|
Memahami Partai Komunis Tiongkok: Sendi Utama Pembangunan Tiongkok Wang Lutong : Duta Besar
Tiongkok untuk Indonesia. |
REPUBLIKA, 15 Juli 2026
|
Pada 1 Juli 2026, Partai Komunis Tiongkok (PKT) memperingati HUT
ke-105. Sekjen Xi Jinping menyampaikan pidato penting dalam upacara perayaan
tersebut. Tokoh-tokoh politik Indonesia, termasuk Ketua Umum Partai Gerindra
Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri,
mengirimkan surat ucapan selamat kepada Sekjen Xi Jinping. Mereka menyampaikan ucapan selamat yang hangat atas HUT ke-105 PKT,
serta memberikan apresiasi yang tinggi atas pencapaian luar biasa dalam
pembangunan ekonomi dan sosial yang diraih rakyat Tiongkok di bawah
kepemimpinan PKT, yang sekaligus memberikan kontribusi penting bagi
perdamaian dan pembangunan dunia. Sejak kelahirannya pada tahun 1921 dengan hanya 58 anggota pada
awalnya, PKT kini telah tumbuh menjadi partai terbesar di dunia dengan lebih
dari 100 juta anggota dan memiliki pengaruh global yang signifikan. Selama 105
tahun terakhir, dalam perjalanan revolusi, pembangunan, reformasi, dan
praktik era baru, PKT telah mempersatukan dan memimpin rakyat Tiongkok untuk
terus berjuang. PKT berhasil mengubah Tiongkok dari negara yang miskin dan
lemah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia. Hanya dalam kurun waktu beberapa dekade, Tiongkok berhasil
menyelesaikan proses industrialisasi yang membutuhkan waktu ratusan tahun
bagi negara-negara maju, serta menciptakan dua keajaiban agung, yaitu
perkembangan ekonomi yang pesat dan stabilitas sosial jangka panjang. Jika
ingin memahami sendi kunci pembangunan Tiongkok, pertama-tama harus memahami
PKT. Pertama, memahami betapa pentingnya kata "rakyat" di
sanubari PKT. Sejak hari kelahirannya, PKT telah mengakar kuat dengan lambang
"rakyat". PKT menjadikan tekad untuk "melayani rakyat dengan
sepenuh hati" sebagai tujuan mendasar partai, dan selalu menanamkan
dalam sanubari bahwa "negara adalah rakyat, dan rakyat adalah
negara". Generasi demi generasi kader PKT telah berjuang tanpa henti, secara
historis memberantas kemiskinan absolut, membangun sistem industri yang
lengkap, serta mendirikan sistem pendidikan dan sistem jaminan sosial
terbesar di dunia, sehingga menorehkan banyak pencapaian yang mengagumkan
bagi dunia. Selama 105 tahun, PKT dengan teguh berdiri bersama rakyat
Tiongkok, berpikir bersama, dan bekerja bersama, serta dengan tindakan nyata
telah meraih dukungan dan sokongan tulus dari rakyat.. Kedua, memahami konotasi zaman dari "Modernisasi ala
Tiongkok" yang dijajaki PKT bersama rakyat. Pembangunan Tiongkok
merupakan proses eksplorasi jalan modernisasi. Di era baru saat ini, PKT
secara konsisten memadukan prinsip-prinsip dasar Marxisme dengan kondisi
nyata Tiongkok serta budaya tradisional Tiongkok yang unggul, sehingga berhasil
memimpin rakyat menemukan jalan Modernisasi ala Tiongkok. Modernisasi ala Tiongkok adalah modernisasi dengan skala populasi yang
sangat besar, modernisasi kemakmuran bersama bagi seluruh rakyat, modernisasi
yang menyelaraskan peradaban material dan spiritual, modernisasi yang
menyerasikan hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dan alam,
serta modernisasi yang menempuh jalan pembangunan damai. Modernisasi ala Tiongkok telah memperluas jalan bagi negara-negara
berkembang untuk menuju modernisasi, serta memberikan pilihan baru bagi
negara dan bangsa yang ingin mempercepat pembangunan sekaligus menjaga
kemandirian sendiri. Ketiga, memahami tekad dan keberanian PKT dalam melakukan
"Revolusi Diri". Dalam perjalanan 105 tahun, PKT telah teruji oleh
berbagai cobaan dan risiko. PKT menyadari dengan jernih bahwa "Untuk
menempa besi, diri sendiri harus kuat". PKT selalu mewaspadai diri
sendiri dengan kesadaran yang kuat akan potensi krisis, menyempurnakan diri
dengan semangat revolusi diri, serta dengan tegas menyingkirkan semua faktor
yang dapat merusak kemajuan dan kemurnian partai. PKT meluncurkan perjuangan antikorupsi yang tiada taranya dalam
sejarah. Dengan mengemban misi "Berani mengorbankan segelintir orang
demi 1,4 miliar rakyat", PKT berkomitmen pada prinsip tanpa zona
terlarang, cakupan menyeluruh, dan toleransi nol. PKT menerapkan strategi
multifaset secara serentak, yaitu "Memukul harimau", "Menepuk
lalat", dan "Memburu rubah". Pada tahun 2025, lembaga inspeksi dan pengawasan disiplin Tiongkok
telah mengajukan total 1,012 juta kasus untuk diselidiki dan menjatuhkan
sanksi kepada 983.000 orang, termasuk 69 pejabat setingkat menteri atau di
atasnya. PKT terus memajukan revolusi diri, meningkatkan kemampuan
kepemimpinan dalam jangka panjang, menjaga hubungan sedarah dengan massa
rakyat, dan senantiasa menjadi inti kepemimpinan yang kuat dalam proses
sejarah. Keempat, memahami kepedulian universal PKT dari visi "Komunitas
Senasib Sepenanggungan Umat Manusia" . Lahir dalam gelombang perjuangan
pembebasan umat manusia, PKT sejak awal berdirinya telah menaruh perhatian
pada masa depan dan nasib umat manusia dengan visi dunia, serta berkomitmen
untuk "memberikan kontribusi baru yang lebih besar bagi umat
manusia". Inisiatif Pembangunan Global, Inisiatif Keamanan Global, Inisiatif
Peradaban Global, dan Inisiatif Tata Kelola Global saling mendukung dan
saling terhubung, memberikan solusi Tiongkok untuk memecahkan masalah global
seperti ketidakseimbangan pembangunan, ketidakstabilan keamanan, ketidakpercayaan
antarperadaban, dan ketidakadilan tata kelola. Tiongkok secara aktif memperluas kemitraan global yang setara,
terbuka, dan kooperatif; konsisten berbagi nasib dan meraih keuntungan
bersama dengan negara-negara tetangga; serta bersatu dan bekerja sama dengan
negara-negara berkembang untuk menjaga kepentingan bersama dari Global South.
Dari bilateral ke multilateral, dari regional ke global, pembangunan
Komunitas Senasib Sepenanggungan Umat Manusia tengah beralih dari inisiatif
Tiongkok menjadi konsensus internasional, berkembang dari "Nyanyian
tunggal" menjadi "Paduan suara bersama." Kesuksesan PKT berakar pada sikapnya yang mengesampingkan prasangka
dan melampaui konfrontasi ideologis. PKT tidak pernah membedakan negara lain
berdasarkan sistem atau jalur pembangunan, serta tidak pernah memaksakan
model pembangunannya sendiri kepada negara lain, melainkan menghormati hak
rakyat semua negara untuk memilih jalan pembangunan mereka secara mandiri. PKT berpendapat bahwa negara-negara dengan peradaban, sistem, dan
tahap pembangunan yang berbeda harus saling bertukar dan belajar dalam
kesetaraan, serta memperluas kerja sama sambil mencari kesamaan di tengah
perbedaan. Pertukaran tata kelola negara antara Tiongkok and Indonesia kian hari
kian mendalam. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara telah melaksanakan
berbagai bentuk pertukaran dan kerja sama seputar isu-isu tata kelola negara,
revitalisasi pedesaan, pengentasan kemiskinan dan pembangunan, serta
peningkatan kapasitas kader. Belum lama ini, Kedutaan Besar Tiongkok bersama dengan kementerian
yang terkait di Indonesia bersama-sama menyelenggarakan acara promosi buku Xi
Jinping: The Governance of China (Jilid V, Versi Bahasa Inggris ), guna
membantu berbagai kalangan di Indonesia memahami lebih dalam konsep
pembangunan dan pengalaman praktis Tiongkok. Kami juga menyelenggarakan program pelatihan seperti "Kelas
Kepala Desa" yang disesuaikan dengan kebutuhan tata kelola daerah di
Indonesia, dengan mengundang kader-kader akar rumput Indonesia ke Tiongkok
untuk mempelajari pembangunan pedesaan, pengembangan industri, dan pengalaman
tata kelola akar rumput, yang telah membuahkan hasil positif. Kedua negara berpegang pada prinsip saling menghormati, saling
belajar, berbagi pengalaman, dan menginspirasi pemikiran dalam pertukaran
tersebut, demi bersama-sama menjajaki jalan pembangunan yang sesuai dengan
kondisi nasional masing-masing. Menatap masa depan, Tiongkok bersedia untuk terus bekerja sama dengan
komunitas internasional, termasuk Indonesia, untuk saling menghormati demi
memperdalam pengertian, saling menguntungkan demi meraih kemenangan bersama,
dan berbagi nasib demi menciptakan masa depan. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar