|
Gaza, Runtuhnya Hegemoni Barat, dan Pembentukan Poros Ketiga Fahmi Salim : Direktur
Baitul Maqdis Institute. |
REPUBLIKA, 10 Juli 2026
|
Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja, atau lebih tepatnya,
sedang bersiap berganti baju sejarah. Genosida yang berlangsung di Jalur Gaza
sejak akhir 2023 bukan sekadar tragedi kemanusiaan lokal; ia adalah titik
balik (inflection point) yang menelanjangi retorika usang peradaban Barat
modern. Di saat yang sama, ketegangan regional antara Iran dan Israel, serta
perang dingin geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, menegaskan satu
hal: tatanan dunia unipolar yang dipimpin Washington sedang berada di ruang
tunggu keruntuhannya. Mantan Direktur stasiun TV Al Jazeera, Wadah Khanfar, baru-baru ini
dalam Al Sharq Youth Podcast pada 9 Juli 2026 memberikan peringatan keras.
Beliau melihat adanya retakan besar dalam arsitektur kekuasaan global. Bagi
publik dunia Islam, fenomena ini bukanlah kejutan tanpa pola. Jauh sebelum sosiolog Barat merumuskan Thucydides Trap—kondisi ketika
kekuatan lama (AS) merasa terancam oleh kebangkitan kekuatan baru
(Tiongkok)—Al-Qur’an telah menetapkan hukum besi sejarah yang absolut:
‘Sunnatullah at-Tadawul’ (hukum pergiliran peradaban). "...Dan masa-masa
(kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran)..." (QS. Ali 'Imran: 140) Ilusi Moralitas Barat dan Jebakan Sun Tzu Selama hampir satu abad, Barat mendikte dunia melalui instrumen ganda:
superioritas militer-ekonomi (hard power) dan narasi moral universal seperti
HAM, demokrasi, dan hukum internasional (soft power). Namun, pembiaran—bahkan
dukungan mutlak—AS dan sebagian Eropa terhadap kebrutalan Israel di Gaza
telah meruntuhkan tiang moral tersebut. Barat hari ini kembali ke watak aslinya
di era kolonial: peradaban yang mempertahankan dominasi lewat unjuk kekuatan
dan standar ganda yang vulgar. Di panggung global yang lebih luas, AS yang panik mulai terjebak dalam
perilaku agresif demi mempertahankan hegemoninya. Mereka menggunakan sanksi
sepihak dan ancaman militer. Sebaliknya, Tiongkok bermain dengan filosofi
"Kesabaran Strategis" ala Sun Tzu: memenangkan pertempuran tanpa
harus menembakkan peluru utama. Pelemahan dominasi ini bukan sekadar narasi, melainkan kalkulasi
matematis yang riil: 1. Dedolarisasi Nyata: Berdasarkan data IMF, pangsa dolar AS dalam
cadangan devisa global telah turun dari sekitar 71% pada tahun 1999 menjadi
di bawah 58% belakangan ini. Sistem pembayaran alternatif non-SWIFT dan
penggunaan Yuan atau mata uang lokal dalam transaksi minyak (seperti
petroyuan) perlahan menggerogoti senjata ekonomi paling mematikan milik
Washington. 2. Monopoli Keamanan yang Retak: Strategi Israel untuk memonopoli daya
tangkal (deterrence) di Timur Tengah kini menghadapi jalan buntu. Langkah
agresif Tel Aviv justru memicu kesadaran baru di negara-negara tetangga,
termasuk Turki, bahwa ambisi eksistensial Israel adalah ancaman langsung bagi
keamanan nasional kolektif, bukan lagi sekadar urusan domestik Palestina. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar