|
Bukan Tamu di Negeri Ini Haryo
Damardono : Pemimpin Redaksi Harian Kompas. |
KOMPAS, 17 Agustus 2026
|
Tema cukup provokatif ini secara sadar dipilih. Frasa itu adalah
mantra penguat diri atas realitas ekonomi dan sosial yang kita semua harus
hadapi di negeri ini. Enam belas artikel opini—17 tulisan, bila pengantar ini dihitung,
disajikan tepat di hadapan Anda, para pembaca yang budiman di edisi ini.
Mereka, para pemikir Indonesia, ini diundang untuk berbagi gagasan di edisi
tematik hari ulang tahun Republik Indonesia. Dengan penuh kesadaran, diwarnai satu, dua perdebatan, Harian
Kompas menghadirkan pemikir yang beragam. Mulai dari seorang menteri
koordinator, aktivis, ekonom, asisten khusus Presiden, guru besar, peneliti
hingga kepala lembaga negara. Jalan hidup mereka berbeda-beda—yang melandasi perdebatan tadi.
Latar belakangnya jelas beragam. Jangan heran bila kemudian suaranya tidak
seragam. Namun, sebagaimana paduan suara dengan berbagai jenis suara yang
saling melengkapi, kiranya edisi ini tetap dapat dinikmati mendalam. Demi negeri ini, ada baiknya, kita senantiasa membuka diri dengan
segala perbedaan. Tidak pula menghakimi satu sama yang lain. Begitulah juga
karakter para pendiri Republik ini sejak semula. Kita pun meyakini, para
pemikir ini mempunyai kesamaan visi untuk memajukan bangsa ini. Dengan
begitu, kita hargai masing-masing perjalanan yang mereka tempuh. Perjumpaan demi perjumpaan, termasuk dalam edisi khusus ini,
akhirnya harus dimaknai sebagai sarana untuk saling berbagi, saling belajar
hingga saling menguatkan demi percepatan pencapaian dari tujuan-tujuan
bernegara. Tulisan dari tiap pemikir pun akhirnya saling melengkapi bukannya
saling menegasikan keberadaan satu sama lainnya. Tema yang terbilang provokatif, ”Bukan Tamu di Negeri Ini”,
dipilih dengan kesadaran penuh. Diusulkan oleh teman-teman generasi muda di
harian ini. Tema tersebut ternyata makin dan sangat relevan bagi mereka.
Generasi muda, baik milenial maupun Gen Z, ternyata lebih kerap merasa
sebagai tamu di negeri ini daripada generasi senior di negeri ini. Ketimpangan struktural serta persaingan yang menggila, telah
membuat mereka seolah adalah ”tamu”. Kenaikan harga properti, yang tak
diimbangi dengan laju kenaikan upah menyebabkan mereka menjadi ”tamu” di
apartemen, kos-kosan, hingga rumah petak. Sebelum tabungan menggunung—entah
kapan itu terjadi, mereka sungguh jadi tamu, sekadar ”numpang” hidup. Frasa ”Bukan Tamu di Negeri Ini”, tegasnya tak sekadar gugatan
filosofis. Frasa itu adalah mantra penguat diri atas realitas ekonomi dan
sosial yang mereka harus hadapi. Realitas yang makin lama makin sulit
disembunyikan di bawah karpet kamar tidur bahkan kamar tamu sekalipun. Melalui opininya, Zainal Arifin Mochtar, Guru Besar Hukum Tata
Negara FH UGM seperti mengingatkan kita semua. ”Memanusiakan hukum dan
memanusiakan kemerdekaan. Bukan menegarakan hukum, bukan menegarakan
kemerdekaan.” Adapun Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Indonesia,
Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan langsung menukik ke pokok perkara,
soal ”tamu”. Begini tulisnya, ”Kami—presiden, menteri, pejabat, dan staf
seperti saya—dipercayakan kunci rumah ini untuk waktu terbatas. Kunci itu
bukan sertifikat kepemilikan, tetapi amanah untuk merawat rumah dan
memastikan tidak ada penghuninya yang tersisih.” Sejak ribuan tahun lalu, Nusantara, kepulauan ini dihuni oleh
berbagai suku bangsa. Ada begitu banyak pintu masuk, ada begitu banyak ruang.
Tidak ada pula penghuni maupun pemilik tunggal di negeri ini. Begitu
kemerdekaan kita raih bersama maka ketika itu pula kita punya hasrat untuk
menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tepat pula yang ditulis oleh Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri
Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI. ”Delapan
puluh satu tahun setelah Proklamasi, pertanyaan penting bagi kita bukan lagi
sekadar apa yang telah dibangun? Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa
yang benar-benar merasakan manfaatnya?” tulisnya. Untuk menjawab pertanyaan itu, jelas tidak dapat hanya dengan menuliskan
apa-apa saja yang dibangun. Bukan sekadar berapa meter kubik beton yang sudah
dicor, atau berapa kilometer jalan yang sudah diaspal. Agus Yudhoyono telah
bicara soal kualitas. Dalam artikelnya yang berjudul, ”Moderasi Harapan”, akademisi
Ariel Heryanto, kemudian menyoroti soal ratapan sebagian warga akibat lahir
sebagai WNI. Becanda atau tidak, kata Ariel, hal ini tidak biasa. Barangkali
dengan getir, dia menulis, ”Adakah jalan alternatif yang dapat menyelamatkan
harapan publik di Tanah Air-nya sendiri?” Kita semua yang harus menjawabnya. Kita semua—yang bukan tamu di
negeri ini. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/bukan-tamu-di-negeri-ini?open_from=Tajuk_Rencana_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar