Generasi
yang Hilang
Komaruddin Hidayat ;
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
|
KORAN
SINDO, 14 Maret 2014
|
Jam
terbang saya lumayan tinggi dalam memberikan workshop dan diskusi di lingkungan BUMN atau perusahaan swasta
dengan topik kepemimpinan atau masalah kebangsaan. Dibandingkan dunia parpol
ada kesan dan perbedaan mencolok dalam hal regenerasi kepemimpinan.
Di
perbankan, misalnya, saya bertemu profesional muda dengan jabatan dan
tanggung jawab besar. Mereka memiliki latar belakang pendidikan bagus,
sebagian besar pernah studi diluarnegeri, danrekamjejakjenjang karier
transparan. Ketika dipromosikan, yang menjadi pertimbangan pun jelas. Begitu
pun ketika menduduki jabatan lebih tinggi, tugas dan target yang diemban juga
memiliki ukuran jelas sehingga akhirnya mudah menilai seseorang itu gagal atau
sukses. Banyak kolega saya yang umurnya belum mencapai 45 tahun sudah
memiliki posisi amat strategis dan bertanggung jawab mengelola dana ratusan
triliun.
Belum
lagi mereka yang bergerak di dunia bisnis. Kompetensi dan kemampuan
komunikasinya sangat mengesankan, termasuk dengan mitra-mitra asing. Namun,
suasana ini sulit saya temukan di dunia politik dan parpol. Di sana terjadi
kemandekan kaderisasi dan proses rekrutmennya kurang didukung oleh rekam
jejak pendidikan dan prestasi yang bagus di masa lalu. Suasana di lingkungan
parpol dan LSM agak mirip. Siapa yang aktif yang akan lebih berpeluang naik.
Jadi,
aktivisme lebih menonjol, dan idealnya didukung oleh intelektualisme.
Tergolong sedikit jumlahnya mereka yang termasuk aktivis politik sekaligus
intelektual yang berkarakter. Jika kita amati, terdapat indikasi hilangnya
sebuah generasi. Ada mata rantai generasi emas anak bangsa yang hilang dalam
rekrutmen politik. Fenomena ini akan mudah dilihat jika kita bandingkan
dengan regenerasi di dunia bisnis, dunia kampus, dan kalangan profesional.
Semula dengan hadirnya era reformasi dan multipartai kita berharap akan
bermunculan kader-kader muda calon negarawan melalui jalur kepartaian.
Kita
sempat optimistis dengan masuknya para aktivis kampus dan tokohtokoh gerakan
mahasiswa bergabung ke parpol serta duduk di kursi DPR. Ada juga aktivis muda
yang berkiprah di daerah. Namun, bersama berjalannya waktu, optimisme itu
memudar. Tentu saja masih ada beberapa politisi muda yang bertahan di jalan
yang lurus. Namun kesan dan persepsi masyarakat yang lebih menonjol mereka
sangat kecewa bahwa para politisi muda itu pada berguguran di tengah jalan.
Sangat rapuh ketika dihadapkan pada godaan materi. Mereka seakan mabuk dengan
jabatan barunya, popularitas, dan fasilitas.
Padahal,
masyarakat, tetangga rumahnya, dan teman sekolahnya masih ingat dan menjadi
saksi bagaimana kehidupan ekonomi sebelum dan sesudah bergabung ke parpol.
Perubahannya sangat drastis. Sulit dicerna nalar awam, dari mana asal-usul
kekayaan yang tibatiba mencolok, dari mana mobil dan rumahnya yang mewah, dan
gaya hidup keluarga yang berubah. Karenanya, masyarakat tidak kaget, bahkan
mungkin ada yang senang, ketika banyak politisi dan pejabat publik yang
akhirnya berurusan dengan KPK dan penjara.
Hal yang
sangat menyedihkan, mereka itulah yang semula diharapkan menjadi wakil
generasi muda bangsa yang akan mengganti generasi senior sebelumnya.
Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah yang muda tidak tahan godaan dan
kagetan, ataukah yang tua tidak membimbing dan melindungi terhadap
kader-kadernya? Lebih memilukan lagi andaikan yang terjadi adalah sebuah
konspirasi dan koalisi busuk dan murahan antara yang tua dan muda untuk
menjarah uang dan fasilitas negara hanya untuk memenuhi selera dan tuntutan
gaya hidup hedonis.
Kemuliaan
politik menjadi rusak. Politik yang awalnya bertujuan menyelenggarakan
pemerintahan untuk melayani, mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat, dibajak
hanya untuk menyejahterakan kelompok. Ini sebuah pengkhianatan yang lebih
keji dari penjajahan bangsa asing di masa lampau. Hilangnya sebuah generasi
itu sangat berdampak jauh bagi masa depan bangsa. Ibarat hutan jati yang
ditebang namun tidak disiapkan generasi pohon yang muda sebagai penggantinya,
maka hutan itu akan mengalami kerusakan panjang dengan berbagai dampaknya.
Demikianlah,
panggung politik ini semakin heboh, seru, mahal ongkosnya, namun miskin kader
dan bintang-bintang calon negarawan yang diharapkan oleh masyarakat yang
telah dahaga untuk maju dan bangkit. Suasana ini akan terasa berbeda ketika
kita masuk di kalangan profesional. Di sana kita tidak sulit menemui
anak-anak muda yang cerdas, gesit, dan mitra serta jaringan kerjanya lintas
bangsa. Hanya saja, dikhawatirkan jangan sampai para profesional muda itu
kurang memahami dan mencintai bangsa dan rakyatnya. Ini merupakan gejala yang
mesti kita perhatikan dengan saksama, karena mereka merasa kurang tertarik
dengan panggung politik, yang memang kurang menarik ditonton dan ditiru. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar