Mitigasi
Perlambatan Emerging Market
Firmanzah ;
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi
dan Pembangunan
|
KOAN
SINDO, 12 Mei 2014
|
Sejak
pertengahan 2013 hingga triwulan I 2014, sejumlah negara berkembang terus
menghadapi tekanan pembalikan arah ekonomi Amerika Serikat (AS) pascakrisis
2008 menyusul kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) yang secara bertahap
menghentikan stimulus.
Hal ini
memicu volatilitas arus modal khususnya bagi negara-negara berkembang
yangselamainitumbuh akibat capital
inflow melimpah beberapa tahun terakhir. Akibatnya terjadi depresiasi
nilai tukar mata uang di negara-negara berkembang diikuti dengan lonjakan
inflasi (di samping volatilitas harga komoditas akibat cuaca ekstrem).
Volatilitas arus modal ini juga memberi sentimen negatif bagi likuiditas
negara-negara berkembang yang menyebabkan banyak di antaranya menaikkan suku
bunga acuan untuk menahan arus modal yang keluar dan mengendalikan kenaikan
inflasi.
Kondisi
di atas merupakan tantangan pemulihan global saat ini khususnya bagi
negara-negara berkembang yang memiliki struktur ekonomi yang rentan dengan
defisit transaksi berjalan yang besar. Negara-negara seperti Brasil, India,
Turki, dan negara-negara Afrika merupakan kelompok negara berkembang yang mengalami
hal ini. Realitas ini mendorong banyak pandangan yang menilai pemulihan
global masih dalam tren mencari bentuk yang ideal mengingat ketidakseimbangan
struktur ekonomi global yang selama ini terjadi telah menghadirkan ambiguitas
dalam proses pemulihannya.
Negara-negara
berkembang seperti China, Brasil, dan India yang pada tahun 2010–2011
menopang pertumbuhan ekonomi global kini mengalami perlambatan yang
berkelanjutan sejak 2012. China pada periode Januari–Maret 2014 hanya mampu
bertumbuh 7,4% (pertumbuhan terendah sejak triwulan III 2012) atau lebih
rendah dari pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 7,7%.
Kebijakan ekonomi China dalam mencari keseimbangan baru pascaperubahan
orientasi pertumbuhan ke berbasis konsumsi domestik menunjukkan tren
perlambatan yang terus menurun sejak 2012. Tahun 2014, Dana Moneter
Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan China berada pada level 7,5% dan
7,3% pada tahun 2015.
Melambatnya
pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang seperti China, Brasil, Tiongkok,
India, dan negaranegara Afrika mendorong beberapa lembaga internasional
seperti Bank Dunia dan IMF merevisi proyeksi pertumbuhan negara-negara
berkembang termasuk untuk kawasan Asia. Meningkatnya arus modal keluar dari
negara berkembang yang mendorong ketatnya likuiditas, ancaman inflasi, dan
depresiasi nilai tukar menjadi argumentasi revisi ke bawah pertumbuhan
negara-negara berkembang. Tentunya kondisi ini juga dikhawatirkan oleh
negara-negara berkembang lainnya khususnya yang memiliki interdependensi
ekonomi yang tinggi dengan negara-negara berkembang yang sedang melambat.
Hal ini
pula yang kini dihadapi Indonesia mengingat China merupakan mitra dagang
terbesar yang menguasai 20% pangsa pasar ekspor Indonesia. Badan Pusat
Statistik (BPS) pada 5 Mei 2014 mengumumkan data pertumbuhan produk domestik
bruto (PDB) Indonesia periode triwulan I 2014 sebesar 5,21% (yoy). Seluruh
sektor mengalami pertumbuhan kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang
turun sebesar 0,38%. Sektor pengangkutan dan komunikasi adalah sektor dengan
pertumbuhan tertinggi sebesar 10,23%.
Dari
sisi pengeluaran, pertumbuhan triwulan I 2014 didukung konsumsi rumah tangga
sebesar 5,61%, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 5,13%, dan konsumsi
pemerintah 3,58%. Adapun ekspor dan impor masing- masing mengalami kontraksi
sebesar 0,78% dan 0,66%. Pertumbuhan triwulan I 2014 sebesar 5,21% disebabkan
berkontraksinya ekspor riil khususnya di sektor pertambangan seperti batu
bara dan konsentrat mineral. Kontraksi ini dipicu melemahnya permintaan
global terutama menurunnya permintaan dari China. Ekspor Indonesia ke China
periode Maret 2014 turun 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya.
Selain
itu volatilitas harga komoditas dunia juga memberi andil penekanan kinerja
ekspor nasional. Harga seperti komoditas tembaga turun 8,1%, batubara turun
5,2%, dan karet yang paling dalam mencapai 15,6%. Walaupun lebih rendah dari
target dan pertumbuhan triwulan sebelumnya, pertumbuhan 5,21% di triwulan I
2014 masih berada pada kategori pertumbuhan tinggi di dunia saat ini di
tengah perlambatan yang dalam dialami negara-negara lain. Pertumbuhan
triwulan I 2014 sebenarnya dapat dipahami sebagai akumulasi tekanan yang
dihadapi baik yang bersumber dari sisi eksternal maupun internal.
Dari
sisi eksternal, pertama, harga komoditas global yang terus menurun akibat
cuaca ekstrem dan perlambatan permintaan global. Kedua, tertekannya
permintaan global khususnya bersumber dari negaranegara yang selama ini
dengan permintaan terbesar seperti China, Amerika, Jepang, dan Eropa. Ketiga,
permintaan pada lapis kedua di negara-negara berkembang juga terkendala
perlambatan ekonomi yang sedang dihadapi. Adapun dari sisi internal, ancaman
defisit transaksi berjalan beberapa waktu lalu mendorong pemerintah untuk
melakukan pengendalian importasi dan pelarangan ekspor mineral mentah.
Lazimnya,
setiap kebijakan memiliki konsekuensi (trade-off).
Sama halnya dengan kebijakan pengendalian impor dan pembatasan ekspor mineral
mentah. Bagi Indonesia saat ini, fundamental ekonomi terus membaik walau
masih dibayang-bayangi tekanan perlambatan global terutama dari negara-negara
mitra strategis seperti China dan Jepang. Struktur dan fundamental ekonomi
nasional terus menunjukkan perbaikan yang positif. Kinerja neraca transaksi
berjalan terus menunjukkan tren yang membaik. Defisit transaksi berjalan pada
triwulan I 2014 turun menjadi USD4,2 miliar (2,06% PDB) dibandingkan USD4,3
miliar (2,12% PDB) pada triwulan IV 2013.
Kepercayaan
pasar terhadap perekonomian nasional terus melanjutkan tren peningkatan. Hal
ini terlihat dari total aliran dana asing yang masuk triwulan I 2014 mencapai
USD12,3 miliar atau meningkat dari USD10,5 miliar pada triwulan IV 2013
sehingga pada periode triwulan I 2014 terjadi surplus transaksi modal dan
finansial sebesar USD7,8 miliar. Perbaikan transaksi berjalan dan surplus
transaksi modal dan finansial mendorong surplus neraca pembayaran Indonesia
(NPI) triwulan I 2014 sebesar USD2,1 miliar. Surplus NPI ini pula yang
mendorong kenaikan cadangan devisa yang mencapai USD105,6 miliar pada akhir
April 2014.
Di
sektor riil, survei BPS menunjukkan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada
triwulan I 2014 sebesar 101,95 atau meningkat dari triwulan sebelumnya akibat
peningkatan kapasitas produksi. Meningkatnya kapasitas produksi juga
dikonfirmasi oleh data pertumbuhan produksi baik untuk industri manufaktur
besar-sedang (tumbuh 3,76%) maupun industri mikro-kecil (tumbuh 4,41%). Untuk
terus mendorong kapasitas ekonomi nasional terutama menghadapi tekanan
perlambatan global, pemerintah terus mendorong sektor-sektor strategis yang
mampu memberi efek pengganda lebih besar bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
Untuk
mengantisipasi perlambatan global, pemerintah sedang menyiapkan kebijakan
relaksasi seperti revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk menstimulasi
investasi masuk ke Indonesia. Sektor investasi baik untuk pembangunan
infrastruktur maupun sektor riil diharapkan dapat memperbesar kapasitas
ekonomi nasional di masa mendatang. Selain itu, program industrialisasi dan
hilirisasi juga diharapkan tidak hanya mendorong daya saing nasional, tetapi
juga memperluas kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Begitu
pula dengan program MP3EI yang sedang berjalan seiring dengan pengembangan
kawasan ekonomi khusus di sejumlah titik. Saya optimistis dan percaya,
transformasi ekonomi nasional yang sedang berjalan ini akan mempercepat
pencapaian tujuan pembangunan nasional, yakni peningkatan kesejahteraan masyarakat
yang seluas-luasnya. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar