Perjuangan
Politik Buruh
Rikson
Pandapotan Tampubolon ; Mahasiswa Pascasarjana USU;
Mantan Ketua Cabang GMKI Kota Medan
|
OKEZONENEWS,
09 Mei 2014
|
Hari buruh sedunia atau May Day, 1 Mei akan menjadi momentum
bagi buruh untuk menyuarakan tuntutannya. Setiap tahun buruh di Indonesia
selalu memperingatinya dengan turun ke jalan, konvoi dan melakukan orasi.
Tuntutannya tidak jauh berbeda dari tahun ke tahun. Mulai menuntut kesejahteraan
buruh, jaminan masa depan, penghapusan tenaga alih daya (outsourching) dan tuntutan turunan lainnya.
Tahun ini, tidak seperti biasanya, hari buruh akan dihormati
dengan memberikan hari libur nasional. Walaupun begitu, buruh tidak akan
berhenti melakukan demonstrasi untuk menyampaikan tuntutan mereka. Untungnya,
kebijakan hari libur ini akan mengurangi ekses dari demo buruh. Contohnya,
macet, gangguan jam kerja, sweeping
pabrik dan mengeliminir hal-hal yang tidak diinginkan (anarki). Dengan
begitu, buruh akan lebih leluasa menyampaikan tuntutan mereka kepada
pemerintah.
Masyarakat tentunya mengapresiasi apa yang menjadi tuntutan para
buruh. Pemerintah harus senantiasa memperhatikan nasib buruh. Era “buruh
murah” dalam kacamata global harusnya segera diakhiri. Akibatnya, buruh yang
menderita karena tidak digaji setimpal dengan pemenuhan hak hidupnya.
Hal ini diperkuat, Harold L. Sirkin, seorang peneliti senior
dari The Boston Consulting Group
(BCG), dalam penelitiannya bersama kedua rekannya, Justin Rose dan Michael
Zinser, menemukan bahwa Indonesia menduduki urutan pertama negara dengan
biaya produksi terendah. Kemudian, setelahnya berturut-turut disusul oleh
India, Meksiko, Thailand, Tiongkok, lalu Taiwan. (Kompas.com, 28 April 2014)
Potensi dan Masalah
Tak bisa dipungkiri, buruh (seharusnya) memegang potensi yang
besar dalam peta politik di tanah air. Dengan catatan, seandainya bisa
dikonsentrasikan—tidak terfragmentasi, terpecah-pecah—dan diartikulasikan
dalam sebuah wadah perjuangan politik. Apalagi kalau bukan, Partai Politik
(Parpol) yang benar-benar mampu menjadi representasi buruh.
Lihat saja, besarnya jumlah tenaga kerja yang dimiliki yang di
negeri ini. Jumlahnya jutaan dari industri besar dan sedang berdasarkan Badan
Pusat Statistik (BPS). Belum lagi, tenaga kerja yang termasuk dalam usaha
kecil dan mikro, jumlahnya bisa mencapai puluhan juta. Jumlah inilah yang
mengisyaratkan kekuatan buruh dalam menentukan nasib bangsa ini ke depan.
Sebab kenyataannya, tidak ada satupun subjek profesi yang memiliki jumlah
sebesar buruh.
Ironisnya, perpecahan dalam tubuh organisasi buruh sepertinya
menjadi sebuah fenomena yang lazim dalam dinamikanya. Menjamurnya organisasi
buruh tidak serta merta memberikan sinyal positif akan pengorganisasian
elemen-elemen buruh. Banyak organisasi buruh yang baru berdiri
dilatarbelakangi ketidak-sepemahaman menjalankan roda organisasi. Alahasil,
kekuatan buruh semakin terpolarisasi dan tentunya semakin kehilangan daya
tekannya (pressure).
Meskipun telah dicoba melakukan upaya rekonsiliasi dan
penggabungan dari beberapa organisasi buruh di tanah air, sehingga melahirkan
istilah konfederasi. Nyatanya tidak segera menyelesaikan masalah perpecahan
dalam tubuh organisasi. Malahan, timbul beberapa organisasi konfederasi buruh
yang sama-sama mengklaim sebagai wadah semua organisasi buruh yang
representatif. Sebuah kenyataan yang mengisyarakan sulitnya buruh bersatu.
Partai Buruh
Teorinya, akan menjadi efektif dan tentunya sangat strategis
apabila buruh secara kolektif, mampu merumuskan langkahnya untuk memiliki
sebuah partai politik yang betul-betul mewakili aspirasi para buruh. Dahulu
memang buruh pernah memiliki sebuah partai politik sebagai alat perjuangan
mereka. Namun, sepertinya kehadiran partai buruh tersebut tidak serta merta
berhasil menarik simpati para buruh. Terbukti, perolehan suara partai
tersebut yang sangat minim--bahkan tidak mencapai 1 (satu) persen dari
perolehan kursi di dewan nasional pada saat itu--. Sangat jauh dari harapan.
Sejarahnya, partai buruh ini pernah bertarung pada Pemilu 1999
dengan menggunakan nama Partai Buruh Nasional. Lalu pada Pemilu 2014, partai
ini menggunakan nama Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD). Selanjutnya, pada
Pemilu 2009 Partai Buruh sempat dinyatakan tidak lulus verifikasi, tetapi
dengan adanya gugatan 4 (empat) partai gurem pada pemilu 2004 kepada Majelis
Konstitusi, akhirnya keempat partai politik gurem tersebut disahkan menjadi
Parpol peserta Pemilu 2009, salah satunya adalah Partai Buruh.
Dikarenakan tidak melewati ambang batas perolehan suara (Parliamentary Threshold) di parlemen
pusat (DPR RI). Partai Buruh yang diinisiasi dan diketuai oleh tokoh buruh
yang cukup disegani yaitu Muchtar Pakpahan, harus berbesar hati tidak
memiliki perwakilannya di Senayan. Muchtar sendiri sejak jaman Orde Baru
memang dikenal sebagai aktivis buruh yang siap bersikap oposan terhadap
pemerintah yang dikenal represif saat itu.
Mimpi untuk mewujudkan kesejahteraan buruh semakin jauh dari
harapan. Nampaknya, buruh tidak memiliki kesamaan pandangan dalam perjuangan
Partai Buruh saat itu. Saling sikut antar elite buruh juga ditengarai menjadi
sebab memburuknya kualitas partai buruh tersebut.
Partai Buruh juga harus mengandaskan mimpinya untuk ikut
bertarung pada pemilu 2014. Partai buruh gagal memenuhi segala persyaratan
dari Komisi Pemilihan Umum untuk bisa ikut berlaga dan menguji kekuatan
politik buruh. Sekali lagi, partai buruh hanya menjadi penonton dalam
perhelatan politik lima tahunan yang akan menentukan nasib dan kebijakan
bangsa dan Negara ini kedepan.
Akhirnya, kekuatan partai buruh harus terpecah belah. Menyebar
ke beberapa parpol yang berlaga di pemilu 2014. Akibatnya, buruh hanya
sebagai subordinat dari kepentingan parpol utama. Sulit mengharapkan mimpi
buruh bisa terwujud apabila kondisi ini yang terjadi. Beda halnya, ketika
buruh mempunyai saluran parpol yang benar-benar mewakili aspirasi mereka.
Pengalaman Bangsa Lain
Belajar dari pengalaman bangsa lain. Buruh mampu merumuskan
dirinya menjadi kekuatan penentu dalam kancah perpolitikan suatu bangsa.
Tentu saja melalui saluran partai politiknya. Lihat saja, Partai Buruh di
negara-negara persemakmuran, Australia, Amerika Serikat, Inggris, Brasil,
Israel dan lain sebagainya. Bahkan partai buruh tersebut mampu mencalonkan
presiden atau perdana menteri dari partai mereka. Dan ada banyak yang
berhasil memenangkan pertarungan politik tersebut.
Australian Labor Party (ALP) adalah contoh yang berhasil mengangkat harkat dan
martabat kaum buruh di Australia. ALP
didirikan pada tahun 1891 dan merupakan partai politik tertua yang aktif
dalam pemerintahan federal di negara tersebut.
Partai ini adalah peserta pada pemilu 1901 yang diadakan sesaat
setelah Federasi Australia terbentuk. Lawan utama partai ini adalah Partai
Liberal, terutama pada tingkat pemerintahan pusat dan negara bagian. ALP
adalah anggota Sosialis Internasional. Partai Buruh Australia ini telah
berhasil melahirkan pemimpin sekaliber perdana menteri. Contohnya, Kevin Rudd
(2006), Julia Gillard (2010) dan Kevin Rudd (2013 sampai saat ini).
Momentum hari buruh ini, baiknya dijadikan evaluasi dan menyusun
strategi kedepan. Urgensi mewujudkan mimpi-mimpi buruh dalam sebuah wadah
partai adalah sebuah keharusan bagi mereka yang berpikir progresif dan
revolusioner. Mungkin hanya melalui perjuangan partai politiklah, buruh dapat
memperbaiki harkat dan martabat hidup mereka melalui perwakilan mereka di
pemerintahan.
Akhirnya, pertanyaannya, seberapa siap buruh membuang ego
masing-masing kelompok untuk melakukan konsolidasi diri untuk mewujudkan
mimpi bersama? Waktu yang ada, baiknya digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan di tubuh internal organisasi buruh itu sendiri. Belum terlambat,
Pemilu 2019 menanti “warna” dari kaum buruh. Buruh bersatu, tak bisa
dikalahkan! ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar