Menghindari
Plagiarisme
Iwan Sulistyo ;
Dosen FISIPOL
Universitas Ekasakti
|
HALUAN,
18 Maret 2014
|
Beberapa
waktu lalu, seorang dosen cemerlang yang kebetulan menjabat sebagai salah
satu direktur jenderal di suatu kementerian menjadi sorotan publik. Ia diduga
kuat melakukan ‘plagiat’, yakni tindakan mengakui (sebagian atau keseluruhan)
ide pihak lain sebagai buah pemikirannya sendiri. Meminta maaf secara
terbuka, ia akhirnya bersikap kesatria.
Itu
bukanlah kasus baru di Indonesia. Dengan beragam pola, sederetan kasus
dugaan penjiplakan juga telah terekam dalam ingatan kita. Saya tidak akan
menyebut nama-nama mereka. Rasaya tidak elok.
Plagiarisme
adalah isu yang sangat sensitif, terutama di kalangan akademisi. Ia bisa
dilakukan secara sengaja atau tidak oleh kalangan kampus atau masyarakat
umum. Karena berkaitan erat dengan pelanggaran terhadap nilai-nilai etika,
moral, dan bahkan hukum; tindakan itu dianggap aib, sesuatu yang amat
memalukan.
Bagaimanapun,
kasus plagiarisme yang mencuat di Tanah Air, bahkan yang juga pernah terjadi
di beberapa negara, selalu menarik untuk disimak dan dijadikan pelajaran
berharga bagi kita di Sumatera Barat. Saya sebut itu sebagai ‘pelajaran berharga’,
dengan harapan, agar tidak terjadi lagi di masa depan. Namun, buktinya, history repeats itself. Ya, sejarah
mengulang dirinya sendiri.
Sampai
di titik ini, kita patut merenung secara total: apa yang harus dilakukan?
Dari mana memulainya agar tindakan plagiat tak terulang lagi, terutama di
dalam lingkungan akademik?
Lewat
pelbagai aturan, pemerintah telah berupaya memberikan instrumen dan mekanisme
guna mengatur, mengawasi, hingga menindak. Di dunia ini tidak ada ‘rumus
sapujagad’ atau ‘tongkat ajaib’ untuk memusnahkan ragam tindakan yang tidak
beretika ataupun tindakan yang, pada kadar tertentu, disebut sebagai
kejahatan. Di dalam setiap diri manusia, kelompok, negara-bangsa, dan bahkan
sebuah peradaban akan selalu bersemayam sejarah masa lalunya, entah manis
ataupun pahit, dengan kadar yang beragam.
Para
akademisi, di hampir semua institusi pendidikan, paham bahwa “fakta,
peristiwa sejarah, pemahaman serta informasi yang bersifat umum dan telah
diketahui oleh publik luas” mungkin tidak memerlukan kutipan di dalam sebuah
tulisan. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu, si penulis memandang perlu
memberikan tambahan informasi atau komentar spesifik pada catatan kaki.
Namun, tatkala itu sudah menyangkut data ataupun pemikiran dari pihak
tertentu, ia mutlak mencantumkan ‘sumber’.
Mengutip
berarti menghargai ‘buah pikir’ manusia sebelumnya. Ia juga bermakna wujud
kerendahan hati bahwa gagasan manusia masa kini sesungguhnya dibangun dan
dikonstruksi dari aneka pemikiran manusia terdahulu.
Dengan
mencantumkan sumber atau rujukan di dalam tulisan, terutama tulisan akademik,
akan memungkinkan semua pihak yang berkepentingan untuk melakukan ‘penelusuran’
dan review; entah mereka berusaha
menjawab keingintahuan soal mengapa dan bagaimana ide-ide itu dibangun;
mengoreksi ataupun menguatkan sejumlah argumen atau data yang tersaji; dan
sebagainya. Dinamika itu berada dalam suatu ruang dialektis.
Menanamkan
dan menularkan perilaku yang menjunjung tinggi etika dan integritas akademik
dapat dimulai dari ‘mahasiswa baru’ pada tahun ajaran baru di perguruan
tinggi. Itu terlepas dari derajat tinggi-rendah kemampuan dalam menulis yang
mereka bawa dari jenjang pendidikan tingkat menengah.
Kendatipun
pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan menulis akan berkembang seiring
berjalannya masa studi di kampus; namun, semester pertama adalah fase penting
bagi mereka dalam proses pembentukan karakter. Mereka adalah generasi muda
yang kritis sekaligus paling krusial.
Upaya
menghindari plagiarisme yang dimulai dari mahasiswa baru ini, bagaimanapun,
berkaitan erat dengan aspek penulisan yang sifatnya sangat teknis. Karena
itu, pelbagai diskusi kecil, workshop, atau bahkan seminar penulisan yang
digelar di kampus menjadi sangat penting; dan memang seharusnya dilakukan.
Syukur-syukur itu difasilitasi oleh perangkat universitas, institut, atau
sekolah tinggi.
Sasaran
yang hendak dituju adalah bagaimana membuat rata-rata mahasiswa baru memiliki
kemampuan yang bernas dan cermat dalam menulis secara akademis. Sehingga,
ketika di penghujung masa studi, mereka akan telah memiliki cukup
keterampilan serta rasa percaya diri untuk menulis tugas akhir atau skripsi.
Intinya,
para mahasiswa baru harus diberi sejumlah kemampuan mendasar dalam penulisan.
Hal itu, misalnya, berkaitan dengan: bagaimana berpikir logis dan sistematis
yang terlahir dalam bentuk argumen yang kuat? Bagaimana cara mengutip? Apa
saja ragam aturan dan styles pengutipan yang tersedia di dunia akademik
secara universal? Apakah sumber yang dirujuk itu adalah sumber utama atau ia
justru adalah yang kedua atau bahkan telah dikutip oleh penulis ketiga?
Selain itu, bagaimana pula teknis menulis ringkasan dan parafrase?
Dengan
begitu, mereka akan dapat mengidentifikasi: Bagian mana yang merupakan
pandangan baru atau argumen orisinal dari si penulis; mana yang merupakan
kutipan langsung; dan mana pula hasil ringkasan atau parafrase yang mendukung
argumen sang penulis di dalam sebuah tulisan? Kesemuanya itu memang
membutuhkan kecerdasan yang cukup. Kesemuanya itu juga berada dalam kerangka
dan tujuan besar: “guna membentuk watak
serta pola pikir manusia yang sistematis dan bertanggung jawab.”
Maka,
aktivitas membaca menjadi suatu kebutuhan dan keharusan. Para dosen dan
mahasiswa senior memiliki tanggungjawab bersama untuk menularkan ‘budaya rajin membaca’ kepada para mahasiswa
baru. Mereka harus memperluas jangkauan bahan bacaan; khususnya pada disiplin
yang tengah mereka tekuni dan juga pada bidang-bidang lain yang penting demi
menopang jenjang karier mereka kelak di dunia kerja.
Kedudukan
terhormat dan percikan sinar cemerlang suatu kampus, termasuk kualitas para
lulusannya, akan sangat tergantung pada seberapa kuat minat baca para mahasiswanya
dan seberapa ‘hidup’ perpustakaannya. Perpustakaan adalah jantung akademik
dari suatu kampus. Sebagai ruang sentral, ia harus diisi dengan ketersediaan
referensi yang lengkap dan terbaru walaupun memang para mahasiswa dapat
menjaring secara selektif bahan bacaan yang berlimpah dari internet.
Membaca
adalah aktivitas memaknai potongan kecil kenyataan dari realitas kehidupan
yang serba luas dan serba kompleks. Dengan membaca, kita terdorong untuk
menggali misteri kehidupan yang diciptakan Sang Pencipta. Lebih dari itu,
lewat membaca, kita akan terinspirasi, semakin sadar, dan rendah hati bahwa
ternyata masih banyak hal yang belum diketahui.
Saya
yakin, di setiap kampus di Sumatera Barat terdapat banyak pengajar yang
visioner. Mereka adalah penyangga dan lentera utama untuk mencetak generasi
muda yang kelak akan lihai-enerjik dalam bekerja, kritis terhadap fakta,
cermat terhadap data, kuat dalam berargumen, hormat terhadap sesama, serta
terhindar dari mimpi buruk plagiarisme.
Memang
tidak ada jaminan bahwa menggembleng para mahasiswa baru untuk terampil
menulis sejak dini akan berdampak jangka panjang bagi integritas mereka di
masa depan.
Akan
tetapi, sekali seseorang – utamanya akademisi – menjiplak karya pihak lain,
maka, seumur hidup, komunitas akademik tak kan mempercayainya lagi; betapapun
banyak dan seberapapun tajam buah pikir orisinal yang telah ia persembahkan
bagi persada ilmu pengetahuan di masa lalu. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar