|
Pilah-Pilih
Menteri Keuangan Bagja Hidayat : Wakil Pemimpin Redaksi Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026
|
· Prabowo memanggil tiga orang yang
dikabarkan sebagai calon Menteri Keuangan yang baru. · Penggantian Menteri Keuangan diharapkan
dapat memulihkan rontoknya kepercayaan pasar pada cara pemerintah mendesain
kebijakan ekonomi. · Problemnya bukan pada siapa yang
menjadi Menteri Keuangan, melainkan ketidakmauan Prabowo menyetop pemborosan
anggaran. EKONOMI
tampak sebagai ilmu yang rumit dengan jargon dan angka. Padahal, “Ekonomi
jauh lebih sederhana dan lebih praktis dari apa yang selama ini kita
percayai.” Itu kata Thomas Sowel, ahli ekonomi Stanford University,
California, Amerika Serikat. Kalau kata Ha-Joon Chang, ekonom Cambridge
University, Inggris, dalam Economics: The User’s Guide, “Sembilan puluh lima
persen ilmu ekonomi adalah akal sehat.” Jika
ingin menambahkan, sebaiknya kita kutip Chatib Basri. Ia ekonom Universitas
Indonesia yang baru pulang dari Harvard University, Amerika Serikat, sebagai
dosen tamu. Chatib juga pernah menjabat Menteri Keuangan pada era Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono. Baru-baru
ini ia memberikan kuliah dalam sebuah forum. Dia menerangkan, tugas Menteri
Keuangan sederhana saja: naikkan, potong, pinjam. Naikkan mengacu pada
penerimaan pajak dan bukan pajak. Ini sumber pendapatan untuk membiayai
belanja, pembangunan, dan segala keperluan menggerakkan manajemen negara. Jika
tidak bisa menaikkan penerimaan, ya, potong belanjanya sehingga pendapatan
yang ada cukup mengongkosi pengeluaran. Apabila masih mungkin, cari pinjaman.
Tapi berutang selalu ada biaya, yaitu bunga dan imbal hasil agar orang
tertarik meminjamkan uang mereka. Lagi pula utang harus dibayar di kemudian
hari. Tetap mengandalkan penerimaan. Tugas
Menteri Keuangan pada era Prabowo Subianto menjadi rumit karena urusan
politik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa selalu bilang kondisi
fundamental ekonomi Indonesia kuat di tengah kurs rupiah yang melemah dan
Indeks Harga Saham Gabungan yang merosot. Selebihnya, ia menyalah-nyalahkan
Bank Indonesia karena kemerosotan itu. Padahal rupiah dan IHSG hanya gejala,
sumber masalahnya ada di kondisi fiskal. Cirinya,
defisit yang melonjak. Baru triwulan pertama saja, coceng anggaran sudah 0,93
persen atau Rp 240 triliun akibat belanja ugal-ugalan Rp 851 triliun. Jika
penerimaan tak mencapai target tapi defisit naik, artinya belanjanya
kebanyakan. Maka siapa pun yang punya portofolio di pasar keuangan Indonesia
akan cemas, jangan-jangan Indonesia akan bangkrut. Berutang
pun bukan pilihan ketika Indonesia dianggap miskin. Kalaupun ada yang mau
memberi pinjaman, mereka pasti meminta bunga tinggi karena risikonya besar.
Itu yang terjadi ketika pemerintah menjajakan surat berharga negara. Imbal
hasilnya besar sekali. Maka
yang paling realistis sekarang adalah memangkas belanja yang tak perlu. Apa
itu? Makan bergizi gratis, koperasi merah putih, dan pembelian alat
pertahanan yang mahal. Ketiganya tak mendorong ekonomi masyarakat. Proyek
makan bergizi malah dikorupsi. Jadi,
seperti kata editorial Tempo, siapa pun Menteri Keuangan tak penting karena
tiga sumber belanja besar itu adalah proyek prioritas Presiden Prabowo. Jika
dia sendiri yang mengumumkan penyetopan tiga pos belanja itu, rupiah dan IHSG
bakal kembali naik. Apa buktinya? Akhir
pekan lalu, rupiah dan IHSG menguat. Ada beberapa penyebab: anggaran MBG
dipangkas dari Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun, biaya mendirikan
koperasi merah putih dipotong separuh, Bank Indonesia dibolehkan menaikkan
suku bunga, dan rumor Danantara tak jadi memonopoli ekspor. Ada juga faktor
luar seperti harga minyak yang turun karena Amerika berjanji tak menyerang
Iran lagi. Faktor luar bisa kita abaikan karena di luar jangkauan. Pelaku
pasar bereaksi positif terhadap tiga hal yang terjadi di dalam negeri itu
saja. Artinya,
kesehatan fiskal paling utama yang menjadi perhatian pelaku pasar, juga
intervensi pemerintah terhadap independensi bank sentral. Selain itu,
perdagangan dan transaksi ekonomi diserahkan kepada mekanisme pasar. Sebetulnya
Prabowo bisa menjadi pahlawan seandainya dia membuat keputusan ini: menyetop
MBG dengan dalih ada korupsi di Badan Gizi Nasional. Keputusan ini akan
dibaca sebagai kepedulian Presiden terhadap perkembangan terbaru. Penangkapan
Kepala BGN mengkonfirmasi temuan media dan dugaan banyak orang bahwa BGN
adalah “bancakan gizi nasional”. Skala korupsinya harian. Prabowo
tak perlu repot-repot mengganti Menteri Keuangan. Cukup potong belanja besar,
alihkan ke proyek padat karya, kurangi pidato tak perlu, lalu jalankan
penghematan dan berfokus pada pembukaan lapangan kerja. Tapi
agaknya ekonomi jadi tampak rumit di meja Presiden yang punya banyak kemauan
dengan konsep yang tak masuk logika ekonomi, tak diuji dengan kajian, dan
kesediaan mendengar pendapat orang. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-penganti-menteri-keuangan-2269078 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar