|
Mahal Murah Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 03 Agustus 2026
Saya bertemu
''anak-anak mahal'' di ulang tahun ke 40 Ferina kemarin.
"Anak
mahal" adalah istilah yang diucapkan oleh mereka yang lahir dari proses
kehamilan bayi tabung.
Sedang Ferina adalah nama
klinik bayi tabung milik seorang dokter yang Anda sudah tahu namanya: Aucky Hinting.
Sampai berumur
40 tahun, Ferina baru dua kali merayakan ulang tahun. Yang pertama saat berumur
25 tahun. Lalu di usia ke 40 kemarin.
Selama 40 tahun
berpraktik dr Aucky sudah berhasil "membuat" bayi sebanyak 20.200.
Salah satunya anak penyanyi top Inul Daratista. Inul sendiri hadir di acara
kemarin: talk show. Dia tampil bersama presenter cantik yang juga
seorang dokter: Lula Kamal. Inul dan Lula ternyata sama-sama punya anak lewat
proses bayi tabung di Ferina.
"Saya
melakukannya berkat informasi dari Mbak Inul," ujar Lula.
Inul sendiri
pernah berusaha punya anak dengan cara itu di Singapura. Tidak berhasil. Suatu
saat dia melihat kertas yang ditaruh suami di atas meja. Rupanya sang suami
sudah membacanya, lalu meletakkannya begitu saja di meja.
Ternyata itu
berisi informasi mengenai bayi tabung di dr Aucky. Begitu bertemu suami Inul
langsung mengajaknya ke Surabaya. Bersamaan dengan Inul ada 20 orang yang juga
menjalani bayi tabung. Dari 20 itu hanya satu yang gagal.
"Saya
kaget. Kok murah sekali," ujar Inul. Tentu bandingannya adalah di luar
negeri. "Waktu itu masih Rp 40 juta," kata Inul.
Inul mengira
itu uang muka. Setelah semuanya beres Inul ke kasir untuk melunasi seluruh
biayanya.
"Ternyata
tidak ada biaya lain-lain lagi," kata Inul. "Teman saya di Amerika
pun sekarang melakukan bayi tabung di Surabaya. "Mereka setengah tidak
percaya begitu murahnya," katanyi. Tentu bila dibandingkan dengan di
Amerika.
Anak Inul
sekarang sudah berusia 17 tahun. "Ganteng dan pandai sekali," kata
Inul. Awal tahun tadi Inul ingin mengajak
anak tunggalnyi umrah. Sudah beli tiket. Lalu pecah perang Israel/Amerika vs
Iran. Batal.
Juara bayi
tabung dr Aucky adalah Elly Darmadji. Dia seorang dokter. Elly tiga kali
menjalani kehamilan bayi tabung. Setiap kalinya kembar dua. Enam anaknya semua
bayi tabung. Selalu sepasang laki-perempuan.
Yang tiga
wanita semuanya dokter: dr Sabrina Darmadji, dr Edwina Darmadji, dan dr Winnie
Darmadji. Sedang tiga laki-laki Edwin, William, dan Wilbert lulusan Australia,
Yokohama dan Binus Jakarta.
Saya bertemu
juga anak mahal lainnya: kembar tiga. Kirana, Kirani, Kinanti. Sudah kuliah
semua. Cantik 5i semua. Ayah mereka, Made, seniman dari Bali.
Sudah delapan
tahun Made menikah tapi belum punya anak. Pernah mencoba bayi tabung di Bali
gagal. Lalu ke dokter Aucky.
Saking inginnya
punya anak suami-istri ini tinggal di Surabaya. Menunggu hamil. Merawat
kehamilan. Melahirkan. "Keluarga dan teman di Bali tidak ada yang tahu
istri saya hamil. Tahu-tahu kami pulang membawa anak kembar tiga," ujar
Made.
Selama proses
itu sang istri tidak mau pulang balik Surabaya-Bali. Takut keguguran. Bahkan
waktu tidur pun sang istri sampai mengganjal pantat dengan bantal. Agar
benihnya jadi. Padahal tidak harus sampai begitu.
"Kuncinya
istri jangan sampai stres," ujar Made saat talks show dipandu Lula
Kamal.
Itu yang
diluruskan oleh Lula Kamal. "Saya sudah mempelajari literatur tentang
stres itu. Ada yang berpengaruh ada pula yang tidak," ujar Lula.
Di acara
kemarin saya juga bertemu ''anak mahal'' yang sangat hebat. Kembar.
Laki-perempuan. Dua-duanya buta. Keduanya diajak sang ayah untuk berfoto
bersama saya.
"Terima
kasih pak Menteri," katanya sambil mengulurkan tangan menyalami saya.
Ups...ternyata ia tahu saya pernah jadi sesuatu.
Ia memang
periang. Bahkan ketika Inul menyanyikan lagu Jawa Pamer Bojo ia ikut
joget-joget sendirian. Tidak tampak minder dengan kekurangan di matanya. Kini
ia kuliah di jurusan pariwisata Universitas Kristen Petra Surabaya.
Kenapa lahir
buta? "Ketika kandungan berumur enam bulan sudah harus dilahirkan. Ada
masalah di kandungan istri," ujar sang ayah.
"Kami
sudah diberi tahu anak kembar kami akan dilahirkan dalam keadaan buta. Di umur
kandungan segitu kornea mata janin belum benar-benar jadi," ujar sang
ayah.
Memang ada
pilihan lain: digugurkan. Tapi ia tidak mau. Bayi itu sudah hidup. Memang masih
di kandungan tapi sudah hidup. Tidak boleh digugurkan. "Kami beragama
Katolik," katanya.
Tentu awalnya
sangat bersedih. Begitu tinggi keinginan punya anak. Begitu dikabulkan
dua-duanya lahir buta. "Akhirnya kami menerima apa yang Tuhan
berikan," katanya.
Dokter Aucky
adalah alumnus SMA St Louis yang kemudian kuliah kedokteran di Universitas
Airlangga. Ia mendalami bayi tabung di Belgia. Di sanalah kali pertama Aucky
mempraktikkan bayi tabung. "Yang pertama gagal. Yang kedua gagal. Yang
ketiga juga gagal. Baru yang keempat berhasil," katanya.
Aucky punya dua
anak: perempuan dan laki-laki. Yang perempuan menjadi dokter ahli kandungan di
Amerika. Dia lulusan McGill, Montreal, Kanada. Sedang yang laki-laki menjadi
ahli laboratorium bayi tabung dan ikut terjun di Ferina –Fertilitas Indonesia.
''Anak-anak
mahal'' itu tentu tidak terasa mahal lagi kalau kelak hidup mereka sukses
–punya penghasilan jauh lebih tinggi dari orang tua mereka. Mahal dan murah
kadang bisa menjadi murah dan mahal. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/960601/mahal-murah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar