Clickbait dalam Jurnalisme Online
Amalia Nurul Muthmainnah ; Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas
Airlangga Surabaya
|
JAWA POS, 25 Juni 2015
AKHIR-akhir ini, setiap kali membuka Facebook,
ada saja informasi baru terkait perkembangan kasus Engeline yang muncul di
timeline saya. Baik itu informasi dari page media yang saya ikuti atau
sekadar berita-berita yang di- share teman-teman Facebook saya. Hajaran
informasi yang bertubi-tubi semacam itu lantas membuat saya (dan mungkin juga
Anda) jadi tak berkutik. Setiap menit, bahkan detik, akan selalu ada
informasi terhangat dari beragam media online yang disebarluaskan di berbagai
media sosial. Kita tentu tak akan mampu menyerapnya satu per satu. Hanya
informasi yang ” eye-catching” yang akan mendapat perhatian lebih.
Saya yakin orang-orang di balik media online
pun tahu itu. Sehingga mereka menjadikan judul sebagai senjata menarik
pembaca. Judul harus menarik adalah lagu lama dalam dunia jurnalistik. Namun,
apa jadinya bila judul hanya mencari sensasi tanpa mementingkan substansi?
Apa jadinya bila judul tak lagi mencerminkan isi, tapi sekadar resonansi tak
berarti?
Umpan demi Klik
Jurnalisme online ibarat makanan cepat saji
dalam dunia jurnalistik. Karakteristiknya berbeda dengan jurnalisme cetak,
radio, ataupun televisi. Ia dituntut bisa serbalebih: lebih aktual, lebih
ringkas, serta lebih mudah dipahami. Orientasi bisnisnya pun tak sama. Bukan
lagi oplah atau rating yang dipentingkan, melainkan traffic (jumlah
pengunjung situs media tersebut) tinggi demi mendatangkan iklan.
Sayangnya, seperti yang saya sebutkan di awal,
tak mudah menjadikan suatu informasi untuk ”sempat” dibaca. Konten media
sosial yang kerap dinikmati lewat ponsel pintar dengan ukuran layar terbatas
lantas membentuk pembaca dengan daya baca pendek. Kita kemudian hanya menjadi
generasi scrolling timeline yang gemar melihat dan memindai informasi.
Faktanya, menurut riset Science Daily pada 2012, kita melihat suatu situs
hanya dalam 2,6 detik sebelum memutuskan untuk membacanya. Bahkan, riset
NICHCY pada tahun yang sama menunjukkan bahwa rata-rata pembaca online hanya
membaca 20 persen dari keseluruhan kata dalam satu halaman!
Maka, menjadi wajar bila kemudian media online
menerapkan strategi-strategi demi menarik perhatian pembaca. Salah satunya
lewat judul sebagai hal yang paling awal dilirik pembaca. Judul-judul yang
menggoda di timeline media sosial
tentu akan membuat pembaca mengklik link
judul atau read more yang
disediakan. Fenomena ini disebut sebagai clickbait
atau umpan klik. Clickbait
”memaksa” pembaca membuka situs media online tersebut lewat judul yang
sensasional, yang tentu akhirnya akan berdampak pada traffic. Bahkan, beberapa media online negeri ini menerapkan
sistem agar pembaca harus berkali-kali mengklik dan berganti halaman hanya
untuk membaca satu berita.
Judul yang ”wah” dengan isi menggugah tentu
tak akan jadi masalah. Sayangnya, judul bombastis malah lebih banyak yang
menjebak pembacanya. Judul yang ada seolah-olah menggambarkan kondisi A+++,
namun nyatanya isi beritanya sekadar A. Bahkan lebih parah lagi bila judulnya
A, namun isinya malah membahas Z. Judul-judul yang bersebaran di media sosial
kini pun tak ubahnya judul ala koran
kuning: berbau seks dan kriminal.
Fenomena clickbait,
menurut saya, merupakan bentuk pelanggaran kode etik jurnalistik. Khususnya
pasal 3 yang mengatakan bahwa wartawan Indonesia pantang menyiarkan karya
jurnalistik yang menyesatkan. Bila judulnya saja menipu kita, lantas
pantaskah isinya kita percaya? Ini tentu ironi. Zaman kian maju, jangan
sampai jurnalisme kita justru melangkah mundur.
Pembaca Harus
”Membaca”
Di sisi lain, ternyata ada yang lebih
berbahaya daripada judul-judul menyesatkan tersebut. Yakni pembaca yang hanya
membaca judul beritanya, namun langsung menyebarkannya di media sosial
miliknya. Ia yang begitu mudahnya terpesona tiap kali menemukan
informasi-informasi bombastis di media sosial. Ia yang akan dengan mudahnya
mengamini setiap informasi yang disodorkan ke hadapannya. Kemudian
menghamburkannya tanpa melakukan validasi, tanpa adanya upaya untuk
memverifikasi dengan berita-berita lain di media lain.
Hal itu tidak salah, namun berbahaya. Sebab,
setiap berita yang disajikan media hanyalah kepingan-kepingan fakta di tengah
derasnya banjir informasi. Dan layaknya banjir yang disebabkan alam, banjir
informasi pun sebenarnya banyak menghanyutkan hal yang sama, yakni sampah!
Maka, jangan sampai kita hanya menjadi saluran sampah. Ikut andil dalam
prosesnya, namun tak pernah bertanya-tanya sampah tersebut asalnya dari mana,
oleh siapa, dan atas dasar kepentingan apa.
Justru, di era banjir informasi seperti ini,
penting bagi kita menjadi pembaca dengan idealisme tinggi. Yang selalu merasa
skeptis pada informasi yang didapatkan. Skeptis, bukan sinis. Pilah dan pilih
informasi secara rasional sebelum memutuskan untuk menyebarkannya.
Setidaknya, setiap kali menemukan berita
dengan judul ”menarik” di media online ataupun media sosial, bertanyalah
kepada diri sendiri. Apakah berita ini sudah saya baca dengan saksama dan
komprehensif? Apakah menurut saya informasi-informasinya benar? Apakah
informasinya juga baik untuk publik? Dan yang terpenting, apakah informasinya
berguna untuk diketahui orang lain? ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar