Tak
Cukup Satu Jokowi
Indra Tranggono ;
Pemerhati Kebudayaan
|
TEMPO.CO,
18 Maret 2014
|
Orang
Indonesia punya tabiat unik: terlalu banyak berharap, termasuk kepada tokoh semacam
Joko Widodo. Gubernur DKI itu kini digadang-gadang menjadi Presiden RI, bukan
hanya oleh Megawati dan PDIP, tapi juga publik pengagum Jokowi (panggilan
akrab Joko Widodo).
Betapa
berat beban Jokowi, apalagi jika kelak ia benar-benar terpilih menjadi
Presiden RI. Seluruh harapan rakyat ditumpahkan kepada dia. Dan, biasanya
rakyat hanya tahu beres. Padahal, problem negara ini tumpang-tindih,
silang-sengkarut, dan karut-marut, dari soal korupsi, keadilan, lapangan
kerja, pendidikan, pertumbuhan ekonomi, dominasi modal asing, pluralisme,
sampai multikulturalisme.
Di mata
rakyat, Jokowi cenderung dianggap memiliki kemampuan berlapis-lapis dan bisa
mengerjakan apa saja. Hal ini dalam terminologi budaya Jawa disebut
hangabehi. Orang macam ini biasanya dipanggil Den Bei. Dan, diam-diam rakyat
telah berharap Jokowi bisa menjadi Den Bei yang menyelamatkan Indonesia dari
keterpurukan. Horizon harapan yang terlalu luas ini otomatis menjadi beban
bagi Jokowi. Kita berharap Jokowi tidak menjadi "korban" den-beisme.
Den-beisme
telah tumbuh dalam masyarakat kita yang cenderung menggantungkan harapan
kepada pihak atau orang lain. Menunggu perubahan dari pihak atau orang lain
telah menjadi psikologisme publik. Psikologi rindu hero ini tampak juga dalam
beberapa kasus. Misalnya, kalau ada atlet bagus, ia pun dituntut masyarakat
untuk bisa menyanyi, menjadi bintang film, bahkan menjadi pengkhotbah agama
dan politikus. Syukur-syukur dia bisa menyelamatkan Indonesia dari
kehancuran.
Sekarang,
gejala seperti itu juga masih terjadi, bahkan lebih "gila". Seorang
pesohor-penyanyi, presenter, pelawak, bintang sinetron-"dipaksa"
menjadi politikus oleh para pemilik perusahaan politik bernama partai
politik. Atau, mereka pun sengaja memaksakan diri untuk menjadi anggota badan
legislatif, tanpa harus belajar politik. Yang penting mereka punya uang,
popularitas, dan penampilan keren. Kompetensi dianggap "tidak terlalu
penting".
Runtuhnya
hukum kompetensi dalam jagat politik nasional disebabkan oleh (salah satunya)
menguatnya kuasa uang, di mana parpol tak lebih dari lembaga usaha
"mobil rental" untuk menuju pusat kekuasaan. Efeknya sangat
mengerikan: demokrasi gagal terwujud secara ideal karena dijalankan tanpa
prasyarat kompetensi, transparansi, kesetaraan, dan penegakan hukum.
Krisis
kebudayaan (etika dan etos) dalam politik di Indonesia menyebabkan publik
tidak lagi sepenuhnya percaya kepada para penyelenggara. Dalam situasi buram
itu, Jokowi muncul secara fenomenal melalui kinerja yang penuh integritas,
komitmen, kapabilitas, dan dedikasi. Kultur blusukan, turun ke bawah, dan
jemput bola salju masalah sangat melekat dalam dirinya. Publik pun kagum.
Padahal, seluruh kebijakan yang dilakukan Jokowi sangat biasa dan memang
menjadi kewajiban pejabat publik. Namun, karena ia hanya "sendirian
bekerja"-sementara yang lain memble atau bahkan nyolong-Jokowi menjadi
tampak berkilau.
Kini,
harapan seluruh pendamba perubahan dialamatkan kepada Jokowi. Kita mestinya
"kasihan" kepadanya. Persoalan Indonesia tak bisa diselesaikan
hanya oleh satu orang Jokowi. Dibutuhkan ribuan Jokowi dari lintas bidang dan
kepakaran yang dapat bersinergi dengan berbasis rasa saling percaya
(berkomitmen). Ini semua penting untuk menciptakan Indonesia yang lebih
bermartabat. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar