Minggu, 16 Februari 2014

Kebun Binatang Cermin Budaya Kita

             Kebun Binatang Cermin Budaya Kita

Aris Setiawan  ;   Pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta
KOMPAS,  15 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
KEBUN Binatang Surabaya menjadi sorotan karena kematian sejumlah hewan koleksinya. Ironi muncul ketika kebun binatang tak lagi menjadi rumah yang nyaman bagi binatang. Sakit dan mati menjadi pemandangan yang biasa. Padahal, keberadaan kebun binatang harusnya bisa menjadi oase yang rindang dan sejuk di tengah kota.
Lecky (1869) dan Wilfred (1976) mengisahkan awal mula kebun binatang yang tak dapat dipisahkan dari kehadiran seorang raja. Abad ke-2 Raja Wen dari Zhou China membangun kebun binatang Ling-Yu dengan luas 600 hektar.
Ada pula Raja Semirami dari Assyria dan Raja Nebukadnezar dari Babilonia. Semua membangun kebun binatang untuk melampiaskan kerinduan pada hewan-hewan kesayangan. Bahkan, pada abad ke-4 hampir semua kota besar di Yunani mempunyai kebun binatang.
Para raja dan kaisar memiliki koleksi hewan pribadi dari hasil perburuan dan penaklukan kerajaan lain. Hewan-hewan itu sekaligus menjadi simbol legitimasi kekuatan seorang raja dan bangsanya.
Perlakukan baik
Kita meyakini bahwa hewan membawa peruntungan tersendiri. Kita pun mafhum untuk memperlakukan hewan dengan baik. Bahkan, kisah-kisah para nabi erat bersentuhan dengan hewan.
Karena itu, kebun binatang kemudian menjadi etalase besar yang berisi hewan langka dan unik. Mereka dikurung dan dipamerkan kepada publik.
Jakarta mulai membuka kebun binatang tahun 1864 dengan nama Taman Marga Satwa Ragunan di Cikini oleh Batavia, diikuti kota-kota lain di Indonesia. Surabaya menyusul tahun 1916 dengan nama Soerabaiasche Planten-en
Dierentuin
.
Para pendiri dan pengurusnya adalah orang Belanda. Lokasi KBS pertama di Kaliondo, kemudian pindah ke jalan Groedo, dan akhirnya ke daerah Darmo.
KBS pernah menjadi kebun binatang dengan koleksi terlengkap se-Asia Tenggara, lebih dari 2.806 hewan yang terdiri atas 351 spesies satwa.
Dari KBS pelbagai gagasan besar terkait kelangsungan dan kelestarian hidup hewan harusnya dapat digurat.
Namun, sayang, misi itu tak berjalan dengan baik. Satu demi satu hewan koleksi tumbang dan tak jelas sebab musababnya. Dualisme kepemilikan KBS menjadikan hidup hewan hanya sebatas obyek untuk diperebutkan.
Dilematis
Kebun binatang bukanlah penjara bagi hewan, tetapi menuntut kuasa moral untuk memperhatikan dan mengurusnya dengan bijak.
Detak peradaban tak hanya ditentukan oleh seberapa maju perekonomian sebuah kota. tetapi juga sikap menghargai dan melestarikan adab budaya. Matinya hewan koleksi menunjukkan sikap yang tak lagi berpegang pada sisi kemanusiaan dan tanggung jawab moral.
Kisah raja dan kuasa negara di masa lalu mengajarkan arti penting menghargai hewan. Kisah KBS menjadi satir karena kita telah menyiksa dan memperlakukan hewan dengan tidak adil.
Peristiwa KBS menjadi nukilan dari kisah-kisah hewan masa kini, tak menemukan ruang hidup. Kita hanya memandang mereka dalam kebekuan simbol, tanpa mampu mengapresiasinya.
Tentu kita masih ingat kisah Hanoman dalam lakon Ramayana. Ia sejatinya adalah hewan yang cerdas dan sakti. Epos itu mengajarkan bahwa menyiksa hewan tak ubahnya menyiksa manusia, terlebih Tuhan.
Mari kita kembalikan budaya kita yang luhur, dimulai dengan menghargai hewan dan kemudian lingkungannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar