|
Menyelamatkan Kelas Menengah Mohammad
Nur Rianto : Dosen dan Peneliti
di UIN Syarif Hidayatullah dan CSEAS Indonesia. |
KOMPAS.COM, 05 Juni 2026
|
DI
BERBAGAI kota di Indonesia, keluhan yang paling sering terdengar dari
masyarakat kelas menengah saat ini bukan lagi soal bagaimana meningkatkan
kesejahteraan, melainkan bagaimana mempertahankan standar hidup yang sudah
mereka miliki. Gaji
naik, tetapi tabungan terasa stagnan. Pendapatan bertambah, tetapi
pengeluaran meningkat lebih cepat. Belanja
bulanan semakin mahal, biaya pendidikan terus melonjak, cicilan rumah
membebani, sementara biaya kesehatan dan transportasi terus menggerus
pendapatan keluarga. Fenomena
tersebut memunculkan pertanyaan besar, yaitu mengapa hidup terasa semakin
mahal bagi kelas menengah? Pertanyaan
ini menjadi semakin relevan ketika berbagai data menunjukkan bahwa jumlah
kelas menengah di Indonesia justru mengalami penyusutan dalam beberapa tahun
terakhir. Data
yang diolah dari BPS menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari sekitar 57
juta orang pada 2019 menjadi sekitar 47,9 juta pada 2024, lalu kembali turun
menjadi sekitar 46,7 juta pada 2025. Pada
saat yang sama, kelompok masyarakat yang dikategorikan sebagai aspiring
middle class atau calon kelas menengah justru terus bertambah. Data
ini menunjukkan bahwa semakin banyak keluarga yang berada di ambang batas
kelas menengah dan rentan untuk turun kelas ketika menghadapi guncangan
ekonomi. Di
balik angka-angka tersebut tersimpan cerita yang lebih besar tentang
perubahan struktur ekonomi Indonesia. Kelas
menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi nasional menghadapi tekanan
dari berbagai arah secara bersamaan. Mereka
tidak lagi hanya berhadapan dengan inflasi, tetapi juga dengan perubahan
pasar kerja, kenaikan biaya hidup, serta ekspektasi sosial yang semakin
tinggi. Banyak
orang mengira mahalnya hidup semata-mata disebabkan oleh inflasi. Namun,
kenyataannya tidak sesederhana itu. Bahkan
pada beberapa periode, Indonesia mencatat inflasi yang relatif rendah. Pada
Januari 2025, misalnya, Indonesia mengalami deflasi tahunan yang cukup
rendah, sementara beberapa kelompok pengeluaran, seperti makanan, kesehatan,
transportasi, dan jasa, tetap mengalami kenaikan harga. Inilah
paradoks yang dirasakan oleh kelas menengah. Secara statistik, inflasi
mungkin terkendali, tetapi dalam kehidupan sehari-hari biaya yang paling
sering mereka keluarkan justru terus meningkat. Keluarga
kelas menengah umumnya mengalokasikan pengeluaran untuk lima kebutuhan utama
seperti perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, serta makanan dan
gaya hidup. Masalahnya,
kelima komponen tersebut sering mengalami kenaikan harga yang lebih cepat
dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan riil masyarakat. Biaya
sekolah berkualitas terus meningkat setiap tahun. Premi asuransi kesehatan
meningkat. Harga
rumah di kawasan perkotaan semakin sulit dijangkau. Ongkos transportasi
meningkat seiring dengan kenaikan biaya operasional. Bahkan
harga makanan di restoran dan pusat perbelanjaan meningkat secara bertahap. Akibatnya,
masyarakat merasakan apa yang disebut krisis biaya hidup, meskipun inflasi
nasional terlihat rendah. Salah
satu penyebab utama hidup terasa semakin mahal adalah pertumbuhan pendapatan
yang tidak mampu mengejar pertumbuhan biaya hidup. Dalam
teori ekonomi, kesejahteraan tidak ditentukan oleh besarnya pendapatan
nominal, melainkan oleh pendapatan riil, yaitu kemampuan pendapatan tersebut
untuk membeli barang dan jasa. Misalnya,
seseorang memperoleh kenaikan gaji sebesar 5 persen per tahun. Jika
biaya pendidikan anak naik 10 persen, biaya kesehatan naik 8 persen, dan
biaya perumahan naik 12 persen, maka secara riil daya belinya justru menurun. Fenomena
ini banyak dialami oleh kelas menengah di Indonesia. Lulusan
perguruan tinggi yang dahulu berharap memperoleh kehidupan yang lebih baik
kini menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif. Data
menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan lulusan pendidikan tinggi tidak selalu
mencukupi untuk mempertahankan status kelas menengah ketika harus menanggung
keluarga dan biaya hidup di perkotaan. Di
sisi lain, banyak perusahaan mulai melakukan efisiensi melalui digitalisasi
dan otomatisasi. Pekerjaan
yang dahulu membutuhkan banyak tenaga kerja kini dapat digantikan oleh
teknologi. Akibatnya,
kenaikan pendapatan tidak lagi secepat pada dekade sebelumnya. Kelas
menengah menghadapi situasi yang unik. Kelompok masyarakat miskin masih
menerima berbagai bantuan sosial dari pemerintah. Kelompok
kaya memiliki aset yang mampu menghasilkan pendapatan tambahan. Namun, kelas menengah sering berada dalam
posisi yang serba dituntut. Mereka
dianggap terlalu mampu untuk menerima bantuan sosial. Namun, pada saat yang
sama mereka belum cukup kaya untuk memiliki perlindungan aset yang kuat. Ketika
harga kebutuhan pokok naik, mereka harus menanggung seluruh beban tambahan
tersebut sendiri. Ketika
anak masuk sekolah, mereka membayar biaya pendidikan penuh. Ketika
sakit, mereka harus mengeluarkan biaya kesehatan yang tidak sedikit. Ketika
kehilangan pekerjaan, mereka sering kali tidak memiliki jaring pengaman yang
memadai. Posisi
inilah yang membuat kelas menengah sering disebut sebagai kelompok yang
paling rentan terhadap tekanan ekonomi. Dahulu
kepemilikan rumah merupakan simbol keberhasilan kelas menengah. Kini rumah
justru menjadi sumber tekanan terbesar. Di
berbagai kota besar di Indonesia, harga properti meningkat jauh lebih cepat
dibandingkan dengan kenaikan pendapatan masyarakat. Akibatnya,
generasi muda harus menabung lebih lama untuk membeli rumah pertama. Bahkan
banyak yang akhirnya memilih tinggal di rumah kontrakan atau apartemen sewa. Bagi
yang sudah memiliki rumah melalui KPR, kenaikan suku bunga dan cicilan
menjadi beban tambahan. Fenomena
ini menciptakan generasi kelas menengah yang memiliki pendapatan cukup baik,
tetapi tidak memiliki aset produktif yang memadai. Padahal
kepemilikan aset merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga stabilitas
ekonomi rumah tangga dalam jangka panjang. Kelas
menengah sangat percaya bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju mobilitas
sosial. Karena
itu, mereka rela mengalokasikan sebagian besar pendapatan untuk pendidikan
anak-anak. Masalahnya,
biaya pendidikan berkualitas meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan
gaji rata-rata. Tidak
hanya uang sekolah yang harus disiapkan. Selain itu, ada pula biaya buku,
kursus tambahan, pelatihan digital, kegiatan ekstrakurikuler, hingga
persiapan masuk perguruan tinggi. Akibatnya,
pendidikan yang seharusnya menjadi investasi masa depan sering kali berubah
menjadi sumber tekanan finansial bagi keluarga kelas menengah. Ironisnya,
meskipun biaya pendidikan terus meningkat, tidak ada jaminan bahwa lulusan
akan memperoleh pekerjaan dengan pendapatan tinggi. Kondisi
inilah yang memunculkan fenomena overeducated but underpaid, yakni individu
yang memiliki pendidikan tinggi tetapi memperoleh pekerjaan dengan upah yang
tidak sebanding. Terdapat
faktor lain yang sering luput dari perhatian, yaitu perubahan gaya hidup.
Dalam era digital, konsumsi tidak lagi hanya soal kebutuhan, tetapi juga
identitas sosial. Media
sosial mendorong masyarakat untuk terus membandingkan diri dengan orang lain.
Liburan, gadget terbaru, restoran populer, hingga tren fesyen menjadi simbol
status. Banyak
pengeluaran kecil yang tampak tidak signifikan, tetapi jika dikumpulkan
menghasilkan beban besar. Langganan
platform digital, layanan hiburan daring, aplikasi transportasi, layanan
pesan antar makanan, dan berbagai bentuk konsumsi digital lainnya perlahan
menggerus pendapatan. Ekonom
menyebut fenomena ini sebagai lifestyle inflation, yaitu peningkatan
pengeluaran yang mengikuti kenaikan pendapatan. Ketika
pendapatan naik, standar hidup ikut meningkat. Akibatnya, tabungan tidak
bertambah secara signifikan. Persoalan
terbesar kelas menengah sebenarnya bukan inflasi, melainkan kualitas
pekerjaan. Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menciptakan
lapangan kerja formal dengan upah yang tinggi. Berbagai
studi menunjukkan bahwa penyusutan kelas menengah berkaitan erat dengan
melemahnya sektor manufaktur, berkurangnya pekerjaan formal, dan meningkatnya
pekerjaan informal dengan produktivitas rendah. Selama
dua dekade terakhir, sektor manufaktur yang dahulu menjadi mesin pencipta
kelas menengah tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan kebutuhan tenaga
kerja. Akibatnya,
banyak pekerja terjebak pada pekerjaan berupah rendah atau pekerjaan kontrak
dengan tingkat kepastian yang rendah. Situasi
ini membuat banyak keluarga kesulitan meningkatkan kesejahteraan meskipun
ekonomi nasional tetap tumbuh. Menyusutnya
kelas menengah bukan hanya masalah individu. Kondisi ini merupakan masalah
ekonomi nasional. Kelas
menengah merupakan penggerak utama konsumsi rumah tangga. Ketika daya beli
mereka melemah, pertumbuhan ekonomi ikut melambat. Berbagai
kajian menunjukkan bahwa pelemahan konsumsi kelas menengah mulai menjadi
perhatian serius karena konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar
terhadap PDB Indonesia. Pelemahan
konsumsi berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka
panjang. Jika
kelas menengah terus menyusut, Indonesia akan menghadapi risiko yang dikenal
sebagai middle-income trap atau jebakan pendapatan menengah. Negara
mampu keluar dari kemiskinan, tetapi gagal menjadi negara maju karena tidak
berhasil membangun kelas menengah yang kuat dan produktif. Mengatasi
mahalnya hidup bagi kelas menengah tidak cukup dilakukan melalui bantuan
jangka pendek. Strategi yang dibutuhkan adalah reformasi struktural. Pertama,
pemerintah perlu mempercepat penciptaan lapangan kerja formal yang
berkualitas. Sektor
manufaktur padat karya modern, ekonomi digital, industri kreatif, dan ekonomi
hijau harus menjadi sumber pertumbuhan baru yang mampu menciptakan pekerjaan
dengan upah layak. Kedua,
akses terhadap perumahan harus diperluas. Program rumah terjangkau bagi kelas
menengah perlu diperkuat melalui skema pembiayaan yang lebih inovatif dan
bunga yang kompetitif. Ketiga,
biaya pendidikan harus lebih terkendali. Pemerintah perlu memperluas dukungan
pendidikan berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau agar keluarga tidak
menghabiskan sebagian besar pendapatannya hanya untuk sekolah. Keempat,
perlindungan sosial bagi kelas menengah perlu diperkuat. Selama
ini perhatian lebih banyak diberikan kepada kelompok miskin. Padahal
kelas menengah juga membutuhkan instrumen perlindungan ketika menghadapi
kehilangan pekerjaan, sakit, atau krisis ekonomi. Kelima,
literasi keuangan harus ditingkatkan. Kelas menengah perlu didorong untuk
membangun aset produktif melalui investasi, dana pensiun, dan instrumen
keuangan yang sehat agar tidak sepenuhnya bergantung pada pendapatan bulanan. Pada
akhirnya, hidup yang terasa semakin mahal bukan semata-mata karena harga
barang yang naik. Persoalannya
jauh lebih kompleks. Yang terjadi adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan
biaya hidup dan pertumbuhan pendapatan, antara harapan sosial dan realitas
ekonomi, serta antara kebutuhan masa depan dan kemampuan finansial saat ini. Penyusutan
kelas menengah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi sinyal bahwa
ada persoalan struktural yang perlu segera diatasi. Jika
kelompok ini terus tertekan, yang terancam bukan hanya kesejahteraan jutaan
keluarga, tetapi juga fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sendiri. Kelas
menengah selama ini adalah mesin utama konsumsi, investasi pendidikan, dan
stabilitas sosial. Menjaga
kekuatan mereka bukan sekadar urusan ekonomi rumah tangga, melainkan
investasi strategis bagi masa depan bangsa. Sebab
negara yang ingin menjadi negara maju membutuhkan satu syarat penting yaitu
kelas menengah yang kuat, produktif, optimistis, dan tidak terus-menerus
merasa bahwa hidup semakin mahal dari hari ke hari. ● |
Sumber
: https://money.kompas.com/read/2026/06/05/103000826/menyelamatkan-kelas-menengah?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar