Virus
Itu Bernama Ujian Calistung
M Hilmi Setiawan ;
Wartawan Jawa Pos di Jakarta
|
JAWA
POS, 14 Maret 2014
|
SEBENTAR
lagi memasuki masa penerimaan siswa baru. Mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Setiap masa penerimaan baru itu, negeri ini sejatinya menghadapi virus yang
bisa melumpuhkan generasi muda untuk masa mendatang.
Di satu
sisi, pemerintah baru saja menerapkan kurikulum 2013 yang katanya cukup
revolusioner menyiapkan generasi mendatang. Kurikulum baru itu dibuat dan
diterapkan untuk menyongsong seabad Indonesia merdeka, 2045. Dengan kurikulum
tersebut, pemerintah tidak ingin menyia-nyiakan sekitar 90 juta anak usia
0-19 tahun di republik ini. Di masa depan, harus banyak orang Indonesia yang
kreatif dan inovatif.
Jika
tujuannya seperti itu, implementasi kurikulum 2013 perlu didukung. Tetapi,
sebelum lebih jauh mengevaluasi kinerja kurikulum anyar tersebut, ternyata
ada virus laten di sistem pendidikan Indonesia. Jika tidak segera ditangani,
virus itu bisa menggerogoti tujuan penerapan kurikulum baru tersebut.
Virus
itu bernama ujian calistung. Ujian baca, tulis,
dan berhitung. Sejatinya pemerintah sudah mengetahui bahwa ujian
calistung merugikan. Apalagi, ujian itu diterapkan untuk seleksi masuk SD.
Setiap tahun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan
surat edaran yang melarang calistung. Tetapi di lapangan, praktik ujian
calistung semakin menggila. Hampir di seluruh SD negeri dan kini juga di
swasta, ujian calistung diterapkan. Anak-anak yang umurnya masih dini bisa
masuk SD asal lolos ujian calistung itu.
Sekilas
ujian calistung tampak sangat bagus. Bayangkan anak-anak yang baru mau masuk
SD sudah diuji kompetensi-kompetensi yang diajarkan di SD. Tetapi jika
diamati, ujian calistung itu sangat menggelikan. Analoginya, orang yang mau
mendaftar kursus setir mobil disyaratkan harus bisa nyetir mobil dulu.
Dengan
ujian itu, anak-anak di TK sudah diajari materi calistung. Jika tidak,
anak-anak di TK tersebut tidak diterima di SD. Dampaknya, reputasi TK itu
akan melorot dan sepi peminat. Begitulah panjangnya mata rantai amburadulnya
penerapan calistung di negeri ini. Selama di TK, anak-anak tidak boleh
mendapatkan pembelajaran seserius belajar membaca, menulis, bahkan berhitung.
Namanya saja taman kanak-kanak, bukan sekolah kanak-kanak. Jadi, di TK itu
tugas anak-anak hanya bermain, bermain, dan bermain.
Melaksanakan
ujian calistung untuk masuk SD berarti belum atau tidak mau memahami fase
perkembangan otak anak-anak. Sudah menjadi kajian lama di Indonesian Neuroscience Society bahwa
otak anak-anak belum berkembang sempurna hingga dia berusia 20-25 tahun.
Bencana besar bagi masa depan anak-anak ketika perkembangan otaknya belum
sempurna tetapi sudah dijejali materi pendidikan yang tidak pada porsinya.
Seperti
diketahui, otak terdiri atas tiga bagian. Yakni, batang otak yang letaknya
berbatasan dengan leher, limbik atau otak di kepala bagian belakang, dan prefrontal cortex yang ada di bagian
jidat atau kening. Nah, perkembangan otak manusia itu berurutan seperti
paparan tersebut. Yakni, mulai dari batang otak, kemudian limbik, setelah itu
prefrontal cortex.
Dengan
perkembangan otak seperti itu, tidak dibenarkan anak-anak di usia 0-7 tahun
sudah diajari hal-hal kognitif seperti membaca, menulis, dan berhitung.
Sambil anak-anak bermain, bisa mulai ditanamkan karakter-karakter mulia.
Misalnya menjaga kebersihan badan dan lingkungan, melakukan budaya antre,
menghargai teman, dan hidup hemat.
Jauh
sebelum ilmu pengetahuan modern berkembang, Rasulullah Muhammad SAW sudah
mencontohkan sikap terhadap perkembangan otak anak. Dikisahkan, ketika itu
Rasulullah Muhammad bersujud cukup lama sekali. Sejumlah sahabat yang menjadi
makmum bertanya-tanya. Apakah saat itu Rasulullah sedang menerima wahyu dari
Allah.
Karena
penasaran, mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah Muhammad, "Ya Rasul, apakah engkau tadi sedang
menerima wahyu dari Allah?" Dengan tegas, Rasulullah Muhammad
menjawab tidak. Ternyata ketika itu Rasulullah Muhammad bersujud cukup lama
karena cucu beliau sedang bermain di punggungnya.
Saat itu
Rasulullah tidak memberikan aba-aba atau instruksi, bahkan memarahi atau
mencubit sang cucu yang bermain-main di punggungnya ketika sedang sujud dalam
salat. Rasulullah Muhammad saat itu menunggu hingga sang cucu turun dari
punggungnya.
Jadi,
mari dimulai sejak sekarang gerakan reformasi perekrutan siswa jenjang SD.
Ujian calistung ayo dibuang jauh-jauh. Sejatinya banyak saringan yang bisa
dipakai dan lebih bijak. Misalnya memprioritaskan usia pendaftar. Pendaftar
SD dengan usia yang paling "tua" mendapatkan prioritas. Seperti
diketahui, usia ideal masuk SD itu 7 tahun. Saringan lainnya menggunakan
acuan domisili siswa. Cara itu sekaligus bisa menekan cost transportasi siswa dari rumah ke sekolah.
Kepala
SD tidak perlu takut akan kualitas sekolah jika menerima siswa baru yang
belum bisa baca tulis. Sebab, tugas guru SD-lah mulai mengajar siswa baca,
tulis, dan hitung. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar