia menyumbang serangkaian retroreflektor laser di wahana pendarat Chang’e 7 yang dibuat di Laboratorium Nasional Frascati (Laboratori Nazionali di Frascati).

 

Adapun Swiss mengikutkan Spektrometer Radiasi Bumi Saluran Ganda Berbasis Bulan buatan Observatorium Meteorologi Fisik Swiss yang ditempatkan di wahana pengorbit Chang’e 7.

 

Indonesia

 

Instrumen terakhir yang dibawa misi ini adalah teleskop dan kamera kecil yang canggih, yakni Kamera Observatorium Bulan Internasional (ILO-C). Kamera ini berasal dari Asosiasi Observatorium Bulan Internasional (ILOA) yang bermarkas di Hawaii, AS, dan Laboratorium Penelitian Antariksa Universitas Hong Kong.

 

Kamera kompak ILO-C adalah buatan Institut Mekanika dan Kelistrikan Antariksa Beijing (BISME) China yang diproduksi sesuai spesifikasi yang diajukan tim ILOA. Alat ini akan dipasang di wahana pendarat Chang’e 7 dan nantinya akan ditempatkan di tepi Kawah Shackleton yang diterangi cahaya.

 

Presiden ILOA Elisa Perednia mengatakan, kameran ini akan menjadi kamera yang menangkap citra astronomi berwarna pertama dari titik pandang yang stabil di Bulan.

 

Secara terpisah, Direktur Sains ILOA yang juga dosen Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Chatief Kunjaya, Minggu (23/8/2026), mengatakan, ILO-C juga akan menjadi kamera landas Bulan pertama yang menangkap foto bintang-bintang dalam panjang gelombang visual atau cahaya tampak.

 

Sebelumnya, ada Teleskop Ultraviolet Landas Bulan (LUT) yang dipasang di misi Chang’e 3 pada 2013. Selain itu ada Kamera Permukaan Bulan (LSC) atau Kamera/Spektograf Ultraviolet Jauh yang dipasang saat misi Apollo 16 tahun 1972. Namun, semua kamera itu memotret bintang-bintang dan galaksi dalam cahaya ultraviolet, bukan cahaya tampak seperti ILO-C.

 

Menurut Chatief, teleskop atau kamera yang diletakkan di permukaan Bulan memiliki keunggulan tersendiri. Dibanding teleskop landas Bumi, teleskop landas Bulan tidak akan melihat bintang yang berkelap-kelip seperti bintang yang dilihat dari Bumi.

 

Bulan tidak memiliki atmsofer sehingga cahaya bintang tidak akan melintasi lapisan udara yang suhu dan kerapatannya berubah-ubah. Akibatnya, cahaya bintang tidak akan diserap atau terhalang udara sehingga bintang di Bulan tidak akan berkedip seperti di Bumi.

 

Sementara dibandingkan teleskop luar angkasa yang ditempatkan di orbit tertentu, teleskop landas Bulan juga lebih sederhana dalam pembuatan ataupun penanganannya.

 

Teleskop luar angkasa tidak memiliki landasan atau dudukan yang kuat sehingga diperlukan banyak giroskop, sensor untuk menjaga arah atau mengukur posisi sebuah benda, guna mengendalikan posisi teleskop luar angkasa.

 

”Teleskop landas Bulan saat ini dan teleskop luar angkasa memiliki satu kesamaan, yaitu jika rusak, tak bisa diperbaiki. Namun, jika manusia nantinya sudah tinggal di Bulan berkelanjutan, perbaikan teleskop landas Bulan yang rusak akan lebih mudah dilakukan, bahkan dimungkinkan untuk membangun teleskop landas Bulan lebih besar,” katanya.

 

Chatief, anggota Pusat Sains, Teknologi, dan Inovasi Keantariksaan (PSTIA) ITB, menambahkan, karena kamera ILO-C dikirim ke Bulan dengan ditumpangkan pada wahana lain, ukurannya memiliki banyak batasan, menyesuaikan dengan berat atau bobot misi dan biaya peluncuran secara keseluruhan. Karena itu, kamera ini  memiliki dimensi mirip dengan kamera harian profesional yang ada di Bumi.

 

Kamera ILO-C memiliki diameter 5 sentimeter, medan pandang seluas 20 derajat kali 15 derajat, dan bobotnya hanya 1,18 kilogram. Setelah kamera itu nantinya diletakkan di Bulan, dia tidak bisa di arahkan ke medan langit yang lain.

 

Pemandangan medan langit yang ditangkap kamera tetap akan berubah seiring pergeseran atau rotasi Bulan yang untungnya sangat lambat karena satu malam di Bulan setara 14 hari-malam di Bumi.

 

Namun, sama seperti lokasi pendaratan wahana pendarat Chang’e 7 yang belum pasti, kamera ILO-C juga belum memiliki lokasi pasti penempatan. Hal yang pasti, ILO-C tidak akan ditempatkan di tengah-tengah Kawah Shackleton karena bagian itu tidak mendapat sinar Matahari sama sekali alias gelap total abadi.

 

Sekilas, lokasi ini cocok untuk pengamatan astronomi yang membutuhkan langit malam nan gelap. Masalahnya, di tempat tersebut, sel surya ILO-C tidak akan pernah mendapat tambahan daya dari sinar Matahari.

 

Dengan keberadaan kamera ILO-C ini, Chatief berharap bisa mengamati bintang variabel atau benda-benda bergerak lain. Bintang variabel adalah bintang yang intensitas cahayanya berubah-ubah seiring waktu akibat proses tertentu di dalam bintang. Jika beruntung, kamera ini bisa juga menangkap citra nova alias ledakan bintang.

 

”Mahasiswa astronomi nantinya bisa ikut terlibat dalam proyek ini dengan mengolah data yang diperoleh selama masa embargo. Setelah masa embargo data selesai, sekitar satu tahun, data bintang yang ditangkap ILO-C bisa dijadikan bahan pendidikan bagi siswa SMA di seluruh dunia, termasuk Indonesia,” tuturnya.

 

Hal tersebut bertujuan untuk mempelajari pengolahan data guna menemukan bintang variabel atau obyek-obyek bergerak lain, termasuk asteroid dan komet,” ungkapnya, menambahkan.

 

Jadi, meski Indonesia belum bisa berpartispasi dengan mengirimkan instrumen tertentu dalam misi Chang’e 7, mahasiswa dan peneliti astronomi Indonesia masih tetap bisa merasakan manfaat dari misi ambisius ke Bulan ini.

 

Namun, jika Indonesia memiliki kemauan politik dan dukungan dana yang baik seperti negara-negara dunia ketiga lain, tentu Indonesia bisa lebih banyak memanfaatkan data yang diperoleh guna mendukung kemajuan pembangunan sains, teknologi, rekayasa, dan matematik (STEM). ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/misi-ke-bulan-paling-ambisius-change-7-siap-meluncur?open_from=Sains_&_Teknologi_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar