Jumat, 19 Juni 2026

 

Kita Adalah Makhluk Infosfer

Ayu Utami :  Bekerja di dunia sastra sebagai penulis, kurator dan direktur Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Komunitas Salihara

TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026

 

 

                                                           

·      Manusia tak lagi hidup di area biosfer atau atmosfer, tapi infosfer, dalam informasi.

 

·      Akal imitasi pun bisa menjadi sesembahan baru, terutama bagi mereka yang gemar memuja.

 

·      Kolonialisme tak lagi menjajah tubuh, tapi melakukan apropriasi data yang mengubah kehidupan personal menjadi informasi.

 

FILSAFAT yang dibutuhkan hari ini, menurut Luciano Floridi, bukan filsafat yang timeless, melainkan filsafat yang timely. Bukan yang abadi, melainkan yang inilah saatnya. Sekaranglah, kata dia, waktu kita menyadari dunia terbangun di atas informasi. Kita hidup tak lagi dalam biosfer atau atmosfer, tapi dalam “infosfer”. Makhluk di dalamnya adalah “organisme informasi” atau “inforg”, yang bukan hanya manusia, melainkan juga nonmanusia. Yang dimaksud nonhuman terutama adalah akal imitasi (AI).

 

Floridi filsuf berlatar sains komputer. Ia menulis tetralogi Filsafat Informasi, Logika Informasi, Etika Informasi, dan, yang belum terbit, Politik Informasi. Membaca buku-buku ini, saya seperti masuk ke alam yang digambarkan science fiction, yang anehnya sudah terjadi tanpa saya sadari. Apa-apa yang dalam kehidupan sehari-hari kita pahami secara intuitif coba ia rumuskan dalam perhitungan matematis agar inforg nonhuman—organisme yang bukan manusia ataupun hewan—bisa memprosesnya. Ia seperti mencoba menerjemahkan bahasa manusia yang asosiatif ke dalam bahasa biner.

 

Meski menyebutnya organisme—ya, inforg—Floridi tidak melihat AI sebagai makhluk yang berkesadaran (sentient being). Ini membedakan dia dengan Geoffrey E. Hinton, pemenang Hadiah Nobel Fisika 2024. Penemu mesin pembelajaran dengan jaringan saraf tiruan—teknologi yang memungkinkan AI—itu kini melihat AI memiliki kesadaran sendiri yang tak bisa diprediksinya lagi.

 

Dengan mata yang tampak prihatin dan bernubuat, Hinton, dalam banyak wawancara, mengatakan ia sedih terlibat dalam pengembangan teknologi ini, yang sangat jelas menuju otoritarianisme. Hinton seperti Tuhan, atau setidaknya Dr Frankenstein dalam novel Mary Shelley, menyadari ciptaannya bisa berpikir dan bertindak di luar kendalinya dan menjadi buas.

 

Floridi berbeda. AI ia lihat sebagai augmented intelligence. Dalam istilah ini—“kecerdasan yang ditambahkan atau dilipatkan”—ada makna ke luar, bukan ke dalam. Eksterioritas, bukan interioritas atau batin. AI tidak benar-benar berkesadaran. Meski bisa sangat cerdas, sangkil, dan mangkus, menurut Floridi, AI hanya memproses informasi tanpa pengertian sesungguhnya.

 

Floridi ataupun Hinton toh sama-sama mendorong regulasi terhadap AI. Perbedaan pandangan keduanya sebenarnya tak jadi masalah jika orang tidak digerakkan oleh nafsu dan glorifikasi. Tapi, bagi siapa saja yang suka memuja, AI bisa dengan segera menjadi berhala. Kita tahu, konsep Tuhan adalah perihal yang melebihi, supra, dan maha. Maka segala yang super, termasuk superintelligence, mudah menjadi kiblat baru. Kebenaran dan kebaikan diukurkan kepadanya.

 

Dua tahun lalu, Floridi mengomentari tulisan Paus Fransiskus, “Kecerdasan Artifisial dan Kebijaksanaan Hati: Menuju Komunikasi yang Sungguh Manusiawi”. Ia menekankan tiga tegangan: antara netralitas dan tanggung jawab, antara kebersamaan dan kesendirian manusia, antara regulasi dan spiritualitas.

 

Tegangan pertama mudah dijelaskan: teknologi tidak pernah netral, maka kita harus bertanggung jawab. Dalam tetraloginya, tampaknya ia hendak menyediakan sistem tempat inforg nonhuman juga bisa dibuat untuk bertanggung jawab. Etika tidak hanya disematkan kepada manusia, tapi juga kepada sistem informasi. Ini terobosan penting, yang keberhasilannya masih harus diharapkan.

 

Tegangan kedua dan ketiga lebih subtil, karena masuk ke batin manusia. Tampaknya ia tahu dua tegangan ini bukan wilayah filsafat dan sains lagi, melainkan agama dan spiritualitas. Tulisnya, “Kalau saja saya lebih berani dan beriman, saya juga akan bilang begitu.” Maksudnya anjuran Paus Fransiskus bahwa regulasi memang penting, tapi tidak cukup untuk menghadapi AI. Yang dibutuhkan adalah—ia mengutip Romano Guardini—“manusia baru, yang dianugerahi spiritualitas lebih dalam, serta kebebasan dan batin baru”. Manusia yang di dalam batinnya ada roh kebebasan. Tapi filsafat perlu agnostik dan tidak bicara atas dasar wahyu.

 

Sebenarnya “spirit” atau “roh” tidak harus dimengerti seperti dalam agama. Tradisi filsafat Jerman memaknai “Geist” juga sebagai peradaban, terutama perihal aspek nilai-nilainya, seperti dalam istilah Zeitgeist atau semangat zaman. Maka kita bisa juga membaca ajakan Fransiskus, Guardini, atau baru-baru ini Leo XIV, dengan sikap nonreligius, jika perlu.

 

Yang dibutuhkan adalah spirit zaman yang tak mau tunduk dan memuja kedigdayaan AI. Spirit zaman itu, “spiritualitas” itu, dipelihara oleh sastra, seni, filsafat, selain oleh sumber-sumber agama, dalam kehidupan bersama. Jika kita tidak punya dasar yang sama untuk bicara mengenai kebebasan, setidaknya kita masih punya dasar sama untuk menolak dominasi dan kolonialisme baru.

 

Léocadie Lushombo, teolog perempuan kulit hitam, berbicara dalam presentasi ensiklik pertama Leo XIV, “Magnifica Humanitas”, di Vatikan: “Bahkan kini kolonialisme mengambil bentuk baru. Bukan lagi hanya dominasi pada tubuh, melainkan dalam bentuk apropriasi data yang mengubah kehidupan personal kita menjadi informasi, yang bisa dieksploitasi.”

 

Itulah yang kita alami ketika mengakses teknologi digital. Tapi, bagi Lushombo, kolonialisme yang lama pun belum hilang. Mengutip ensiklik, “Di banyak belahan dunia, anak dan remaja bekerja dalam kondisi berbahaya, ketika unsur langka bumi ditambang. Tubuh-tubuh dipaksa, dilukai, dan diauskan agar arus komputasi bisa mengalir lancar.”

 

Infosfer, yang dibayangkan Floridi, pada akhirnya harus mengingat juga materialitas yang memungkinkannya. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/planet-infosfer-akal-imitasi-2268929

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar