49
Tahun PKI Bubar
Anton Tabah ; Kolumnis,
Purnawirawan Perwira Tinggi Polri
|
REPUBLIKA,
10 Maret 2015
|
Media menjadi salah satu saksi jujur sejarah jika kita
membuka file koran Indonesia maupun dunia, seperti Washington Post, New York
Times, Time, dan Asahi Simbun. Edisi 13 Maret 1966 hampir semua menulis
berita jutaan rakyat Indonesia tumpah ruah di jalan-jalan kota Indonesia
meluapkan sukacita.
Rakyat, pelajar, mahasiswa, tentara, polisi berpelukan
dalam rasa haru. Partai Komunis Indonesia (PKI)
sehari sebelumnya (12 Maret 1966) dibubarkan, resmi dilarang hidup di bumi
NKRI karena tidak sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia yang religius yang
dikristalisasikan dalam filosofi dasar bangsa Indonesia, Pancasila.
Jenderal Soeharto yang ditunjuk Bung Karno sebagai
panglima Pemulihan Keamanan pascapemberontakan PKI 30 September 1965 yang
gagal dan Jenderal Nasution selaku ketua MPRS saat itu, dielu-elukan rakyat
karena berani membubarkan PKI sesuai tuntutan rakyat dalam Tritura, yaitu
bubarkan PKI, retol kabinet Soekarno, dan turunkan harga.
Majalah Time yang terbit seminggu kemudian mengulas lebih
dalam penyelesaian brilian telah diambil di Jakarta dengan gagah berani.
Jenderal Soeharto dan Jenderal Nasution membubarkan PKI,
partai politik terbesar ketika itu dan disokong dua negara adidaya:
RRT dan Uni Soviet. PKI bahkan telah berkuasa dua dekade dengan doktrin
pemaksakan kehendak.
Karena itu, Presiden Prancis
Francois Mitterand yang juga seorang kolumnis itu menulis buku berjudul La Paile et Le Grain yang
diterjemahkan ke bahasa Inggris, The
Weat and The Chaff, (Jerami dan Sekam). Dalam buku itu, antara lain,
diusulkan bahwa Jenderal Soeharto layak mendapat hadiah Nobel karena telah
membubarkan PKI yang dalam Gerakan 30 September 1965 sangat biadab menyiksa
dan membunuh lawan-lawan politiknya.
Tepat jika masalah PKI diungkap lagi untuk mengingatkan
orang yang lupa, apalagi banyak generasi muda yang tidak tahu PKI. Siapa pun
rakyat Indonesia yang pada 1965 minimal telah berusia tujuh tahun ke atas,
banyak yang tahu dan ingat partai politik PKI yang berkuasa di segala lini
legislatif, eksekutif, yudikatif bahkan Presiden disetir PKI.
Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 baru ditetapkan kembali ke UUD 1945 dan Pancasila.
Tetapi, PKI dengan pongah menyelewengkan UUD 1945 menobatkan Bung Karno
sebagai presiden seumur hidup tanpa pemilu. Ini awal malapetaka bangsa Indonesia.
PKI kemudian memberontak pada 30 September 1965 dengan
segala prolog dan epilognya. Di berbagai daerah, umat Islam dibantai, bahkan
PKI membantai umat Islam yang sedang shalat berjamaah. Ulama dan kiai
dibunuh, puluhan pesantren dihancurkan. Beruntung pemberontakan G30S/PKI
gagal, malah menjadi titik balik yang menghancurkan PKI dan underbow-nya
dilarang di bumi NKRI.
Pakar politik Asia, Guy J Parker, dalam karyanya, The Rise and Fall of The Communist Party
of Indonesia, mengupas kegagalan pemberontakan PKI 1965 sekaligus membuka
tabir kebobrokan tokoh empat serangkai PKI (Aidit, Nyoto, Lukman, Sudisman)
yang diagung-agungkan pengikutnya awal 1960-an. Bahkan, tokoh Lekra SW
Kuntjahjo memuja Aidit dalam syairnya "mata Aidit seperti bulan".
Kegagalan kudeta PKI 1965 tak hanya membongkar yang
tersembunyi. Para pengikut dan simpatisan juga melihat kelemahan pemimpin
mereka. Salah taktik, salah strategi, salah kalkulasi yang selama itu
dianggap tak mungkin. Pascakudeta PKI yang gagal
itu, para pengikut PKI saling khianat dan fitnah yang mempercepat kehancuran
PKI, tak ada tempat lagi bagi PKI yang atesis hidup di bumi Pancasila.
Tulisan Parker perkuat dokumen lain. Ketua Umum PKI Aidit
sowan ke pemimpin Cina Mao Tse Tung beberapa bulan sebelum G30S/PKI meletus.
Seperti ditulis pakar Asia Prof Victor Fie, pesan Mao pada Aidit agar
bertindak cepat menghabisi jenderal pembangkang (AH Nasution, dll) harus
dibunuh dalam Gestapu PKI 1965, tetapi justru Jenderal AH Nasution selamat.
Dokumen itu, antara lain, memuat dialog
antara Mao dan Aidit. Mao: "Kamu harus bertindak cepat."
Aidit: "Saya khawatir TNI AD jadi penghalang." Mao: "Habisi
jenderal-jenderal reaksioner dalam satu kali pukul mereka akan menjadi seekor
naga tanpa kepala yang tunduk pada perintahmu." Aidit: "Berarti
kami harus membunuh banyak jenderal?" Mao: "Di Shensi Utara saya
bunuh 20 ribu pembangkang dalam satu kali pukul." (Anatomi The Jakarta Coup, 1965, 26 April 1966).
Musuh PKI yang sangat sakti adalah Pancasila. Ia supremasi
pemikiran intelektual dan moral juga role model generasi pendahulu. Generasi
moral intelektual seperti Ahmad Dahlan, Agus Salim, Bagus Hadi Kusumo, Wachid
Hasjim, Ki Hajar Dewantoro, Soepomo.
Bukti historis kecerdasan founding fathers. Dokumen nyaris sempurna, naskah Pembukaan UUD
1945 dengan asas kerohanian Pancasila. Gagasan besar Pancasila, dalam
perkembangannya bukan hanya dasar NKRI, tapi juga ideologi yang dapat
menyatukan bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan ujian dari
dalam dan luar negeri. Pancasila juga mampu menghadapi paham-paham besar,
seperti kapitalisme, komunisme, liberalisme, individualisme, pluralisme, dan sekulerisme yang tak kenal lelah menggempur
Indonesia.
Hal ini sangat bertentangan dengan pakar Barat, seperti
Daniel Bell, Sidney Hook yang menyatakan kita tak perlu ideologi karena era
ideologi telah mati? Inilah pesan sesat pakar
Barat untuk melemahkan bangsa berkembang, terutama Indonesia
sebagai negara Muslim terbesar di dunia yang dianggap Barat sebagai
"musuh" masa depan? Pesan
sesat Barat tentang tak perlu lagi ideologi muncul di paruh kedua abad XX.
Kini AS dan Eropa limbung dengan pengabaian
ideologi yang melahirkan kebebasan tanpa batas. Pancasila mengatur kebebasan dan HAM sangat baik dituangkan
dalam UUD 1945. Kebebasan dan HAM bangsa Indonesia mengikuti norma agama dan
moral. Kebebasan di Indonesia dikunci dengan ajaran agama yang dianut bangsa
Indonesia (Ketuhanan Yang Maha Esa).
Dalam fakta ini, masihkah terbersit di pikiran kita mau
menghidupkan PKI walau dengan bentuk dan topeng lain? Masihkah terpikir kebebasan tanpa batas ala sekuler itu baik?
Termasuk bebas memutarbalikkan fakta sejarah
G30S/PKI? Bahkan, anak cucu PKI mengaku sebagai korban minta rekonsiliasi dan
kompensasi? Sebagai
orang beriman penulis hanya sekadar mengingatkan fakta
ilmiah ini. Semoga bermanfaat demi kejayaan NKRI. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar