|
Misi ke Bulan Paling Ambisius Chang’e 7 Siap
Meluncur Muchamad
Zaid Wahyudi : Wartawan Kompas. |
KOMPAS, 23 Agustus 2026
|
Indonesia memang tidak mengirimkan instrumen apa pun dalam misi
ini, tertinggal dibanding Thailand. Namun, ilmuwan Indonesia terlibat dalam
misi besar China ini. Jika tidak ada penundaan, misi Change’e 7 milik China akan segera
meluncur ke Bulan. Inilah misi robotik ke Bulan paling ambisius,
komprehensif, dan kompleks yang pernah dilakukan manusia. Ilmuwan Indonesia
akan terlibat dalam misi ini. Jika sukses, China diyakini akan menyalip
Amerika Serikat dalam eksplorasi dan kolonisasi manusia di Bulan. Chang’e 7 adalah proyek China untuk mengeksplorasi kutub selatan
Bulan menggunakan wahana robotik yang sangat lengkap, mulai dari wahana
pengorbit (orbiter), wahana pendarat (lander), wahana penjejak (rover), dan
wahana pelompat (hooper). Misi tersebut dirancang untuk mencari dan mengukur potensi
keberadaan air es di kutub selatan Bulan serta meletakkan dasar bagi
kolonisasi manusia di Bulan. Sesuai rencana, misi Chang’e 7 akan diluncurkan dari Bandar
Antariksa Wenchang di Pulau Hainan, China selatan, pada Senin (24/8/2026).
Sementara jendela waktu peluncuran terentang 24-31 Agustus 2026. Rangkaian wahana itu akan diluncurkan menggunakan roket Long
March-5 Y14. Seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (19/8/2026), semua fasilitas
dan peralatan di lokasi peluncuran dalam kondisi baik dan semua tahapan
peluncuran telah dilakukan sesuai jadwal. Setelah meluncur, seperti dilaporkan BBC.co.uk, Jumat
(21/8/2026), wahana pengorbit Chang’e 7 butuh waktu sekitar enam hari untuk
mencapai orbit Bulan. Sesudah itu, wahana pengobit akan mengelilingi Bulan
(moon) hingga beberapa bulan (month) ke depan. Selama itu, mereka akan mengambil gambar permukaan Bulan dan
mencari titik-titik yang paling aman dan terbaik untuk mendaratkan wahana
pendarat di tanah Bulan. Hingga saat ini, misi baru menargetkan lokasi pendaratan wahana
tersebut berada di tepi Kawah Shackleton yang ada di dekat kutub selatan
Bulan. Wilayah pendaratan ini diklaim sebagai area yang terletak paling dekat
dengan kutub selatan Bulan. Namun, lokasi atau titik pasti wahana pendarat tersebut sampai
saat ini belum diketahui dan baru akan ditentukan dari hasil pencitraan
wahana pengorbit Chang’e 7 nantinya. Jika pendaratan berhasil dilakukan, selanjutnya wahana penjelajah
akan keluar dari wahana pendarat dan melaju di tanah Bulan. Berikutnya,
wahana pelompat akan keluar dan menjelajahi lokasi sekitar dengan terbang di ketinggian
rendah untuk mencari tempat terbaik yang diduga mengandung air es. Dibandingkan dengan wahana penjelajah, wahana pelompat memiliki
banyak keunggulan karena bisa mendarat di tempat yang terlalu curam, terlalu
gelap, hingga tempat-tempat sulit yang tidak mungkin dicapai dan dijelajahi
oleh robot penjelajah beroda. Wahana ini akan dilengkapi dengan kamera dan sejumlah peralatan
ilmiah untuk mempelajari lingkungan sekitarnya, termasuk mencari tanda-tanda
dan potensi air es yang ada di permukaan Bulan. Kompleksitas dan kerumitan misi ini membuat ahli geologi di
Universitas Brown di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat (AS), James
Head, menilai, peluncuran roket China ke Bulan ini akan menetapkan tolok ukur
baru bagi perjalanan ilmiah manusia ke Bulan. ”Chang’e 7 adalah misi robotik ke Bulan yang paling ambisius,
komprehensif, dan kompleks yang pernah dicoba oleh suatu negara dan entitas
mana pun,” ungkapnya kepada Space.com, Kamis (20/8/2026). Sementara Juru Bicara Badan Antariksa Berawak China (CMSA) Zhang
Jingbo, awal tahun lalu, mengutarakan, misi Chang’e 7 akan memanfaatkan
sepenuhnya keahlian teknologi dan pengalaman praktis yang dikumpulkan China
selama beberapa dekade eksplorasi antariksa yang telah dilakukan. Tujuan
akhir dari misi ini adalah untuk mendaratkan manusia pertama China di Bulan
pada 2030. Kerja sama internasional Meski misi utama Chang’e 7 adalah untuk melakukan penelitian
ilmiah di Bulan, misi ini juga dirancang untuk meletakkan dasar bagi pendaratan
manusia pertama China di permukaan Bulan tahun 2030 atau dua tahun lebih
mundur dibandingkan dengan rencana AS untuk mendaratkan kembali manusia di
Bulan pada tahun 2028. Meski demikian, banyak kalangan ragu AS mampu memenuhi target
waktu yang ada dan lebih optimistis dengan langkah China dalam pendaratan
kembali manusia di Bulan. Misi Chang’e 7 ini akan segera diikuti dengan Chang’e 8 yang akan
diluncurkan pada tahun 2028. Misi lanjutan itu dirancang untuk menguji
teknologi pembangunan habitat menggunakan tanah Bulan. Dengan demikian, misi robotik Chang’e 7 dan Chang’e 8 dirancang
untuk mengoordinasikan pembangunan Stasiun Penelitian Bulan Internasional
(ILRS) yang akan dibangun di dekat kutub selatan serta diprakarsai oleh China
dan Rusia. Rencana tersebut akan menjadi saingan terberat bagi misi Artemis
yang dibangun Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) bersama sekutunya.
Pembangunan konstruksi pertama stasiun manusia di Bulan oleh NASA itu
ditargetkan akan mulai dilakukan pada 2029 dan mulai dihuni secara
berkelanjutan pada 2032. Chang’e7 juga menjadi misi China yang banyak melibatkan kerja
sama internasional. Uniknya, kerja sama ini tidak hanya melibatkan
negara-negara maju yang punya pengalaman panjang dalam eksplorasi antariksa. Namun, negara-negara dunia ketiga yang baru merintis jalan
menjelahi antariksa, seperti Thailand, Mesir, dan Bahrain, juga ikut
berpartisipasi mengirimkan instrumen buatan mereka. Dalam misi ini, Badan Antariksa Bahrain (BSA) dan Badan Antariksa
Mesir (EgSA) mengembangkan kamera LunaHcam yang dipasang di wahana pengorbit
Chang’e 7. Kamera ini berfungsi untuk mengambil citra hiperspektral
beresolusi tinggi dari permukaan Bulan. Citra hiperspektral yang merupakan teknik penginderaan jauh
tingkat lanjut ini memungkinkan manusia untuk mengidentifikasi material apa
saja yang ada di Bulan karena setiap jenis material akan memantulkan cahaya
yang berbeda. Berikutnya, Lembaga Riset Astronomi Nasional Thailand (NARIT) dan
Universitas Mahidol di Salaya Thailand mengirimkan Moon Aiming Thai-Chinese
Hodoscope (MATCH). Alat yang dipasang di wahana utama Chang’e 7 ini akan mengukur
partikel berenergi tinggi yang dapat digunakan dalam memprediksi cuaca
antariksa dan radiasi kosmik yang dipancarkan Matahari. Negara-negara maju pun tak ingin ketinggalan. Akademi Ilmu
Pengetahuan Rusia (RAS) turut menyertakan dua perangkat. Instrumen tersebut
adalah perangkat PmL-Ch7 yang dipasang di wahana pendarat Chang’e 7 untuk
mendeteksi debu Bulan dan sebuah wahana kecil Langmuir untuk mengukur suhu
dan kepadatan plasma di Bulan. Sementara Italia menyumbang serangkaian retroreflektor laser di
wahana pendarat Chang’e 7 yang dibuat di Laboratorium Nasional Frascati
(Laboratori Nazionali di Frascati). Adapun Swiss mengikutkan Spektrometer Radiasi Bumi Saluran Ganda
Berbasis Bulan buatan Observatorium Meteorologi Fisik Swiss yang ditempatkan
di wahana pengorbit Chang’e 7. Indonesia Instrumen terakhir yang dibawa misi ini adalah teleskop dan
kamera kecil yang canggih, yakni Kamera Observatorium Bulan Internasional
(ILO-C). Kamera ini berasal dari Asosiasi Observatorium Bulan Internasional
(ILOA) yang bermarkas di Hawaii, AS, dan Laboratorium Penelitian Antariksa
Universitas Hong Kong. Kamera kompak ILO-C adalah buatan Institut Mekanika dan
Kelistrikan Antariksa Beijing (BISME) China yang diproduksi sesuai
spesifikasi yang diajukan tim ILOA. Alat ini akan dipasang di wahana pendarat
Chang’e 7 dan nantinya akan ditempatkan di tepi Kawah Shackleton yang
diterangi cahaya. Presiden ILOA Elisa Perednia mengatakan, kameran ini akan menjadi
kamera yang menangkap citra astronomi berwarna pertama dari titik pandang
yang stabil di Bulan. Secara terpisah, Direktur Sains ILOA yang juga dosen Program
Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Chatief Kunjaya, Minggu
(23/8/2026), mengatakan, ILO-C juga akan menjadi kamera landas Bulan pertama
yang menangkap foto bintang-bintang dalam panjang gelombang visual atau cahaya
tampak. Sebelumnya, ada Teleskop Ultraviolet Landas Bulan (LUT) yang
dipasang di misi Chang’e 3 pada 2013. Selain itu ada Kamera Permukaan Bulan
(LSC) atau Kamera/Spektograf Ultraviolet Jauh yang dipasang saat misi Apollo
16 tahun 1972. Namun, semua kamera itu memotret bintang-bintang dan galaksi
dalam cahaya ultraviolet, bukan cahaya tampak seperti ILO-C. Menurut Chatief, teleskop atau kamera yang diletakkan di
permukaan Bulan memiliki keunggulan tersendiri. Dibanding teleskop landas
Bumi, teleskop landas Bulan tidak akan melihat bintang yang berkelap-kelip
seperti bintang yang dilihat dari Bumi. Bulan tidak memiliki atmsofer sehingga cahaya bintang tidak akan
melintasi lapisan udara yang suhu dan kerapatannya berubah-ubah. Akibatnya,
cahaya bintang tidak akan diserap atau terhalang udara sehingga bintang di
Bulan tidak akan berkedip seperti di Bumi. Sementara dibandingkan teleskop luar angkasa yang ditempatkan di
orbit tertentu, teleskop landas Bulan juga lebih sederhana dalam pembuatan ataupun
penanganannya. Teleskop luar angkasa tidak memiliki landasan atau dudukan yang
kuat sehingga diperlukan banyak giroskop, sensor untuk menjaga arah atau
mengukur posisi sebuah benda, guna mengendalikan posisi teleskop luar
angkasa. ”Teleskop landas Bulan saat ini dan teleskop luar angkasa
memiliki satu kesamaan, yaitu jika rusak, tak bisa diperbaiki. Namun, jika
manusia nantinya sudah tinggal di Bulan berkelanjutan, perbaikan teleskop
landas Bulan yang rusak akan lebih mudah dilakukan, bahkan dimungkinkan untuk
membangun teleskop landas Bulan lebih besar,” katanya. Chatief, anggota Pusat Sains, Teknologi, dan Inovasi
Keantariksaan (PSTIA) ITB, menambahkan, karena kamera ILO-C dikirim ke Bulan
dengan ditumpangkan pada wahana lain, ukurannya memiliki banyak batasan,
menyesuaikan dengan berat atau bobot misi dan biaya peluncuran secara
keseluruhan. Karena itu, kamera ini
memiliki dimensi mirip dengan kamera harian profesional yang ada di
Bumi. Kamera ILO-C memiliki diameter 5 sentimeter, medan pandang seluas
20 derajat kali 15 derajat, dan bobotnya hanya 1,18 kilogram. Setelah kamera
itu nantinya diletakkan di Bulan, dia tidak bisa di arahkan ke medan langit
yang lain. Pemandangan medan langit yang ditangkap kamera tetap akan berubah
seiring pergeseran atau rotasi Bulan yang untungnya sangat lambat karena satu
malam di Bulan setara 14 hari-malam di Bumi. Namun, sama seperti lokasi pendaratan wahana pendarat Chang’e 7
yang belum pasti, kamera ILO-C juga belum memiliki lokasi pasti penempatan.
Hal yang pasti, ILO-C tidak akan ditempatkan di tengah-tengah Kawah
Shackleton karena bagian itu tidak mendapat sinar Matahari sama sekali alias
gelap total abadi. Sekilas, lokasi ini cocok untuk pengamatan astronomi yang
membutuhkan langit malam nan gelap. Masalahnya, di tempat tersebut, sel surya
ILO-C tidak akan pernah mendapat tambahan daya dari sinar Matahari. Dengan keberadaan kamera ILO-C ini, Chatief berharap bisa
mengamati bintang variabel atau benda-benda bergerak lain. Bintang variabel
adalah bintang yang intensitas cahayanya berubah-ubah seiring waktu akibat
proses tertentu di dalam bintang. Jika beruntung, kamera ini bisa juga
menangkap citra nova alias ledakan bintang. ”Mahasiswa astronomi nantinya bisa ikut terlibat dalam proyek ini
dengan mengolah data yang diperoleh selama masa embargo. Setelah masa embargo
data selesai, sekitar satu tahun, data bintang yang ditangkap ILO-C bisa
dijadikan bahan pendidikan bagi siswa SMA di seluruh dunia, termasuk
Indonesia,” tuturnya. Hal tersebut bertujuan untuk mempelajari pengolahan data guna
menemukan bintang variabel atau obyek-obyek bergerak lain, termasuk asteroid
dan komet,” ungkapnya, menambahkan. Jadi, meski Indonesia belum bisa berpartispasi dengan mengirimkan
instrumen tertentu dalam misi Chang’e 7, mahasiswa dan peneliti astronomi
Indonesia masih tetap bisa merasakan manfaat dari misi ambisius ke Bulan ini. Namun, jika Indonesia memiliki kemauan politik dan dukungan dana
yang baik seperti negara-negara dunia ketiga lain, tentu Indonesia bisa lebih
banyak memanfaatkan data yang diperoleh guna mendukung kemajuan pembangunan
sains, teknologi, rekayasa, dan matematik (STEM). ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar