Minggu, 11 Mei 2014

Mari Bicara!

Mari Bicara!

Samuel Mulia  ;   Penulis Mode dan Gaya Hidup, Penulis Kolom “Parodi” di Kompas
KOMPAS,  11 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
”Waktu masih berusia empat tahun, orangtua mengirim saya ke luar negeri,” kata seorang pria muda. Saya kagetnya setengah mati, dan tak bisa membayangkan apa perasaan seorang anak yang begitu belia sudah terpisah dari orangtua, dan tak bisa membayangkan perasaan seorang ibu, bagaimana bisa begitu tega melakukan hal ini.

Satu arah

Maka saya bertanya kepada pria muda itu. ”Tidakkah kamu merasa terbuang?” Ia menjawab lantang, ”Ya, Mas. Sangat. Perasaan itu yang sampai sekarang membuat saya tak mengenal orangtua sendiri.” Saya lama terdiam sampai akhirnya kami tiba di rumah makan.

Di suatu siang, seorang teman mengirimkan pesan. ”Mas apa kabar? Semoga Mas baik dan sehat ya. Mas kita tu sudah lama sekali enggak ketemu, aku kok punya perasaan kalau Mas seperti menghindar kalau diajak bertemu.”

Di bawah ini adalah contoh percakapan melalui BBM saya dengan seorang teman tapi yang kategorinya TTM. Saya bertanya, kamu lagi ada di mana? Ia menjawab, aku lagi di sini. Saya itu berpikir, di sini itu di mana ya. Kan bisa saja ada di dalam mobil, di atas pohon, lagi makan sama klien, lagi ngegym, lagi rapat.

Peristiwa yang berkali-kali terjadi, tak hanya itu. Tidak memberi jawaban atas beberapa pertanyaan, atau tidak melanjutkan percakapan dan menghilang begitu saja, juga sudah berjuta kali terjadi. Kalaupun ada jawaban, jawabannya pendek atau jawaban itu baru saya terima enam jam atau bisa jadi keesokan harinya.

Setelah tiba di rumah makan dan setelah mengenyangkan perut dengan makan ayam taliwang yang enaknya setengah mati, saya kembali ke rumah dengan taksi. Di dalam taksi saya menjelaskan kepada pak sopir untuk mengantar saya ke apartemen yang namanya Semanggi. Ia menjawab lantang. ”Baik, Mas.” Maka saya duduk tenang karena ia tampak begitu yakin tahu di mana lokasi tempat tinggal itu.

Setelah berjalan sekitar lima belas menit, ia mengarahkan mobilnya ke arah yang keliru. Dan saya langsung mengingatkannya, kalau apartemen saya itu harus melalui jalan di depan Gedung MPR/DPR. Ia menjawab. ”Ohh...saya pikir yang di belakang Plasa Semanggi.”

Saya itu kemudian mencoba mengerti apa yang membuat contoh-contoh di atas itu terjadi. Membuat hubungan antar dua manusia menjadi berfriksi, menimbulkan rasa jengkel, bahkan bisa jadi seperti cerita pertama menimbulkan rasa terbuang.

Dengan kepandaian saya yang sungguh terbatas ini, saya berpikir, kalau semua kejengkelan seperti cerita di atas bermula dari adanya komunikasi satu arah. Kalaupun dua arah, komunikasinya tidak dilakukan dengan benar.

Dua arah

Berkomunikasi bukan sesuatu yang mudah. Bukan hanya sekadar bisa bicara, tetapi mengartikan komunikasi dua arah dengan benar. Komunikasi menjadi tak ada gunanya, kalau pesan di dalamnya tak dimengerti mereka yang terlibat dalam komunikasi itu.

Keberanian mengungkapkan juga diperlukan dalam berkomunikasi. Adanya ketidakberanian itu akan melahirkan seorang korban. Ya, kalau korbannya hanya merasa tersinggung saja, bayangkan kalau sampai merasa terbuang dan kemudian merasa aneh dengan orangtuanya sendiri.

Berkomunikasi juga bergantung pada bagaimana mereka yang terlibat dalam percakapan itu tumbuh dan dibesarkan, selain sifat-sifat bawaan yang mau tak mau harus diterima. Alasan terakhir ini keluar dari mulut sahabat karib saya.

”Aku sendiri juga enggak tahu, Mas, aku tu selaluuuu...terlambat. Buat janjian sama siapa aja pasti terlambat.” Dan saya telah membuktikan penjelasannya itu. Saya telah menjadi salah satu korbannya yang acapkali harus menunggu dari setengah sampai satu jam dari waktu yang dijanjikan.

Maka dengan penjelasannya itu, saya tak pernah naik pitam. Saya tahu kalau membuat perjanjian dengannya, saya tak perlu harus disiplin, tak perlu harus kaku. Dan dengannya, saya menikmati untuk pertama kalinya menjadi tidak kaku dan tidak disiplin.

Karena saya mengetahui kebiasaan teman karib itu, saya bisa memilih strategi yang tepat. Maka contoh kejadian di atas itu menggambarkan, kalau mereka yang terlibat dalam percakapan tak mengetahui komunikasi yang benar, sehingga keduanya tak bisa membuat strategi yang tepat. Baik strategi emosi maupun fisik.

Teman saya meyakini orangtuanya membuangnya sejak kecil. Teman saya meyakini bahwa saya menghindar untuk diajak bertemu, teman saya yang mesra itu meyakini bahwa saya tahu arti kata di sini tanpa harus memberi penjelasan, sopir taksi itu meyakini bahwa ia bisa mengantar saya tepat ke alamat yang diinginkan.

Ternyata apa yang diyakini mereka sebagai sebuah kebenaran, adalah tidak benar. Dan hal yang paling berbahaya adalah meyakini hal yang belum tentu benar menjadi sebuah kebenaran. Saya berpikir inilah akar dari sebuah kekecewaan.

Sampai hari ini pun saya masih mengalami itu semua. Maka tulisan ini tak ditutup dengan sebuah kesimpulan, tetapi diakhiri dengan ajakan untuk berani berkomunikasi dengan benar, dengan jujur, dengan keberanian, agar tak ada yang menjadi korban, agar tak melahirkan lawan bicara yang memercayai sesuatu yang tidak benar menjadi sebuah kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar