Merekrut
Presiden
Flo
K Sapto W ; Praktisi
Pemasaran
|
TEMPO.CO,
13 Mei 2014
|
Pemimpin
tertinggi di sebuah institusi umumnya membawa atmosfer tersendiri. Misalnya,
petinggi sebuah perusahaan sayuran dan makanan segar sangat mengutamakan
suasana kekeluargaan. Sapaan ramah dan kebiasaan selalu datang lebih pagi dan
pulang paling akhir menjadi stimulus positif. Adapun pemimpin di grup
perusahaan lain sangat menekankan produktivitas. Output karyawan dihitung
layaknya sebuah mesin. Sementara itu, ada juga pemimpin korporasi yang gemar
sekali mengumbar caci-maki dan umpatan.
Pemilik
tidak pernah terlepas dari perbandingan kinerja para middle manager-nya
dengan para penghuni kebun binatang. Anjing ekspatriat peliharaan pemilik
perusahaan sering kali dipuji lebih cerdas daripada jajaran struktural
perusahaan. Meeting reguler di sebuah perusahan minuman juga dikenal sebagai
arena akrobat. Pemimpin tertingginya sangat gemar melempar segala jenis alat
kantor. Setiap kali ada ketidakbecusan kinerja, akan ada lemparan pena,
penghapus, spidol, bahkan hand phone. Konon, dua situasi terakhir-yaitu umpatan
dan lemparan-dipercaya cukup efektif meningkatkan optimalisasi kinerja.
Namun, bagi para sebagian eksekutif muda, situasi itu ditanggapi dengan
santai. Gaji puluhan juta cukup sebanding dengan risiko itu. Bagi studi
menejemen sendiri, tipe karakter atau perilaku manakah yang sebaiknya
dimiliki oleh para pemimpin atau pemilik perusahaan?
Menurut
Gary Yukl dalam Leadership in
Organizations (2010), pola kepemimpinan yang efektif adalah kombinasi
antara task oriented behaviors, relations oriented behaviors, dan change oriented behaviors. Ketiganya
secara sederhana dijabarkan sebagai gabungan dari perilaku kepemimpinan yang
berorientasi pada operasionalisasi pekerjaan, pendekatan relasional, dan
ketanggapan terhadap perubahan. Apakah pendekatan perilaku ini berlaku juga
dalam penetapan karakter calon presiden?
Tanpa
bermaksud menyederhanakan faktor ideologi, dikotomi pemimpin perusahaan atau
kepala negara, serta kompetensi lainnya, pada prinsipnya, secara manajerial,
pemilihan presiden identik dengan upaya perekrutan pada umumnya. Tujuan
perekrutan sendiri, seperti yang dijelaskan oleh William P. Anthony, et al.,
dalam Human Resource Management
(2006), adalah mendapatkan kandidat yang mampu mematuhi prosedur dan
kebijakan perusahaan. Pada saat yang sama, kandidat juga dituntut untuk
mengembangkan kreativitasnya. Dalam prakteknya, terobosan-terobosan inovatif
sering kali bisa didapatkan dari kandidat yang memiliki pengalaman organisasi
sosial kemasyarakatan yang beragam. Hal ini akan berbeda dengan kandidat yang
relatif hanya berkutat dalam komunitas yang seragam-misalnya organisasi intra
sekolah.
Berdasarkan
rekam jejak, kecenderungan perilaku kandidat juga bisa didapatkan.
Kecenderungan ini umumnya akan terlihat pada kondisi spesifik (marah, sedih,
terpojok, dan lainnya). Di sinilah kandidat akan menunjukkan karakter
aslinya, apakah ia cenderung berperilaku panik, murka, emosional, atau tetap
bijaksana dan tegas. Satu hal yang telah dijadikan catatan-terutama oleh
publik sebagai pemilik saham negeri ini-karakter tegas tentu tidak sama dengan kejam. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar