|
Satpam MBG Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 25 Juli 2026
Setelah libur
panjang, Makan Bergizi Gratis (MBG) jalan lagi. Perubahan yang pasti bisa lebih
menghemat adalah: tidak ada lagi MBG di hari Sabtu. Sebulan hanya 20 hari.
Penghematan
lain sebenarnya ada: jangan lagi ada MBG untuk siswa SMA. Cukuplah SD dan SMP.
Tampaknya masih harus cari momentum untuk menuju ke sana.
Putusan sampai
SMA memang terlalu ambisius. Keadaan ekonomi saat keputusan itu dibuat memang
memungkinkan: belum ada perang Amerika-Iran. Meski ekonomi dunia kemudian
memburuk, MBG SMA sulit dihentikan. Anak yang tahun ini SMA sudah akan jadi
pemilih di pilpres 2029.
Penghematan
yang juga bisa segera dilakukan adalah: memenuhi kuota ''satu dapur untuk 3.000
siswa''.
Sekarang ini
masih sedikit yang satu dapur melayani 3.000 siswa. Kebanyakan di sekitar
2.000. Ada juga yang di bawah 1.500. Padahal kapasitas semua dapur MBG dibuat
3.000. Pembayaran dari Badan Gizi Nasional (BGN) ke investor juga didasarkan
pada 3000 siswa.
Kalau itu
dilakukan bisa jadi jumlah dapur akan berkurang banyak. Itu memang penghematan
besar. Tapi juga tidak mudah. Investasi sudah ditanam. Apalagi masih banyak
dapur yang sudah siap jalan belum dapat perintah operasional. Di situ sudah ada
kepala dapurnya: sudah dibayar setiap bulan. Nganggur.
Untuk memenuhi
kuota 3.000 siswa/dapur tidak mudah. Tapi bisa. Misalnya ditambah dengan
ibu-ibu hamil di sekitar dapur dan anak-anak balita di sana. Memberi makan
bergizi ibu hamil dan anak balita lebih tepat dibanding ke anak SMA.
Sebenarnya
masih banyak juga problem operasional sehari-hari. Salah satunya yang
diceritakan sahabat Disway di bawah ini:
"Saya
kebetulan bekerja sebagai 'satpam' MBG. Mengawasi dan mendampingi lebih 20
dapur. Dari pembangunan sampai sistem berjalan. Untuk memastikan agar sesuai
dengan juknis aturan.
Di alam nyata,
banyak kendalanya. Bersumber dari aturan yang disusun terburu-buru. Dipaksa
matang, sebelum waktunya. Sering berubah arah.
Aturan yang
belum teruji di lapangan ini dijalankan oleh para sarjana fresh graduate, minim
pengalaman. Berbekal pelatihan 1 bulan. Plus 2 bulan baris berbaris, dan
latihan perang-perangan.
Mungkin mereka
hafal juknis. Namun kebanyakan gaya komunikasinya, strategi manajemen, dan
kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya masih jauh dari ideal.
Kurangnya
pengalaman, kebuntuan komunikasi, dan wewenang kekuasaan membuat kebanyakan
dari mereka menjadi arogan. Mereka harus berhadapan dengan mitra yang merasa
memiliki karena telah keluar banyak uang. Apalagi mitra itu terlilit utang
untuk investasi yang harus segera dibayar.
Mereka bisa
membuat laporan terjadinya masalah. Langsung ke BGN. Lalu dapur di-suspend.
Ajaibnya, tidak
ada aturan pemotongan gaji, jika dapur mereka berhenti. Maka laporan kejelekan
yayasan mengalir silih berganti, tanpa merasa terbebani. Kepala dapur selaksa
malaikat pencatat amal, yang tidak ikut berdosa. Jika dapur di-suspend, tinggal
makan gaji buta.
Yang juga aneh
adalah tidak adanya tingkat kepangkatan. Flat, tanpa jenjang.
Korcam dan
korwil itu hanya sebutan. Sehari-harinya mereka sama, kepala dapur juga. Hanya
mendapatkan tambahan tanggung jawab. Seperti siswa yang jadi ketua kelas.
Memang ada
KPPG, yang bertindak seperti guru BK. Tapi jalur pelaporannya, harus melalui
korcam dan korwil. Sulit lolos, tanpa orang dalam.
Di sisi lain,
mitra dan yayasan kebanyakan berusaha se-ngirit mungkin dalam membangun. Ada
yang jauh dari desain BGN. Seadanya, sekenanya. Tambal sulam sana sini. Yang
penting berdiri.
Peralatan juga
sama, yang penting ada. Jangan bicara kualitasnya. Kecuali yayasan yang
bermitra dengan investor besar ternama.
Kenapa yang
seperti itu bisa lolos verifikasi?
Mungkin karena
tim di lapangan juga belum pernah melihat dapur MBG yang ideal seperti yang
digambarkan juknis. Hampir semua yang ditemui adalah rumah atau gudang tua yang
dimodifikasi. Kecuali MBG-nya TNI dan Polri.
Juga target
kuota yang harus segera terpenuhi, waktu itu.
Carut marut ini
kemudian berlanjut saat beroperasi. Masing-masing pihak merasa paling berjasa,
paling berhak mendapat untung. Dengan berbagai cara, jika perlu memaksa.
Sudah cukup
kita dengar pengurus yayasan yang didakwa korupsi. Yang sering luput dari
pemberitaan adalah kepala dapur itu sendiri.
Di pelosok
sana, posisinya seperti raja. Melakukan dan minta apa saja sekehendaknya.
Banyak di antaranya yang terang terangan minta bagian sisa belanja. Bahkan yang
minta dibelikan motor juga ada.
Belum lagi para
makelar dan ormas. Diam-diam kantongnya bisa paling tebal, tanpa ikut modal.
Makanya untuk
proyek strategis seperti ini, seharusnya dipimpin oleh tokoh yang punya rekam
jejak perbaikan sistem manajemen. Dan berintegritas penuh, seperti Bu Susi, Pak
Jonan, atau ...". ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/959093/satpam-mbg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar